Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Menunggu Niko


Perlahan mata Niko mulai terbuka lagi, dilihatnya ke samping sudah tidak ada kakak iparnya. Bahkan Medina tidak ada di kamarnya karena sedang menebus obat. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangkit, Namun rasa sakit di tubuh terutama bagian kakinya masih teramat sakit tidak bisa membuatnya bangun sendiri. Tangannya mulai meraih gelas di sebelahnya, ia teramat haus tenggorokannya terasa kering.


Prankk


Niko tak dapat meraih gelas di sebelahnya. Tangannya terasa amat linu untuk di gerakkan. Medina yang mendengar suara pecahan gelas langsung mempercepat langkahnya untuk masuk ke ruang inap adiknya.


"Biar kakak yang mengambil air lagi untukmu" Medina berlari ke sebelah Niko membersihkan pecahan beling dan segera mengambilkan air minum baru untuk Niko.


Medina merasa lega adiknya sudah sadar. Lalu Medina mendekatkan gelas ke mulut adiknya, karena tak bisa meminum langsung, Ia memakai sedotan agar Niko bisa dengan mudah untuk minum,


"Syukurlah kamu sudah sadar, Niko" ucapnya.


Rahang Niko semakin bengkak, bahkan mulutnya semakin susah untuk berbicara. Niko mencoba mengucapkan kata kepada kakaknya. Namun hanya sesuatu yang tidak jelas keluar dari mulutnya.


"Tada... malam.. aka.. dapakala. sana.. dan anak.. bahanya," ucap Niko tidak jelas.


Niko tak bisa jelas melafalkan huruf vokal selain A, mulutnya masih bengkak dan terasa berat untuk berbicara.


Medina mendengarkan secara seksama apa yang di ucapkan adiknya. Namun tetap saja ia tidak mengerti maksud dan ucapannya.


"Sebaiknya, kamu jangan terlalu di paksakan untuk berbicara. Biarkan lukamu sembuh dulu," ujar Medina.


Kalau kakak menemui Sony sendiri, aku khawatir akan terjadi apa-apa,


Sebaiknya aku tidak usah memberitahukan kakak dulu, ini terlalu berbahaya untuknya. batin Niko dalam hati. untung saja tadi kakak tidak mengerti ucapan ku.


"Kakak, sudah menghubungi Ibu dan bapak kalau kamu sedang pergi menginap ke rumah temanmu, kakak tidak mau mereka tau lalu khawatir melihatmu," ucap Medina duduk di samping adiknya.


"Kakak, akan meminta ijin kepada suamiku untuk mengurus mu sampai sembuh"


"Kakak juga akan mencari tahu siapa yang membuatmu babak belur seperti ini, kakak tidak akan tinggal diam" ucapnya lagi kepada Niko.


Tangan Niko memegang erat kakaknya mencoba melarang kakaknya melakukan itu sendiri.


"Jaan" ucap Niko dengan sangat susah.


"Apa ini ulah Sony dan anak buahnya?" tanyanya menduga. Medina sudah merasa kalau Sony lah yang memukuli adiknya.


Mata Niko membulat lebar, ia tidak mau kakaknya melawan Sony sendiri. Lelaki itu bertangan dingin, tidak peduli dengan siapapun bisa ia lukai walaupun wanita sekalipun.


"Kamu tidak perlu khawatir, kakak bisa menjaga diri kakak," sahut Medina.


Niko menyenggol gelas di sebelahnya, tidak menyukai ide kakaknya. Gelas itu kembali terjatuh.


"Apa yang kamu lakukan Niko!" bentak Medina.


Niko kembali menatap Medina mengedipkan matanya agar Medina mengerti.


"Jaan.. lakakan" ucapnya sebisanya.


Medina menghembuskan nafas panjangnya, berusaha menenangkan pikiran yang teramat kacau, "Lalu aku harus bagaimana, Aku tidak bisa membiarkan adik adikku di perlakukan seenaknya oleh Sony, Lihatlah kamu hampir mati kalau kakak tidak segera menemukanmu," ujarnya lagi.Ia mengerti kalau Niko mencoba melarangnya.


Niko menggenggam erat tangan kakaknya.


Biar aku saja yang membalas Sony, batin Niko.


Medina tersenyum ke arah adik laki-lakinya, "Cepatlah sembuh, jangan banyak pikiran! Aku tidak akan melakukan apapun terhadapnya," ucap Medina berbohong menenangkan Sony.


Dalam hati Medina ia benar-benar tidak terima dengan kelakuan Sony, kalau benar ia yang memukuli adiknya yang hampir mati Medina jelas tidak akan tinggal diam. Ia mencoba menenangkan Niko agar percaya kalau dirinya tidak akan menemui Sony.


Niko teramat menyayangi kakaknya, ia tidak mau terjadi apa-apa dengan kakak kesayangannya terlebih lagi Sony adalah penjahat yang tidak bisa di anggap sepele. Dalam kondisi yang masih terluka, Niko masih memikirkan bagaimana caranya agar membuat Sony bertanggung jawab terhadap Niki saudara kembarnya.


Perlahan lahan pintu kamar inapnya terbuka. Sosok tinggi tegap dengan rambut merah maron nya mendekati mereka yang sedang berbicara.


Kedatangan Firo mengagetkan keduanya. Medina langsung menghapus air mata yang tersisa di pipinya.


"Niko sudah sadar, namun tubuhnya masih belum pulih, bahkan Niko masih belum dapat berbicara karena mulutnya bertambah bengkak," jelas Medina.


Firo lalu mendekati istrinya, "Aku membawakan mu makan siang, Maaf aku baru datang, Sebaiknya kamu makan dulu honey" ucapnya kepada Medina.


"Aku sudah makan, apa urusanmu sudah selesai?" tanyanya lembut.


Firo melihat sepintas sarapan pagi yang masih utuh di meja.


Ternyata dia belum makan apapun. batin Firo.


"Kamu jangan berbohong! Kamu belum makan, makan pagi saja masih utuh di meja" Firo menunjuk dua bungkus makanan yang masih rapih tidak tersentuh.


"Aku tidak lapar," ucap Medina lagi.


Ia tidak berselera sedikitpun untuk makan. Medina selalu menunggu Niko segera sadar.


"Jangan biarkan perutmu kosong, aku tidak mau melihatmu sakit. Bukankah menemani orang sakit harus cukup makan" Firo langsung membuka tepak makan yang sudah terisi makan siang untuk istrinya.


Niko melihat mereka berdua sembari tersenyum, ternyata kakak iparnya sangat perhatian kepada kakaknya. Niko merasa lega, kakaknya berada pada orang yang tepat. Awalnya Niko sangat bersalah dengan kakaknya Medina, Demi mendapatkan uang untuk kesembuhannya, Bapaknya merelakan Medina kepada Tuan Bram untuk di nikahi dengan anaknya yang di anggap gila. Setiap hari sepulang sekolah Niko bekerja paruh waktu berusaha mengumpulkan uang untuk menebus kakaknya agar bisa keluar dari rumah Tuan Bram.


Tetapi ketika melihat perlakuan Firo yang seperti lelaki normal lainnya. Niko sangat bahagia, apalagi Firo sangat perhatian kepada Medina. Firo ternyata tidak seperti apa yang ia pikirkan buruk terhadapnya.


"Apa perlu aku suapi," ucap Firo sambil menyodorkan sendok ke mulut Medina.


Medina merasa malu dengan Niko yang terbaring di depannya.Ia tidak semanja itu, gumamnya.


"Baiklah aku akan memakannya sendiri," Medina merebut makanan yang ada pada Firo.


"Kalau begitu cepat habiskan. Niko biar aku yang jaga," ucap Firo.


Medina lalu menuju meja makan yang tidak jauh dari situ dan melahap makan siang.Ia sebenarnya sangat lapar.


Firo merasakan lapar di perutnya karena melihat istrinya sangat berselera memakan makanan yang ia bawa. Baginya istrinya adalah segalanya,ia senang melihatnya. Bahkan Medina tidak mengetahui kalau dari pagi Firo juga belum memasukan makanan apapun di mulutnya.


"Aku tidak mau di pandangi terus, aku mau kamu juga ikut makan," ucapnya kepada Firo.


"Kamu duluan saja, Honey" sahutnya.


"Ah tidak tidak, kalau begitu aku berhenti makan kalau kamu juga tidak ikut makan" Medina menghentikan makannya.


"Baiklah kalau gitu, tapi aku maunya di suapi" sahut Firo sambil mendekati istrinya.


Medina menyodorkan sendok ke mulut Firo, "Tapi di suapi nya tidak mau pakai sendok" ucap Firo sambil menempelkan jari tangannya ke bibirnya.


"Sayang apa maksudmu?" Mata Medina melotot.


Entah mengapa mata Niko yang dari tadi terjaga tiba-tiba ia pejamkan. Jiwa jomblonya meronta ronta tidak mau melihat kakaknya bermesraan di depannya.


Ah sial apa yang akan mereka lakukan di depanku, gumam Niko dalam hati sambil berpura-pura tertidur.


"Maksudku, aku mau di suapi pakai tangan langsung bukan pakai sendok," jelas Firo.


Syukurlah, aku kira menyuapi mu dengan bibirku, ah mesum sekali otakku. gumam Medina.


"Jangan berpikiran mesum, tentu saja aku mau yang lebih dari ini kalau kita sudah di kamar kita," bisik Firo ke telinga Medina.


Medina tersenyum tipis pandangannya tertuju pada Niko yang sedang tidur.


Niko yang pura-pura tertidur akhirnya bernafas lega. Medina lalu menyuapi Firo dengan tangannya.