
Pria berumur lebih dari separuh abad, Berbaju warna orange yang bertuliskan tahanan sedang memegang sapu ditangannya. Sesuai jadwal, Hari ini ia kebagian piket untuk membersihkan halaman depan tempat ia di penjara. Bramantyo namanya.
Selain Tuan Bram, Ada dua pria lainnya yang kebagian tugas membersihkan halaman depan, Mereka berdua sama-sama memegang sapu di tangannya hendak membersihkan sampah yang berserakan.
Dua orang tahanan saling berbisik.
"Lihatlah pria itu, Sepertinya hakim akan menjatuhkan hukuman mati untuknya" seorang pria berstatus tahanan berbisik dengan teman pria lainnya yang berstatus sama.
"Kasian sekali dia, Padahal kelihatannya ia orang yang baik," sahut tahanan berkulit hitam.
"Padahal ia orang kaya dan memiliki banyak hotel dan resort. Kasian sekali harus mendekam di penjara seperti kita!" sahut Tahanan bertato naga.
Tahanan bertato naga masuk penjara karena kasus perampokan. Sedangkan tahanan berkulit hitam, Di dakwa karena tuduhan pembunuhan terhadap anaknya yang seorang pecandu.
"Kasus apa yang ia lakukan?" tanyanya pria kulit hitam.
Karena kasusnya sangat berat, Petugas Rutana memisahkan Tuan Bram dari tahanan lainnya. Mereka hanya bertemu sesekali dengan Tuan Bram.
"Kata petugas, Ia ditahan karena terjerat kasus pembunuhan berencana dan ia juga seorang pengedar ganja," sahut tahanan bertato naga.
"Apa?"
Mendengar Tuan Bram adalah pengedar ganja, Darah tahanan berkulit hitam langsung mendidih.
"Kurang ajar jadi dia adalah pengedar ganja?" Ketus pria berkulit hitam mengepalkan telapak tangan kanannya.
"Memangnya kenapa?" tanya tahanan bertato.
"Aku bisa khilaf membunuh anakku karena tidak kuat dengan anakku yang setiap hari meminta uang untuk membeli serbuk ganja, Gara-gara dia anakku menjadi seorang pecandu" seorang tahanan berkulit hitam terlihat sangat marah melihat wajah Tuan Bram.
"Ikut aku! Aku harus memberinya pelajaran!"
Tahanan berkulit hitam mengajak Tahanan bertato berjalan menghampiri Tuan Bram yang sedang menyapu sendirian.
Tiba-tiba.
Bruakk!!
Tahanan berkulit hitam menendang tempat sampah yang sudah terisi penuh dengan sampah. Padahal barusan Tuan Bram mengumpulkannya dengan susah payah.
Tuan Bram sangat marah melihatnya.
"Apa yang kamu lakukan!" bentak Tuan Bram mendengus dengan kesal.
Tahanan berkulit hitam menarik baju Tuan Bram. Badan tinggi besarnya mampu mengangkat tubuh kurus Tuan Bram, "Jadi kamu adalah pengedar ganja!" Pria berkulit hitam melotot ke arah Tuan Bram.
Tuan Bram mencoba melepas tangan Tahanan berkulit hitam. Namun tenaganya tak cukup kuat.
Bug.
"Rasakan pukulan ku! Gara-gara kamu anakku menjadi seorang pecandu, Anakku sampai menjual habis harta benda ku, Rasakan ini!" Tahanan berkulit hitam memukul Tuan Bram.
Bug.
Untuk kedua kalinya tahanan berkulit hitam menghantam Tuan Bram, kali ini tepat di dadanya.
"Arghh" teriak Tuan Bram.
Tuan Bram tidak berani melawan tahanan berkulit hitam karena tuduhannya benar. Ia adalah seorang pengedar ganja.
"Maafkan aku," ucap Tuan Bram yang terjatuh di atas tumpukan sampah.
Untuk pertama kalinya ada orang yang berani memukulnya. Di tempat itu Tuan Bram sudah tak punya kuasa sama sekali. Bahkan seekor kucing lebih layak dihargai dibandingkan dirinya.
"Jangan harap kamu bisa hidup tenang menjelang hukuman mati mu!" Tahanan bertato ikut menendang Tubuh Tuan Bram yang tersungkur di tanah.
Bug..bug..bug.
