Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Menjalankan rencana..


Ardi menuruni tangga dan berjalan menghampiri Kay, Arka, Jonny dan Lina.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanyanya penasaran.


"Nggak ada apa-apa kok, Kak," ucap Kay.


"Tapi tadi aku seperti mendengar sesuatu," ucap Ardi tidak percaya dengan ucapan Kay.


"Kakak pasti salah mendengar, kita cuma lagi membicarakan soal Kevin kok," ucap Kay memberi alasan.


Arka sudah tak sanggup lagi melihat Ardi semakin mengharapkan Kay untuk kembali lagi bersamanya.


"Kak, ada yang mau aku bicarakan sama kakak," ucap Arka.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Ardi penasaran.


"Ini soal aku dan Kay."


"Maksud kamu apa? Apa hubungan kamu sama Kay? Apa ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Ardi yang di buat semakin penasaran.


"Ka! apa yang kamu lakukan!" seru Kay terkejut.


Kay tidak menyangka Arka akan memberi tahu Ardi sekarang. Kay takut Ardi akan sangat terkejut dan itu akan berdampak buruk untuk kesehatannya.


"Kak Ardi harus tau Kay, aku nggak mau kak Ardi semakin berharap sama kamu. Aku juga nggak mau Kak Ardi semakin menderita nantinya."


"Tapi, Ka, nggak harus sekarang." Kay terlihat sangat takut.


"Menunggu sampai kapan Kay, sampai Kak Ardi melupakan kamu? Itu nggak akan pernah terjadi Kay," ucap Arka dengan nada penuh penekanan.


"Apa yang sebenarnya terjadi, aku ingin tau, cepat beri tahu aku sekarang. Aku berhak tau!" teriak Ardi.


"Kak, aku mohon jangan mempersulit Kay lagi. Selama ini aku diam hanya karena kak Ardi itu kakak aku. Tapi kali ini kak Ardi sudah kelewatan, bahkan Kak Ardi menyuruh Kay untuk tidur di kamar kak Ardi," ucap Arka.


"Itu bukan urusan kamu, Ka. Kay itu istri aku!" teriak Ardi.


"Kay bukan istri kamu lagi, tapi Kay sekarang adalah istri aku, jadi aku berhak ikut campur karena ini menyangkut istri aku," ucap Arka.


"Apa kamu bilang! Istri kamu! Kamu pasti bercanda kan, Ka?" tanya Ardi terkejut.


"Aku nggak bercanda, Kak. Aku dan Kay memang sudah menikah dua minggu yang lalu," ucap Arka.


"Nggak! kamu pasti bohong, buktikan sama aku kalau Kay itu istri kamu!" seru Ardi.


Arka mendekati Kay dan menarik tangan Kay. Arka menunjukkan cincin yang tersemat di jari manis Kay.


"Aku nggak percaya, itu bisa saja cuma muslihat kamu saja agar aku melepaskan Kay, cincin itu tidak membuktikan apa-apa," ucap Ardi tidak percaya begitu saja.


Arka menarik tengkuk Kay dan mendaratkan ciuman di bibir Kay.


"Apa ini masih belum cukup untuk membuktikannya. Kak...lupakanlah Kay, sekarang Kay bukan lagi istri kak Ardi, tapi istri aku, aku mohon kak, jangan kamu sakiti diri kamu lagi," pinta Arka.


Ardi tidak terima dengan sikap Arka yang tiba-tiba mencium Kay. Ardi mendaratkan bogem mentah ke pipi Arka. Arka jatuh tersungkur.


"Arka!" teriak Kay terkejut lalu membantu Arka berdiri.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memukul Arka?" teriak Jonny terkejut.


"Sayang, apa yang sudah kamu lakukan, apa salah Arka?" tanya Lina yang juga terkejut melihat sikap Ardi.


"Arka sudah merebut Kay dari Ardi, Ma. Ardi nggak terima," ucap Ardi marah.


"Kak...kamu harus menerima kenyataan ini. Kita nggak mungkin kembali lagi seperti dulu, Kak. Aku dan Arka sudah menikah dan kita sudah bahagia. Aku mohon lupakan aku kak. Kak Ardi harus bisa menerima Monic, kasian dia. Monic sangat membutuhkan Kak Ardi, apalagi sebentar lagi Monic akan melahirkan," pinta Kay.


"Kay...kamu bohong kan, kamu nggak mungkin menikah dengan Arka kan Kay, ini semua nggak benar kan," ucap Ardi dengan mata berkaca-kaca.


"Ini semua benar kak, aku dan Arka sudah menikah," ucap Kay dengan menundukkan kepalanya.


Ardi terkulai lemas di lantai. Semua harapannya sirna dalam sekejap. Wanita yang sangat ia cintai kini sudah menjadi milik orang lain.


