
Keesokan harinya.
Seorang gadis yang dikatakan labil oleh Shaka sedang menggeliat dan terbangun dari tidurnya semalam.
Geya baru menyadari kalau sekarang ia sedang tidak tidur di kamarnya.
Hah! Dimana aku sekarang? batin Geya sambil menengok ke samping.
"Aaaah... "
Tiba-tiba Geya berteriak sangat keras ketika bangun tidur ia mengetahui tengah sekamar dengan seorang pria.
"Oh, Tidak!" Geya melihat Shaka sedang tertidur di sebelahnya.
Teriakan Geya membuat Shaka terbangun dan terkaget.
"Apa yang kamu lakukan terhadapku?" Berkali-kali dengan bantal Geya memukuli Shaka yang belum sadar betul.
Bug..bug..
"Bangun..." teriak Geya lagi.
"Apaan si!" gerundel Shaka, "Berisik! Kenapa kamu membangunkan ku dengan cara kasar seperti ini!" Shaka menutupi mukanya yang kena hantam bantal.
"Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa aku ada di tempat tidur yang sama dengan mu! Jangan-jangan tadi malam kamu..." Geya menutup tubuhnya dengan tangannya. Tubuhnya masih menggunakan baju sisa tadi malam.
Dengan perasaan jengkel Shaka akhirnya bangun dan langsung duduk. Ia mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Kamu pikir aku pria brengsek! Sudah jelas kalau kamu bukan tipe ku, Gadis labil!" Shaka mendengus kesal.
Shaka kemudian menarik bantal yang di gunakan untuk memukulnya, hendak tidur lagi. "Lap dulu bekas iler di pipimu sebelum membangunkan pria tampan seperti ku."
"Apa?"
Geya langsung berlari mendekati cermin yang ada di kamar hotel itu.
Benar yang dikatakan Shaka kalau wajahnya masih menempel bekas iler yang membekas di dekat bibirnya.
"Gadis jorok! Bisa-bisanya aku akan dinikahkan dengan mu!" Shaka mendengus kesal sambil membelakangi Geya.
"Kamu sangat beruntung mendapatkan aku!"
Melihat wajahnya yang tidak layak dilihat, Geya begitu malu dan buru-buru ke kamar mandi hendak mandi dan mengganti bajunya yang terkena muntahan tadi malam.
***
Flashback on.
Tadi malam.
"Tunggu!" Geya menarik tangan Shaka yang menyebabkan tubuh mereka menempel menjadi satu di atas kasur.
"Haus!" ucap Geya, Karena mabuk ia tak bisa berpikir jernih kalau tubuh Shaka sudah ada di atasnya.
Shaka langsung terbangun, "Apa yang sudah kau lakukan!" Shaka langsung menarik napas panjang dan duduk di sebelahnya.
Kalau bukan aku, Sudah pasti kamu sudah habis di makan laki-laki lain, Dasar kau gadis labil! gerutu Shaka dalam hati.
Lagi-lagi aku harus menghadapi situasi sulit seperti ini! Shaka mendengus kesal.
"Haus..aku haus!" celoteh Geya lagi.
"Kau!" Shaka terlihat sangat geram.
Dengan tampang kesal Shaka memberikan air minum yang sudah ia buka kepada Geya yang masih tidur, "Minumlah! Biar otak mu kembali jernih," ucap Shaka.
Geya meraih botol minuman itu lalu duduk meminumnya.
Shaka kembali menoleh ke arah Geya, Dilihatnya leher putih Geya yang sedikit terbuka.
Glek..glek. suara Geya yang sedang meminum.
Kenapa si Joni tidak bereaksi melihatnya.
"Besok kamu harus pulang! Ibumu pasti mencari mu!" ujar Shaka.
"Ingat jangan bermain dengan teman teman mu yang tadi. Mereka tidak baik untukmu!"
Baru selesai minum, Geya langsung tergeletak di kasur.
"Nona, Apa kamu sudah tidur?" Shaka mendekatkan wajahnya memastikan kalau gadis di sebelahnya sudah tertidur.
Grkk...grkk.
"Hah! Kenapa cara tidurmu seperti itu?" Shaka terkaget ketika mengetahui gaya tidur gadis di sebelahnya.
Geya tertidur sambil tengkurap, Kedua kakinya ia tekuk dan dimasukkan kepalanya ke dalam selimut.
Kau ini gadis macam apa? Apakah mommy sedang tidak salah meminum obat, Hendak menjodohkan aku dengan gadis labil seperti ini.
