
"Sepertinya kalian sudah saling mengenal"
Ucapan Tuan Bram mengagetkan Medina dan Sony.
"Ah tidak Dad, tadi aku tidak sengaja menyenggolnya," sahut Sony.
Tuan Bram berjalan bersama Syerli mendekatinya.
"Kamu kemana aja sayang? aku dari tadi mencari mu" Syerli lalu menggandeng tangan Sony.
Apa! Sayang? Memangnya ada hubungan apa dengan Syerli? Pikir Medina dalam hati.
"Perkenalkan ini adalah suami kakak ipar mu, Sony namanya dan ini istri Firo, Medina namanya." Tuan Bram memperkenalkan mereka.
Medina dan Sony berjabat tangan, Pura-pura baru kenal.
Medina baru tahu ternyata pacar adiknya adalah suami kakak iparnya. Syerli menikah dengan Sony yang lima tahun lebih muda darinya.
"Sayang ayo kita menghampiri mommy, disini pemandangannya tidak asik," ucap Syerli membawa Sony menjauh.
Mereka berdua lalu ergi. Medina sampai tak habis pikir kenapa adiknya bisa menyukai pria beristri.
Firo menghampiri Medina, sementara Shaka menghampiri ayahnya yang sedang mengobrol bersama Medina. Nyonya Stella juga ikut bergabung bersama mereka duduk satu meja.
"Medina kenalkan ini adalah Shaka anak Daddy saudaranya Firo," ucap Tuan Bram.
"Kami sudah saling kenal, Dad" celetuk Shaka.
"Benarkah, apa kalian sudah lama saling kenal?" tanya Tuan Bram.
"Ah tidak aku hanya mengenalnya baru-baru ini, Dad" jawab Medina.
Firo dan Nyonya Stella melihat tak senang.
Firo tidak betah berlama-lama duduk bersama mereka, ingin rasanya dia membawa Medina cepat pergi dari situ.
"Daddy lihatlah wajah Medina, dia sangat mirip sekali kan dengan Shinta," seru Shaka.
"Shinta tunangan kamu yang meninggal itu? yang sering kamu ceritakan?" tanya Tuan Bram.
"Mungkin, itu cuman kebetulan saja" sahut Medina.
Nyonya Stella yang melihat Medina juga awalnya mengira kalau Medina adalah Shinta. Tapi pas di selidiki mereka hanya mirip.
"Daddy sangat pintar mencarikan istri buat Firo," seru Shaka, "Bahkan aku pun mau mempunyai istri seperti Medina" tambahnya.
Brak!
Firo yang mendengar itu langsung menggebrak meja dan menarik tangan Medina pergi menjauh.
"Sepertinya penyakit gilanya kambuh lagi," kelakar Nyonya Stella memanasi.
Sepertinya Firo sangat mencintai istrinya. Batin Tuan Bram tidak memarahi kepergian mereka.
"Lebih tepatnya gila karena cinta, Mommy!" seru Shaka.
"Shaka kalau kamu mau mommy dan Daddy mu akan mencarikan mu calon istri buatmu," ujar Nyonya Stella.
"Benar, Daddy akan mencarikan mu pendamping, dari pada kamu masih belum bisa melupakan tunangan mu itu" Tuan Bram menimpali.
"Ah, Lupakan saja! Aku bisa mencari sendiri," jawab Shaka sambil masih memandangi Medina yang di bawa Firo pulang.
Setidaknya wanita itu seperti Shinta kalau tidak Medina. Batin Shaka dalam lamunannya.
***
"Lepaskan aku, Firo! Tangan aku sakit kalau kamu terus menariknya"
Medina tidak menyukai dengan sikap Firo yang menariknya dengan kasar.
"Sebaiknya kita pulang cepat, aku tidak suka berkumpul bersama mereka semua," ucap Firo.
"Setidaknya kita pamit dulu kepada Daddy tidak begitu saja pergi tampa permisi," ucap Medina lagi.
"Aku tidak peduli dengan mereka," tegas Firo.
Firo berjalan sangat cepat kearah kamarnya yang lebih mirip kontrakan satu pintu.
Mereka lalu memasuki kamarnya,
"Aku bahkan belum sempat makan dan minum di sana" Medina lalu membuka kulkas dan meminum air dingin yang tersedia di sana, "Aku sangat haus sekali"
"Apa kamu sangat senang di sana, apa kamu menyukai Shaka?" ketus Firo marah.
Medina yang hampir tersedak berhenti Minum karena ucapan Firo yang sangat marah.
"Aku hanya ingin menghormati Daddy tidak lebih. Bukan berarti menyukai Shaka!" sahut Medina kesal.
"Jauhi Shaka, aku tidak suka cara dia menatapmu!" teriak Firo sambil memecahkan gelas di tangan Medina.
Medina yang melihat itu hanya terdiam tak berkutik.
Mengapa Firo seperti itu lagi, Batin Medina.
"Kenapa kamu tak bisa menyukaiku? Kenapa kamu tidak pernah mengerti aku?" Firo berteriak sekali lagi dan mendorong tubuh Medina ke tembok.
Medina yang biasanya berani terhadap lelaki hanya diam karena dia menghargai bahwa bagaimanapun Firo adalah suaminya.
"Jawab pertanyaan ku! Apa kamu mencintaiku?" Firo berteriak lebih dekat kearah Medina. Mereka hampir berjarak.
Air mata Medina tak bisa terbendung. Dia menangis bukan karena sakit di dorong Firo, tetapi karena dia tidak tahu harus menjawab apa, Medina tidak mengerti perasaan dirinya sebenarnya terhadap Firo.
Firo menyeka air mata Medina yang terjatuh di pipi.
"Maafkan aku, kalau kamu menyukai Shaka. Pergilah aku tidak akan melarang mu!"
Firo kemudian pergi meninggalkan Medina yang masih menangis.
Sementara Medina masih menangis bersandar di tembok.
Apa aku salah karena sikapku ? Aku jelas tidak menyukai Shaka. Batin Medina.