Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Ayah Untuk Elard


"Terima kasih, kak sudah mampir ke sini," ucap Niki malu malu kepada ikbal.


Ikbal dulunya adalah teman Medina saat kecil. Ikbal sempat menyukainya, Tapi semenjak Medina sudah memiliki suami. Ikbal langsung membuang jauh-jauh perasaanya kepada Medina.


Ikbal sangat dekat dengan keluarga Pak Joko, Awalnya Ia menganggap Niki seperti adiknya sendiri. Lambat laun perasaan itu tumbuh dengan sendirinya ketika mereka berdua sering bersama.


Mereka bertiga bersama Baby El duduk di teras depan sambil meminum teh.


"Anakmu sangat lucu, Niki" ucap Ikbal sambil menggendong Elard, "Apa kamu akan seperti ini terus bersama anakmu?" tanya Ikbal lagi.


"Maksud kakak?" Niki tidak mengerti maksud dan tujuan Ikbal mengatakan itu.


Ikbal yang sedang memangku Elard mendekatkan kursinya lebih dekat ke arah Niki.


"Maksud aku, Kamu tidak akan menikah lagi. Bukankah Baby El membutuhkan seorang ayah?" sindir Ikbal.


Sebenarnya ada maksud dan tujuan lain Ikbal mengatakan hal itu kepada Niki.


Niki tersipu malu mendengarnya, "Aku tidak tau kak, Karena aku juga belum mengurus perceraian ku dengan Sony," ucapnya.


Ikbal tau diri akan status Niki, Walaupun ia sangat menyukai Niki dan hendak menikahinya. Itu tidak mungkin karena ia masih belum bercerai dari suaminya.


"Aku mengerti Niki, Maaf aku sudah lancang!" ujar Ikbal.


"Tidak apa, Kak" sahut Niki.


Niki tau lelaki di depannya sudah menyimpan perasaasn sejak dulu. Saat Elard baru lahir, Ikbal lah yang selalu ada disampingnya. Elard bahkan sangat dekat dengan Ikbal sudah seperti ayah dan anak kandung.


"Baby, El. Besok uncle akan kesini lagi menemui mu, Jangan bosan ya, Jagoan!" ucap Ikbal.


Karena hari sudah malam, Ia harus pulang. Ikbal tidak ingin berlama-lama di rumah itu karena takut menimbulkan fitnah.


"Terima kasih ya, Kak" ujar Niki mengantarkan Ikbal ke depan jalan.


"Nanti kalau El sudah agak besar akan mampir ke shelter milik uncle," sahut Niki memegang tangan Baby El melambai ke arah motor Ikbal.


Niki melambaikan tangannya ke arah Ikbal.


"Kabari aku, Kalau kamu ingin datang menemui suami mu di penjara," ucap Ikbal sambil menstarter motornya, "Nanti aku akan mengantarkan kalian," tambahnya.


"Ya, nanti aku kabari" sahut Niki.


Setelah motor Ikbal berlalu menjauh, Niki bersma El hendak kembali ke rumahnya.


Jalan itu tampak sepi di malam hari, Karena rumah mereka letaknya paling ujung.


Sepertinya ada yang mengikuti ku. Gumam Niki sambil menggendong Baby El.


Benar saja di tengah jalan, Langkah Niki di hentikan oleh seseorang menggunakan penutup kepala dan muka.


"Ikut aku!" sahut pria itu menarik satu tangannya.


Niki yang sedang menggendong Elard langsung terkaget.


"Si-siapa kamu?" Niki begitu ketakutan, "Aku akan berteriak keras kalau kakimu melangkah lagi," tambahnya.


"Jangan takut! Aku tidak akan menyakitimu. Ikut aku" ujar pria itu lagi.


"Tidak, Aku tidak mau!" Niki menggertak pria itu.


Karena Niki yang bersikeras menolak akhirnya pria itu memakai cara kasar agar Niki mau ikut dengannya.


"Jangan berteriak, Kalau tidak aku bunuh anakmu!" ucap pria itu menodongkan pisau ke arah Baby El.


Elard tidak mengetahui bahaya yang sedang mengintainya. Dengan sangat tenang Baby El menatap ke arah pria itu.


"Ikut aku! Aku tidak akan menyakiti kalian," ucap Pria itu membuka sedikit penutup mukanya.


