Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Shaka 2


Malam itu Shaka berniat menginap di rumah Firo. Nyonya Vika sedang berada di luar negri. Rumah itu tidak terlalu besar dibandingkan rumah milik Tuan Bram, Kamarnya pun hanya ada empat. Seperti biasa setiap kali menginap, Shaka selalu tidur berdua di kamar Agung.


Sebelum tidur Shaka bermain sebentar bersama Drago di ruang tengah. Bayi empat bulan itu begitu sangat gemuk berbeda sekali ketika baru lahir. Drago sangat senang bermain bersama Shaka yang dari tadi membuat bayi itu tertawa lucu karena tingkah konyol Shaka.


Laki-laki berumur 27 tahun itu mendadak menjadi seorang badut. Jangankan Drago, Agung yang ada di sebelahnya pun ikut tertawa.


"Uncle sangat lelah, Kamu tidur dulu ya, Boy" ucap Shaka yang kelelahan karena menjadi badut dadakan untuk Drago. Sekarang Shaka membaringkan Drago di kasur.


Karena bosan didiamkan bayi itu tiba-tiba menangis.


Oeek...oek..


Suara tangisan Drago terdengar sangat keras.


"Tuan, Sepertinya Tuan Baby sedang kehausan," ujar Agung yang duduk di sebelahnya.


Shaka lalu menggendong Drago kembali.


"Bayi tampan diam lah! Uncle akan memberikanmu kepada ibumu!" Shaka bergegas ke kamar Firo hendak mengembalikan Drago kepada orang tuanya.


"Cup..cup.. jangan nangis" Shaka berusaha menenangkan Drago sambil berjalan menuju kamar orang tuanya di lantai dua.


Sebentar lagi sampai dikamar orang tuanya, Namun Drago mendadak berhenti menangis.


"Sepertinya kamu ingin mempermainkan aku!" gerutu Shaka, "Tapi uncle ingin beristirahat. Jadi kamu akan aku kembalikan ke orang tuamu," ucap Shaka kepada Drago yang ia gendong.


Bayi mungil itu tersenyum menanggapi Shaka. Begitu menggemaskan menurut Shaka.


Shaka telah sampai di depan kamar Firo yang tertutup rapat.


"Sayang, cepatlah! Aku takut Drago kehausan," ucap Medina terdengar di balik pintu.


Shaka yang sudah memegang handle pintu, Akhirnya diam mematung di depan pintu gara-gara tidak sengaja mendengar percakapan Firo dan istrinya di dalam kamar.


"Sebentar lagi Honey, ini sudah agak cepat!" Firo yang di dalam kamar menanggapi.


Apa yang sedang mereka lakukan? Pikir Shaka dalam hati sambil menggendong Drago di depan pintu kamar Firo.


Shaka kembali mendengar percakapan Firo dengan istrinya di dalam kamar sebelum ia akan mengetuk pintu.


Kini ia mendengar suara mereka yang sedang mengatur nafas. Begitu menggetarkan jiwa jomblonya.


Ah! Kenapa aku harus menghadapi situasi sulit seperti ini lagi. Batin Shaka.


"Kenapa kamu malah berhenti menangis ketika sudah di depan kamarmu?" Shaka berkata pelan di depan Drago yang ia gendong.


Lagi-lagi bayi itu hanya tersenyum ketika Shaka berkata padanya.


Daripada lama menunggu Firo membuka pintu, Akhirnya Shaka memutuskan membawa Drago kembali keruang tengah.


Sebaiknya aku segera kembali. Sebelum semuanya semakin menjadi.


Sambil berbalik badan Shaka menggelengkan kepalanya.


"Drago menangis ya?" tanya Firo ketika Shaka sudah berjalan beberapa langkah.


Mendengar suara Firo, Shaka langsung membalikkan badannya lagi. Terlihat Shaka yang sedang terlihat kesal menatap Firo.


"Apa aku harus menjadi baby sitter dulu disini semalaman?" Shaka mengembalikan Drago kepada Firo.


Bayi mungil Drago sekarang sudah berada di tangan ayahnya, "Wah sepertinya kamu sangat senang bermain dengan uncle Shaka. Terima kasih Shaka sudah menjaga anakku," ucap Firo.


Entah kenapa perhatian Shaka tertuju pada dada bidang milik Firo yang sedikit terbuka. Di sana terlihat tanda merah yang begitu jelas.


Kenapa banyak sekali godaan di rumah ini? batin Shaka lagi.