Tidak hanya Tahanan bertato bahkan tahanan berkulit hitam ikut menendangnya. Mereka sama-sama tidak suka dengan Tuan Bram.
Sakit.
"Ampun.." rintih Tuan Bram memohon.
Tahanan bertato menarik rambut Tuan Bram, "Jangan belagu kamu disini. Sekarang uang dan kekuasaan mu di sini sudah tidak berlaku. Kamu masih ingat kah dengan aku. Karyawan yang dulu kamu pecat tanpa pesangon! Gara-gara kamu mendadak memecat ku, Aku terpaksa merampok demi bertahan hidup untuk keluargaku,"
Tuan Bram baru ingat ketika Tahanan bertato mengatakannya.
"Maafkan aku!" Tuan Bram kembali meminta maaf.
Mereka berdua tetap tidak menerima maaf Tuan Bram.
"Ha..ha..Rasakan kamu..cuihh!" Tahanan berkulit hitam meludahi wajah Tuan Bram.
Tidak hanya meludahi bahkan Tahanan bertato malah mengencingi Tubuh Tuan Bram yang sedang meringkuk.
Cuuurrr.
Air seni dengan bau pesing sudah menjalar di tubuh Tuan Bram. Ia sudah terhina habis-habisan.
Tuan Bram yang biasanya sangat dihormati bahkan dengan sekali berucap, Orang akan takut ketika membantah perintahnya. Di penjara semua kekuasaannya tidak bisa menolongnya.
"Sekarang kamu tidak memiliki siapapun orang yang akan menolong mu!" ucap tahanan bertato.
Pengawal yang biasanya mengamankannya, Sekarang tidak ada satu pengawal pun orang yang menolongnya. Bahkan uangnya tak bisa menolong dirinya di sana.
Beberapa menit berlalu akhirnya ada petugas yang mengamankan Tuan Bram
Kalau saja tidak ada petugas yang melihatnya, Tuan Bram bisa mati di pukuli. Petugas yang datang terlambat menyelamatkan Tuan Bram dari amukan kedua tahanan lainnya.
Tuan Bram dibawa masuk ke dalam Rutana oleh petugas.
"Perih..." rintih Tuan Bram yang sudah masuk kedalam Rutana.
Petugas Rutana hanya memberikan obat untuk mengobati luka yang ada di tubuh Tuan Bram.
Tuan Bram masih beruntung karena tempatnya terpisah dari tahanan lainnya. Tuan Bram duduk dipojokan sambil membersihkan sisa air kencing yang menempel di badannya sambil membersihkan lukanya.
Tuan Bram mengusap genangan air mata yang hendak jatuh ke pipinya. Selain perih di tubuhnya, ia juga merasa perih di hatinya.
Begini kah nasib seorang yanng bersalah? Batin Tuan Bram.
Aku begitu sangat menyesal kenapa gara-gara ambisi dan rasa dendam ku, Aku mengorbankan semuanya. Batin Tuan Bram sambil menangis.
Dari luar jeruji besi seorang petugas Rutana mendatanginya.
"Pak Bram, Ada orang yang menjenguk anda," seorang petugas Rutana memberitahukan kepada Tuan Bram.
Setiap kali ada yang menjenguknya, Tuan Bram begitu sangat senang. Ia yang sedang membersihkan luka langsung bergegas menghampiri.
"Siapa yang menjengukku?" tanya Tuan Bram memegang jeruji besi. Rasa perih di tubuh dan hatinya langsung menghilang seketika.
"Sepertinya anak anda, Pak" seru petugas itu.
"Benarkah!"
Tuan Bram begitu kegirangan langsung keluar begitu petugas membuka kunci dan gembok.
Sebelum menemui siapa yang menjenguknya. Petugas memborgol tangan Tuan Bram dahulu.
"Selamat ya pak, Akhirnya anak anda menjenguk juga," seru petugas Rutana. Selama di penjara Tuan Bram banyak bercerita dengan petugas Rutana.
"Terima kasih, Pak"
"Semoga dengan bertemunya anak anda. Pak Bram bisa semangat lagi dalam menjalani sisa hidup anda," ucap Petugas Rutana ramah.
Tuan Bram sudah tau kalau hukuman apa yang akan diterimanya kelak pada sidang dakwaan dia yang ke empat.
Dengan di antar petugas Rutana, Tuan Bram menuju ruang besuk tahanan.