
Pagi sudah mulai menyapa, matahari sudah menampakkan sinarnya melalui celah-celah jendela kamar Zahra. Tapi gadis itu masih enggan untuk membuka matanya. Semalam dia sama sekali tidak bisa tidur karena memikirkan ancaman yang di lontarkan oleh Micel.
Gadis itu tidak menyangka dirinya akan berada di tengah-tengah hubungan mereka. Niatnya hanya untuk membuat Matteo menjauh, tapi sekarang dirinya malah di tuduh akan merebut calon suami orang lain.
Kemudian terdengar suara ketukan di pintu yang membuat kedua mata gadis itu mau tidak mau harus membuka kedua matanya.
“Sayang, ayo bangun! Ini sudah siang, katanya kamu mau ke kampus!” teriak mama Zahra.
“Iya, Ma. Zahra sudah bangun ini!” serunya sambil mengerjapkan kedua matanya menatap jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, gadis itu bergegas turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Hari ini Zahra berencana untuk kembali mendaftar kuliah, gadis itu tentu saja akan mengambil jurusan yang sama yaitu kedokteran. Setelah selesai mandi dan bersiap-siap Zahra keluar dari kamar, dia berjalan menuju ruang makan. Di sana sudah ada mama dan papanya, Zahra menyapa dan mencium tangan kedua orangtuanya.
“Hari ini kamu jadi mendaftar kuliah?” tanya papa Zahra.
“Jadi, Pa,” sahut Zahra sambil mengambil makanan lalu dia masukkan ke dalam mulutnya.
“Kamu pergi sama siapa sayang?” tanya mama Zahra.
Zahra menelan makanan yang berada di dalam mulutnya, “mungkin Zahra akan pergi dengan Kak Kenzo, kemarin Yuna sudah memberi tahu Kak Kenzo,” ucapnya.
“Apa kakak kamu itu nggak bekerja, karena Papa dengar perusahaan dia kini maju pesat?” tanya Papa Zahra.
“Zahra juga nggak tau, Pa. katanya kemarin bisa,” ucap Zahra lalu kembali memasukkan satu suapan ke mulutnya.
Terdengar suara pintu di ketuk, “mungkin itu Kak Kenzo,” ucap Zahra lalu berdiri.
“Kamu terusin aja makanannya, biar bibik yang buka,” ucap mama Zahra dan mendapat anggukkan dari gadis itu. Zahra lalu kembali mendudukkan tubuhnya.
Tak berselang lama, wanita paruh baya yang tak lain asisten pembantu rumah tangga Zahra berjalan menuju ruang makan, “Non Zahra, ada yang tamu buat Non Zahra,” ucapnya sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Apa itu Kenzo, Bik?” tanya mamanya Zahra.
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya, “bukan Nyonya, tadi katanya namanya Ardi,” ucapnya.
Zahra membulatkan kedua matanya, “apa bik? Ardi?” tanyanya terkejut.
“Iya, Non. Katanya namanya Ardi. Kalau begitu bibik permisi dulu,” ucap wanita paru baya itu lalu berjalan pergi.
“Siapa itu Ardi?” tanya papa Zahra penasaran.
“Em...dia temannya Kak Kenzo. Biar Zahra temui dulu dia, Ma, Pa,” ucap Zahra lalu berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Papa dan mamanya Zahra saling bertatap, mereka juga penasaran dengan yang namanya Ardi. Jika dia teman Kenzo, itu berarti umurnya jauh di atas Zahra, pikir mereka.
“Pa..” papa Zahra mengerti dengan tatapan istrinya, dia lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang tamu. Mama Zahra mengikutinya dari belakang.
Zahra berjalan menghampiri Ardi yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Mengingat ancaman Micel kemarin membuat gadis itu ragu untuk meneruskan rencananya, “Kak Ardi kenapa pagi-pagi sudah ke sini?” tanyanya
penasaran lalu duduk di sofa tunggal tak jauh dari pria itu.
“Kenzo meminta aku untuk mengantarkan kamu ke kampus, katanya dia ada meeting penting yang tidak bisa dia tinggalkan.” Padahal kenyataannya Kenzo hanya menawari Ardi, apa dia mau mengantar Zahra ke kampus atau tidak, bahkan Kenzo sama sekali tidak memaksa sahabatnya itu. Justru Ardi yang ngotot ingin mengantar kan gadis itu untuk mendaftar kuliah di kampus barunya.
“Tapi kenapa Kak Kenzo tidak memberi tahu aku?”
Mama dan papa Zahra berjalan menghampiri Zahra dan Ardi. Pria itu lalu berdiri saat kedua orang tua Zahra semakin mendekat. Ardi sudah memperhitungkan semua ini, jika dia ingin mendatangi rumah Zahra, dirinya harus
sudah siap untuk bertemu dengan kedua orang tua Zahra. Anggap saja ini awal perkenalan sebelum menjadi menantu, pikirnya.
Ardi menyapa dan mencium tangan kedua orang tua Zahra. Mama Zahra menyuruh Ardi untuk duduk kembali, sedangkan Zahra terlihat salah tingkah. Gadis itu sedang memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan nanti jika kedua orangtuanya menanyakan siapa Ardi.
“Tadi nama kamu Ardi, kalau Om boleh tau, apa hubungan kamu dengan Zahra?” tanya Papa Zahra.
“Kak Ardi ini teman Zahra, Pa,” ucap Zahra gugup.
“Apa pria ini yang kamu maksud kemarin sayang? Pria yang pergi makan siang dengan kamu?” tanya mama Zahra.
“Iya, tante. Kemarin saya memang pergi makan siang dengan Zahra,” sahut Ardi sambil menatap Zahra. Pria itu bisa melihat kegelisahan di wajah gadis itu.
“Apakah sudah sedekat itu hubungan kalian? Kenapa kamu tidak berbicara sama Papa kalau kamu sudah mempunyai kekasih?” tanya papa Zahra.
“Ini nggak seperti yang Mama dan Papa pikirkan, Zahra dan Kak Ardi nggak ada hubungan apa-apa. Kita hanya berteman,” sangkal Zahra. Gadis itu menatap Ardi agar membantunya untuk bicara dengan kedua orangtuanya agar kesalahpahaman ini tidak berlarut-larut.
Terdengar suara pintu di ketuk, “biar Mama saja yang buka,” ucap mama Zahra lalu berdiri.
“Zahra, Papa nggak melarang kamu untuk berpacaran, kamu sudah dewasa. Papa tau kamu pasti sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi Papa hanya ingin kamu mengenalkan siapapun pacar kamu itu, biar Mama dan Papa juga bisa mengenalnya,” ucap papa Zahra dengan nada serius. Zahra hanya mengangguk mengerti.
“Sayang, Matteo datang untuk mencari kamu,” ucap mama Zahra lalu menyuruh Matteo untuk duduk.
Pemuda itu mencium tangan papa Zahra, dia terkejut melihat Ardi ada di rumah Zahra, “kok Kak Ardi ada di sini?” tanyanya terkejut.
Zahra dan Ardi saling menatap, mereka tidak menyangka Matteo akan ada di rumah Zahra.
“Matt, ngapain kamu ke rumah aku?” tanya Zahra penasaran, padahal gadis itu tidak memberi tahu pemuda itu soal dirinya yang akan mendaftar di kampus barunya.
“Aku mau mengajak kamu ke suatu tempat,” ucapnya.
“Tapi sekarang aku nggak bisa, aku mau ke kampus. Aku mau lanjutin kuliah aku,” ucap Zahra.
“Ya udah kalau gitu biar aku antar aja,” ucap Matteo.
Ardi membulatkan kedua matanya, dia tidak akan membiarkan pemuda itu pergi dengan pujaan hatinya, “Zahra akan pergi denganku,” ucapnya.
“Kenapa Kak Ardi ada di sini? Bukannya seharusnya Kak Ardi ada di kantor jam segini? Lalu apa hubungan Kak Ardi dengan Zahra? Bukannya kalian hanya saling mengenal dan tidak ada hubungan apa-apa?” tanya Matteo penasaran.
Apa yang harus aku katakan? Jika aku bilang kita berteman, maka rencana sandiwara aku dan Zahra akan gagal sebelum di lancarkan, tapi jika aku bilang aku dan Zahra berpacaran, apa Zahra akan marah, karena aku mengatakan itu di depan kedua orangtuanya? Ardi nampak tengah kebingungan, pria itu juga melihat kegelisahan di wajah Zahra.
“Kenapa Kak Ardi diam saja? Zahra akan pergi denganku, aku nggak akan membiarkan Zahra pergi dengan pria yang belum lama di kenalnya,”
ucap Matteo.
~oOo~