
Sekitar jam delapan Tuan Bram menghubunginya lagi, Firo harus cepat datang ke Hotel Axon, salah satu hotel yang di percayakan ayahnya kepadanya. Ia harus mengingkari janji lagi kepada Medina karena ada kejadian mengenaskan di hotelnya.
Sebenarnya ia tak begitu peduli dengan statusnya sebagai pemimpin di hotel ayahnya. Tujuan ia mendekati ayahnya bukan itu, namun karena ia tak mau di anggap orang yang lepas tanggung jawab mau tak mau ia harus datang menyelesaikan kasus di hotel nya
Baru sebentar sampai di hotel Axon, Firo dicecar beberapa media yang sedang berjejer menunggu klarifikasi pihak hotel. Didampingi beberapa anggota keamanan tak cukup melindunginya dari wartawan yang mengerubunginya. Firo yang masih pemula belum bisa menanggapi beberapa pertanyaan yang menyudutkan pihak hotel. Jangankan menjawab duduk permasalahan nya pun ia tak paham. Ia ingin tertawa atau sedih, Seharusnya ia senang melihat usaha ayahnya bermasalah.
"Tuan Firo bagaimana tanggung jawab anda mengenai korban meninggal di hotel anda?"
"Apa makanan di hotel anda tidak di cek dulu keamanannya? "
"Tuan Firo, bagaimana anda menanggapi kelima korban meninggal di hotel anda?"
"Berapa kompensasi yang akan korban peroleh?"
Firo di buat kalang kabut. Wartawan semakin mendesak berbagai pertanyaan kepadanya.
Ditengah hiruk pikuk beruntung Pak Andre sekretaris Tuan Bram segera mendatanginya dan cepat menjawab berbagai pertanyaan media. Sekretaris Andre menyuruh petugas pengaman agar menyuruh Firo masuk. Firo merasa di remehkan oleh Sekretaris Andre.
Baru sebentar ia memimpin hotel sudah menghadapi kasus yang sangat berat. Lima orang tamu di kamar hotel yang berbeda meninggal di tempat seusai memakan breakfast yang di berikan hotel. Sungguh di luar dugaannya tamu hotel meninggal secara bersamaan pagi tadi dan belasan tamu yang lainnya masih di rawat di rumah sakit.
Untuk sementara hotel nya ia tutup demi sebuah penyelidikan. Polisi bertugas di bagiannya masing-masing. Ada yang masih menyelidiki TKP ada pula yang mengambil sampel sisa makanan yang belum habis di makan sejumlah tamu.Di bantu pihak keamanan Firo berhasil masuk ke dalam. Sekretarisnya Lena menjelaskan secara detail kepada Firo apa yang terjadi.
Tak butuh waktu lama Sekretaris Andre berhasil mengumpulkan semua karyawan yang masuk di pagi itu. Tampak wajah wajah ketakutan menghadap ke arahnya.
"Bagaimana mungkin ada korban yang meninggal secara bersamaan setelah memakan breakfast yang biasa di berikan, bukankah menu dan chef yang membuatnya sama," ujar Pak Andre.
Firo memperhatikan satu persatu karyawan hotel yang berdiri gemetar di depannya bahkan ada yang terlihat menangis. Melihat raut wajah mereka,Firo baru menyadari kalau pekerjaan mereka sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka. Mereka semua menunduk tak berani menjawab takut di pecat dan takut terbawa masalah.
Meskipun ia pernah mengalami gangguan jiwa, ia tak mau di remehkan sedikit pun oleh Pak Andre. Mau tak mau ia harus menyelesaikan kasus di hotelnya.
"Panggilkan aku seluruh chef dan staf servis room yang mengantar makanan yang bertugas hari ini, " ucapnya kepada manager personalia yang berdiri di sampingnya. Firo mulai peduli dengan tugasnya.
"Tu-tuan seluruh chef dan staf servis room yang mengantar makanan sedang di interogasi polisi di ruangan kitchen dan pantry," jawab manager personalia.
"Kalau begitu, kalian di larang pulang duluan sebelum penyelidikan selesai" ucap Pak Andre menambahi.
Pak Andre sekretaris Tuan Bram datang menghampirinya, "Tuan Muda, besok anda di suruh menghadap Tuan Bram," ucapnya.
"Saya sudah mengurus beberapa media agar tidak terlalu menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya," ucap Sekretaris Andre menambahi.
