
Beberapa bulan kemudian.
"Minggu depan kamu harus menikah!"
Ucapan nyonya stella mengejutkan Shaka yaang sedang menggendong kucing di pangkuannya.
"Apa?" Netra Shaka membulat sempurna.
"Ya minggu depan kamu harus menikah! Mommy sudah atur semuanya. Kamu harus bersiap-siap, Shaka" ujar Nyonya stella yang duduk di sebelahnya.
"Mom, Daddy saja belum diputuskan hukumannya. Kenapa aku harus menikah sekarang? Lalu siapa yang harus aku nikahi?" tanya Shaka kebingungan.
Shaka kembali mengelus kucingnya.
"Tentu saja kamu akan menikahi gadis yang pernah kita kenalkan tempo hari," sahut Nyonya Stella.
"Mak-maksud mommy gadis labil itu?" Shaka melotot ke arah Ny. Stella yang sedang asik merapihkan kukunya.
"Ya, kamu akan menikah dengan Geya, Minggu depan!" Tegas Ny.Stella.
Shaka menelan ludahnya, Masih belum percaya yang diucapkan ibunya kalau ia akan menikah besok dengan wanita yang jelas bukan seleranya.
"Mom, apa tidak secepat itu? Daddy sedang dipenjara!" tawar Shaka lagi.
"Justru sebelum hakim menjatuhkan hukuman kepada Daddy, Kamu harus cepat menikah. Kalau tidak calon besanku keburu membatalkan pernikahan kalian begitu mengetahuinya," ucap Ny. Stella.
"Kemarin mommy sudah menemui Daddy mu di penjara. Kita sudah sama-sama setuju untuk mempercepat pernikahan kalian!"
"Besok kamu hanya perlu datang dan mengucapkan janji suci. Selebihnya Mommy sudah atur. Pernikahan kalian hanya akan dilakukan secara sederhana tidak akan ada pesta besar mengingat Ayahmu sedang di penjara," seru Ny.Vika sekali lagi.
Shaka masih menatap ibunya yang masih bersikukuh menjodohkannya sambil terus mengelus kucing kesayangannya.
"Lagian setiap hari mommy lihat setiap pulang kerjaan mu hanya mengelus kucing. Kapan kamu bisa memberi mommy cucu? Kamu bukan Gay, kan?" sindir Ny.Stella.
"Mommy! Aku tidak seperti itu," balas Shaka.
"Kalau begitu kamu harus menikah dengan Geya!"
***
Karena kesal dengan ocehan ibunya. Shaka berniat mengunjungi Firo.
Shaka melajukan mobilnya menuju rumah Firo yang baru.
Firo dan Medina sekarang tidak tinggal di rumah Tuan Bram lagi. Firo ingin menghapus semua kenangan buruk di rumah itu. Berkat kerja kerasnya, Firo mampu membeli rumah dengan ukuran yang sedang untuk keluarganya.
Kebetulan hari itu Firo sedang libur dan seharian berada di rumah. Mobil Shaka sekarang sudah terparkir di depan rumah Firo.
"Hai Drago," seru Shaka ketika melihat Drago yang di gendong Medina di depan rumah.
Drago yang sudah berumur empat bulan tersenyum balik menanggapi Shaka yang sedang menggodanya. Bayi mungil itu sangat murah senyum.
"Bolehkan aku menemui papamu, Boy?" Shaka menggoda Drago lagi.
Pfhuh..
Drago menyemburkan ludahnya ke muka Shaka dengan bibirnya.
Melihat itu Medina tertawa melihat tingkah lucu anaknya, "Itu tandanya kamu ngga dibolehin sama Drago," ujar Medina.
"Tenang aku ngga akan bawa papamu ke bar, Tapi hanya memperkenalkan kepada wanita-wanita seksi yang barusan berkenalan denganku tadi malam!" ucap Shaka berbisik ke telinga Drago.
"Heum.. kamu jangan mengajari anakku yang tidak-tidak!" ketus Medina sambil menarik kuping Shaka.
"Ampun, Nyonya!" teriak Shaka kesakitan.
Mendengar keributan Firo yang dari dalam keluar, "Ada apa ini?"
Belum tau permasalahannya Firo sudah kena jewer istrinya.
"Ahhh," Firo berteriak.
"Katakan padaku apakah kamu sering berkenalan dengan wanita seksi bersama Shaka?" Medina mengerucutkan bibirnya.
"I-itu tidak benar!" sanggah Firo sambil memegang telinganya.
"Lihatlah kalau sampai ketahuan aku akan goreng Joni milik mu," ujar Medina mengarahkan matanya ke arah Joni milik Firo.
