Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Mencari Medina.


Sony masih memperhatikan gerak gerik Medina di rumahnya. Sudah beberapa hari dia hanya di dalam rumah.


"Gung, aku punya tugas buat kamu," ujar Sony berbisik.


Dengan gaya sedikit ngondek ia mendekati tuannya.


"Ada apa tuan?" tanyanya.


"Jangan biarkan nona muda keluar dari rumah ini," ujar Sony.


"Memang kenapa, Tuan" sahutnya, "Tadinya aku mau ngajak nona berkeliling kebun di sebelah, apalagi nona sangat pecinta bunga," tambahnya.


Sony dengan kasar melempar lap ketubuh Agung.


"Jangan banyak bertanya kalau kamu masih ingin uang, ikuti saja perintahku," seru Sony.


"Apa sekhawatir itu kah anda kepada Nona Meysa," sahutnya meledek Sony.


"Sudah aku katakan jangan banyak bertanya kalau kamu masih ingin di gaji," ujar Sony ketus.


"Jangan kasar begitu tuan kepada aku, ingat istri anda sedang hamil. Kalau anaknya laki nanti bisa jadi mirip aku," celetuk Agung.


"Hentikan ocehan mu, Gung" ucap Sony.


"Iya Tuan," jawabnya sambil terus memasak.


"Selamat pagi, suamiku" sambut Medina dari dalam kamarnya.


Sony masih memperhatikan tingkah laku Medina. Sampai detik ini ia masih belum percaya dengan Medina yang mendadak amnesia.


"Aku ke ruang tengah dulu," ucapnya kepada Medina.


"Baiklah suamiku," Medina membiarkan Sony pergi.


Medina dengan cekatan membantu Agung memasak. Namun baru beberapa menit dia tidak tahan dengan bau masakan yang tercium aneh di hidungnya.


"Bau masakannya aneh," seru Medina.


Agung tertawa dengan tingkah laku majikan barunya, "Itu wajar, Nona" ucapnya, "Biasanya ibu hamil muda akan sensitif terhadap bebauan. Ada yang ngga suka bau nasi, ada juga yang sampai ngga suka bau badan suaminya," jelas Agung.


"Waah sepertinya kamu sudah berpengalaman, Gung" ucap Medina memukul pelan bahu Agung.


"Jelas Nona, Walaupun aku laki tapi aku sering ngobrol sama emak-emak rempong di kampung sini," ucap Agung menutup mulut dengan satu tangannya.


Medina terus bersenda gurau dengan Agung di dapur sampai mereka selesai masak. Medina yang sesekali mual terpaksa harus menahan bau yang mengganggu hidungnya agar dapat berbicara banyak dengan Agung.


Sony sedang duduk tidak jauh dari dapur ia masih terus berkutat dengan laptopnya.


"Tuan, masakannya sudah siap," ujar Agung kepada Sony yang masih sibuk.


"Sebaiknya kamu makan duluan dengan istriku, nanti aku menyusul" sahut Sony tak menoleh.


Medina yang dari dapur mendekati Sony.


Dia sedang ngapain?. batin Medina yang melihat Sony tengah sibuk dengan laptopnya.


Dari sudut matanya ia melihat Sony seperti sedang berkirim pesan dengan seseorang. Medina sangat penasaran terlebih Sony adalah tangan kanan Tuan Bram.


"Suamiku," ucap Medina dari belakang.


Sony tak menoleh.


"Bisakah kau membelikan ku makanan dari luar? Aku sedang tidak ingin memakan masakan Agung," ucap Medina.


Sony menoleh ke arah Medina.


"Suruh Agung untuk membelikannya," seru Sony lalu kembali berkutat ke laptopnya.


Medina berkelit.


"Aku tidak mau Agung yang membelinya," ucap Medina lalu duduk di sebelah Sony.


Medina mengelus perutnya yang masih rata.


"Sepertinya bayiku yang menginginkan ayahnya yang membelikan makanannya," ucap Medina.


Sony mendengus kesal.


Kenapa harus aku yang di susahkan karena kehamilan mu, gerutu Sony.


"Nona Meysa sepertinya sedang ngidam, Tuan" celoteh Agung mendekati mereka.


"Tadi juga Nona tidak kuat dengan bau masakan ku," tambah Agung lagi.


Diam lah kamu banci kaleng, batin Sony.


"Aku tidak akan makan kalau kamu tak membelikannya," ucap Medina.


"Aish, kenapa anakmu menyusahkan ku," gerutu Sony.


Medina hanya tersenyum menanggapi.


"Bukankah kamu suamiku, tidak ada salahnya kan kalau kamu membelikan makanan untukku," ucap Medina.


