
Zahra membuka kedua matanya secara perlahan, dia menatap wajah polos yang kini masih terlelap dalam tidurnya sambil memeluknya. Dengan perlahan Zahra mengerakkan jemari tangannya untuk mengusap lembut pipi suaminya itu.
Ardi yang merasakan kelembutan di pipinya pun membuka kedua matanya, “selamat pagi sayang,” ucapnya sambil mengusap kedua matanya yang masih sangat mengantuk.
Semalaman Ardi sama sekali tidak bisa tidur, dia terus menatap wajah Zahra yang terlihat begitu cantik saat tengah tertidur lelap. Semua ini masih seperti mimpi bagi pria itu, dia masih tidak percaya jika wanita yang sangat dia cintai kini sudah sah menjadi istrinya.
“Maaf, aku sudah membangunkan kakak.”
Ardi tersenyum lalu mengecup kening istrinya, “untuk apa meminta maaf, bukannya ini juga sudah waktunya bangun.” Pria itu lalu bangun dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang, “bagaimana dengan perut kamu sayang? Apa masih sakit?” tanyanya.
Zahra menggelengkan kepalanya, “sudah nggak sakit lagi,” ucapnya lalu mengubah posisinya menjadi duduk.
“Hari ini kamu mau kemana? Mumpung kita masih cuti, aku akan mengantar kamu kemanapun kamu mau.”
“Aku nggak ingin kemana-mana, aku ingin di rumah saja. Aku ingin lebih mengenal keluarga kakak,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.
Ardi mengernyitkan dahinya, “kamu yakin sayang?” tanyanya memastikan. Zahra pun mengangguk pasti. “baiklah, terserah kamu saja. Kalau aku sih yang penting bisa selalu bersama dengan kamu,” imbuhnya sambil menggenggam tangan istrinya lalu mengecupnya.
Zahra lalu beranjak dari ranjang untuk melakukan rutinitas paginya, sedangkan Ardi melanjutkan tidurnya karena dia masih sangat mengantuk. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Zahra keluar dari kamarnya, dia berniat untuk membantu mama mertuanya untuk menyiapkan sarapan pagi.
Zahra terkejut saat melihat Kay sudah berada di sana yang sedang membantu mama mertuanya untuk menyiapkan sarapan pagi. Ardi pernah bilang kepada Zahra jika mamanya terbiasa menyiapkan makanan untuk keluarganya, sedangkan asisten rumah tangganya hanya bertugas untuk membersihkan rumah dan yang lainya kecuali memasak.
“Pagi Ma, Kak Kay,” sapa Zahra sambil berjalan menuju dapur.
“Pagi sayang, kamu sudah bangun,” sapa Lina balik.
“Pagi juga,” sahut Kay.
“Em...apa yang bisa Zahra bantu Ma?” tanya Zahra sambil berjalan mendekati mama mertuanya.
“Apa kamu tau apa makanan kesukaan Ardi?” tanya Lina.
Zahra menggelengkan kepalanya.
“Masa kamu nggak tau makanan kesukaan suami kamu. Kak Ardi itu paling suka sup buntut, setiap mama memasak sop buntut, Kak Ardi pasti akan makan dengan sangat lahab,” ucap Kay sambil menyiapkan bumbu untuk membuat suap buntut.
Lina mengusap lengan Zahra, “nggak apa-apa sayang, Mama dulu juga nggak tau apa makanan kesukaan suami Mama,” ucapnya dengan tersenyum.
Zahra hanya menepiskan senyuman, tapi dia tidak suka dengan cara Kay berbicara padanya. Apa Kak Kay membenciku ya, kenapa dia berbicara seperti sama aku? pikirnya.
“Sayang, kamu cuci saja sayuran ini,” pinta Lina sambil memberikan wadah yang sudah berisi sayuran yang sudah di potong-potong.
Zahra mengambil wadah itu, “baik, Ma,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya menuju wastafel lalu mencuci sayuran itu.
“Sayang, apa Rasya belum bangun, bukankah dia harus sekolah?” tanya Lina.
“Nanti biar Zahra bangunkan, Ma,” ucap Zahra.
“Biar Kay saja Ma yang membangunkan Rasya, Zahra kan sedang mencuci sayuran,” ucap Kay.
“Baiklah,” ucap Lina.
Kay lalu melangkahkan kakinya meninggalkan dapur. Zahra semakin mendengus kesal, apa maksudnya coba, apa dia tidak suka kalau aku dekat dengan Rasya?
Zahra akhirnya membantu mama mertuanya untuk membuat sarapan pagi, setelah satu jam berkutat di dapur, akhirnya makanan sudah siap di atas meja.
“Sayang, sekarang kamu bangunkan suami kamu untuk sarapan,” pinta Lina.
“Baik, Ma.” Zahra pun melangkahkan kakinya meninggalkan dapur. Dia lalu berjalan menaiki tangga, saat dia tangga dia berpapasan dengan Rasya yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya, “pagi sayang,” sapanya.
