Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Kabar Buruk


Nyonya Vika mendengar kabar duka di hari itu. Ternyata orang suruhannya yang sedang menyelidiki Tuan Bram di temukan tewas bunuh diri di kamarnya. Ny.Vika yang mendengar kabar itu langsung melemas.


Apa mungkin dia memang bunuh diri? Atau ada hal lain yang menyebabkan kematiannya?


Dari informasi yang diterima pihak keluarganya. Aji, orang suruhan Ny.Vika itu tewas gantung diri di kamar kontrakannya. Polisi tidak menemukan kejanggalan apapun. Aji yang baru bercerai dari istrinya dipastikan sengaja mengakhiri hidupnya karena terlalu banyak menanggung beban pikiran karena perceraiannya.


Nyonya Vika duduk terdiam seorang diri di ruang tamu. Kebetulan hari itu hari libur, Seharian ini Ny.Vika hanya ingin di rumah.


Orang suruhannya sedang mencari bukti untuk Ny.Vika yang akan menuntut Tuan Bram ke meja hijau. Namun sebelum bukti itu jatuh ke tangan Ny.Vika. Orang suruhannya sudah di temukan gantung diri.


Apa yang harus aku lakukan? Batin Nyonya Vika.


Bel berbunyi dari luar membuyarkan lamunan Ny.Vika. Dari dalam Ny.Vika mengecek siapa yang bertamu ke apartemennya dari layar CCTV yang ada di dalam rumahnya.


Karena banyak orang yang tidak dikenal seperti sedang menyelidiki gerak gerik keluarganya. Ny.Vika sangat selektif dalam membuka pintu apartemennya untuk tamu yang tidak dikenal.


Nyonya Vika sangat lega. Rupanya yang datang adalah seorang kurir pos.


Lela lalu membukanya. Kurir pos itu lalu memberikan surat untuk Ny.Vika dan keluarganya.


Setelah kurir itu pergi, Sambil duduk Nyonya Vika lalu membaca isi surat itu. Ny.Vika diam seribu bahasa ketika selesai membacanya.


"Surat dari siapa, Bu?" tanya Medina yang sedang menuruni tangga bersama Firo.


Ny.Vika menatap lekat wajah Medina dan Firo dari bawah. Medina yang melihat raut muka pias ibunya langsung mendekat.


"Dari Tuan Bram," ucap Ny.Vika pelan.


Mendengar nama itu dengan cepat Medina meraih surat itu. Ternyata itu memang surat undangan dari Tuan Bram.


Ada perasaan takut menyeruak di hati Medina.


Di dalam surat itu, Tuan Bram mengundang Ny.Vika untuk datang sebagai tamu VIP di perayaan tahunan keberhasilan Tuan Bram di salah satu hotel berbintang miliknya.


Karena penasaran Firo yang berdiri di sebelah Medina ikut membacanya.


Tidak biasanya Bram mengundangku ke pestanya lagi setelah kematian anakku, Shinta. Apa ada maksud lain ia mengundangku? Batin Ny.Vika.


Ny.Vika sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan keluarga Tuan Bram setelah Shinta meninggal dan berakhirnya pertunangan antara Shinta dan Shaka.


Sebenarnya sudah beberapa bulan ini Firo mendapati orang suruhan dari ayahnya memintanya untuk pulang ke rumah Tuan Bram. Firo tak habis pikir, Dari mana orang itu tau keberadaan Firo di negara itu.


Sudah hampir sebulan orang itu berlalu lalang di tempat usaha Ny.Vika dan apartemennya. Firo semakin berpikir undangan itu hanyalah akal akalan ayahnya agar mereka berdua kembali ke rumahnya.


"Kita tidak usah datang ke pesta itu," ucap Firo.


Firo tidak mau istrinya teringat lagi peristiwa dua puluh tahun yang lalu. Ia tidak mau terjadi apa-apa dengan istri dan calon anaknya.