Ternyata pria itu adalah Sony. Dengan uangnya, Ia dengan bebas memberi uang tutup mulut kepada petugas Lapasa agar Ia bisa kabur dari penjara hanya semalam. Setelah itu ia harus cepat kembali ke dalam penjara, Sebelum ketua Lapasa tau dan akan memberatkan hukumannya.


Sebelum ia mengeraskan suaranya, Sony lebih dulu menutup mulut Niki dengan tangannya.


"Ikut aku,"


Dengan menggunakan motor Sony membawa Niki dan Elard bersamanya.


Sebelum menjalankan motornya, Sony memberikan jaketnya untuk menutupi tubuh Baby El agar tak kedinginan.


"Pegang yang erat agar kamu tidak terjatuh," ucap Sony kepada Niki yang sudah duduk di belakang boncengan motornya.


Banyak pertanyaan di otak Niki. Namun ia segera menyembunyikan segala pertanyaannya. Ia yakin Sony tidak akan menyakiti Ia dan anaknya.


Setelah setengah jam mereka akhirnya sampai di depan sebuah rumah yang ia sewa semalam.


"Masuklah!" seru Sony.


Niki masih menggendong Baby El lebih erat lagi.


"Aku bilang aku tidak akan menyakiti mu, Tidak usah takut. Lagi pula ia adalah anakku!" ucap Sony.


Niki yang awalnya takut akhirnya membiarkan Sony memegang Elard.


"Bolehkah aku menggendong anakku?" tanya Sony.


Niki sempat ragu, Namun saat tangan Elard menerima uluran tangan Sony. Akhirnya Niki membolehkan pria itu memeluk anaknya.


"Kau sudah sebesar ini ternyata!" Untuk pertama kalinya Sony menggendong anaknya.


"Niki, Aku sudah dengar semua tadi apa yang kamu bicarakan dengan pria itu! Kamu sudah tau kan resikonya kalau bercerai dengan ku?"


Niki terdiam sambil terus berpikir. Dulu Sony sempat membuat perjanjian sebelum menikah dengannya.


Di dalam surat perjanjian itu, Ia dilarang bercerai dengan Sony, Kecuali kalau Niki mau menyerahkan hak asuh anaknya kepada Sony.


"Kamu harus tau dan membuka lagi isi perjanjian yang telah aku buat sebelum menikah dengan mu," ucap Sony.


"Berikan El kepadaku!" seru Niki.


"Kau tidak bisa bercerai dengan ku Niki, kecuali kamu mau menyerahkan El terhadapku!" seru Sony lagi.


"Apa maksudmu? Kamu jangan gila! Bagaimana mungkin petugas membiarkan kamu berkeliaran di luar," ketus Niki.


"Kamu jangan macam-macam denganku. Walaupun aku di penjara. Banyak mata yang akan mengawasi kamu dan Syerli," ucap Sony, "Bahkan dengan uang aku bisa ijin keluar untuk sebentar seperti sekarang!" tambahnya.


"Kamu keluar tidak ingin mengambil El dari ku kan?" Niki begitu sangat ketakutan.


"Itu tidak akan terjadi kalau kita tidak bercerai. Ingat jangan sesekali dekat dengan lelaki manapun. Aku tidak mau anakku lebih mengenal lelaki lain selain ayahnya. Kamu mengerti?"


"Bahkan aku bisa membuat pria yang tadi duduk bersamamu mati di tangan ku. Kamu jangan Coba-Coba berpaling dari ku, Niki!"


Sekarang El berpindah ke tangan Niki karena Elard tiba-tiba menangis keras.


"Antar kan aku pulang sekaran, Sepertinya, Elard tidak betah tinggal bersama ayah seperti mu," ucap Niki.


"Baiklah aku akan mengantarkan kamu pulang! Akan tetapi ada sesuatu yang harus aku bicarakan mengenai Firo dan Medina, "Sony mendekatkan mulutnya ke telinga Niki lalu berbisik."


"Apa?" Mata Niki terbelalak.


"Aku tidak bisa!" tegas Niki, "Mereka sudah sangat baik dengan El."


Melihat itu Sony tersenyum.


"Bukankah dulu kamu membencinya?" Sony lebih mendekatkan ke arah Niki.


"Tidak Sony, Aku bilang tidak mau!"