Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Peresmian Hotel


Firo


Malam itu dering di teleponnya berbunyi sesaat setelah mengetahui adik iparnya pingsan. Firo mengakhiri sesi makan malamnya dengan keluarga Medina.


Sebenarnya ia tak ingin pergi di saat genting seperti ini. Permintaan ayahnya yang menyuruhnya untuk datang di acara peresmian hotel barunya membuat ia tak bisa menolaknya.Terlebih lagi sekarang ia bertanggung jawab penuh atas ke lima hotel yang salah satunya baru di buka malam ini.


"Pak Joko, maaf sepertinya aku harus pergi sebentar, Daddy menyuruhku hadir di peresmian hotel Aurora yang baru akan di buka malam ini" ujarnya kepada Pak Joko.


"Pergilah nak, selesaikan dulu pekerjaanmu" sahut Pak Joko.


Pak Joko tak bisa mencegah mantunya pergi apalagi menyangkut kerjaannya. Ia tahu Firo masih dibawah pengawasan Tuan Bram. Pak Joko mengiyakan ucapan Firo.


"Aku akan memberitahukan Medina dulu," tambahnya.


"Biar bapak saja yang memberitahukannya," ujar Pak Joko.


Medina, Niko dan Bu Sari masih menyadarkan Niki yang pingsan di kamarnya. Firo merasa tak enak menganggu Medina. Ia berjalan keluar sembari mengirim pesan kepada istrinya.


Honey maaf aku pergi dulu sebentar, ada peresmian hotel baru yang harus aku hadiri.Setelah selesai aku akan cepat kembali. Tunggu aku ya honey.


Setelah memencet tombol send, Firo melangkah keluar rumah.


"Hati hati di jalan nak!" ucap Pak Joko sembari merapikan makanan di meja.


Pak Joko tidak canggung mengerjakan pekerjaan istrinya yang biasa ia lakukan.


Tring. sebuah pesan masuk berbunyi.


Medina membuka pesan yang baru masuk di handphone nya.


kenapa Firo mengirim pesan? bukankah sekarang ia ada di sini


Ia lalu membaca isi pesan, Medina yang dari tadi mencoba menyadarkan Niki menengok ke arah luar pintu yang bersebelahan dengan ruang makan. Di sana hanya berdiri Pak Joko yang sedang merapikan sisa makanan di meja.


Ternyata benar suaminya sudah pergi.


**


Di Hotel Aurora.


Firo memasuki lobby hotel dan di sambut beberapa staf hotel. Langkahnya memasuki area hotel. Di sana sudah berdiri pegawai yang membawakan pakaian ganti kepada Firo agar segera menggantinya karena acara peresmian akan segera di mulai.


Dengan kemeja warna merah senada dengan tuxedo yang di pakainya Firo terlihat sangat tampan dan berwibawa.


Di tengah pesta itu sudah ada Agata yang menggunakan dress panjang merah. Penampilannya begitu sangat cantik mendekati sempurna.


Agata adalah pemilik tanah tempat berdirinya hotel Aurora. Ia juga seorang pengusaha WO yang akan memakai jasa hotel Aurora setiap minggunya untuk acaranya.


Di podium sudah berdiri Tuan Bram dan Nyonya Stella. Firo yang baru di beri kepercayaan langsung naik ke podium mengikuti Tuan Bram dan istrinya.


Acara di mulai.


Setelah Tuan Bram memberikan sambutan, Seperti biasa sebelum membuka hotel barunya di adakan acara pengguntingan pita yang menandakan hotel sudah resmi di buka.


Sebenarnya Tuan Bram menyuruh Medina juga ikut ke acaranya. Firo melihat istrinya tidak mungkin bisa ikut dengannya. Ia memotong sendiri pita merah di depannya.


Suasana sangat ramai di sebelah Firo sudah ada sekretaris dan rekan bisnis yang berbincang-bincang dengannya. Firo terlihat begitu menjadi pusat perhatian di tengah tengah pesta. Karena tidak enak ia ikut meminum minuman yang mereka minum.