Anak sama ibunya benar-benar menyusahkan! batin Sony.


Raut muka Sony begitu masam.


"Baiklah, di mana tempat aku harus membelikan makanannya," ucap Sony kesal.


"Kalau begitu, biar aku antarkan, Tuan!" seru Agung.


"Tidak perlu! Kamu harus tetap disini menjaga Nona Meysa di rumah," seru Sony.


"Baiklah tuan, aku akan menjaga Nona Meysa, Nona mau di belikan apa?"


"Ehm... aku mau makanan cepat saji yang ada di restauran yang letaknya paling ujung itu," ucap Medina.


Dengan sangat terpaksa Sony menuruti kemauan Medina.


"Agung, ingat! Jangan sesekali membawa Nona Meysa keluar," ujar Sony.


Agung mengangguk. Medina di sebelahnya nampak tersenyum puas.


Rasakan kamu, Sony! Harusnya kamu seperti ini kepada Niki.


Sabar ya Nak! kita bermain dulu dengan uncle Sony, setelah ini kita akan mencari ayah.


Medina kembali mengelus perutnya.


Sony dengan sangat kesal keluar hendak mencari makanan.


"Gung, bisakah kamu membuatkan ku air jahe, kata kamu air jahe bisa meringankan perut yang mual,"


"Iya, Nona tapi jangan terlalu banyak karena Nona masih hamil muda," sahut Agung.


"Bikinkan saja, Gung. Aku hanya ingin menghirup aromanya," seru Medina.


Medina mencari cara agar Agung tidak selalu berada di dekatnya. Medina ingin mengecek isi laptop Sony.


Setelah Agung ke dapur, Medina dengan gerakan cepat membuka laptop.


"Ah, Sial! terkunci"


File yang dicari Medina banyak yang terkunci. Namun ketika dia memperhatikan gambar di layar laptop itu ada tanaman yang sering di lihat Medina yang pernah ia lihat di dalam taman samping milik Tuan Bram.


Ingatan Medina kembali ke beberapa bulan yang lalu, saat itu ia melihat beberapa tanaman yang begitu asing di lihatnya.


Tanaman itu daunnya hijau bentuknya menjari dan panjang, sama persis dengan gambar yang ada di layar laptop milik Sony.


Apa ini yang dinamakan daun ganj*. batin Medina.


"Nona, ini minuman jahenya sudah jadi" ucap Agung mengagetkan Medina.


Medina langsung terkaget lalu dengan keras menutup laptop itu.


"Terima kasih, Gung" ucapnya sambil menerima secangkir minuman jahe dari tangan Agung.


***


Shaka sedang menaiki mobil berwarna hitamnya dengan Firo menuju puncak.


Hari ini ia luangkan waktunya untuk menemani Firo seharian untuk mencari istrinya.


"Apa kamu yakin disini tempatnya?" tanya Shaka kepada Firo.


"Aku yakin mobil Sony terjatuh dari sini," sahut Firo.


Setelah sampai lokasi ia dan Shaka turun dari mobil.


Hawanya begitu sangat sejuk. Di sepanjang tempat terjadinya kecelakaan masih terpasang garis kuning.


Entah keyakinan darimana Firo menyelusuri area sungai yang tidak jauh dari tempat kecelakaan.


Firo terus berjalan diikuti Shaka di belakangnya.


Firo semakin berjalan menjauhi lokasi.


Usaha tak mengkhianati hasil.


Dari jauh Firo seperti melihat kain berwarna kuning begitu menyilaukan matanya. Kain itu terhenti di sungai karena terhimpit bebatuan.


Firo yang melihat itu berlari mendekati.


Setelah sampai, Firo meraih kain berwarna kuning yang terdapat motif flaminggo itu. Kain itu seperti sobekan celana paling bawah karena terlihat garis lipatannya.


Firo kembali mengingat ingat baju terakhir yang di kenakan istrinya. Seingatnya istrinya sering memakai piyama tidur kalau malam. Firo yakin itu adalah piyama yang sering dipakai Medina.


"Apa yang kamu temukan?" tanya Shaka mendekati Firo.


"Lihatlah, aku menemukan sobekan Kain yang dipakai istriku," sahut Firo.


Kalau mungkin istrinya tewas terbakar pasti pakaian yang dikenakannya ikut terbakar juga. Jangankan kain, kondisi mayat yang dilihat Firo waktu itu seratus persen gosong. Tidak mungkin menyisakan sobekan kain yang sedang dipegangnya.


Firo tersenyum ke arah Shaka.


"Aku sangat yakin istriku masih hidup,"