Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus chapter 43


Ardi dan Zahra sudah tidak lagi bertemu. Ardi sibuk dengan urusan pekerjaannya begitu pula dengan Zahra yang sudah di sibukkan dengan rutinitas kuliahnya. Gadis itu ingin menjadi seorang dokter.


Tidak terasa waktu sudah berlalu begitu lama, empat tahun sudah Zahra menempuh pendidikan kedokterannya. Setelah di nyatakan lulus dan mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran, Zahra melakukan koas nya di salah satu rumah sakit di Jogja.


Zahra harus menjalani masa koas nya selama dua tahun sebelum dirinya benar-benar mendapatkan gelar sebagai seorang dokter. Gadis itu melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, banyak para pasiennya yang sangat menyukainya. Selain wajahnya yang cantik, Zahra juga bersikap ramah dengan semua pasiennya.


Setelah selesai memeriksa pasiennya, Zahra berniat untuk makan siang. Dia melepas jas putih yang dia kenakan lalu dia letakkan di kursi kerjanya. Gadis itu keluar dari ruangannya.


“Zahra tunggu!” teriak salah satu dokter di rumah sakit itu.


“Kak Sam...”


Dokter Samuel, dia adalah dokter spesialis jantung di rumah sakit itu, “kamu mau makan siang?” tanyanya.


Zahra menganggukkan kepalanya, “apa kakak juga mau makan siang? Gimana kalau sekalian aja,” tawarnya.


“Baiklah, tapi kita mau makan di mana?”


“Di restoran dekat  sini aja, katanya ada menu baru di restoran itu dan aku ingin mencobanya.”


Samuel mengangguk tanda setuju. Mereka lalu berjalan keluar dari rumah sakit. Mereka pergi ke restoran dengan menggunakan mobil Samuel.


“Bagaimana mas koas mu, apa menyenangkan?” Samuel masih fokus menatap ke depan.


“Menyenangkan kok, Kak. Karena ini adalah impian aku,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.


Samuel mengusap puncak kepala Zahra dan seketika membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya, “aku bukan anak kecil lagi ya, kak. Sekarang aku sudah 25 tahun,” ucapnya kesal.


“Bagi aku kamu masih Zahra kecil,” ucap Samuel sambil menepiskan senyumannya.


“Kenapa sampai sekarang kakak belum menikah? Umur kakak kan sudah 30 tahun?” tanya Zahra penasaran.


“Karena aku nungguin kamu, apa kamu mau menikah dengan ku?” tanyanya dengan senyuman di wajahnya.


“Kak!” pekik Zahra yang mulai kesal, karena sejak tadi pria di sampingnya selalu menanggapi pertanyaannya dengan nada bercanda.


Samuel kembali mengacak-acak rambut Zahra sambil terus tertawa, “nggak lucu tau!” seru Zahra kesal.


Mereka kini memasuki restoran. Kedua mata Zahra membulat seketika saat melihat orang yang sangat dia kenal, Kak Ardi dan Kak Micel! Ngapain mereka di sini?


Samuel mengernyitkan dahinya saat Zahra menghentikan langkahnya, “kok berhenti, ada apa?” tanyanya.


Samuel mengikuti ke mana ekor mata Zahra menatap, “kamu kenal sama mereka?” tanyanya saat melihat dua orang itu juga menatap ke arahnya.


“Kak, kita cari tempat lain aja ya, makanan di sini nggak enak!” Zahra bahkan tidak mengalihkan tatapannya pada Ardi dan Micel.


Bukan hanya Zahra, Ardi dan Micel juga sama terkejutnya karena mereka akan bertemu lagi dengan Zahra setelah sekian tahun. Tatapan mata Ardi masih tetap sama untuk gadis itu.


Zahra teringat akan kata-kata Kenzo satu tahun yang lalu. Kakak sepupunya itu mengatakan jika Micel akan segera menikah, tapi gadis itu tidak mau mendengar dengan siapa Micel akan menikah. Jadi mereka akhirnya menikah, lalu apa yang aku harapkan selama ini.


“Tapi kita sudah sampai di sini, memangnya ada apa sih? Bukannya kamu ingin makan di tempat ini?” tanya Samuel penasaran.


Ardi terus menatap ke arah Zahra dan Samuel, “bukankah itu laki-laki yang waktu itu aku lihat di rumah Zahra, apa mereka benar-benar menjalin hubungan?” gumamnya dalam hati.


“Ardi, boleh aku memanggil Zahra ke sini? Bukankah kalian sudah lama tidak bertemu?” tanya Micel sambil menyentuh lengan Ardi, dan menyadarkan pria itu dari lamunannya.