Mereka memberi selamat kepada Firo atas hotel barunya. Setelah perbincangan selesai, satu persatu orang menjauhi Firo ,mereka terlihat menikmati pesta itu yang di adakan life musik dan jamuan yang begitu berkelas.


Firo yang tak terbiasa di keramaian menyudutkan diri sambil meminum segelas anggur yang tergenggam di tangannya. Ia merasa sepi di tempat seramai ini. Firo kembali meminum beberapa teguk lagi setelah habis.


Ia tidak tahu Medina sedang berjalan ke arahnya.


Seorang perempuan memakai dress merah mendekatinya. Bayangan di benak Firo, wanita itu adalah Medina yang berjalan ke arahnya.


Wanita itu tersenyum ke arah Firo. Ia memberikan minum di gelas Firo yang tampak kosong. Firo langsung meminumnya dan tersenyum balik ke wanita itu.


Agata mendekatkan wajahnya ke pundak Firo dan merangkulkan tangannya ke pinggang Firo yang sedikit pusing. Firo tak terbiasa meminum anggur.


Meskipun sedikit pusing Firo masih bisa berjalan tegak di samping Agata yang merangkulnya. Agata merasa puas karena mendekati Firo tak sesulit yang ia pikirkan.


Setelah melewati lobby hotel mereka sampai di salah satu kamar yang masih kosong. Agata langsung di tarik Firo dalam pelukannya. Firo masih menganggap Agata adalah Medina istrinya.


Mereka masuk ke kamar dengan mudahnya karena pintu yang tak terkunci.


Agata mendekatkan wajahnya tepat di depan Firo yang tak berjarak dengannya bersebelahan di kasur.


Hembusan nafas Agata membuatnya tersadar. Hampir saja ia di buat Khilaf karena kelakuan wanita di dekatnya, "Kamu bukan istriku, " Firo mendorong tubuh Agata menjauh darinya.


Firo menarik tubuhnya menjauh dan mencoba menyadarkan kepalanya yang sedikit pusing.


Dengan napas yang masih memburu Firo merapihkan pakaiannya yang sedikit berantakan. Di sebelahnya sudah ada air mineral yang tersedia di nakas hotel, ia lalu membukanya dan meraupkan ke mukanya agar pusing di kepalanya mereda.


"Apa yang kamu lakukan" Firo menyentak Agata yang terlihat kesal terhadap dirinya.


"Bukankah kamu yang mau!" Agata terbangun dan kembali mendekati Firo. Merupakan suatu tantangan terhadap dirinya walaupun lelaki di depannya sudah menghinanya.


"Jaga ucapan anda Nona, aku tidak seperti yang Anda pikirkan," ucap Firo masih sopan terhadapnya. Ia tak berani kasar terhadap Agata mengingat kerjasama dengannya baru di mulai.


Agata tersenyum, "Aku tidak pernah memaksamu, justru anda yang menarik ku kesini" ucapan Agata tidak tanpa alasan karena tadi Firo yang tak sadar menariknya masuk ke kamar.


"Kalau begitu maafkan aku nona, Aku tidak akan mengulanginya lagi, " Firo langsung berjalan keluar tanpa permisi meninggalkan Agata sendiri di kamar.


Agata mendengus kesal, baru kali ini ada lelaki yang meninggalkannya.


Wajah Firo ia sengaja benamkan di bak kamar mandi agar pusing di kepalanya segera hilang.Ia mengutuk dirinya hampir saja melukai hati istrinya.


Firo lalu berjalan menjauh dan keluar dari lobby hotel meninggalkan mobil yang terparkir di basemen hotel. Ia menyetop taksi yang lewat di depannya menuju rumah mertuanya.


**


Di rumah mertuanya ia tak menemukan Medina di sana. Ia lalu menelepon istrinya menanyakan keberadaanya.


Firo menghampiri istrinya di rumah sakit yang tertidur di sebelah Niko. Ia lalu membelai rambut istrinya.


Sungguh ia tak berniat sedikitpun menyukai wanita lain selain istrinya. Firo sangat membenci ketidak setiaan. Firo sangat tahu perasaan ibunya sangat sakit karena ayahnya mempunyai dua istri. Firo tak ingin mengikuti jejak ayahnya.