
Hari ini Ardi dan keluarganya bersiap-siap untuk berangkat menuju Pekanbaru.
"Sayang, apa kamu sudah siap?" Tanya Lina.
"Sudah, Ma." Ardi lalu menuruni tangga.
"Di mana adik kamu?" Tanya Jonny.
"Dia tadi sudah pergi, Pa. Katanya mau ke rumah temannya," ucap Ardi.
"Ya sudah ayo kita berangkat," ucap Jonny.
Mereka keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Jonny melajukan menuju bandara. Sesampainya di bandara, Jonny memarkirkan mobilnya diparkiran bandara.
Hari ini Ardi terlihat sangat tampan dengan menggenakan jas putih yang membuatnya semakin menawan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam mereka sampai di Pekanbaru. Mereka naik taksi untuk menuju rumah Kay. Sesampainya di rumah Kay, Jonny mengetuk pintu rumah David.
Tokk..tokk..tokk..
Kay yang sedang melihat acara TV mendengar sura pintu di ketuk, Kaya berjalan menuju pintu utam.
"Sebentar," ucap Kay lalu membuka pintu.
"Maaf, cari siapa ya?" Tanya Kay saat melihat Jonny, Lina dan Ardi berdiri di depan pintu rumahnya.
"Ini Nikayla kan?" Tanya Jonny.
"Iya Om, saya Kay. Maaf ini dengan siapa ya?" Tanya Kay sambil menatap kedua orang tua Ardi.
"Saya teman ayah kamu, apa ayah kamu ada di rumah?" Tanya Jonny.
"Ada Om, mari silahkan masuk," ucap Kay sambil mempersilahkan mereka masuk.
"Makasih ya sayang," ucap Lina sambil menyentuh pipi Kay.
Ardi menatap Kay sampai tak berkedip, dia kagum melihat kecantikan Kay.
"Silahkan duduk Om..Tante, saya akan panggilkan Ayah dulu," ucap Kay.
Kay melangkah pergi dan menghampiri ayahnya di dalam kamar. Kay membuka pintu kamar kedua orang tuanya.
"Ayah, diluar ada yang mencari Ayah, katanya teman Ayah," ucap Kay.
"Siapa ya, Yah?" ucap Merisa penasaran.
"Nggak tau, Bun. Lebih baik kita lihat saja," ucap David.
Merisa mendorong kursi roda suaminya menuju ruang tamu dan diikuti oleh Kay.
"Oh..kalian rupanya, kenapa tidak mengabari dulu kalau mau kemari," ucap David.
"Maaf, setelah mendengar kabar gembira dari kamu aku sudah nggak sabar ingin cepat-cepat kemari," ucap Jonny.
"Kay, kasih salam buat Om dan Tante," titah David.
"Halo, Tante..Om," sapa Kay sambil mencium tangan kedua orang tua Ardi.
"Aku nggak menyangka anak kamu sudah sebesar ini, cantik lagi," puji Jonny.
"Namanya juga anak gadis, jadi cepat pertumbuhannya," ucap David.
Kay begitu penasaran, siapa sebenarnya mereka ini. Kay menatap pria yang sedari tadi menatapnya.
"Siapa sih dia? menatapku dari tadi, nggak sopan banget," gerutu Kay.
Merisa menyenggol tangan Kay, dia bisa mendengar ucapan Kay, karena Kay duduk tepat di sebelah bundanya.
"Ada apa sih, Bun?" Tanya Kay pelan.
"Oya Kay, kamu belum kenalkan mereka ini siapa?" Tanya David.
"Iya, Yah."
"Mereka ini adalah calon mertua kamu, dan pria yang duduk didepan kamu itu adalah Ardi, calon suami kamu," ucap David.
Kay sangat terkejut mendengar ucapan ayahnya, dia tidak menyangka mereka akan datang secepat ini.
"Baru juga kemarin diberi jawaban, sekarang sudah muncul didepan aku," gumam Kay dalam hati.
"Kay, coba kamu ajak Ardi untuk berkeliling rumah, ada yang mau Ayah dan Bunda bicarakan sama Om dan Tante," pinta David.
"Baik, Yah," ucap Kay tanpa bisa menolak.
Walau Kay enggan melakukannya, tapi Kay tidak bisa menolak permintaan ayahnya.
"Mari silahkan ikut saya," ucap Kay lalu berdiri dan melangkah pergi.
Ardi mengikuti Kay dari belakang, mereka berhenti di taman yang letaknya di samping rumah Kay. Kay duduk di kursi taman.
"Maaf kita belum kenalan," ucap Ardi.
"Nggak perlu kenalan, aku sudah tau nama kamu dan kamu juga sudah tau nama aku," ucap Kay ketus.
"Aku nggak menyangka ini cewek galak juga ya, tapi aku harus bersikap biasa saja," gumam Ardi dalam hati.
"Kalau gitu boleh aku duduk di sini?" Tanya Ardi.
"Kalau mau duduk ya duduk saja," ucap Kay sambil memainkan ponselnya.
"Kalau boleh tau, kenapa kamu mau menerima perjodohan ini?" Tanya Ardi sambil duduk di depan Kay.
