
Pria memakai kaos hitam itu menatap tuannya dengan rasa takut. Walaupun mukanya terlihat babak belur namun Sony masih mengenal muka itu.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Firo kepada Sony sambil memperlihatkan muka pria itu dengan tangannya.
Yah, dia adalah indra salah satu pengawal setianya. Indra terduduk lemas di hadapan Tuan Bram.
Syerli tak kalah tercengang.
"Bukankah dia Indra pengawal pribadi Sony yang sehari-hari bersamanya," gumam Syerli.
"Katakan padaku apa yang kamu tahu," ucap Firo mendekati Indra agar mau mengaku.
Indra masih diam tak mau membuka suara.
Tuan Bram masih duduk di tempat yang sama.
"Apa aku harus memakai cara kasar lagi," teriak Firo lebih keras kepada Indra.
"I-iya tuan," sahut Indra ketakutan.
Sebelum pulang ke rumah Firo sudah menghajar habis-habisan Indra bersama anak buahnya agar mau mengaku.
"Kalau begitu katakan semuanya," Firo mengaitkan pisau di leher Indra agar mau mengaku.
"Sekali saja kamu berbohong, akan ku tusuk lehermu," ujar Firo lagi.
"B-baik tuan aku akan katakan tapi tolong jangan menusuk ku," ujar Indra memelas.
Niki terlihat ketakutan Medina langsung menghampirinya agar Niki bisa tenang.
"Kalau kamu tidak kuat, sebaiknya kamu keluar saja" ujar Medina menenangkan adiknya.
"Tidak kak, aku tidak mau" sahut Niki.
Medina memegang erat tangan adiknya. Ia yakin suaminya tak akan melakukan hal itu.
"Tuan Sony lah yang menyuruhku mencari orang agar menyusup ke dalam dapur hotel," Indra mulai berbicara.
"Tuan Sony menyuruh teknisi mematikan semua CCTV yang ada di hotel agar perbuatan Jono yang menukar jamur beracun tidak terekam. Jono sengaja menukar jamur yang segar dengan jamur beracun yang warnanya hampir sama. Chef hotel yang sedang ke toilet tidak mengetahui ternyata jamurnya sudah di tukar oleh Jono," Indra kembali menjelaskan.
Matanya melirik ke arah Sony tuannya.
Sony tak bisa berkata-kata lagi. Karena Tuan Bram akan mempercayai perkataan Indra mengingat Indra adalah pengawal khusus Sony setiap hari.
"Jangan harap setelah ini kau bisa hidup, Indra!" batin Sony marah.
Ia betul-betul kecewa sudah dua orang pengawalnya telah berkhianat kepadanya.
"Masih banyak yang belum kamu katakan," ujar Firo lagi di telinga Indra.
Tangan Indra sengaja masih Firo ikat. Firo sudah tidak mengaitkan pisau ke lehernya.
Indra langsung tertunduk bersimpuh ia menundukan kepalanya di kaki Sony.
"Maafkan aku Tuan, Aku harus mengatakannya. Tuan Firo mengancam akan membunuhku!" ujar Indra takut.
"Begini kah balasannya Indra! Setelah aku menolong keluargamu, hah!" ujar Sony tiba-tiba menendang kepala Indra. Sony begitu kecewa.
"Maafkan aku tuan," ucapnya sambil bersimpuh.
Indra terpental. Ia membiarkan tuannya memukulnya.
"Cukup! hentikan Sony!" teriak Tuan Bram keras agar Sony menghentikan pukulannya terhadap Indra.
Ny.Stella memegang tangan anaknya agar kuat karena sebentar lagi Sony akan mengalami masalah yang besar. Ia sebagai wanita hanya bisa melihat.
"Dia belum selesai mengatakan kebenarannya," ucap Firo tegas.
Firo masih ingin Indra memberikan pernyataan lagi.
Tuan Bram membangunkan Indra agar duduk. Di pelipisnya sudah berteteskan darah segar.
"Katakan semuanya, Setelah ini aku akan melepaskan mu. Dan pergilah yang jauh dari sini" ujar Tuan Bram.
"Beri dia minum," ujar Tuan Bram kasihan melihat Indra yang kehausan.Tak begitu lama seorang pelayan memberinya segelas minum.
Indra menenggak minuman itu sampai habis. Dari siang ia sudah kehausan karena di sekap oleh Firo tanpa diberi makan dan minum.
