Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Berkunjung ke Rumah Medina.


Tatapan mata Niki tak berkedip sedikitpun melihat kedatangan Medina dan Firo di rumahnya. Baru kali ini ia melihat dengan jelas sosok Firo di depannya. Setahu Niki suami kakaknya ini mengidap gangguan jiwa namun di lihat dari tubuh dan gerak geriknya Firo tak nampak sedikitpun seperti pria gila.


Pertama kalinya Firo menapaki di rumah Medina.Ia memandangi suasana rumah itu yang begitu sederhana dan membuatnya tenang berada di sana.


Raut muka Firo begitu amat datar berbeda dengan Medina yang begitu bahagia sangat merindukan keluarganya.


Mereka di sambut Niki dan ibunya.


Bu sari yang sedang sakit tak berhenti menciumi Medina yang baru datang. Pak Joko sedang berjualan di pasar sementara Niko belum pulang sekolah.


Medina memperhatikan sekilas Niki yang begitu sangat berbeda menurutnya, "Niki, bukannya hari ini kamu sekolah?" tanya Medina kepada adiknya.


"Aku sedang tidak enak badan kak," ucapnya, Baru kali ini Niki memanggilnya kakak.Membuatnya begitu aneh mendengarnya.


Niki masih memperhatikan Firo yang duduk di samping kakaknya,


"Apakah dia Kak Firo suami kakak?" tanyanya.


"Kenalin ini Firo suami kakak, kakak lupa kamu kan belum pernah bertemu dengannya," Medina memperkenalkan Firo kepada Niki.


"Tampan sekali suamimu kak! bukankah dia gila, tapi kenapa tak terlihat sedikitpun seperti orang gila" batin Niki.


Banyak pertanyaan yang muncul di otaknya membuatnya penasaran.


Bu Sari memberikan dua cangkir minuman kepada Firo dan Medina lalu duduk di samping Niki.


"Ibu senang kalian mengunjungi kami,"


"Anggap lah ini rumahmu juga Nak Firo" ujar Bu Sari.


Firo menanggapinya dengan tersenyum mengangguk.


Bu Sari tak membahas apapun yang membuat Firo tidak nyaman. Baginya anak dan mantunya datang ke rumahnya merupakan hal yang sangat bahagia baginya. Di tepisnya jauh jauh mengenai pikirannya tentang gilanya Firo yang ia dengar dari suaminya.


"Ah, aku kangen sekali masakan mu bu," ucap Medina mendekatinya lalu memeluk ibunya manja.


Ibunya sangat senang mendapati Medina masih manja terhadapnya,"Kamu masih tidak berubah, nak" ucapnya.


"Bu aku bawa sedikit oleh oleh untuk ibu, Niki, Niko dan bapak" Medina menunjuk setumpuk paper bag yang tidak jauh darinya.


"Terima kasih nak,! oleh olehnya banyak banget " ujar Bu Sari.


Medina menatap Niki lekat,


"Wajahmu pucat banget Niki,Kamu sakit apa? Apa kamu sudah berobat ke dokter? Badanmu terlihat kurus" tanyanya.


" Biasa kak, Cuman masuk angin sama demam," jawabnya.


Niki bingung harus menjawab apa, Ingin sekali ia bercerita kepada kakaknya, namun karena ia sering berselisih dengannya ia malu kalau harus curhat kepada Medina mengenai kehamilannya.


Kehamilannya baru memasuki usia tiga bulan. Bahkan perutnya masih terlihat rata.Tidak ada seorang pun yang mengetahui ia hamil bahkan ibunya sekalipun.


Niki terlihat bertambah kurus. Akhir akhir ini ia selalu merasa mual di pagi hari.Bu Sari dan Pak Joko setiap pagi pergi berjualan sehingga tak mengetahui kalau putrinya sedang tidak baik saja.


"Dia sedang tidak enak badan Nak, wajar saja badannya terlihat kurusan," sahut Bu Sari.


"Aku permisi dulu ya kak, ada tugas sekolah yang harus di selesaikan," ucapnya memberi alasan agar kakaknya tidak bertanya kepadanya lagi.


Niki lalu pergi meninggalkan mereka.


"Kalau begitu, ibu masak makanan kesukaan kamu dulu ya nak, kalian istirahat saja dulu di kamar. Nanti ibu panggil kalian kalau masakannya sudah siap," ujar Bu Sari hendak melangkahkan kakinya ke dapur.


"Aku bantu ya, bu!" ucap Medina.


"Ah tidak usah, Nak! Kamu baru dateng sudah kedapur.kamu temani suamimu saja," jawabnya.


"Terima kasih bu," ucap Firo begitu sopan kepada ibu mertuanya.


***


Medina memasuki kamarnya yang sudah lama ia tinggalkan. Begitu terawat meskipun tak di huni, Bu Sari selalu membersihkan kamar Medina setiap hari takut sewaktu waktu putrinya menginap di rumahnya.