"Kamu ini jadi cewek galak banget ya, apa kamu juga se galak ini kalau bersama orang lain?" Tanya Ardi penasaran.
"Nggak, aku cuma melakukan ini sama kamu, kenapa? kamu nggak terima, kalau kamu nggak suka ya tinggal batalin saja perjodohan ini," ucap Kay sambil menatap Ardi.
Ardi mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya, dia berusaha bersabar untuk menghadapi Kay.
"Aku nggak akan membatalkan perjodohan ini hanya gara-gara ini, karena aku tau kamu melakukan ini dengan sengaja agar aku terpancing emosi terus membatalkan perjodohan ini," ucap Ardi dengan nada santai.
"Gila ini cowok, kenapa dia bisa tau rencana aku! apa dia bisa mendengar kata hati aku?" Gumam Kay dalam hati.
"Kenapa diam saja?" Tanya Ardi penasaran.
"Nggak apa-apa," ucap Kay lalu mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Asal kamu tau, aku menerima perjodohan ini juga penuh pertimbangan bukan asal mau saja," ucap Ardi.
"Kita nggak saling kenal, gimana kita bisa menikah?" Kay menatap Ardi.
"Kita bisa saling mengenal setelah menikah."
"Apa nggak ada gadis lain yang mau kamu nikahi?" Tanya Kay memberanikan diri.
"Nggak, karena orang tua aku menginginkanmu."
Kay tidak tau harus berbuat apa lagi agar Ardi mau membatalkan perjodohan ini.
"Apa kamu suka sama aku?" Tanya Kay spontan.
Ardi menatap tajam kearah Kay, Ardi tidak mengira Kay akan menanyakan itu diawal pertemuan mereka.
"Kenapa kamu menanyakan itu?" Tanya Ardi balik.
"Karena jika kamu siap menikah denganku berarti kamu mencintai aku."
"Sekarang aku balik bertanya sama kamu, apa kamu juga mencintaiku? bukankah kamu juga sudah siap untuk menikah denganku?" Tanya Ardi dengan senyuman di wajahnya.
"Nggak! aku nggak mencintaimu!"
"Kalau kamu tidak mencintaiku kenapa kamu mau menikah denganku?" Tanya Ardi lagi.
"Ya...karena ada alasannya," ucap Kay gugup.
Merisa keluar dan memanggil Kay dan Ardi.
"Sayang, ayo masuk, ada yang mau Ayah bicarakan sama kamu!" Teriak Merisa.
"Iya, Bun!" Teriak Kay lalu berdiri dan meninggalkan Ardi.
"Gadis yang unik, aku akan mendapatkan mu," ucap Ardi pelan. Ardi berdiri dan melangkah mengikuti Kay.
"Ada apa, Yah?" Tanya Kay sambil duduk di samping ayahnya.
"Kalian sudah saling mengenalkan, sekarang Ayah mau memberitahu kalian kalau pernikahan kalian akan diadakan satu minggu lagi," ucap David.
"Apa! secepat itu, Yah! tapi Kay belum siap," ucap Kay terkejut.
"Sayang, pernikahan ini diadakan lebih cepat lebih baik, waktu seminggu itu sudah cukup untuk kamu mempersiapkan diri," ucap Merisa.
Kay tidak mungkin bisa menolak rencana pernikahan ini, karena sekarang di sana ada keluarga Ardi.
"Baik, Bun," ucap Kay pelan.
"Gimana Ardi, kamu setuju?" Tanya Jonny.
"Terserah Papa saja."
"Baiklah, kita sudah sepakat, pernikahan akan diadakan satu minggu lagi," ucap Jonny.
"Maaf Om..Tante..Ayah..Bunda, Kay mau ke kamar dulu," ucap Kay lalu berdiri dan melangkah meninggalkan ruang tamu.
Kay berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar. Gadis itu duduk sambil menekuk kedua kakinya, dia menangis didalam kamar.
"Sayang, maafin aku, aku nggak bisa menepati janji aku, maafin aku sayang," ucap Kay disela tangisannya.
Tiba-tiba ponsel Kay berbunyi. Kay berdiri dan mengambil ponsel dari atas meja, dia melihat siapa yang menelfon.
"Arka!" Kay bingung harus berbuat apa.
"Gimana ini, aku angkat nggak ya, kalau aku angkat nanti aku harus bicara apa, aku nggak tega memberitahu ini sama Arka. Aku nggak mau menyakitinya," ucap Kay sambil mondar-mandir.
Akhirnya Kay menjawab telfon dari Arka.
"Halo, sayang," sahut Kay.
"Halo, sayang. Kamu lagi ngapain, aku kangen sama kamu, kapan kamu pulang?" Tanya Arka.
"Besok, besok aku sudah pulang, aku juga kangen sama kamu," ucap Kay gugup.
Arka merasa ada yang aneh dengan suara Kay.
"Ada apa sayang? apa ada masalah?" Tanya Arka cemas.
"E--nggak kok sayang, nggak ada masalah a--pa-apa," ucap Kay gugup.
"Beneran, kamu nggak bohong kan?" Tanya Arka curiga.
"Beneran sayang, buat apa juga aku bohong sama kamu," ucap Kay sambil menahan sakit di hatinya.
~oOo~