Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Kepergian Bi Inah


Wanita berumur enam puluh tahun itu tak berhenti meneteskan air mata. Di pandangi nya terus tiket pesawat di tangannya.


Mungkin ini sudah akhirnya kalau dia kembali kepada keluarganya. Tapi menurutnya ini terlalu pedih dari kenyataan sebenarnya.


Bi inah sudah mengabdi lebih dari empat puluh tahun di keluarga Tuan Bram. Akhir yang tidak ia inginkan, Tuan Bram sengaja memfitnahnya sebagai penyebab kematian ibunya Firo.


Malam jam tiga dini hari Bi inah yang sedang tertidur pulas dipaksa pengawal untuk menghadap Tuan Bram.


Di hatinya ada perasaan yang tidak enak karena tidak biasanya Tuannya itu membangunkan ia malam malam.


Bi inah memasuki ruangan pribadi Tuan Bram. Bi inah terkaget ketika melihat Firo sudah ada di sana dengan raut muka seperti ingin mencecarnya.


"Selamat malam tuan dan tuan muda," sapa Bi Inah.


"Duduklah," ucap Tuan Bram menyuruh wanita yang lebih tua darinya itu untuk duduk.


Bi inah duduk tepat di depan Firo yang dari tadi tidak melihatnya.


Ada apa dengan Firo? batin Bi Inah.


"Kenapa Bibi tidak pernah memberi tahu ku bahwa mata yang ada pada Kak Ricko adalah mata ibuku?" Firo membuka suara.


Bi inah terkaget ternyata Firo sudah mengetahuinya.


"Maafkan aku, Tuan muda" Bi inah tersungkur di hadapan Firo.


"Katakan padaku kenapa Bibi tidak memberi tahu kan aku?" teriak Firo menahan emosinya.


"Tuan aku tidak bermaksud menyembunyikannya," Bi inah menjawab sambil menangis.


"Apa kamu juga membantu mengakhiri nyawa ibuku agar mendapatkan matanya." Firo menatap tajam Bi inah.


Bi inah tak bisa menahan air matanya yang dari tadi ingin terjatuh.


"Tuan itu tidak benar! Aku tidak pernah membunuh siapapun, Mata yang ada pada Ricko itu benar mata Fira, "


Bug


Firo memukulkan tangannya ke meja kaca membuat tangannya terluka, "Lalu kenapa kamu menutupinya selama ini!" Teriaknya keras ia sangat marah dan kecewa.


"Kenapa bukan dari mulutmu aku tahu," ucap Firo dengan amarah.


"Bertahun-tahun aku mempercayaimu, Bi. Bahkan bibi dan Kak Ricko sudah aku anggap keluargaku sendiri, kenapa kamu malah mengecewakan aku seperti ini?" Tanpa terasa air matanya menetes di pipi.


Air mata bi inah tak berhenti mengalir, " Percayalah padaku, Tuan. Aku tidak pernah membunuh ibumu."


"Salahnya aku tidak pernah memberitahukan kebenaran bahwa Ricko memiliki mata ibumu, Aku takut tuan muda akan membenciku," ucap Bi Inah lagi.


Tuan Bram hanya diam menyaksikan kedua orang di depannya.


"Pergilah, jangan pernah menampakan mukamu lagi di depanku," ucap Firo sambil menghapus air matanya.


Bi inah terus menangis dia tahu pasti akan seperti ini jadinya, "Maafkan aku tuan muda,"


"Pergilah sekarang, atau aku akan mengusir mu," ucap Firo lagi.


Bi inah akhirnya sadar apa yang dikatakan Firo menyuruhnya untuk pergi.


"Terima kasih Tuan tidak menghukum ku, aku berharap tuan muda akan menemukan kebahagiaan bersama Nona Medina. Mungkin sampai di sini aku menjagamu, Bibi minta maaf sekali lagi, semoga tuan muda bisa menemukan kebenaran yang sesungguhnya," ucap Bi inah untuk terakhir kalinya.


"Bi inah terima kasih sudah mengabdi di rumah ini. untuk honor dan pesangon bibi akan di urus oleh sekretaris Andre. Sebaiknya secepatnya anda harus pergi dari rumah ini sebelum Firo berubah pikiran dengan melaporkan anda, karena perbuatan anda kepada Fira," ucap Tuan Bram.