Firo langsung menutupinya, "Jangan goreng sayang, Nanti kamu tidak bisa mencicipinya lagi"
"Aku tidak peduli! Mentahnya saja enak bagaimana kalau matang!" Medina melotot ke arah suaminya.
"Aish! kamu kesini membawa masalah saja," gerutu Firo menepuk kepala Shaka, "Sebaiknya kita pergi dari sini, dari pada nanti Nyonya lebih marah lagi," Firo menarik Shaka masuk kedalam.
Medina tersenyum melihat ekspresi muka suaminya.
Di dalam rumah,
"Baru datang sudah buat masalah!" ucap Firo sembari mendudukkan pantatnya ke sofa.
"Maafkan aku! Aku keceplosan" ucap Shaka.
"Aku ingin mengatakan padamu, Minggu depan aku akan menikah," ujar Shaka berbicara dengan wajah datarnya.
Firo yang sedang meminum jus di tangannya langsung terkaget dan hampir saja tersedak.
"Aku yang menikah kenapa kamu yang kaget?" celetuk Shaka yang duduk di sebelah Firo.
Firo langsung menahan tawanya, "Siapa yang mau menikah denganmu? Aku pikir kamu tidak akan menikah seperti Agung!" ucap Firo menyindir Agung yang sedang berkutat dengan lapptopnya.
Agung yang disindir langsung menoleh, "Kenapa aku dibawa-bawa... heum" Agung menepuk jidatnya.
"Kenapa aku disamakan dengan makhluk mitologi seperti Agung! Ya jelas aku berbeda" Shaka selalu tidak mau disamakan dengan Agung.
Firo menaruh cangkir di meja yang ada dihadapannya, "Karena aku pikir kalian berdua tidak normal!"
"Tentu saja aku normal!" Agung dan Shaka menjawab berbarengan.
"Ha...ha... kalian benar-benar kompak!" ucap Firo sembari tertawa.
Agung dan Shaka saling menatap tajam.
Firo bisa berkata tidak normal kepada Shaka karena sampai sekarang belum ada tanda-tanda Shaka mempunyai pacar padahal banyak wanita yang mengejarnya. Shaka selalu menghindar dengan alasan ia belum bisa melupakan tunangannya, Shinta.
"Kalau begitu aku akan menerima perjodohannya. Aku akan buktikan kepada kalian kalau aku lelaki yang normal," ujar Shaka.
"Aku juga bisa membuktikan kalau aku lelaki yang normal. Kalian saja tidak tahu kalau aku sudah memiliki pacar," seru Agung tidak mau kalah.
Tiba-tiba,
Gubrak!!
"Suara apa itu?" tanya Firo.
"Biar aku yang mengeceknya, Tuan!" Agung langsung menuju dapur.
Dari arah dapur terdengar alat masak yang jatuh.
Sepertinya Lela tidak sengaja menjatuhkan barang itu ke lantai. Lela yang mendengar Agung sudah memiliki pacar langsung terkaget menjatuhkan panci ditangannya. Rupanya Lela diam-diam sudah menaruh hati kepada Agung sejak lama.
Melihat kedatangan Agung ke dapur, Lela buru-buru mengambil panci yang terjatuh.
"Aku tidak sengaja menjatuhkannya," ucap Lela memalingkan mukanya.
"Heum...Aku kira ada yang sedang mengamuk!" Agung hendak kembali kedalam.
"Dasar lelaki tidak bisa peka terhadap wanita!" gerutu Lela.
Agung yang hendak meninggalkan Lela tidak sengaja mendengarnya.
"Tadi apa yang kamu bilang?" Agung menghentikan langkahnya lalu berbalik mendekati Lela yang sedang cuci piring.
"Aku bilang apa emang ta-tadi." Lela langsung menoleh kebelakang.
"Kamu bilang tadi lelaki tidak bisa peka terhadap wanita. Menurutmu yang dikatakan lelaki itu siapa? Bukan aku kan yang kau maksud?" cecar Agung menyelidik.
Agung lebih mendekat lagi hingga mereka hanya berjarak 30 centimeter. Melihat perubahan Agung Lela begitu gemetar. Pria itu tidak seperti biasanya, Dari tatapannya Agung terlihat seperti pria sejati. Tidak seperti biasanya yang terlihat seperti banci.
"Tentu saja bukan kamu, Gung! Kamu kan bukan lelaki seja..." belum sempat meneruskan ucapannya Agung sudah menutup mulut Lela dengan jarinya.
"Jangan katakan itu. Karena sebentar lagi aku akan menikahi mu!" Agung menyipitkan satu matanya kepada Lela yang berdiri mematung di hadapannya.
Rupanya yang dikatakan pacar bagi Agung adalah Lela.
###
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih.