
Agung sudah di tangani tim medis di rumah sakit. Akibat tiga tusukan itu Agung mengalami pendarahan serius di perutnya dan harus menjalani transfusi darah.
Beruntung nyawanya bisa tertolong oleh Shaka yang datang tepat pada waktunya.
Setelah selesai operasi Agung sudah di bawa ke ruang rawat inap di rumah sakit yang sama dengan Medina.
***
Firo berjalan menuju cafe yang ada di rumah sakit. Perutnya sangat lapar kebetulan dari jauh Firo melihat Shaka di cafe itu sedang duduk sambil ngopi.
Shaka memang pecinta kopi. Di manapun pasti tak ketinggalan meminum kopi. Firo mendudukkan pantatnya di kursi bersebelahan dengan Shaka.
"Apa istrimu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak menungguinya?" tanya Shaka.
"Dia tidak mau aku ganggu dulu, Tapi sudah ada perawat yang menjaganya," ucap Firo. Tangannya melambai memanggil pelayan.
Seorang pelayan berjalan menuju meja mereka dan memberikan daftar menu kepada Firo.
"Sepertinya enak," gumam Firo.
Firo menunjuk spaghetti di salah satu daftar menu. Setelah Firo memesan makanan dan minuman pelayan itu kembali ke tempatnya bekerja.
Firo menghembuskan nafasnya pelan. Tangannya ia rentangkan kesamping sofa cafe, "Istriku baik-baik saja, Tapi... "
Sambil mendengarkan ucapan Firo, Shaka menyeruput kopinya, "Tapi apa?" tanya Shaka.
"Sepertinya ada yang berubah dengan istriku," sahut Firo.
Shaka mengambil garpu di meja lalu memasukan kentang goreng ke mulutnya.
Melihat itu Firo seperti ingin mencicipi kentang goreng di tangan Shaka.
"Berubah seperti apa?" tanya Shaka.
Gaya Shaka saat makan membuat Firo harus menelan ludahnya.
Begitu menggiurkan. Gumam Firo.
Firo kemudian mengambil garpu di tangan Shaka. Kentang goreng itu membuatnya semakin lapar. Di lahapnya kentang goreng milik Shaka.
"Hmmm," Shaka hanya bisa melongo.
Kebiasaan waktu kecil Firo seperti itu selalu memakan makanan yang sama dengan Shaka. Ibunya selalu menyuapi mereka bersama.
Setelah bertahun-tahun bermusuhan akhirnya mereka kembali akur.
"Entahlah, aku tidak tahu. Sepertinya istriku sedang tidak ingin berdekatan denganku," ucap Firo sambil terus mengunyah.
Shaka kembali mengambil garpu di tangan Firo. Sekarang giliran dia yang memakannya.
"Ah.. kenapa lama sekali makanannya," gerutu Firo. Perutnya sudah menagih ingin diisi. Biasanya Firo selalu menahan rasa laparnya. Namun saat istrinya sudah di temukan. Selera makannya mulai muncul kembali.
Firo mengambil kentang goreng itu langsung dengan tangannya.
"Biasanya suasana hati wanita hamil berbeda dari biasanya," ucap Shaka.
"Apa benar wanita yang hamil akan berubah sikapnya? Darimana kamu tahu?" tanya Firo.
Akhirnya makanan yang di pesan Firo telah datang. Pelayan itu menaruhnya ke meja mereka.
Dengan gerakan cepat Firo langsung buru-buru melahapnya.
Firo berfikir sejenak. Mungkin yang dikatakan Shaka ada benarnya juga. Karena Firo sendiri baru mengalaminya.
"Atau mungkin karena bawaan bayi, Mungkin anakmu tidak menyukaimu..ha..ha.." ucap Shaka sambil tertawa.
Kali ini Shaka yang harus menelan ludahnya melihat gaya makan Firo di depannya.
Shaka merebut spaghetti di piring Shaka. Tidak hanya Firo bahkan Shaka selalu menyukai apa yang di sukai Firo.
Mereka tak ada malunya saling berebut padahal sedang di depan umum.
"Apa kamu bilang, Kalau begitu aku tidak ingin membagi makanan ini," ucap Firo sambil memukul punggung tangan Shaka.
"Aku sangat lapar sekali melihatmu makan seperti itu," ucap Shaka memanyunkan bibirnya.
Padahal dia bisa memesan lagi makanannya namun Shaka lebih senang makan sepiring berdua dengan Firo.
"Jangan marah seperti itu, Kalau tidak percaya tanya saja sama dokter... Aem" akhirnya Shaka berhasil mengambil spaghetti dari piring Firo dengan garpu di sebelahnya.
"Bagaimana aku bisa percaya sama kamu, Sedangkan kamu saja belum mempunyai istri yang sedang hamil. Jangankan istri, pacar saja kamu belum punya," ucap Firo balik mengejek Shaka.
Mendengar kata pacar begitu membuat hati Shaka menjadi galau. Memang benar ia tidak memiliki pacar.
Seorang pria kaya, Tampan berwajah bule sepertinya tidak memiliki kekasih. Begitu mengenaskan bukan!.
Apa yang salah dengan diriku? batin Shaka.
"Jangan-jangan kamu tidak laku!" ucap Firo balik meledek Shaka lagi.
"Itu tidak benar, hanya saja belum ada Permaisuri yang cocok bersanding dengan pangeran sepertiku," ucap Shaka menyombongkan diri.
Shaka berhasil mengambil piring berisi spaghetti dari Firo.
"Kenapa spaghetti ini begitu menggiurkan," ucap Shaka senang akhirnya dia bisa merebut makanan di piring yang sedang dimakan Firo.
Firo mendengus kesal. Mereka begitu kekanakan.
"Kalau begitu kita makan berdua saja," ucap Shaka tersenyum sambil memberikan sumpit itu ke tangan Firo. Sebelum Firo mulai memarahinya.
Mereka tidak menyadari banyak yang melihat ke arah mereka. Banyak sepasang mata yang melihat aneh tingkah laku mereka. Bahkan Firo yang biasanya kaku dan dewasa menjadi sangat kekanakan.
Satu piring tidak cukup untuk mereka berdua. Akhirnya mereka memesan lagi dan menghabiskan tiga piring spaghetti berdua.
Firo memegang perutnya yang sudah kekenyangan setelah beradu makan dengan Shaka. Firo kembali teringat istrinya.
"Sebaiknya aku kembali ke ruangan istriku. Aku takut Medina sudah bangun mencari ku," ucap Firo.
Shaka juga tampak kekenyangan.
"Kalau begitu kamu jaga Agung saja di kamarnya," ucap Firo.
Sebenarnya Shaka tidak mau menjaga Agung. Pasalnya tingkah laku Agung yang tidak normal membuatnya geli.
"Kenapa aku yang harus menjaga mahluk itu," ucap Shaka mendengus kesal.
"Lalu apa harus aku yang menungguinya? Kamu kan tahu aku adalah pria beristri," ucap Firo.
Sebenarnya Firo sedang menahan tawanya melihat raut muka Shaka.
"Maksudmu?"