Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Rindu yang Terobati


"Jangan sentuh aku," ucap Firo kepada Lena yang hendak membersihkan tumpahan kopi di bajunya.


"Oh, maaf tuan aku hanya ingin membersihkannya," Lena hendak membersihkan lagi.


Firo kembali menghindar, "Hentikan tanganmu menyentuh ku!" ucap Firo lagi.


"B-baik tuan, maafkan saya yang sudah lancang," Lena merasa gagal menggoda Firo yang begitu dingin kepadanya.


"Kalau tidak ada yang di perlukan sebaiknya kamu keluar!" tegas Firo lagi.


Lena segera berbalik pergi, "Ah dia sangat berbeda dengan Tuan Bram," ucapnya dalam hati.


Firo duduk kembali di kursinya. Dia merasa risih dengan kelakuan Lena padanya.


Baru setengah hari di kantor Firo terburu-buru untuk pulang hendak menemui istrinya.


***


Medina.


Berulang kali Medina memandangi jam pasir di depannya. Hari ini hari pertamanya di rumah utama tanpa Firo.


Pelayan Tuan Bram sudah memindahkan semua barang barangnya dan Firo ke rumah itu.


Semenjak Firo pergi bekerja Medina hanya mengurung diri di kamar hanya sesekali menonton TV. Dari siang Medina hanya mengutak atik handphone terbaru miliknya yang baru di berikan Tuan Bram kepadanya. Dia baru sadar kalau sampai sekarang dia tidak tahu nomer handphone suaminya.


Kerena lama lama melihat jam pasir mata Medina terasa berat dan tertidur sambil tengkurap.


***


Medina merasakan ada sesuatu yang memeluknya dari belakang. Belum sadar dari tidurnya Medina meraba raba sesuatu membuatnya terasa hangat.


"Aku kangen kamu honey," bisik Firo di telinganya.


Sedikit demi sedikit matanya mulai terbuka karena sebuah suara yang dari tadi dia rindukan.


"Kamu sudah pulang, Firo?" Medina menoleh ke arah Firo yang sedang memeluknya dari belakang.


Firo membenahi rambut Medina yang menutupi mukanya, "Apa kamu baik-baik saja di sini?" tanya Firo lagi.


Medina membenahi posisi tidurnya lebih mendekatkan ke tubuh Firo.


"Aku tidak papa, Hanya merasa bosan kalau tidak ada kamu, Firo" Ucap Medina.


Medina tidak tahu Firo sengaja mempercepat pulang hanya untuk bertemu dirinya.


Firo baru tahu kamarnya sudah di pindahkan ke rumah utama di beritahukan pelayan yang menghampirinya. Dia langsung bergegas masuk dan mendapati istrinya sedang tertidur.


"Firo, berapa nomer handphone mu? Biar aku bisa menghubungimu kalau kamu tidak ada di rumah, Daddy tadi memberinya padaku"


Firo lalu menuliskan sederet angka di layar ponsel milik Medina. Dan mengarahkan kamera ke arah mereka berdua untuk di jadikan photo profilnya. Firo mempererat pelukannya agar terlihat semakin dekat di kamera. Beberapa kali jepretan ia berhasil mendapatkan gambar mesra dirinya dengan Medina.


"Ini gambarnya terlalu mesum, sebaiknya di hapus saja" ucap Medina.


"Jangan biarkan saja, aku suka!" sahut Firo ketika melihat photo dirinya membenamkan wajahnya ke dalam dada Medina yang sedikit terbuka.


"Tidak Firo, aku malu melihatnya," ucap Medina lagi.


Medina mencoba mengambil handphone nya tapi tidak bisa, Firo malah menjauhkan dari tangannya. Tidak menyerah sampai di situ Medina lebih mendekatkan tubuhnya yang tak sengaja menindih tubuh Firo agar bisa mendapatkan handphone di tangan Firo.


Saat handphone berhasil di dapatnya. Kedua tangan Firo langsung memeluk tubuh Medina lebih erat dari sebelumnya.


Medina baru sadar ternyata dia sudah di atas tubuh suaminya. Medina menatap suaminya yang semakin erat memeluknya. Medina melupakan handphone nya yang ia jatuhkan di kasur ketika Firo dengan cepatnya menyatukan kedua bibirnya dengan sangat bergelora.


Karena semakin panas membuat Medina tak bisa bernafas, mereka menghentikan sejenak, tetapi memulainya lagi, lagi dan lagi. Lama kelamaan Medina bisa mengatur nafasnya.


Setelah beberapa menit Firo mengganti posisinya menjadi di atas. Bibir Medina begitu membuat candu baginya. Medina sangat terbuai oleh sentuhan halus Firo yang membuatnya ikut bermain.


Lama kelamaan sentuhannya semakin ke bawah. Membuat bagian inti Medina yang dari tadi berdenyut tak bisa menahan lagi ketika tangan Firo mulai memainkannya.


"Firo, aku ma... " Medina belum selesai berbicara Firo sudah menutup dengan mulutnya.


"Panggil aku sayang," bisik Firo ke telinga istrinya.


Pipi Medina begitu merona melihat kelakuan suaminya yang dengan sengaja membuka semua pakaian yang menempel di tubuhnya.


"Sayang aku tidak kuat lagi,"


Firo tersenyum dengan kata-kata Medina yang menggodanya. Dengan cepat ia mendorong si joni masuk ke rumahnya.


Setengah jam berlalu mereka akhirnya menyudahi permainannya. Medina begitu lemas tetapi Firo malah hendak memintanya kembali.


Firo masih memainkan mainan barunya yang berasa empuk dan padat.


"Hentikan sayang aku geli," ucap Medina, "Aku haus," ucapnya lagi.


Firo lalu mengambil gelas berisi air di atas nakas.


Dengan cepat Medina menghabisinya.


"Setelah ini aku akan memasakkan makanan untukmu, Honey" Ucap Firo masih memeluk Medina.


"Setelah ini, maksudnya?" Medina bertanya tidak mengerti.


Firo lalu menarik selimut dan mulai bermain lagi.