
Sembilan bulan kemudian.
"Rasanya mulas sekali, tolong aku!" jerit Geya sambil menarik baju Shaka berulang kali, "Bisakah lebih cepat lagi mobilnya, Aku sudah tidak kuaaaat"
"Bersabarlah sayang, Sabar sebentar lagi kita akan sampai rumah sakit" Shaka mempercepat laju mobilnya menuju rumah sakit, sepertinya sebentar lagi istrinya akan melahirkan. Karena istrinya panik, Shaka ikut khawatir melihatnya.
Shaka sudah menghubungi ibu dan kedua mertuanya. Nyonya Stella dan Nyonya Sam sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Ciiitt.
Mobil Shaka sudah tiba di halaman depan rumah sakit, Ia langsung memarkirkan mobilnya di lobby. Dengan gerakan cepat Shaka lalu terburu-buru membantu istrinya keluar dari mobil.
"Tolong istriku," teriak Shaka keras.
Petugas keamanan langsung memanggil perawat menjemput Geya menggunakan brankar. Tak butuh waktu lama dua orang perawat berlari mendatangi mereka berdua.
"Mari kita antar anda kedalam, Nyonya" ucap salah seorang perawat membantu Geya menaiki brankar.
"Suster, sepertinya istriku mau melahirkan" sahut Shaka khawatir. Shaka terlihat frustasi, Karena dari tadi Geya tak bisa tenang di dalam mobil.
"Kami akan memberikan pelayanan yaang terbaik untuk istri anda, Tuan. Anda jangan panik" ujar Perawat sambil mendorong brankar.
Perawat dan tim medis sudah membaringkan Geya di atas Brankar, Sedikit berlari mereka mendorong Geya masuk ke ruang VK. Geya yang merasakan mulas yang tak tertahan berkali-kali menarik rambut Shaka, Suaminya.
"Tolong aku..ah...a..." teriak Geya berulang kali.
"Sabar sayang, sebentar lagi anak kita akan lahir...auuu..rambutku," jerit Shaka sambil menahan rasa pedas di rambutnya yang sedang ditarik Geya sepanjang perjalanan menuju ruang bersalin.
"Huh..hu..huh" berkali-kali Geya mencoba mengatur nafasnya, "Rasanya sangat mulas"
"Nyonya, persiapkan diri anda, Karena sebentar lagi anak anda akan lahir," ucap seorang perawat kepada Geya.
Sekarang mereka sudah sampai di dalam ruang VK. Dengan cepat perawat lalu memeriksa keadaan Geya. Dari mulai memeriksa tekanan darah sampai memeriksa posisi bayi dengan USG.
"Bayi anda sudah siap lahir hari ini. Posisi kepala bayi juga sudah dibawah. Semuanya bagus, Sekarang saya akan memeriksa pembukaannya dahulu. Jangan tegang ya, Nyonya" ucap seorang Dokter wanita.
Dari tadi Shaka terus memegang erat tangan istrinya, "Tenangkan dirimu, Sayang"
Geya hanya mengangguk. Setelah dokter memakai sarung tangan medis, Barulah ia memasukkan beberapa jari di **** * milik Geya.
"Tarik napas Nyonya karena ini baru permulaan" Dengan pelan dokter memasukkan jarinya.
"Aaaaaa," teriak Geya sambil menarik rambut Shaka lagi. Shaka yang setia menemani cuman bisa menahan rasa sakit akibat istrinya.
Lama-lama rambutku bisa rontok. Gumam Shaka.
Keringat sudah mengucur deras di wajah Geya, berulang kali Shaka mengusap lembut wajah istrinya, "Aku yakin kamu bisa melewatinya, sayang" ucap Shaka sambil memegang tangan istrinya.
"Apa sesakit ini rasanya, Dok?" tanya Geya. Padahal yang ia lalui masih belum seberapa.
Dokter yang menangani Geya hanya bisa tersenyum, "Tidak apa nyonya, sebentar lagi rasa sakit anda akan tergantikan dengan kelahiran anak anda. Karena pembukaannya belum sempurna. Nyonya beristirahat dahulu siapkan tenaga anda. Karena kami perkirakan beberapa jam lagi anda sudah siap untuk melahirkan," ucap Dokter menjelaskan, "Kami sarankan tenangkan istri anda dahulu, Tuan" tambahnya kepada Shaka.
"Terima kasih, Dokter" sahut Shaka.
Jangankan Geya, Bahkan Shaka terlihat panik dan ketakutan ketika istrinya berteriak kesakitan. Shaka tidak tau bagaimana menghadapi istrinya yang akan melahirkan. Mereka berdua belum menyiapkan mental masing-masing.
"Aku takut," sambil menangis Geya berkata kepada Shaka.
Bagaimana ini? Bahkan aku juga sangat takut sebenarnya. Batin Shaka.
