Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bayi kembar


Operasi caesar berlangsung kurang lebih satu jam. Cesa saat ini sedang melakukan tindakan operasi bersama dengan timnya. Ardi terlihat sangat kacau saat ini, hingga membuat Lina sangat cemas. Ardi lebih memilih untuk diam dan berdoa di dalam hatinya agar operasi istrinya berjalan dengan lancar.


“Operasinya sudah berlangsung berapa lama, Ka?” tanya Kay menatap Arka dengan kedua mata sendunya.


Arka yang melihat wajah sendu istrinya pun menariknya ke dalam dekapannya., “sebentar lagi sayang, kamu tenang saja,” ucapnya.


Beberapa menit kemudian terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang, membuat semua yang berada di luar ruang operasi itu merasa sangat lega. Namun mereka masih sangat tegang dan berusaha berpikir positif tentang keadaan Zahra.


Cesa keluar dari ruang operasi dan membuat Ardi dan Samuel segera berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati dokter itu.


“Kak Ardi, selamat ya, anak kalian cowok dan cewek, wajahnya sangat mirip seperti ayah dan ibunya,” ucap Cesa dengan senyuman di wajahnya.


Apa yang dikatakan Cesa membuat semua orang yang berada di sana tersenyum bahagia.


“Lalu bagaimana keadaan Zahra sekarang?” tanya Ardi cemas.


“Kak Ardi nggak perlu khawatir, keadaan Zahra baik-baik saja, saat ini dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan,” ucap Cesa membuat semua orang tersenyum senang.


“Terima kasih ya, Dokter Cesa,” ucap Ardi dengan senyuman di wajahnya.


“Sama-sama, Kak. ini sudah tugas aku sebagai dokter kandungan Zahra,” ucap Cesa dengan senyuman di wajahnya.


Samuel memeluk Cesa hingga membuat gadis itu membulatkan kedua matanya, “terima kasih ya, Sa. Kamu telah menyelamatkan adik aku dan kedua keponakan aku,” ucapnya.


Cesa dengan wajah yang memerah menganggukkan kepalanya pelan, dia lalu kembali masuk ke dalam ruang operasi, “astaga, kenapa jantung aku berdebar-debar saat Kak Samuel memelukku, nggak mungkin kan aku masih memiliki perasaan sama dia,” ucapnya.


“Ayo kita ke ruang perawatan Zahra,” ajak Samuel sambil merangkul pundak Ardi.


Ardi menganggukkan kepalanya. Mereka dan juga semua keluarganya melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan Zahra.


Kedua bayi kembar Ardi sedang menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan, sedangkan Zahra sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Ardi dan semua keluarganya masuk ke dalam ruang perawatan Zahra, dia menatap Zahra dengan tatapan haru.


Ardi dengan air mata yang sudah menetes membasahi kedua pipinya melangkahkan kakinya mendekati Zahra, dia lalu mengecup kening Zahra dengan sangat lembut. Kedua mata Zahra masih terpejam karena saat ini dia masih dalam pengaruh obat bius.


Kedua orang tua Zahra berjalan mendekati anak semata wayangnya. Mama Zahra mengecup kening putrinya itu, “Mama sangat bahagia sayang, kamu dan kedua cucu Mama selamat dan dalam keadaan baik-baik saja,” ucapnya.


Papa Zahra merangkul pundak istrinya, “Zahra memang anak yang kuat, Ma,” ucapnya.


Dua orang suster masuk ke dalam ruang perawatan Zahra sambil mendorong dua box bayi, dimana bayi kembar Ardi berada di dalam box itu. Ardi menyambut kedatangan kedua buah hatinya, dia lalu mengambil salah satu anaknya dan menggendongnya.


“Kak, anak kakak ini sangat mirip dengan kakak,” ucap Arka sambil mengusap lembut pipi gembul putra Ardi.


Mama Zahra, Lina, dan juga Kay ikut mendekati box bayi itu. Mama Zahra mengambil cucu perempuannya dari dalam box dan menggendongnya, “Papa. Lihatlah, cucu kita ini sangat mirip dengan Zahra waktu masih bayi,” ucapnya.