Tak butuh lama Bi inah akhirnya mengerti.


"Terimakasih untuk semuanya, Tuan muda" Bi inah mengucapkan salam perpisahan untuk Firo.


Dengan langkah masih tidak percaya, Bi inah melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Firo tidak kuat kalau harus melihat kepergian orang yang merawatnya bertahun-tahun.


Sekretaris tuan Bram sudah mengurus semuanya. Dengan di bantu pelayan lain Bi inah mengemasi barang-barangnya hendak menyusul anak dan cucunya yang ada di luar negri.


Untuk terakhir kalinya Bi inah menengok lagi rumah yang selama ini ia tempati.


Bi inah berharap Firo memberikan lambaian tangan kepadanya, tapi itu hanya angannya bahkan Firo tak memperlihatkan batang hidungnya kepada Bi inah yang hendak masuk ke dalam mobil.


Sementara di ruangan Tuan Bram.


Firo menatap jendela luar dari atas ruangan Tuan Bram. Di lihatnya Bi inah sedang menatap ke arah rumahnya.


Firo bergumam dalam hatinya mungkin ini adalah jalan terbaik untuk orang yang selama ini menjaganya.


Pergilah dan temukan kebahagiaanmu, Bi.


***


Di perusahaan Tuan Bram.


Seluruh karyawan telah berjejer rapi menyambut kedatangan sang pemilik perusahaan.


Firo berjalan di samping Tuan Bram dengan sangat gagah.


Dia begitu sangat tampan dan sempurna dengan pakaian kantornya.


Lelaki dengan perawakan tinggi dan tegap, berhidung mancung kulit putih serta bibirnya yang merah alami, Membuat wanita yang melihatnya seperti terbius.


Dengan rambut marun Firo berjalan melewati sederet karyawan yang dari tadi menundukkan pandangannya.


Tuan Bram telah mengumumkan posisi Firo di perusahaannya sebagai presdir baru di resort itu.


Banyak karyawan perempuan berlomba-lomba mencari perhatiannya. Masa lalu Firo tidak tercium di perusahaannya, Tuan Bram yang menutup rapat aib keluarganya agar tidak terpublikasikan di luar rumah.


Firo duduk di kursi yang di peruntukan untuk jabatan presdir di ruangan barunya.


Dia memulai hari barunya di sana, asisten Tuan Bram telah menjelaskan terperinci mengenai tugasnya sebagai presdir.


Seorang perempuan dengan pakaian seksi masuk ke ruangannya, "Permisi tuan, perkenalkan nama aku Lena, Sekarang aku sekretaris anda, Tuan. Kalau ada yang di perlukan tuan boleh menyuruh saya".


Firo melihat sekilas Lena yang dari tadi seperti mencari perhatiannya. Wajahnya memang lebih cantik dari istrinya tetapi melihatnya Firo kembali teringat Medina yang ia tinggal di rumah, "Kenapa aku seperti merindukanmu honey," gumamnya.


"Baiklah kalau tidak ada yang bisa saya bantu, aku sebaiknya keluar dulu tuan," Lena terlihat genit kepada Firo namun Firo tak menanggapinya sedikit pun.


Firo mulai bekerja membuka berkas-berkas di perusahaannya. Walaupun Firo tidak bersekolah ia cukup pandai kerena ia sering mempelajarinya bersama Ricko dulu.


Firo masih mengingat ingat kenangannya bersama Ricko. Lamunannya buyar ketika Lena kembali memasuki ruangannya.


"Maaf Tuan, ini ada kopi agar anda tidak mengantuk" Lena memberinya sebuah cangkir berisi kopi yang sengaja ia buat.


Seperti di sengaja kopinya menyenggol dada Firo yang waktu itu akan berjalan keluar.


"Maaf tuan, aku tidak sengaja," ucap Lena. Kopi itu mengenai baju Firo.


Lena tidak tahu Firo sudah beristri, kalaupun tahu juga itu tidak masalah baginya. Menurutnya itu wajar apalagi Tuan Bram juga sering berganti ganti pasangan hanya untuk bersenang senang dengan bawahannya. Kalau dia bisa menggaet Firo hanya menjadi simpanannya di kantor, Lena akan sangat beruntung.