
"Kalau kamu tak mau membunuhku, Aku yang akan membunuhmu!"
Di tangan kanan Firo sudah memegang pisau berjenis eickhorn milik Sony yang tergeletak di lantai. Setelah itu Ia lalu mendekati ayahnya.
Tuan Bram yang masih tersungkur dilantai tidak mundur sedikitpun ketika Firo mulai mendekatinya. Sekarang tubuh Firo sudah berada persis di sebelahnya. Bahkan kepalanya sudah berada tepat di depan mukanya dengan jarak 30 centimeter.
Ayah dan anak itu saling Menatap. Di dalam hati Firo masih ada amarah yang belum tersalurkan yang sedang mendominasi dirinya sekarang. Firo dikendalikan oleh rasa dendam yang menguasai hatinya.
"Kenapa tidak kau bunuh saja aku dari kecil? Kenapa kau biarkan aku tersiksa di rumah itu bertahun-tahun?"
Firo mencengkram dengan kasar dada Tuan Bram yang terbalut kemeja "Sudah puas kah kamu sekarang?" teriaknya.
Tatapan kebencian Firo begitu menusuk relung hatinya. Tuan Bram hanya diam tak bergeming sedikitpun ketika Firo sedang memukuli dadanya. Firo seperti serigala yang sedang sangat lapar hendak mencabik buruannya.
Tinggal satu hentakan saja, Pisau di tangan Firo akan menancap di tubuh Tuan Bram, "Maafkan aku! Firo, Anakku" Buliran air akhirnya keluar dari matanya, "Kamu boleh bunuh aku sekarang," lirih Tuan Bram.
Sekarang Tuan Bram hanya bisa pasrah. Kalaupun ia mati detik ini ditangan anaknya, Ia tidak menolak sedikitpun.
***
Medina tidak bisa tinggal diam mendengar suaminya di sekap di dalam. Bagi dirinya, Sekarang ia harus bersama-sama dengan suaminya pulang ke rumah dengan selamat.
Padahal Tuan Bram menyuruhnya menunggu, Baru beberapa menit berlalu, Jiwa keras kepalanya membuat ia tak mau tinggal diam. Dipegang erat perutnya agar ia bisa berjalan sambil menahan rasa mulas yang dirasakan tubuhnya sekarang.
Setetes demi setetes air ketuban yang keluar dari tubuhnya meninggalkan jejak di lantai yang ia lewati. Sama sekali Medina tak memperdulikan tubuhnya. Ia tak mengerti sedikitpun kalau sekarang sudah waktunya bayinya akan lahir meskipun baru memasuki usia tujuh bulan.
Dari jauh Medina mendengar suara tembakan yang menggema di salah satu ruangan. Medina mencoba mempercepat langkahnya agar bisa sampai ke sumber suara. Ia yakin suaminya ada di dalamnya.
Medina terus berjalan, Beruntungnya semua pengawal yang berjaga di setiap sudut ruangan sudah dilumpuhkan dahulu oleh Tuan Bram sebelumnya. Di sepanjang jalan menuju ruangan ada beberapa pria yang sudah tertembak tersungkur di lantai. Melihat itu ada kengerian di hati Medina.
Sambil terus menangis Medina melewati beberapa jasad tak bernyawa di depannya. Terkadang karena tidak kuat Medina harus berhenti sejenak dan kembali mengelus bayinya agar bisa mengerti kondisi ibunya sekarang.
Sabar ya, Nak. Kamu harus kuat! Batin Medina.
Mulas, perutnya sangat mulas. Namun ia tetap bersikukuh melanjutkan langkahnya menuju ruangan itu.
Suara teriakan Firo kembali terdengar di telinganya. Rupanya ruangan yang ia tuju sudah tidak jauh. Dengan terus memegang perutnya Medina mencoba lebih mempercepat langkahnya.
Suara itu terdengar dari ruangan bercat kusam yang ia masuki sekarang.
***
"Aku sangat menyayangimu, Firo. Lebih dari apapun," lirih Tuan Bram sambil memegang pundak anaknya.
Deg.
Perkataan ayahnya barusan menggetarkan hati Firo. Ia mengingat kembali kapan pertama kalinya ayahnya mengatakan seperti itu kepadanya. Saat umur Firo masih berusia lima tahun, Tuan Bram pernah mengatakan hal yang sama kala itu. Dengan suasana dan waktu yang berbeda ayahnya pernah mengatakan kalau ia sangat menyayanginya lebih dari apapun.
