Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Apa Salahku?


Di rumah Nyonya Vika sudah sangat ramai sekarang. Semula yang hanya berdua sekarang bertambah menjadi lima orang. Kebetulan Agung yang sudah sembuh sekarang tinggal di rumah Ny.Vika rencananya dia akan bekerja sebagai asisten pribadinya dan membantu usaha onlinenya.


Sudah sebulan ini Firo berada di rumah Ny.Vika. Shaka sudah kembali ke indonesia sejak tiga minggu yang lalu. Sebulan ini pula Ny.Vika memperhatikan tingkah laku Firo terhadap putrinya. Menurutnya Firo adalah suami yang baik untuk anaknya. Bahkan Firo sangat sabar menghadapi Medina. Sayangnya sampai sekarang Medina masih acuh kepadanya.


Di ruang tengah Ny.Vika sedang duduk berdua dengan Firo. Nyonya Vika ingin berbicara kepada Firo empat mata. Kebetulan Medina sedang tertidur di kamarnya. Sementara Agung sedang bersama Lela merapihkan beberapa baju di ruangan yang dijadikan gudang usahanya.


Firo duduk di sebelah Ny.Vika. Awalnya Firo begitu canggung namun karena sifat hangat ibu mertuanya, Sekarang mereka semakin akrab.


Mertuanya sudah menyajikan dua cangkir teh untuk mereka minum.


Nyonya Vika bercerita banyak mengenai usahanya yang dirintis saat suaminya meninggal. Firo menjadi pendengar setia ibu mertuanya.


"Yah seperti itu ibu bangkit, Semenjak ayah Mey meninggal ibu harus berjuang sendiri mencari nafkah," ucap Ny.Vika.


"Aku sangat kagum dengan perjuangan ibu," sahut Firo menanggapi.


Nyonya Vika terdiam sesaat sambil melihat Firo.


"Apa kamu benar menyayangi anakku?" tanya Ny.Vika tiba-tiba. Ia ingin mendengar langsung dari menantunya.


Firo begitu kaget mendengarnya.


Kenapa ibu mertuanya menanyakan hal seperti itu kepadanya, "Tentu saja, Bu" sahut Firo sambil meneguk minuman yang sudah disediakan Ny.Vika.


Nyonya Vika tersenyum dia sudah menduganya. Dari sikap Firo sebulan ini sudah membuktikan kalau dia menyayangi anaknya dengan tulus dan sabar.


Nyonya Vika pernah melihat malam-malam Firo memasak makanan untuk Medina. Setelah makanan itu jadi istrinya sudah tertidur pulas. Firo tak sedikitpun memarahi anaknya. Padahal Firo juga sudah di suruh pulang oleh Tuan Bram, Namun dia tetap tidak mau pulang.


"Aku ingin berbicara banyak denganmu," ucap Ny.Vika.


Dari raut Ny.Vika seperti ada yang serius ingin dibicarakan. Dia menatap wajah menantunya dengan seksama.


"Aku sudah pernah bertemu denganmu saat usiamu tiga tahun," ucap Ny.Vika memulai pembicaraan.


Firo yang mendengar itu begitu terkesima. Bahkan dia baru mengetahuinya kalau dia pernah bertemu dengan mertuanya.


"Kalau itu benar, Berarti aku pernah bertemu dengan Mey waktu kecil?" tanya Firo antusias. Sekarang dia mengikuti mertuanya memanggil istrinya "Mey".


Nyonya Vika mengangguk dia tersenyum sambil terus bercerita.


"Saat itu usia Mey, baru berumur satu tahun" ucap Ny.Vika, "Ibu ingat betul saat itu kalian masih sangat lucu. Bahkan kamu sempat tidur satu kamar ketika kecil ketika sudah capek bermain bersama. Ibumu Fira juga mengenal ibu, Kami kenal karena Jovan ayahnya Mey adalah sahabat ayahmu, Bram"


Senyum merekah di bibir Firo. Ia tak bisa membayangkan saat kecil dulu kalau dia sempat tidur sekamar dengan istrinya.


"Dulu juga kami sempat menjodohkan kalian berdua, karena saat kecil kamu begitu sangat perhatian kepada Mey. Saat Mey sedang menangis kamu menghiburnya, Waktu itu juga Mey langsung berhenti menangis." Ny.Vika bahkan sambil tersenyum menceritakannya.


"Benarkah? Berarti aku memang sudah berjodoh dari kecil," seru Firo. Dia tersenyum sendiri membayangkannya.


"Andaikan kalau Mey tidak menghilang, kalian juga pasti kami jodohkan" ujar Ny.Vika sambil tertawa kecil, "Dunia memang sempit,"


"Kenapa Mey baru mengingatnya sekarang, Bu? Apa karena kecelakaan itu?" tanya Firo.


Sampai saat ini Firo belum tahu betul cerita lengkapnya kenapa istrinya baru mengingat ibunya sekarang. Kenapa dia bisa menghilang dan hilang ingatan. Firo tak berani bertanya kepada Medina. Hanya sedikit tahu dari cerita Lela dan Shaka. Setiap kali dia menanyakannya Medina selalu memalingkan mukanya. Istrinya hanya berbicara seperlunya kepadanya.


"Panjang ceritanya, Kenapa kamu tidak bertanya langsung kepada Mey?" Ny.Vika kembali serius.


"Aku tidak berani, Bu" Firo menundukkan kepalanya.


"Apa sekarang dia sudah berubah?" tanya Ny.Vika.


Firo mengangguk, "Apa wanita yang sedang hamil akan bersifat seperti itu kepada suaminya?" tanya Firo. Selama ini dia tidak tahu penyebab perubahan istrinya. Yang dia rasa mungkin karena kondisi Medina yang sedang hamil.


"Kalau begitu, kenapa Mey sekarang menghindari ku? Apa Mey pernah bercerita kepada ibu?" tanya Firo begitu penasaran. Ia tidak tahu harus bertanya kepada siapa.


Nyonya Vika menyeruput minumannya. Dia melihat iba ke arah Firo. Aku tahu kamu tidak bersalah, Firo. batinnya.


Nyonya Vika sempat menyelidiki siapa Firo sebulan ini oleh orang suruhannya. Ia menyewa orang untuk mencari tahu siapa Firo. Nyonya Vika sangat kasihan kepada Firo ketika mendengar kalau dia sempat gila ketika ibunya sudah meninggal.


"Ibu tahu, bagaimana perasaan kamu saat kecil ketika ditinggal ibumu. Maafkan ibu saat itu tidak bisa datang ke pemakaman Fira. Ibu begitu prihatin saat mendengar kamu juga sempat dikurung karena... " Ny.Vika tak berani meneruskan kata-katanya. Ia menghembuskan nafas panjangnya.


Firo mengerti yang apa kelanjutan ucapan ibunya, Ia tahu dirinya pernah dalam kondisi terpuruk seperti itu. Tapi Nyonya Vika tidak mengetahui kalau penyebab dia gila karena ayahnya sendiri. Anak kecil mana yang tidak akan gila kalau terus menerus diberi serbuk ganja setiap hari di makanannya.


Tuan Bram sengaja membuat Firo seperti itu agar tak selalu mencurigai dirinya setiap hari kalau dia yang membunuh ibunya. Dengan memberinya sedikit ganja membuat Firo sedikit lebih tenang dan melupakan masalah ibunya.


"Ibu belum menjawab pertanyaan aku, Apa penyebab Mey seperti menghindari ku? Apa salahku, Bu?" tanya Firo. Ia tidak ingin membahas tentang dirinya. Baginya masa lalu itu sudah ia benamkan sekarang. Ia ingin hidup seperti orang normal lainnya, Bersama istri dan anaknya.


"Kamu ingin tahu?"


Firo mengangguk. Pendengarannya Ia fokuskan.


Nyonya Vika menutup kelopak matanya pelan lalu membukanya lagi. Sudah saatnya Firo harus tahu kenapa Meysa anaknya berubah saat ini.


"Karena kamu...anak dari bramantyo, Orang yang membunuh...Jovan, suamiku" ucap Ny.Vika pelan.


Firo langsung menoleh ke arah ibu mertuanya, "Apa?"


Netranya melebar sempurna. Firo terdiam sesaat dan mencerna kata-kata ibu mertuanya.


Di telinganya masih terngiang kata-kata Ny.Vika barusan. Ucapan Nyonya Vika barusan seakan menghentikan waktunya sesaat.


"Apa kamu ingin tahu ceritanya?" tanya Ny.Vika.


Firo hanya diam sambil mengangguk. Rohnya seperti sedang tidak ada di dalam badannya.


"Mey dan ayahnya mengalami kecelakaan 20 tahun yang lalu. Saat kecelakaan itu Bram datang dan menyuruh orang untuk membunuh Jovan di depan matanya.


Mey, mengalami amnesia karena kepalanya terbentur batu Beruntung Mey berhasil di selamatkan oleh seseorang. Saat terbangun Mey sudah tidak mengingat semuanya." Ny.Vika kembali menghembuskan nafasnya.


"Meysa baru mengingatnya setelah ia mengalami kecelakaan mobil sebulan yang lalu. Kejadian itu membuat Mey mengingat semuanya saat Bram membunuh ayahnya di depan kedua matanya,"


"Kamu tahu kan bagaimana perasan Medina ketika melihat ayahnya dibunuh di depan matanya. Pasti sakit bukan! Setiap melihatmu, Meysa mengatakan seperti melihat pembunuh ayahnya saat kecil sedang membunuh ayahnya. Karena wajahmu sangat mirip dengan Bram waktu itu," jelas Ny.Vika. Mau tak mau dia harus mengatakannya kepada Firo bagaimanapun juga.


Pantas saja sejak peristiwa itu sifat Mey berubah saat ditemukan. batin Firo.


Bahkan aku pun pernah merasakannya saat ibuku meninggal.


Sekarang dia sudah tahu semuanya penyebab berubahnya sifat istrinya. Yang disayangkan Firo kenapa istrinya tidak bicara langsung padanya. Sifatnya tidak terbuka kepadanya. Dan yang paling disayangkan Firo adalah kenapa dia terlahir sebagai anak Bramantyo orang yang sudah membunuh ayahnya Medina dan sudah membuatnya gila.


"Jadi salahku adalah karena aku anak Bramantyo?" dia begitu sakit mengatakannya. Bahkan mengucapkan nama itu pun rasanya seperti tidak sudi.


Nyonya Vika mengangguk tak bisa berkata lagi. Firo yang barusan mendengar semua ucapan mertuanya sekarang mendadak diam membisu.


Sudah hampir sepuluh menit mereka terdiam. Firo hanya diam saja tak bergeming. Entah apa yang sedang dipikirannya.


Ny.Vika merasa Firo butuh waktu untuk sendiri, "Ibu tinggal dulu, Aku tahu kamu anak baik tidak seperti ayahmu," ucap Ny.Vika sambil memegang pundak Firo.


Nyonya Vika lalu pergi meninggalkan Firo yang dari tadi hanya diam.


"Apa Mey akan selamanya seperti itu saat melihatku?" tanya Firo menghentikan langkah Ny.Vika.


Mendengar pertanyaan Firo langkahnya terhenti sesaat, "Mungkin tidak selamanya. Aku yakin kalian bukan seorang pendendam. Selamat malam Firo," ucap Ny.Vika kembali berjalan menuju kamarnya.