Papa Zahra mendekat dan mengusap lembut kedua pipi gembul cucu perempuannya, “iya, Ma. Cucu kita ini sangat mirip dengan Zahra.


Zahra merasakan pusing di kepalanya, dia mulai mendengar sayup-sayup suara suaminya yang sedang berbincang dengan seseorang yang dia duga adalah Samuel. Zahra ingin sekali membuka kedua matanya namun sangat sulit untuk kedua matanya terbuka. Akhirnya dia menyerah dan kembali terlelap.


Beberapa menit kemudian Zahra merasakan nafas hangat di telinganya, dia juga mendengar Ardi yang terus memanggilnya. Dengan perlahan Zahra mulai membuka kedua matanya, dia melihat wajah tampan suaminya yang sejak tadi terus memanggilnya dengan sangat lembut. Zahra ingin mengangkat tangannya namun mata sayu yang terlihat lelah itu menggelengkan kepalanya.


“Kak,” panggil Zahra lirih.


“Ya, sayang.” Ardi menggenggam tangan Zahra yang tidak di infus dan mengecup punggung tangan istrinya itu, “jangan banyak bergerak dulu,” pintanya.


“Anak-anak kita, Kak?” tanya Zahra khawatir. Air mata Zahra mulai menetes dari kedua sudut matanya.


Ardi segera menghapus air mata istrinya itu, “sikembar baik-baik saja sayang, anak kita cewek dan cowok, mereka sangat mirip dengan ku dan juga kamu,” ucapnya.


Lina dan Mamanya Zahra menggendong cucu-cucu mereka dan melangkahkan kaki mendekati ranjang Zahra.


“Sayang, sekarang kamu bisa melihat anak-anak kita,” ucap Ardi sambil menatap kedua anaknya dalam gendongan kedua mamanya.


Lina dan Mamanya Zahra mendekatkan cucu-cucunya ke Zahra. Zahra terlihat menarik kedua sudut matanya membentuk sebuah senyuman, air mata itu kembali menetes, tapi kali ini itu adalah air mata kebahagiaan.


Zahra mengecup kening kedua anaknya, “anak-anak kita sangat tampan dan juga cantik, Kak,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


“Ayah nya saja tampan, ibunya juga cantik,” ucap Ardi sambil mengusap pipi gembul kedua anaknya.


***


 


Ardi meminta Zahra untuk beristirahat karena kondisinya belum pulih sepenuhnya. Sedangkan semuanya keluarganya sudah kembali ke rumah, hanya Ardi yang berada di sana.


“Kak, nanti aku sama Kay akan kesini lagi, aku juga akan mengajak Rasya, Kevin dan juga Ansel. Mereka pasti sangat senang melihat adik-adik mereka sudah lahir,” ucap Arka.


Ardi menganggukkan kepalanya, “tolong jagain Rasya ya,” ucapnya.


Arka menganggukkan kepalanya, dia lalu mengajak Kay untuk keluar dari ruang perawatan Zahra. sedangkan Ardi duduk di kursi dekat ranjang Zahra, dia lalu menggenggam tangan Zahra dan mengecupnya.


“Terima kasih sayang atas perjuangan kamu untuk melahirkan anak-anak kita, kamu telah memberikan aku anugerah terindah.” Ardi menatap wajah Zahra yang terlelap, dia lalu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya mendekati kedua box bayi yang terletak di dekat ranjang Zahra.


“Papa janji, sayang. Papa akan menjaga kalian, tak akan Papa biarkan kalian menderita. Apapun akan Papa lakukan untuk melindungi kalian dan juga Mama kalian.” Ardi mengecup kening kedua anaknya secara bergantian, terlihat dengan jelas kebahagiaan di wajah Ardi.


Dia bahkan tidak pernah menduga dirinya akan mempunyai dua anak kembar, setelah perjuangannya selama ini, akhirnya dia mendapatkan anugerah terindah yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan.


“Sayang, perjuangan kita selama ini tidak sia-sia, sekarang buah cinta kita telah hadir untuk melengkapi kebahagian kita,” ucap Ardi sambil mengecup kening Zahra.


~oOo~