"Kak..maafin aku," ucap Kay sedih.


"Pergi! aku ingin sendiri!" seru Ardi.


"Aku bilang pergi!" teriak Ardi.


Arka menarik tangan Kay dan pergi meninggalkan Ardi sendiri.


"Mama dan Papa juga pergi, Ardi mau sendiri!" teriak Ardi.


"Sayang, Mama mohon, ikhlaskan Kay sayang, jangan lagi kamu menyakiti diri kamu," ucap Lina sedih.


"Pergi, Ma! pergi!" teriak Ardi.


Lina dan Jonny pergi meninggalkan Ardi. Arka membawa Kay keluar.


"Lepasin Ka, kamu sudah keterlaluan!" teriak Kay marah.


"Salah aku dimana coba! Aku sudah membantumu untuk lepas dari kak Ardi, terus ini balasan kamu!" teriak Arka emosi.


"Tapi nggak kayak gini juga caranya. Sebenarnya aku ingin mencari waktu yang tepat, tapi tadi kamu terlalu terburu-buru."


"Aku cuma nggak mau kak Ardi semakin mengharapkan kamu, Kay. Aku bisa melihat di mata kak Ardi, betapa dia masih sangat mencintai kamu. Aku cuma nggak mau kak Ardi semakin menderita."


"Terus kenapa tadi kamu mencium ku tanpa persetujuan dari aku? kenapa?"


"Kelamaan kalau minta persetujuan kamu dulu, keburu kak Ardi semakin curiga," ucap Arka mencoba memberi alasan.


"Tapi nggak harus mencium aku juga kali, kan ada cara lain," ucap Kay kesal.


"Cara apa lagi, dengan tidur sama kamu biar kak Ardi semakin percaya," goda Arka.


"Bukan i--itu juga, sudahlah," ucap Kay lalu duduk di kursi teras.


"Aku tau Kay kamu masih mencintaiku, buktinya kamu nggak menolak ciuman aku. Kamu hanya malu untuk menunjukannya. Aku akan sabar menunggumu berapa pun itu lamanya," pikir Arka dalam hati.


"Besok aku mau pulang."


"Baiklah, kita akan pulang besok," ucap Arka lalu duduk di samping Kay.


Arka menyadarkan kepalanya ke bahu Kay. Kay terkejut dengan sikap Arka.


"Ka--"


"Sebentar saja, Kay. Biarkan aku bersandar di bahu kamu," pinta Arka.


"Kamu kenapa?"


"Aku capek banget, aku sudah mulai lelah dengan semua lika-liku hidup ini. Aku cuma ingin orang yang aku sayangi bahagia, tapi kenyataannya aku hanya bisa membuat mereka menderita. Apa salah aku di masa lalu hingga aku mendapatkan hukuman seperti ini," keluh Arka.


"Kamu nggak salah apa-apa, Ka. Kamu orang yang baik, kamu pantas bahagia. Mulai sekarang jangan pikiran orang lain, tapi pikirkanlah diri kamu sendiri."


"Benar, aku harus memikirkan diri aku sendiri. Ok..mulai besok aku akan mencari pacar, aku bosen hidup sendiri, aku juga butuh seseorang yang mencintaiku dan mau menyayangiku."


"Kamu serius, Ka! kamu mau mencari calon istri?" tanya Kay terkejut.


"Ya, kenapa? apa kamu mau mencarikan aku calon istri?" goda Arka.


"Ogah."


"Ayolah Kay, kenalkan aku sama teman-teman kamu. Pasti teman-teman kamu cantik-cantik," goda Arka lagi.


"Nggak! kamu cari sendiri saja," tolak Kay lalu pergi meninggalkan Arka.


"Aku tau Kay kamu pasti cemburu, aku sengaja mengatakan ini agar kamu bisa menunjukkan ke aku kalau kamu masih mencintaiku. Sampai kapan pun aku nggak akan menikahi wanita lain Kay. Aku hanya ingin kamu yang menjadi istri aku," ucap Arka sambil tersenyum.


Kay berlari masuk dan masuk ke dalam kamarnya. Kay terkulai lemas di lantai.


"Ka...aku pikir kamu akan menungguku sampai aku mau menerimamu kembali, tapi apa ini, Ka. Kamu mau mencari istri, kamu mau mencarikan Kevin ibu tiri, tega kamu, Ka." Tanpa sadar air mata menetes membasahi kedua pipi Kay.


"Aku pikir kamu serius dengan kata-kata kamu waktu itu. Kamu bilang kamu masih mencintaiku, kamu bilang kamu mau menungguku, kamu bohong Ka, aku membencimu, Ka!"


~oOo~