Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Pernikahan Agung


"Selamat ya, Lela" ucap Medina memberikan ucapan selamat kepada Lela yang tengah duduk di pelaminan, "Semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia selamanya," tambahnya.


"Semangat ya, Gung" bisik Firo menyalami Agung.


"Terima kasih, Tuan! Aku akan mengikuti saran anda!" sahut Agung sembari menutup mulutnya.


Nyonya Vika menghadiahkan mereka sebuah rumah sebagai kado pernikahannya, Sementara Firo dan Medina menghadiahkan mereka paket bulan madu selama dua bulan.


"Tuan Baby aku tinggal sebentar dulu, Ya.." ucap Agung kepada bayi Drago yang mengenakan tuxedo berwarna serupa dengan Firo.


Hari ini Agung dan Lela seperti raja dan ratu sehari. Agung terlihat tampan dengan tuxedo berwarna hitam berbeda dengan penampilan sehari-harinya, Sementara Lela begitu sangat cantik dengan gaun putihnya.


Tiga hari setelah melamar Lela, Agung segera mempercepat pernikahannya. Medina dan Nyonya Vika membantu mengurus pernikahan dadakan Agung. Mereka berdua begitu terlihat bahagia.


Tiba-tiba.


"Permisi tampan!"


Tak ada angin tak ada hujan seorang berbaju pink tiba-tiba menyenggol pantat Firo.


Melihat itu Medina yang sedang menggendong Drago sempat melotot ke arah mereka.


Pertama kali melihat, Firo tak menyadari kalau dua orang itu adalah laki-laki karena mereka sangat cantik hampir mirip seperti perempuan. Bahkan Medina sempat berpikir kalau dua orang itu adalah temannya Lela.


Begitu diperhatikan dengan saksama, Firo baru menyadari kalau dua orang itu sebenarnya pria, Karena terlihat dari jakunnya.


"Honey, Ayo kIta harus cepat pulang!"


Firo buru-buru menarik tangan Medina agar menyingkir ketika dua pria feminim berdiri di sebelahnya hendak menyalami Agung.


Medina pergi sambil menahan tawanya.


"Hai cint... Aku ngga nyangka kalau kamu akhirnya akan menikah juga! Aku begitu kehilanganmu, Gung" salah seorang berbaju pink menyalami Agung dan mencium pipi kanan dan kirinya.


Melihat kelakuan suaminya Lela kembali menyenggol Agung agar segera melepas pria berbaju pink.


"Mereka adalah temanku dulu," bisik Agung kepada Lela.


"Aku kan pria normal tidak seperti kalian berdua," Agung menepuk tangan pria berbaju pink dengan sangat lembut.


Dulu Agung sempat berkumpul bersama mereka.


Namun ketika Agung bekerja kepada Ny.Vika, Sedikit demi sedikit Agung merubah cara pandangnya.


"Cint.. istrimu sangat cantik sama seperti aku!" pria berbaju kuning di sebelahnya menimpali.


Lela yang berdiri di sebelah Agung mengerucutkan bibirnya.


Cepatlah pergi, Kalian berdua mengganggu acara ku! batin Lela.


Padahal mereka berdua tak di undang oleh Agung, tapi bisa-bisanya dua mahluk aneh itu datang mengacaukan acara mereka.


"Silahkan di makan hidangannya," ucap Agung menunjuk meja prasmanan kepada mereka berdua, Agar cepat pergi menghindar dari hadapannya.


Lela yang merasa cemburu dengan kedua mahluk jadi jadian di depannya, langsung menggandeng erat tangan Agung.


Suamiku tidak boleh melenceng lagi. Batin lela.


***


Di rumah Pak Joko.


Sebelum pulang ke rumahnya, Medina dan Firo menyempatkan mampir ke rumah Pak Joko.


"Drago, kau tampak gemuk sekarang!" Niko langsung menggendong bayi mungil itu dari tangan Medina.


"Niko, Dimana bapak dan ibu?" tanya Medina kepada Niko.


Medina menggeleng, Bu Sari dan Pak Joko barusan pergi sepuluh menit yang lalu, Sebelum Medina sampai ke rumah.


Medina langsung menuju ruang tengah ketika Drago beralih ke tangan Niko, Adiknya.


Di ruangan tengah sedang duduk Niki yang sedang menggendong bayinya yang bernama Elard.


"Hai El, apa kabar mu?" Medina menyapa bayi yang usianya beda sebulan dengan anaknya itu, "Aku sangat kangen sama kamu, El"


Niki memberikan bayinya kepada kakaknya, Medina.


"Kamu begitu lucu memakai baju ini, El" ucap Medina lagi.


Niko yang berada di luar ikut masuk ke dalam sambil menggendong Dargo.


Medina dan Niko berdiri bersebelahan sambil menggendong kedua bayi yang bernama, El dan Drago.


"Akhirnya kamu mau main kesini, Drago. Apa kamu tidak tau kalau El sangat merindukan mu," ujar Niko.


Meskipun berbeda wajah, Kedua bayi itu terlihat seperti kembar. Bahkan Medina memakaikan baju yang sama untuk mereka berdua malam ini. Medina sangat menyayangi El, Sama seperti ia menyayangi Drago, anaknya.


"Kalau besar nanti kalian harus selalu bersama seperti ini. Karena kalian adalah saudara," ucap Medina kepada El dan Drago.


Niki yang melihatnya hanya tersenyum. Meskipun Elard tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Banyak yang begitu menyayanginya seperti orang tuanya dan Niko. Bahkan Medina dan Firo juga begitu menyayangi El.


"Sepertinya akan lebih seru kalau kita main berempat. Biarkan kedua wanita itu bergosip," sela Firo.


Niko yang sangat gemas akhirnya membawa kedua bayi itu bermain bersamanya di kamar. Firo ikut menemani Niko menjaga ke dua bayi, El dan Drago.


Di ruang tengah sekarang tinggal Medina dan Niki yang sedang duduk bersebelahan sambil meminum teh, Kakak beradik itu tengah asik bercengkrama.


Banyak hal yang mereka bicarakan. Dari mulai membicarakan suka dukanya dalam mengurus bayi sampai membicarakan hal kecil lainnya.


Setiap kali melihat kebersamaan Drago dengan Firo. Niki selalu terlihat sedih.


"Kakak tidak menyangka kalau anak kita akan lahir hampir bersamaan," seru Medina sambil tertawa.


"Tapi Drago lebih beruntung dari pada El" Niki menghela napasnya, "Tadi malam aku bermimpi lagi El bertemu ayahnya,"


"Apa?"


Mendengar ucapan Niki, Medina merangkul adiknya, "Kamu sudah menemui suamimu?" tanyanya.


Niki menggeleng.


"Syukurlah," ucap Medina "Maafkan aku Niki, Harus menggugat suamimu dan menjebloskannya kedalam penjara" tambahnya.


Terkadang ada rasa kasian ketika melihat Niki yang mempunyai anak tanpa suami yang mendampinginya. Dari cerita Niki barusan sepertinya ia menginginkan seorang pendamping.


Walaupun Sony terbukti bersalah, Medina tetap menyayangi Elard dan selalu memberinya jatah uang setiap bulannya.


"Sebaiknya kamu melupakan Sony dan kembalilah menjadi Niki yang dulu. Banyak orang yang menyayangi anakmu! Kamu jangan khawatir, Niki" Medina memeluk Niki.


"Apa tidak salah kalau aku menemui Sony dipenjara bersama El?" tanya Niki, "Aku hanya ingin Sony mengetahui kalau anaknya sudah lahir"


"Jangan sekarang! El masih bayi. Tapi kalau kamu ingin menemuinya, Sebaiknya di dampingi orang lain. Kakak tidak ingin kamu ke sana hanya berdua dengan El," ujar Medina.


Di hati kecilnya Medina tidak ingin El sampai menemui Sony.


Niki mengiyakan saran kakaknya. Entah mengapa ia ingin sekali mempertemukan Elard dengan ayahnya. Setiap malam Niki selalu bermimpi mempertemukan El dengan Sony.


Medina sangat khawatir kepada adik dan keponakannya. Walaupun El adalah anaknya, Medina merasa ada hal yang buruk akan menimpa El kalau sampai bertemu Sony.


Banyak yang melarang Niki menemui Sony, tapi tetap saja rencananya Niki akan mempertemukan anaknya dengan Sony walaupun bukan sekarang.