***
Flashback off.
"Terima kasih sudah meminjamkan baju untuk ku!"
Meskipun kebesaran baju milik Shaka tetap dipakai Geya. Mengingat bajunya sudah kotor dengan muntahan tadi malam.
Geya menepuk tubuh Shaka yang sedang tertidur, "Maaf aku salah sangka. Aku kira kamu sudah menjebol gawang ku!" Geya begitu malu lalu menutup mulut dengan tangan kanannya.
"Lain kali periksa dulu sebelum menuduh," ucap Shaka masih menutup matanya.
"Maaf! Karena dari tampang mu aku kira kamu pria yang brengsek," Geya mencoba menahan tawanya.
"Berisik! Hentikan ocehan mu, Aku sedang tertidur" Semalaman tadi Shaka memang tidak bisa tertidur karena mendengar dengkuran Geya.
"Dasar pria kasar, Padahal aku sudah merendahkan emosi ku. Huh!" gerutu Geya, "Baiklah kalau begitu aku pergi!"
Dengan perasaan kesal Geya meninggalkan Shaka yang masih memejamkan matanya.
Gadis labil. Sepertinya setiap malam aku tidak akan bisa tidur setelah menikah denganmu. Gumam Shaka.
***
Di penjara Sony.
Sony sudah di pindahkan dari Rutana ke Lapasa
Sony sedikit lega karena di sana ia di beri fasilitas yang lebih baik dari pada di Rutana.
Ada campur tangan dari petugas di sana yang membuat Sony diperlakukan begitu istimewa. Bahkan sewaktu-waktu Sony diberi ruangan khusus untuk dirinya bersantai. Di ruangan santai sudah di sediakan fasilitas istimewa, diantaranya televisi dan handphone pribadi. Tentunya hal itu dilakukan secara sembunyi sembunyi.
"Bulan depan adalah putusan dakwaan. Kamu tenang saja, Kami akan menyewa banyak pengacara yang paling handal agar meringankan hukuman mu!" ucap seorag pria yang sedang menjenguknya.
Sony tersenyum miring ke arah pria itu, "Bagaimana dengan tua bangka itu?" tanyanya.
Yang Sony maksud adalah Tuan Bram.
"Biarkan saja! Aku yakin Hakim pasti akan menjatuhkan hukuman mati untuknya. Karena kesombongannya, ia pantas menerimanya," sahut pria itu.
"Dasar pria tua bodoh!" umpat Sony.
"Apa ada yang dibutuhkan lagi, Tuan?" pria itu kembali bertanya kepada Sony.
"Kepala ku akhir akhir ini sering migrain! Sepertinya aku butuh teman tidur!" seru Sony sambil memegangi kepalanya.
Ternyata pria yang menjenguknya adalah pria suruhan yang di utus ketua organisasi perdagangan ilegal untuk menjenguk dan mengurus berbagai keperluan Sony di dalam Lapasa.
"Tenang saja, Tuan! Aku pasti mencarikannya. Tapi maaf tidak bisa sekarang. Karena nanti malam akan diadakan sidak besar-besaran," jelas pria itu, "Resikonya sangat besar kalau sampai ketahuan, Tuan" tambahnya.
"Baiklah aku mengerti!" Sony mendengus kesal.
Sony kembali memegang kepalanya, Akhir-akhir ini memang kepala Sony sering pusing. Menurutnya mungkin karena beberapa bulan ini ia masih belum terbiasa tinggal didalam penjara.
"Apa kepala anda masih pusing?" tanya pria itu.
"Iya, Kamu tidak membawa obat untukku?" tanya Sony.
Yang dimaksud obat oleh Sony adalah ganja.
Pria itu kembali menggeleng.
"Apa aku akan terus menderita seperti ini! Rasanya seperti ingin mati di sini!" Sony kembali mengumpat.
"Anda hanya perlu bersabar sebentar lagi, Tuan"
"Pulanglah! Aku sudah tidak membutuhkan mu." seru Sony kesal karena apa yang diinginkannya tidak dipenuhi.
Karena jam besuk habis pria itu mengakhiri sesi kunjungan.
"Dasar tidak berguna!" ucap Sony sembari menendang kursi sebelum ia kembali ke dalam penjara.
###
.
.
.
Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan kondisi. Karya ini murni dibuat karena kehaluan author, Bukan maksud menyinggung pihak manapun!
Terima kasih sudah membaca.
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.