"Jangan takut! Ada aku. Kamu boleh menarik rambutku, bajuku, atau muka aku sekalipun. Tak apa, Lakukan semau mu! Jangan takut ya sayang" Shaka mencoba menenangkan, padahal ia pun mengalami perasaan yang sama dengan Geya.
***
Di luar ruang bersalin.
"Bagaimana keadaan Geya, Nyonya?" tanya Medina kepada Ny.Sam.
"Semoga semuanya lancar, Kita doakan saja" sahut Medina.
Walaupun sudah pernah melahirkan, Nyonya Sam ikut panik ketika anaknya akan melahirkan. Nyonya Stella yang berada di sana menenangkan Nyonya Sam yang duduk di sebelahnya.
Medina sengaja dipanggil oleh Shaka agar menemani istrinya melahirkan. Semua orang di rumah sakit tidak bisa menenangkan Geya yang terus menangis.
"Bisakah kamu menenangkan istriku, Dia masih terus menangis di dalam" pinta Shaka kepada Medina yang baru datang.
Medina mengangguk, Akhirnya atas persetujuan Dokter mereka membolehkan Medina menemani Geya melahirkan.
***
Di ruangan VK.
Beberapa jam berlalu, Akhirnya pembukaan jalan lahir anaknya sudah sempurna. Medina sudah berdiri menemani Geya yang akan melahirkan.
Geya sangat takut dengan alat-alat medis. Padahal Shaka sudah menyarankan ia agar mau di operasi. Namun Geya tetap menolaknya, Ia lebih memilih melahirkan secara normal.
"Rasanya sangat mulas kak, Aku tidak kuat" ucap Geya sambil menangis.
"Sabar sayang," sahut Shaka.
Maafkan aku sayang, Gara-gara Joni kamu bisa seperti ini. Batin Shaka.
"Jangan takut. Seorang ibu pasti akan merasakan sakit seperti ini, Kamu harus kuat Geya. Bayangkan saja, rasa sakit ini adalah pengorbanan untuk kelahiran anakmu. Aku yakin kamu bisa melakukannya" Medina menenangkan Geya yang terus menangis karena mulas.
"Pejamkan matamu. Berdoalah kepada Tuhan, lalu Tarik napas perlahan, Lupakan rasa sakit itu. Bayangkan sebentar lagi kamu akan menyentuh tubuh mungil anak mu. Kamu bisa mencium dan memeluknya langsung dengan tubuhmu," tutur Medina pelan di telinga Geya, "Rasa mulas akan hilang dengan sendirinya ketika anakmu lahir"
Geya memejamkan matanya mengikuti nasihat Medina, "Terima kasih, Kak. Aku sudah sedikit tenang" sahutnya.
Pembukaan lahir sudah sempurna, Shaka sudah siap duduk di belakang Geya sambil menahan tubuh istrinya. Sementara Medina berada di sebelah Geya.
"Renggang kan kaki anda Nyonya" seru Dokter siap membantu Geya mengeluarkan anaknya, "Tarik napas perlahan lalu keluarkan"
Sebelumnya dokter telah mengajari bagaimana cara mengejan dengan baik kepada Geya.
"Ayo Nyonya, Sedikit lagi rambut anak anda sudah terlihat. Tarik napas panjang lalu keluarkan. Anggap anda sedang buang air besar," ucap Dokter lagi.
"Huh.. huh.. huh" Geya mulai berkeringat. Ia mulai mengatur napas lagi, Sambil mencengkeram muka Shaka, Geya mulai mengejan lagi.
"Sebentar lagi anakmu lahir. Dorong lebih keras, Geya" ucap Medina sambil menyeka keringat Geya.
Sementara wajah Shaka dan rambutnya sudah tidak karuan karena berulang kali Geya mencakar muka dan menarik rambutnya.
Geya lalu menarik napas dan mulai mengejan lagi.
"Huh.. huh.. aaaaahh.. " Jerit Geya sangat keras sambil menarik rambut Shaka.
Bersamaan dengan teriakan Geya, Suara tangisan bayi terdengar sangat keras memenuhi ruangan bersalin.
Dokter telah berhasil membantu Geya melahirkan. Bayi perempuan itu terlihat sangat sehat. Shaka yang melihat bayinya telah keluar langsung menangis melihat putrinya lahir ke dunia. Sementara Geya masih belum percaya kalau bayi yang di depan adalah anak dari dalam perutnya.
"Selamat Geya, Kamu berhasil melahirkan putrimu yang sangat cantik" ucap Medina memberi selamat.
Bayi mungil yang masih menangis itu kini sudah berada di pelukan Geya. Shaka mengecup kening Geya yang masih berkeringat, "Terima kasih sayang, Kamu sudah memberiku seorang putri" ucap Shaka sambil menyeka air matanya.
Medina tersenyum sambil terus memandangi wajah lucu bayi mungil itu.
Drago, Calon istrimu sudah lahir ke dunia. Batin Medina.
#Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih.