
“Kak, aku sebenarnya ingin ikut, tapi...apa yang harus aku katakan sama Mama dan Papa? Mereka pasti nggak akan mengijinkan aku pergi sama kakak.” Ardi dan Zahra kini sedang berada di kantin rumah sakit. Ardi sengaja mendatangi Zahra untuk mengajaknya ke Pekanbaru, tapi Ardi lupa jika dirinya juga harus meminta izin kepada kedua orang tua Zahra.
“Aku akan meminta izin sama kedua orang tua kamu. Aku sudah terlanjur membeli tiga tiket.” Ardi menggenggam tangan Zahra, “bagaimana kalau aku melamar kamu sekalian?” tanyanya.
Zahra menggelengkan kepalanya, “jangan, Kak. ini bukan waktu yang tepat, selain itu aku belum siap,” tolaknya.
“Kenapa? Apa kamu masih ragu, atau kamu ingin berubah pikiran setelah mengetahui semuanya tentang aku?”
“Bukan begitu, Kak. aku nggak akan pernah merubah keputusan aku, aku juga nggak terlalu memperdulikan tentang masa lalu kakak. Aku hanya ingin dekat dulu sama Rasya, aku ingin mengambil hatinya agar dia mau menerima aku sepenuhnya. Aku nggak mau kakak di benci oleh Rasya karena pernikahan kita. Beri aku waktu sedikit lagi,” pinta Zahra sambil menepiskan senyumannya.
“Baiklah.” Ardi membenarkan semua yang dikatakan Zahra. Rasya memang belum bisa menerima Zahra sebagai pengganti mama nya, tapi Ardi juga tidak akan menyerah untuk membuat mereka dekat, “tapi kamu harus tetap ikut sama aku, aku akan bicara dengan kedua orang tua kamu, selain itu sejak aku melamar kamu waktu itu, aku belum bertemu dengan kedua orang tua kamu. Aku ingin menghilangkan kesalahpahaman mereka,” imbuhnya.
“Pukul berapa pesawatnya akan berangkat?”
“Kita akan berangkat besok, kita berangkat pukul 09.00 pagi. Hari ini aku ingin kamu mengajukan cuti, karena kita akan menginap di sana selama tiga hari.” Ardi sengaja mengundur keberangkatannya, karena dia juga harus meminta izin kepada kedua orang tua Zahra jika dirinya ingin mengajak Zahra ikut serta ke Pekanbaru.
Zahra membulatkan kedua matanya, “apa! Menginap?” tanyanya terkejut.
Ardi menganggukkan kepalanya, “iya kita akan menginap di sana,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Zahra menggelengkan kepalanya, “nggak! Bagaimana aku bisa menginap di sana, apa yang akan mereka pikirkan nanti tentang aku. Kita kan belum resmi menikah, selain itu Mama dan Papa aku nggak akan mengizinkan aku,” tolaknya.
Ardi beranjak dari duduknya, “kamu tenang saja, kamu tunggu saja kabar dari aku. Kalau begitu aku pergi dulu, jangan lupa ambil cuti tiga hari mulai besok,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya menjauh.
“Apa yang akan dia lakukan? Apa dia benar-benar akan bicara dengan kedua orang tua aku, apa dia sudah gila?” Zahra menghela nafas panjang, dia tidak mau ambil pusing, “terserahlah, dari pada pusing, mendingan aku lanjutin pekerjaan aku,” ucapnya lalu beranjak dari duduknya.
Zahra melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya, dia terkejut saat melihat Samuel sudah berada di ruangannya, “apa yang kakak lakukan di sini?” gadis itu berjalan mendekat, dia lalu mendudukkan tubuhnya di samping Samuel.
“Aku ingin mengajakmu makan siang.”
“Maaf, aku baru saja selesai makan siang dengan Kak Ardi.”
“Untuk apa dia datang ke sini? Apa dia nggak kerja?”
Zahra ingin meminta pendapat Samuel tentang ajakan Ardi, “kak, aku mau meminta pendapat kakak,” ucapnya.
“Pendapat. Soal apa?”
“Tadi Kak Ardi datang ke sini itu ingin mengajak aku pergi ke Pekanbaru untuk menemui keluarga adiknya.” Zahra sengaja berbohong, karena dia tidak ingin Samuel tau jika yang dia datangi sebenarnya adalah rumah mantan istri Ardi, “tapi dia mengajak aku untuk menginap di sana, apa yang harus aku lakukan? Selain itu Mama dan Papa nggak bakalan mengizinkan aku untuk menginap,” imbuhnya.
Samuel kini mengubah posisinya menjadi duduk bersila menghadap Zahra, “apa Ardi sudah melamar kamu secara resmi kepada om dan tante?” tanyanya.
Zahra menggelengkan kepalanya, “bukannya Kak Ardi nggak mau, tapi aku yang belum siap,” ucapnya.
“Kenapa? Bukannya ini yang kamu tunggu-tunggu selama ini?”
“Memangnya anaknya belum bisa menerima kamu?” Zahra menganggukkan kepalanya, “lalu apa yang akan kamu lakukan jika anak itu tetap tidak mau menerima kamu sebagai ibu sambungnya, apa kamu akan menyerah?” tanyanya.
Zahra menundukkan wajahnya, “aku nggak tau,” ucapnya dengan nada lirih.
***
Saat ini Ardi berada di rumah Zahra, dia sengaja menemui kedua orang tua Zahra tanpa didampingi oleh gadis itu.
“Untuk apa kamu datang ke sini?” tanya Papa Zahra sambil melipat kedua lengannya di dada. Sampai sekarang dia masih sangat kecewa dengan Ardi karena telah mempermainkan perasaan putri satu-satunya.
“Saya datang ke sini ingin meminta maaf sama om dan tante atas sikap saya selama ini, selain itu saya juga ingin menyelesaikan kesalahpahaman empat tahun yang lalu.”
Papa Zahra mengernyitkan dahinya, “maksudnya kesalahpahaman apa?” tanyanya penasaran.
Ardi kini mulai menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Tentang dirinya yang sama sekali tidak bermaksud untuk mempermainkan Zahra dan juga mengingkari janji yang pernah dia ucapkan di depan kedua orang tua Zahra.
Papa Zahra terlihat sangat terkejut mendengar semua penjelasan Ardi, bagaimana bisa putrinya melakukan semua itu hanya untuk menghindar dari seseorang yang menaruh hati padanya. Mama Zahra terlihat biasa-biasa saja, karena sebenarnya dia sudah tahu, tapi dia belum memberitahu kebenaran itu kepada suaminya.
“Om, Tante. Jangan salahkan Zahra dalam hal ini, karena sebenarnya saya juga salah. Semua itu adalah ide saya dan Kenzo, waktu itu saya hanya ingin membantu Zahra. Tapi walaupun hubungan kami saat itu hanyalah sandiwara, tapi saya benar-benar sangat mencintai Zahra. perasaan yang saya rasakan untuk Zahra itu nyata dan bukan sandiwara. Janji yang saya ucapkan dia depan tante dan om waktu itu juga tulus dari lubuk hati saya. Saya ingin menjaga dan membahagiakan Zahra.” Ada perasaan lega di hati Ardi setelah mengatakan semua kebenarannya. Kini dia tinggal menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh kedua orang tua Zahra.
“Kalau kamu memang mencintai dan serius dengan Zahra, lalu kenapa selama empat tahun ini kamu tidak datang ke sini untuk mengatakan hal yang sebenarnya?” tanya Papa Zahra. meskipun dia sudah tau kebenarannya, tapi dia masih merasa kecewa dengan keputusan Ardi untuk tidak menemui putrinya dan membuatnya sedih.
“Saya sebenarnya terus datang ke rumah ini, tapi saya hanya melihat Zahra dari jauh. Karena saya kira Zahra sudah memiliki orang lain yang akan membuatnya bahagia. Tapi ternyata selama ini saya salah paham, karena pria yang saya lihat waktu itu ternyata kakak sepupunya yaitu Samuel,” jelas Ardi.
“Samuel dan Zahra memang dekat, berkat Samuel lah Zahra bisa menjadi dokter sekarang,” ucap Mama Zahra.
Ardi mengambil nafas secara perlahan dan membuangnya secara perlahan pula, “om, tante. Kedatangan saya ke sini sebenarnya saya ingin meminta restu om dan tante. Saya sangat mencintai Zahra, saya berjanji tidak akan menyakiti Zahra lagi. Saya benar-benar ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan Zahra, kalau om dan tante mengizinkan, saya ingin menjadikan Zahra sebagai istri saya, menjadi ibu dari anak-anak saya,” ucapnya.
Papa dan mama Zahra saling menatap. Mereka terlihat sangat terkejut dengan apa yang Ardi katakan, karena Zahra sama sekali tidak mengatakan jika Ardi akan datang untuk melamar.
“Sebenarnya Zahra juga tidak tau jika saya datang ke sini untuk melamarnya,” imbuhnya kemudian.
“Apa kamu sudah membicarakan ini dengan Zahra? apa dia menerima lamaran kamu?” tanya Papa Zahra.
Ardi menganggukkan kepalanya, “saya sudah melamar Zahra, dan dia mau menerima saya apa adanya,” ucapnya.
Ardi menatap kedua orang tua Zahra secara bergantian, “tapi sebelum om dan tante menjawab lamaran saya, ada sesuatu hal yang ingin saya beritahukan tentang saya,” ucapnya.
~oOo~