Zahra tampak kecewa karena Rasya belum memanggilnya mama, tapi dia tidak akan menyerah untuk bisa mendekati anak itu, “Rasya mau sarapan?” tanyanya. Rasya menganggukkan kepalanya, “tunggu tante di meja makan ya sayang, nanti tante akan menyiapkan sarapan kamu. Sekarang tante akan membangunkan Papa kamu dulu,” ucapnya.
“Baik, tante,” ucap Rasya lalu berjalan menuruni tangga.
Zahra membuka pintu kamarnya, dia melihat suaminya masih terlelap dalam tidurnya. Wanita itu lalu melangkahkan kakinya menuju ranjang, “Kak Ardi bangun, ini sudah siang Kak,” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya itu.
Ardi membuka kedua matanya, “apa kamu sudah selesai mandi sayang?” tanyanya.
“Sudah dari tadi Kak, makanya kalau sudah bangun itu nggak usah tidur lagi.”
Zahra lalu menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya, “sekarang kakak mandi, yang lain sudah menunggu kakak di meja makan,” ucapnya sambil melipat selimut yang dia pegang.
Ardi beranjak turun dari ranjang, dia lalu memeluk istrinya dari belakang, “mau menemani aku mandi nggak?” godanya sambil menopangkan dagunya ke bahu istrinya.
“Kakak nggak usah bercanda deh, sudah sana cepat mandi,” perintah Zahra.
Ardi mengerucutkan bibirnya, dengan malas dia berjalan menuju kamar mandi. Zahra berjalan menuju lemari pakaian untuk menyiapkan pakaian yang akan dipakai suaminya dan meletakkannya di atas ranjang.
Ardi yang sudah selesai mandi keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Zahra menelan ludah saat melihat suaminya bertelanjang dada. Meskipun semalam dia sudah melihat pemandangan seperti itu, tapi entah mengapa dia masih terlihat begitu malu. Zahra mengalihkan tatapannya dari suaminya, dia tidak ingin melihat dada bidang suaminya yang terlihat begitu menggoda.
Ardi tahu jika istrinya itu masih malu-malu saat melihat dirinya bertelanjang dada, dia pun segera memakai pakaian yang istrinya siapkan. Setelah selesai berpakaian, dia berjalan mendekati istrinya dan menautkan jemarinya ke jemari tangan istrinya, “aku sudah sangat lapar, ayo kita sarapan,” ajaknya.
Zahra menganggukkan kepalanya, mereka lalu keluar dari kamar. Mereka melangkahkan kakinya menuju dapur, semua anggota keluarga sudah berada di ruang makan.
Zahra melihat Rasya sudah memulai sarapannya, “sayang, kok kamu sudah makan, bukannya tadi katanya mau menunggu tante untuk menyiapkan sarapan untuk kamu?” tanyanya.
“Maaf tante, tapi tadi Bunda sudah menyiapkan sarapan untuk Rasya,” ucap Rasya.
Ardi menggenggam tangan Zahra dan menggelengkan kepalanya. Zahra pun mengangguk kan kepalanya, dia lalu mengambil kan makanan untuk suaminya dan meletakkannya di depannya.
“Makasih sayang,” ucap Ardi dengan senyuman di wajahnya.
Zahra lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan memulai makannya. Zahra ingin membuktikan apa yang tadi Kay katakan padanya, jika Ardi begitu menyukai sup buntut. Zahra begitu terkejut saat melihat suaminya makan dengan lahapnya.
“Jadi benar dengan apa yang Kak Kay katakan, Kak Ardi memang begitu menyukai sup buntut. Aku memang nggak tau apa tentang Kak Ardi,” gumam Zahra dalam hati.
“Sayang, tolong ambilkan aku nasi lagi,” pinta Ardi.
Zahra mengangguk kan kepalanya, dia lalu mengambil satu centong nasi lalu dia letak kan di piring suaminya, “apa rasanya begitu enak hingga kakak makan sebanyak itu?” tanyanya.
Ardi menganggukkan kepalanya, “ini adalah makanan kesukaan aku, setiap Mama memasak sop buntut, aku pasti tambah nasi lagi, rasanya sangat enak,” ucapnya.
Lina yang mendengar pujian dari anaknya pun merasa begitu senang, apalagi melihat kedua anaknya makan dengan sangat lahapnya.
“Sup buntut buatan Kay juga nggak kalah enak, ya kan sayang,” ucap Arka sambil menatap Kay. Kay hanya tersenyum.
“Aku tau, Kay memang pandai memasak sop,” ucap Ardi. Ardi tidak menyadari dengan apa yang baru saja dia katakan, dia lalu menatap Zahra yang nampak menundukkan wajahnya. Ardi merutuki apa yang baru saja dia katakan, bodoh! Bodoh! Bodoh! Umpatnya dalam hati.
“Kalian bisa saja, lebih enak sup buntut buatan Mama kok,” ucap Kay merendah.
“Nggak kok sayang, sup buatan kamu sama dengan sup buntut buatan Mama, makanya aku sangat suka dengan sup buntut buatan kamu saat pertama kali kamu memasak itu buat aku,” goda Arka sambil menggerakkan kedua alisnya naik turun.
“Makasih,” ucap Kay dengan senyuman di wajahnya.
~oOo~