"Terima kasih Sekretaris Andre atas kerjasamanya," sahut Firo.
Sekretaris Andre terlihat meragukan Firo karena tidak mampu mengurus hotel.
"Beberapa sampel makanan sedang di cek di laboratorium dan seluruh staf yang terlibat akan di periksa hari ini juga, Anda sebaiknya mempersiapkan kemungkinan buruk yang terjadi. Hotel anda mungkin akan di tutup sementara beberapa pekan demi menjaga nama baik hotel lainnya," jelasnya lagi.
"Maaf Tuan Muda, saya tidak berpikiran seperti itu." sahutnya.
"Kalau tidak ada yang di tanyakan, saya permisi undur diri," ujar Sekretaris Andre.
Setelah itu Lena sekretaris pribadi Firo menyodorkan berkas surat penutupan yang akan di tanda tangani nya.
Apa! baru sebentar aku menjabat sudah satu hotel yang akan tutup, bukankah itu bagus!! tetapi aku merasa ada yang sedang mensabutase aku, aku tidak akan membiarkannya,pikirnya.
"Baiklah aku akan mencari solusi dan akan menandatanganinya," ucap Firo menuju ruang pribadinya.
Di dampingi Lena, Sekretaris Andre masih mendampingi beberapa karyawan yang masih menunggu interogasi.
Firo membaca dengan teliti berkas penutupan dan berkas ganti rugi terhadap keluarga tamu yang di tinggalkan. Baru beberapa minggu ia gagal dalam tugasnya. Apa yang terjadi dengan hotelnya? menurut riwayat pembukuan, Beberapa hotel milik Tuan Bram belum pernah ada korban jiwa karena kesalahan dari pihak hotel.
Setengah jam berpikir salah satu staf mendatangi dan mengabari kalau penyebab kematian para tamu murni kesalahan chef utama hotel. Disinyalir chef itu menggunakan Jamur yang ternyata beracun. Lima orang tidak bisa di selamatkan sementara belasan lainnya mengalami keracunan dan sedang di rawat di rumah sakit. Firo di buat geram mendengar keteranganya karyawannya.
Chef utama yang membuat kekacauan segera di ringkus polisi. Sementara karyawan lainya di ijinkan pulang.
Firo tak tinggal diam, ia langsung menuju kantor polisi bersama sopir hotel untuk bertanya langsung kepada chef yang sudah berdedikasi lama di hotelnya. Ia ingin bertanya langsung kepada chef itu.
**
Di kantor polisi.
"Tu-tuan maafkan saya" Chef itu terlihat gemetar dengan kedatangan Firo di depannya. Baru kali ini ia bisa berbicara langsung dengan pemilik hotel tempat ia bekerja.
Firo menatap lelaki di depannya penuh selidik, "Kenapa anda memberikan jamur beracun di nasi goreng yang anda buat? Apa kamu ingin menghancurkan nama baik hotel?" tanyanya ketus.
Chef itu menangis di depan Firo, "Tuan aku tidak tahu jamur itu beracun, aku biasa memakainya setiap hari, baru kali ini ada kasus seperti ini," sahutnya meyakinkan Firo.
Firo melihat kedua mata chef itu tidak berbohong, ia sudah menduga sebelumnya ada sesuatu yang janggal terhadap kasusnya.
"Setiap minggu menu itu aku yang buat. Aku masih butuh kerjaan istri dan anakku masih kecil kecil, aku masih membutuhkan pekerjaan untuk kebutuhan sehari-hari keluargaku, untuk apa aku sengaja meracuni para tamu" tangisnya makin menjadi.
"Tuan, tolonglah! aku aku tidak bersalah, sepertinya ada yang sengaja menukar jamur yang sudah aku rajang. Di nasi goreng itu warna jamur berbeda dengan yang aku potong," jelas Chef itu masih menangis sambil berlutut di kaki Firo.
Sepertinya ada yang tidak suka dengan hotel ku.
"Baiklah aku masih belum percaya, Aku akan mencoba mencari tahu kebenarannya, kalau kamu tidak bersalah, berdoalah agar masalah ini cepat terungkap," ucap Firo.
Chef itu menyalami Firo berharap ia percaya kepadanya. Waktu untuk berkunjung selesai, Firo lalu bergegas pulang.
Firo ingin segera menemui istrinya, pagi ini begitu berat di pikirannya. Ia berjanji akan cepat cepat menyelesaikan kasus di hotelnya.