"Pelan kan sedikit ******* mu agar tidak mengganggu ku!" ketus Shaka lagi.


Menurut Shaka, Hawa di rumah itu begitu terasa panas setelah mendengar suara mereka di dalam kamar.


"Tutup saja telingamu kalau tidak kuat," Firo mencoba menahan tawanya ketika Shaka berlalu meninggalkannya.


Shaka sudah sampai bawah, Ia percepat langkahnya melewati Agung yang tengah duduk di ruang tengah.


"Tuan, mau pergi kemana? Katanya malam ini anda akan menginap di sini?" tanya Agung yang melihat Shaka hendak pergi.


"Sepertinya malam ini aku tidak jadi menginap disini! Udara di rumah ini begitu sangat panas!" seru Shaka sambil menutup pintu depan.


Sepertinya Tuan Shaka mengalami hal yang sama seperti ku. Batin Agung.


Karena saking panasnya, Aku mendadak sembuh, Tuan! Batin Agung menghela napas panjang.


***


Malam itu Shaka keluar rumah sendirian menaiki mobilnya. Dari tadi sebenarnya ia ingin masuk ke dalam Bar. Namun diurungkan niatnya itu.


Sepanjang jalan Shaka hanya melihat setiap sisi jalan yang dilaluinya.


Tiba di cafe yang terbuka, Shaka menghentikan mobilnya karena sepertinya melihat seseorang yang dikenalnya.


Bukankah, Dia... ? batin Shaka.


Shaka memperhatikan gadis muda yang di kenalnya duduk di tengah bersama teman-temannya di cafe.


"Ayo kita bersulang," terdengar suara mereka yang saling bersautan.


Dasar gadis labil! Gumam Shaka.


"Sepertinya aku akan kehilangan mu Geya, Karena sebentar lagi kamu akan menikah," ucap Salah satu teman Geya di sebelahnya.


"Sebenarnya aku tidak ingin menikah muda, Terlebih lelaki yang di jodohkan denganku adalah lelaki angkuh yang sangat kasar. Aku pasti akan kehilangan kebebasanku," sahut Geya.


Gadis yang dikenal Shaka itu bernama Geya, yang akan di jodohkan dengannya.


"Kalau begitu malam ini kita harus bersenang-senang sebelum kamu menikah," sahut Temannya lagi.


Gadis yang akan di jodohkan dengannya begitu sangat jauh dari seleranya. Shaka menginginkan gadis yang berperilaku lembut tidak urakan seperti Geya yang sedikit tomboi kalau dilihat dari penampilannya.


Kenapa Mommy menginginkan gadis seperti itu yang akan dijodohkan denganku? Bukankah masih ada gadis yang lebih cantik dan lembut tidak seperti gadis labil itu.


Shaka tidak habis pikir dengan kelakuan ibunya. Tidak hanya ibunya, Kakeknya yang ada diluar negri pun mendukungnya menikah dengan Geya.


Selang satu jam.


Karena tidak ada kerjaan Shaka masih memperhatikan tingkah laku gadis labil itu.


Beberapa temannya satu persatu meninggalkan Geya sendirian. Sepertinya gadis labil itu sedang mabuk.


"Nona, sekarang sudah malam! Anda harus segera pulang!" Seorang sopir pribadinya mendatangi gadis labil itu.


"Aku tidak ingin pulang! Lagian aku bisa pulang sendiri!" ketus Geya kepada pengawal yang mendatanginya.


"Tapi... Nona," ucap seorang sopir pribadinya.


"Dia akan pulang bersamaku!" ucap Shaka tiba-tiba.


Sopir pribadi itu mundur ketika Shaka mendatanginya, Ia sudah tau siapa Shaka.


"Kau!"


"Sekarang sudah malam! Tidak baik seorang wanita lajang mabuk di tengah malam seperti ini!" ketus Shaka.


"Aish, Kamu belum jadi suami saja sudah banyak mengatur! Aku rasa ayahku sudah salah minum obat ketika menyuruhku menikah denganmu," ucap Geya sedikit ngelantur.


"Ayo kita pulang! Bukankah ini sudah malam, Nona!" Shaka menarik paksa tangan Geya.


"Aku tidak ingin pulang!" Geya berusaha melepas tangan Shaka.


###


.


.


.


.


.


Sambil menunggu putusan hakim buat Tuan Bram dan Sony. Othor bikin part khusus dulu ya buat babang Shaka.


Terima kasih sudah membaca.


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.