“Terserah kamu saja.” Ardi lalu menyibukkan dirinya dengan ponselnya.


Micel melambaikan tangannya ke arah Zahra dan Samuel.


“Ra, kayak nya wanita itu mengenal kamu, buktinya dia melambaikan tangannya ke arah kita,” ucap Samuel yang sejak tadi memperhatikan Ardi dan Micel.


“Kak, aku boleh minta tolong nggak?” Zahra menggenggam tangan Samuel.


“Nanti apa pun yang aku katakan, kakak cukup bilang iya dan jangan banyak bertanya.”


“Apa kamu benar-benar mengenal mereka?” tanya Samuel penasaran.


Zahra menganggukkan kepalanya, “nanti aku akan menceritakan semuanya kepada kakak,” ucapnya.


“Ok...kalau gitu ayo kita gabung sama teman-teman kamu.” Zahra dan Samuel berjalan menuju meja Ardi dan Micel.


Micel beranjak dari duduknya, “hai Zahra, sudah lama kita tidak bertemu, kamu apa kabar?” sapa Micel sambil mengulurkan tangannya.


Zahra menjabat tangan Micel, “baik,” ucapnya.


 Micel mempersilahkan Zahra dan Samuel duduk. Ardi tidak henti-hentinya menatap Samuel hingga membuat Samuel merasa penasaran apa maksud dari tatapan mata itu.


“Ardi, apa kamu nggak ingin menyapa Zahra dan mengucapkan selamat sama dia? Aku dengar dari Kenzo katanya sekarang kamu sudah menjadi dokter?” tanya Micel.


“Aku belum sepenuhnya mendapat gelar dokter, karena aku harus menyelesaikan masa koas ku.” Zahra menatap Ardi sekilas, lalu mengalihkan pandangannya, “aku juga mendengar dari Kak Kenzo, katanya Kak Micel sudah


menikah. Selamat ya Kak, akhirnya kakak mendapatkan apa yang kakak inginkan,” ucapnya sambil menepiskan senyuman.


Ardi menatap Zahra dengan kedua mata sendunya, dia benar-benar sangat merindukkan gadis yang kini duduk di depannya itu, “selamat ya atas kelulusan kamu,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


Zahra tersenyum tipis, “terima kasih,” ucapnya sambil menjabat tangan Ardi, dan langsung melepaskannya.


Zahra tau sejak tadi Ardi menatap ke arah Samuel, “oya, kenalin ini Dokter Samuel, dia dokter spesialis jantung di rumah sakit tempat aku bekerja,” ucapnya memperkenalkan Samuel.


“Sepertinya aku pernah melihat dia beberapa tahun yang lalu,” ucap Ardi dengan sorot mata yang tajam.


“Di mana?” tanya Zahra terkejut.


“Di rumah kamu,” ucap Ardi dingin.


Zahra mengernyitkan dahinya, apa selama ini Kak Ardi masih datang ke rumah aku? Pikirnya.


“Aku memang sering datang ke rumah Zahra, karena aku...”


“Karena Dokter Samuel ini adalah tunangan aku,” ucap Zahra memotong ucapan Samuel hingga membuat pria itu mengeryitkan dahinya. Bukan hanya Samuel, Ardi dan Micel pun ikut membulatkan kedua matanya tidak percaya.


“Apa! Kamu sudah bertunangan?” tanya Micel terkejut.


“Iya.” Zahra menatap Samuel dengan senyuman di wajahnya, “iya


kan, Kak?” tanyanya. Samuel yang masih membulatkan kedua matanya hanya sanggup menganggukkan kepalanya.


“Aku dan Kak Samuel akan segera menyusul kalian,” ucap Zahra sambil menepiskan senyuman.


Micel mengernyitkan dahinya, “maksudnya?” tanyanya bingung.


“Aku dan Kak Samuel akan segera menikah. Seperti Kak Micel dan Kak Ardi yang sudah menikah, maaf aku nggak bisa datang di pernikahan kalian,” ucap Zahra sambil terus mempertahankan senyumannya.


“Kamu sa...”


Ardi menyentuh tangan Micel yang berada di atas meja, “kami akan menunggu undangan pernikahan kalian,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


“Ardi...”


Ardi tersenyum sambil mengerjabkan kedua matanya sekali, dia lalu beranjak dari duduknya, “kalau begitu kami duluan,” ucapnya lalu menarik tangan Micel. Mereka melangkahkan kakinya menjauh.


“Zahra, sebenarnya ada apa? Siapa pria itu?” tanya Samuel penasaran.


~oOo~