Firo melihat Kasurnya hanya bisa di pakai untuk satu orang bagaimana jadinya kalau dia tidur di kamar itu nanti malam pikirnya.


"Nanti aku akan membawa kasur lipat yang ada di depan ke kamar ini untuk tidur malam ini," ucap Medina seakan mengetahui apa yang ada di pikiran suaminya.


"Tidak perlu honey, Kita bisa tidur di atasnya berdua tampa perlu kasur tambahan," sahut Firo.


"Sayang, Bagaimana bisa tidur kalau kasurnya cuman cukup untuk satu orang," jelasnya.


Firo mendekati Medina sambil memeluknya, "Kita bisa tidur seperti ini terus, Lagian itu akan membuatku senang karena tidak ada jarak di antara kita," ucap Firo sambil menciumi leher Medina yang begitu jenjang.


"Sayang masih sore," ucap Medina kegelian merasakan sentuhan Firo.


Firo tak bergeming di raihnya wajah istrinya mendekat kearahnya. Ia tak memperdulikan ucapan Medina di lumatnya bibir istrinya yang begitu sangat menggoda baginya.


Niko melihat sepasang sendal yang dimiliki kakaknya berjejer rapih di depan pintu ruang tamu. Niko langsung berhambur memanggil nama kakaknya, "Kak Medina ada di sini," teriaknya.


"Kakak ada di kamar?" ujar Firo dari arah ruang tamu sedang melepas sepatunya.


Belum terlalu lama sebuah suara terdengar tak asing di telinga Medina memanggil namanya. Mereka terpaksa menghentikan aktifitas panasnya. Ya suara Niko yang habis pulang sekolah.


Seperti biasa jam pulang Niko sekolah tak pernah tepat waktu. Sehingga ia selalu pulang ketika sore hari setelah pulang sekolah Niko menghabiskan waktunya dengan teman-temannya di luar.


Medina keluar dari kamarnya di susul Firo di belakangnya. Firo sedikit kesal karena aktifitasnya terganggu.


Medina langsung memeluk adik kesayangannya ketika Niko baru muncul di depannya. Mereka lalu duduk bersebelahan di ruang tamu.


"Gimana kabarnya, Kak?" tanya Niko.


"Kakak baik baik saja, Seperti yang kamu lihat," jawabnya.


"Kenapa kakak lama sekali pulangnya sudah sebulan lebih kakak gak pulang, Niko kangen sama kakak"


"Maaf ya Niko, kakak baru sempat sekarang. Kakak juga kangen sama kamu, kakak punya oleh oleh buat kamu."


"Ehm," sebuah deheman membuat Medina sadar kalau di belakangnya ada Firo .


"Sayang kemarilah," Medina menghampiri Firo agar ikut duduk bersamanya, " Kenalin ini adik aku Niko," ucapnya lagi.


Firo memperhatikan seksama Niko yang duduk begitu sangat dekat dengan Medina. Kedekatan Medina dan Niko membuatnya sedikit cemburu karena di acuhkan.


"Pasti ini Kak Firo, suami kakak. Kenalin nama aku Niko," Niko mengulurkan tangannya ramah.


Sementara Firo begitu angkuh hanya menyalami sebentar lalu menarik tangannya cepat-cepat.


"Niko ini adik aku," cepat cepat Medina menjelaskan kepada Firo agar tak salah paham.


Firo hanya menjawab dengan lirikan.


Walaupun dia adikmu, Seenaknya saja kamu memeluk lelaki lain di hadapanku. Ucapnya dalam hati.


"Aku senang Kak Medina membawa kakak berkunjung kemari," ucap Niko kepada Firo.


Sama seperti Niki, Niko pun banyak pertanyaan di pikirannya. Menurutnya dia tidak yakin kalau yang di samping kakaknya ini pria gila. Mengingat Firo begitu berkharisma karena penampilannya.


Medina duduk di apit Firo dan adiknya Niko. Karena tidak mau istrinya berdekatan dengan pria manapun sekalipun itu adiknya. Firo menyuruh pindah Medina agar duduk di sampingnya menjauhi Niko.


Niko yang melihat itu sedikit tersenyum karena tingkah Firo yang cemburu terhadapnya.


"Aku dan Kak Medina sangat dekat dari kecil walaupun kita bukan saudara kandung, Kak Medina sangat beruntung bisa menikah dengan kakak," ujar Niko mencairkan suasana.


Wajah Firo yang putih terlihat seperti mayat hidup tampa ekspresi sama sekali. Bibirnya seperti terkunci rapat untuk tersenyum.


Medina begitu canggung terhadap sikap Firo yang berlebihan terhadapnya.


Firo tak menanggapi Niko di sampingnya.


Setelah beberapa menit saling terdiam Firo akhirnya membuka suara.


"Bisakah kamu menjaga jarak dengan istriku?" ujarnya kepada Niko.