Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Sungguh menggemaskan


Ardi menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, pikirannya semakin kacau setelah perdebatannya dengan Monic beberapa saat yang lalu. Zahra yang baru saja menemani Rasya tidur kini kembali lagi ke kamarnya, dia melihat suaminya yang masih menggenakan baju yang sama.


“Apa yang kakak bicarakan dengan Kak Monic?” Zahra lalu duduk di samping suaminya.


“Tentang Rasya.” Ardi menjawab dengan nada suara yang begitu berat. Pria itu tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti tanpa Rasya di sampingnya. Walaupun Rasya terlahir dari hubungan yang salah, tapi Ardi sangat menyayangi lebih dari apapun di dunia ini. Dia memang sangat membenci Monic tapi tidak dengan Rasya yang sama sekali tidak bersalah dalam masalah yang mereka hadapi dulu.


“Apa Kak Monic ingin Rasya tinggal bersamanya?”


Ardi mengangguk pelan, “sayang, apa yang harus aku lakukan? Rasya terlihat begitu senang saat Monic datang, dia juga mempunyai keinginan untuk bisa tinggal bersama dengan ibunya, tapi aku nggak akan sanggup hidup jauh dari anak aku,” ucapnya sedih.


Zahra menggenggam tangan suaminya, “kakak harus yakin jika Rasya nggak akan pernah meninggalkan kakak,” ucapnya.


“Tapi rasa takut itu ada, dan aku nggak bisa yakin dengan diri aku sendiri.”


“Apa kakak nggak yakin dengan kasih sayang kakak selama ini? Kakak lah yang telah membesarkan Rasya selama ini, kakak juga yang mencurahkan kasih sayang seorang ayah dan juga ibu kepada Rasya selama ini. Kakak bahkan tidak membiarkan Rasya kekurangan kasih sayang sedikitpun.” Zahra menangkup kedua pipi suaminya dengan kedua telapak tangannya, “aku yakin Rasya akan lebih memilih kakak ketimbang Kak Monic, karena selama ini yang Rasya rasakan adalah kasih sayang Papanya yang sangat tulus untuknya,” imbuhnya.


Ardi tersenyum, dia lalu memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat, “makasih sayang, kalau nggak ada kamu mungkin aku sudah putus asa,” ucapnya.


“Lebih baik sekarang kakak mandi, setelah itu kita makan malam, aku lapar.”


“Bagaimana dengan Rasya?”


“Dia sudah tidur.”


“Sayang, apa Rasya mengatakan sesuatu sama kamu?”


Zahra mengangguk pelan, “nanti aku akan ceritakan semuanya, tapi sekarang kakak mandi dulu. kakak bau kecut,” ledeknya.


Ardi mencium kilas bibir tipis istrinya, “bau-bau gini kamu juga suka kan,” godanya.


Zahra melingkarkan lengannya ke leher suaminya, dia lalu mencium bibir suaminya yang terlihat begitu menggoda. Ardi membalas ciuman istrinya itu, ciuman panas itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Zahra mengakhirinya lebih dulu.


Zahra menatap kedua mata indah suaminya, “Kak, kita akan melewati semua ini bersama-sama, jadi kakak nggak perlu khawatir, kita serahkan semuanya kepada Rasya. Kakak hanya perlu yakin kepada anak kakak itu,” ucapnya.


“Aku akan mempercayai Rasya.” Ardi lalu beranjak dari duduknya, “sayang, temani aku mandi ya, aku ingin mandi sama kamu,” ucapnya manja.


Zahra menggelengkan kepalanya, “aku sudah mandi, Kak. jangan manja deh, Rasya saja bisa mandi sendiri, masa Papanya harus di mandiin, kan malu,” ledeknya.


“Ya kan beda sayang, kalau aku kan juga butuh sesuatu untuk si jerry,” ucap Ardi sambil menggerakkan kedua alisnya naik turun.


Tanpa pikir panjang Ardi menarik tangan Zahra dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Suhu panas dalam tubuh Ardi kini menjalar ke tubuh Zahra. Gejolak di dalam tubuh mereka semakin menggebu dengan bertambahnya hasrat di dalam diri mereka.


Sejak penyatuan cinta mereka di hotel waktu itu, entah sudah berapa puluh kali mereka selalu melakukan pergulatan panas itu. Ardi maupun Zahra berharap mereka akan segera mendapatkan hasil dari penyatuan cinta mereka.


Pintu kamar mandi mulai terbuka, Zahra keluar dari dalam kamar mandi dengan muka yang cemberut, sedangkan Ardi keluar dengan wajah yang berbinar, dia merasa sangat puas, apalagi pergulatan itu terjadi tidak hanya satu kali.


“Sayang, kenapa kamu masih cemberut seperti itu, bukankah tadi kamu juga menikmatinya?”


Ardi memeluk istrinya dari belakang dan mencium pundak istrinya yang tak tertutup oleh apapun. Harum vanila yang tercium dari tubuh Zahra membuat Ardi merasa nyaman. Tubuh wanita itu bagaikan candu sekaligus obat untuk menghilangkan stres dalam pikirannya.


Zahra membuka pintu lemari pakaian untuk mengambil pakaiannya dan juga suaminya, “kakak jahat sama aku, katanya hanya sekali setelah itu udah, lah ini...tiga kali. Capek, Kak, aku,” keluhnya.


“Aku ingin kamu segera hamil dan memberi adik untuk Rasya, bukankah kita harus terus berusaha, kalau perlu setelah makan malam kita lanjut lagi,” goda Ardi sambil menggerakkan kedua alisnya naik turun.