Namun perasaannya seketika berubah menjadi kebencian lagi saat Firo mengingat kembali kematian ibunya.
"Nyawa harus dibalas dengan nyawa!" teriak Firo keras.
Namun belum sempat ia arahkan ke dada ayahnya sebuah suara menghentikannya.
"Jangan!" Medina berteriak keras berdiri di depan pintu.
Dihadapannya langsung Medina menyaksikan Firo akan menghabisi ayahnya. Satu gerakan lagi pisau itu bisa menghabisi nyawa Tuan Bram.
Mendengar teriakan istrinya, Firo langsung menoleh ke arah pintu, Tempat Medina sedang berdiri memegangi perutnya.
"Jangan bunuh ayahmu!" Pinta Medina sekali lagi memajukan langkahnya sambil berteriak.
"Apa!" Firo menatap geram ke arah Medina, "Jangan kamu bilang! Dia sudah membunuh ayahmu. Lalu kamu katakan, Jangan!" Ketus Firo kesal kepada istrinya.
Medina menggelengkan kepala mengisyaratkan Firo agar menghentikan perbuatannya.
"Dendam itu seperti sampah di tubuhmu! Akan terus membusuk di tubuhmu sebelum kamu sendiri yang membuangnya. Dengan membunuh ayahmu apa kamu yakin kebusukan itu akan hilang di tubuhmu? Tidak akan!" hardik Medina keras.
"Jangan Bunuh ayahmu! Aku mohon! Biarkan ayahmu menanggung sendiri perbuatannya! Jangan kotori tanganmu dengan darah ayahmu!"
Mendengar perkataan Medina, Tuan Bram menatap sekali lagi wajah anaknya yang ada di hadapannya. Entah mengapa wajah Firo sekarang perlahan berubah menjadi wajah Firo ketika kecil yang ada di bayangannya. Wajahnya masih sangat lucu di ingatannya.
Firo kecilku. Gumam Tuan Bram.
"Maafkan aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu, Anakku" Tuan Bram kembali meneteskan air matanya, "Kamu boleh bunuh aku sekarang" Tuan Bram menutup matanya perlahan.
"Kamu harus mati!" Firo seperti sedang kesetanan.
Firo menatap dengan buas ayahnya yang sedang berada di bawahnya. Ia kembali mengangkat pisau di tangannya.
Melihat itu Medina segera berlari menghampiri Firo agar menghentikannya.
Medina tak bisa berlari ia sudah sangat lemah dan akhirnya ambruk ke lantai, "Jangan ajari anakmu sebagai seorang pendendam. Jangan bunuh ayahmu, Firo!" teriakan Medina begitu sangat keras.
Medina sangat marah kalau sampai suaminya benar-benar membunuh ayahnya.
Praangg!!
Pisau berbahan baja terjatuh ke lantai.
Mendengar ucapan istrinya, Firo langsung tersentak dan membuat pisau yang hampir saja menusuk jantung Tuan Bram, Ia jatuhkan ke lantai.
Benar kata istrinya, Ia tidak boleh menjadi seorang pendendam seperti Sony dan ayahnya. Kalau sampai anaknya lahir ke dunia, Firo tak mau memberi contoh yang buruk kepada anaknya kelak.
Bersamaan dengan itu, Firo tak kuat menahan tangisnya, Air matanya akhirnya jatuh tepat di atas wajah ayahnya. Tetesan air itu membuat Tuan Bram membuka matanya perlahan. Dipandanginya wajah tampan anaknya yang sedang menangis seperti waktu kecil dulu.
"Terima kasih, Nak!" lirih Tuan Bram mencoba memegang tangan Firo. Namun Firo malah mengabaikannya dan berdiri hendak menolong Medina.
Sambil sesegukan Firo berjalan dengan langkah gontai menghampiri istrinya yang tersungkur di lantai. Semua dendam di hatinya harus ia buang jauh.
Medina merasa sangat bahagia, Walaupun tubuhnya sedang menahan rasa sakit, Medina masih bisa tersenyum melihat Firo yang telah berhasil mengendalikan amarahnya.