"Sepertinya Bram sudah mengetahui semuanya," ucap Ny.Vika sangat yakin.


Mendengar itu Medina langsung terperanjat.


"Apa mungkin ayahku sudah mengetahui kalau Medina adalah Meysa anak yang dua puluh tahun hampir dibunuhnya?" tanya Firo.


Tenanglah, Boy. Aku akan melindungi mu. Batin Firo.


"Aku tidak tahu pasti, Barusan orang yang suruhan ku di kabarkan tewas gantung diri, Maaf Firo selama ini aku menyelidiki kamu dan keluargamu," ujar Ny.Vika.


Firo baru tahu kalau Ny.Vika juga sudah menyelidiki masa lalunya. Mendengar itu Firo tidak marah sedikitpun.


"Kalau begitu kita harus pindah dari sini, Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak dan istriku," ujar Firo.


Setelah berunding cukup lama. Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk kembali ke indo. Hari itu juga mereka mengemasi seluruh barang-barang mereka yang bisa mereka bawa. Untuk sementara usaha Ny.Vika di serahkan kepada orang kepercayaannya. Lela dan Agung pun turut ikut bersama mereka pulang ke Indo.


***


Seorang pria sedang tersenyum di balik topeng yang menutupi separuh wajahnya. Dia terpaksa menutup separuh wajahnya yang terlihat mengerikan karena bekas terkena serpihan kaca membuatnya terlihat mengerikan.


Tatapan matanya sangat tajam bagaikan belati. Namun sesekali senyumnya terukir dari sudut bibirnya sambil memandangi pria yang sedang duduk menghadapnya.


Perlahan dengan pongahnya ia menghirup rokok dengan pipa rokok di tangannya. Di sebelahnya sudah ada dua orang wanita yang sedang memijat masing-masing pundaknya.


"Aku tambah lagi minumannya, Tuan"


Wanita dengan pakaian seksi menuangkan minuman di gelasnya setelah pria itu menganggukkan kepalanya.


Pria itu sesekali meminum seteguk wine yang di tuangkan salah satu wanita di belakangnya. Pria itu seperti sedang merayakan kemenangan babak pertamanya.


Di depannya duduklah seorang pria yang terlihat bodoh karena kesalahannya. Raut muka pria di depannya tertekuk antara bahagia atau sedih.


"Apa tidak bisakah kita akhiri semuanya?" tanya pria bodoh itu.


Dia sangat terlihat bodoh dengan tampangnya yang kusut.


"Kenapa harus aku yang mengakhirinya. Bukankah kamu yang memulainya, Daddy?" pria dengan separuh topeng itu menggertak.


Pria bodoh di depannya memegang keningnya yang sudah mulai mengkerut. Banyak pikiran dalam otaknya.


Sesuatu yang salah di awal membuatnya terus membawanya masuk ke dalam lembah kesesatan yang paling dalam.


Ada rasa sesal di hati pria bodoh itu. Namun sesal nya sudah membuat rumit keadaan keluarganya. Karena sebuah ambisi ia harus mengorbankan semuanya.


"Jangan akhiri! Karena bukan hanya kamu yang akan menanggung semuanya. Termasuk aku dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Ingat kamulah yang membawaku masuk kedalamnya," Sekali lagi pria bertopeng itu berkata keras.


Pria bodoh lalu menenggak minuman di depannya dengan rakus. Dia merasa sangat frustasi menghadapi kenyataannya.


Seandainya takdir tidak mempersatukan anak mereka. Dia tidak akan frustasi seperti sekarang. Pria bodoh itu menenggak berkali kali minuman di depannya.


Pria dengan separuh topeng itu mendekati pria bodoh yang sedang terkapar di meja karena mabok.


"Kalau kamu tidak ingin mengakhirinya, Biar aku yang menyelesaikannya," bisik pria itu di telinganya.


Pria itu tersenyum seperti iblis.