“Kak!” pekik Zahra sambil mendengus kesal.


“Kakak yakin ingin memasak? Kalau kakak capek, aku bisa menghangatkan makanan yang tadi Mama bikin.”


Ardi menggelengkan kepalanya, “aku akan masakin buat kamu. Kamu duduk saja yang manis, tunggu masakannya matang,” ucapnya.


Zahra menganggukkan kepalanya, dia lalu menarik salah satu kursi meja makan lalu dia duduki. Dia melihat suaminya yang tengah memakai apron bermotif bunga-bunga, sungguh menggemaskan, pikirnya.


Zahra memang pernah sekali merasakan makanan buatan Ardi, dia juga tidak memungkiri jika suaminya itu memang jago memasak, bahkan masakannya masih kalah dengan masakan suaminya.


“Aku nggak menyangka kalau kakak ini ternyata pandai memasak,” puji Zahra sambil menopangkan dagunya dengan tangan kanannya yang dia tempelkan ke meja.


“Aku dulu saat hidup bersama dengan Monic, aku terbiasa apa-apa sendiri, jadi sekarang aku jago dalam urusan memasak.” Ardi sudah hampir menyelesaikan masakannya.


Zahra memilih untuk diam jika hal yang dia bicarakan mulai menyangkut kehidupan suaminya bersama dengan mantan istrinya.


Ardi mematikan kompor, dia lalu mengambil dua piring untuk meletakkan nasi goreng spesial buatannya.


“Bau nya harum, rasanya sangat enak ini, aku sudah nggak sabar ingin mencicipinya,” ucap Zahra sambil menelan ludah.


“Sekarang kamu bisa langsung memakannya.” Ardi meletakkan sepiring nasi goreng spesial di depan Zahra.


Zahra mulai menyendok satu sendok nasi goreng lalu dia masukkan kedalam mulutnya. Wanita itu mengunyah makanan di dalam mulutnya dengan perlahan, dia ingin menikmati cita rasa dalam nasi goreng itu. Dengan perlahan Zahra mulai menelannya, “ini nasi goreng terenak yang pernah aku makan,” ucapnya sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


Ardi tersenyum, “makasih sayang, aku senang kamu menyukai masakan aku,” ucapnya lalu mulai menikmati nasi goreng buatannya.


“Kalau kakak selalu manjain aku kayak gini, lama kelamaan aku jadi malas masak. Karena masakan kakak bahkan lebih enak dari masakan aku.” Zahra kembali memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


“Aku nggak keberatan untuk selalu masakin buat kamu, karena aku memang ingin memanjakan istri aku ini,” goda Ardi sambil mencolek hidung Zahra.


Setelah selesai makan mereka kembali ke dalam kamar. Mereka naik ke atas ranjang dan bersandar pada sandaran ranjang. Zahra menopangkan kepalanya ke bahu suaminya.


“Kak, tadi Rasya bertanya sama aku. Apa aku akan berubah sikap kepadanya setelah kita memiliki anak.”


Ardi mengernyitkan dahinya, “kenapa Rasya bertanya seperti itu? Apa Monic sengaja ingin meracuni pikiran Rasya lagi?” tanyanya.


“Aku tau apa yang sedang di rasakan Rasya saat ini. Dia baru saja merasakan kasih sayang seorang ibu, mungkin dia tidak ingin kasih sayang itu di bagi untuk orang lain.”


Ardi menggenggam tangan Zahra lalu mengecupnya, “lalu apa jawaban kamu?” tanyanya.


“Itu nggak akan terjadi, Kak. Meskipun aku mempunyai anak sendiri dari kakak, kasih sayang aku untuk Rasya tidak akan pernah berubah. Aku akan membagi rata kasih sayang dan perhatian aku.” Zahra mengubah posisinya menjadi menghadap suaminya, “tapi, Kak. sepertinya Rasya belum siap untuk memiliki adik, lalu apa yang harus kita lakukan?” tanyanya kemudian.


“Sayang, kamu tenang saja, aku akan memberi Rasya pengertian sedikit demi sedikit. Aku nggak ingin menunda apapun, apalagi umur aku yang tak lagi muda.”


“Tapi, Kak. Aku takut Rasya akan membenciku nantinya, apalagi saat dia tau kasih sayang Papanya juga mulai terbagi nantinya,” ucap Zahra cemas.


Ardi memeluk Zahra dengan sangat erat, “lambat laun Rasya pasti mengerti, jadi kamu nggak usah secemas itu, lagian kita juga harus ekstra berusaha agar segera ada janin dalam perut kamu ini,” ucapnya sambil mengusap lembut perut Zahra.


Zahra membulatkan kedua matanya dengan sempurna saat tangan yang semula mengusap perutnya kini mulai menjalar semakin naik hingga menyentuh area sensitifnya. Bibir tipis itu mulai mengeluarkan lenguhan demi lenguhan yang membuat Ardi semakin bersemangat.


Dan malam itu pergulatan panas itu kembali terulang, meskipun rasanya ingin menolak karena tubuhnya yang begitu kelelahan, tapi tubuh itu tidak sepikiran dengan pikirannya. Tubuh wanita itu membutuhkan lebih dari sentuhan-sentuhan hangat Ardi. Bagi Zahra, pergulatan itu sudah menjadi rutinitasnya sepanjang malam, dan tak ada kata bosan untuk pergulatan panjang dan panas itu.


~oOo~