"Katakan sekarang semuanya," ujar Tuan Bram sambil berdiri.
Indra mulai bercerita lagi.
"Tersangka utamanya adalah Tuan Sony. Tidak hanya di hotel Axon bahkan Tuan Sony juga memberi obat pencahar di makanan tamu undangan yang sedang merayakan acara pernikahan di Hotel Aurora kemarin. Pelaku yang sama yaitu Jono yang bertindak sebagai pemberi obat pencahar di makanan. Tuan Sony juga yang menyuruhnya."
"Sudah dua kali Tuan Sony menyuruhnya, dan di saat terakhir Jono tak bisa menyimpan rahasianya karena hampir saja Nona Medina mengetahuinya. Tuan Sony menyuruhku agar menabrak mati Jono."
"Jono akhirnya meninggal. Tuan Sony berfikir dengan meninggalnya Jono tidak akan ada yang tahu sebenarnya dia adalah tersangka utamanya," jelas Indra.
Tuan Bram sangat marah ketika mengetahui semua kebenarannya. Ia lalu mendekati Sony.
"Apa ini balasan mu terhadapku, hah!" Tuan Bram memukul perut Sony dengan keras.
"Aku sudah merawat mu dari kecil. Kenapa kamu tega ingin menghancurkan usaha ku?" Tuan Bram kembali menampar muka Sony.
Sony hanya diam sambil meringis kesakitan.
"Sebenarnya apa mau mu, Apa semua yang sudah aku berikan kepadamu kurang?" tanya Tuan Bram kepada Sony lagi.
Tuan Bram benar-benar kecewa.
Syerli menangis di pelukan ibunya.
Sementara Medina masih tetap menguatkan adiknya Niki.
Firo duduk diam di depan sengaja hanya melihat.
"Apa mau ku," ucap Sony, "Apa kamu ingin tahu, Daddy?" ujarnya lebih keras.
Tuan Bram masih menatap marah anak angkatnya.
"Katakan apa mau mu," seru Tuan Bram.
"Apa kamu tidak ingat ketika hotel hotel itu hampir bangkrut. Siapa orang di belakang yang mampu membangunnya lagi selain aku." seru Sony marah.
"Aku. yah aku orangnya! Anak angkat mu, Apa kamu tidak ingat dulu? Aku yang sudah membangun sampai sukses seperti sekarang. Dari pagi sampai malam aku kerahkan semua kemampuan ku agar hotel itu maju. Aku selalu memikirkan untuk kemajuan usaha Daddy yang sudah membesarkan aku dari kecil," Sony mulai menegaskan nada suaranya.
"Harusnya berilah aku beberapa hotel sebagai hasil kerja keras ku, bukannya memberikan hotel hotel itu kepada orang gila sepertinya." Sony menunjuk Firo.
"Bekas orang gila sepertinya tidak akan bisa memimpin hotel milik mu, sedangkan aku yang sudah membantu mu menjadi sesukses ini. Tak di berikan wewenang satupun hanya karena aku bukan anak kandungmu," ujar Sony tegas.
"Tapi tidak begitu caramu," Tuan Bram kembali menampar Sony.
Tuan Bram sangat marah dengan ucapan Sony. Dia baru tahu gara-gara cemburu Sony sampai melakukan itu.
Bahkan Firo sangat tersinggung dengan ucapannya,"Dia sudah bersalah telah membunuh banyak nyawa. Aku ingin dia di penjara karena perbuatannya." ucap Firo.
Tuan Bram tidak bisa berkata lagi.
Padahal seandainya kamu sabar sedikit aku akan memberimu aset yang lebih dari itu. Batin Tuan Bram.
"Jadi menurutmu dengan cara ini agar kamu bisa menjatuhkan ku agar orang tahu bahwa orang gila sepertiku tidak bisa memimpin hotel?" Teriak Firo mendekati Sony.
Sony tertawa dengan perkataan Firo yang benar, "Ha... ha.. kamu benar Tuan Muda," ucapnya.
"Bajingan!" Firo kembali memukul Sony.
Bug.
Firo yang marah menarik tubuh Sony,"Panggilkan aku polisi, Dia harus di penjara" ucapnya.
Niki terperanjat mendengar ucapan Firo.
Niki memikirkan bagaimana nasibnya kalau suaminya sampai di penjara.