Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 27


“Aku ada urusan dengan cowok itu.”


“Apa aku boleh tau apa itu? Siapa tau aku juga bisa membantu kamu.” Ardi lalu memanggil pelayan, “kamu mau pesan apa? Biar aku yang traktir?” tanyanya.


Zahra menggelengkan kepalanya, “nggak usah terima kasih atas tawarannya, tapi aku harus pergi. Kayaknya teman Kak Kenzo nggak jadi datang,” tolaknya.


“Kenapa kamu begitu terburu-buru? Apa kamu nggak ingin menemani aku makan siang?” tanya Ardi, pria itu lalu memesan dua porsi nasi goreng spesial dan juga jus jeruk. Gadis itu pun akhirnya menganggukkan kepalanya.


Mereka sejenak terdiam, tidak ada percakapan di antara mereka. Zahra tengah sibuk mengetik pesan kepada sepupunya itu.


Kakak pasti sedang membohongi ku kan, mana teman kakak itu, sampai sekarang belum datang juga.


Zahra mengirim pesan itu kepada Kenzo, tak berselang lama dia pun mendapat balasan dari pesannya itu.


Tapi katanya tadi dia sudah berangkat ke restoran itu, masa dia belum sampai?


Jemari Zahra kembali mengetikkan balasan untuk Kenzo.


Untuk apa aku bohong, sudah setengah jam lebih aku menunggu di sini, tapi teman kakak itu nggak datang sampai sekarang.


Balasan kembali di terima.


Sekarang kamu di mana?


Zahra kembali membalas pesan itu.


Aku masih di restoran, aku sedang bersama dengan Kak Ardi.


 


 


Zahra mengernyitkan dahinya saat mendapat balasan dari sepupunya, yaitu gambar emoticon tertawa. Gadis itu lalu menghubungi kakak sepupunya itu, dan panggilan itu pun sudah tersambung.


“Kenapa kakak malah ketawa, memangnya ada yang lucu?” tanya Zahra kesal.


“Apa yang di katakan Ardi sama kamu?”


“Nggak ada, dia hanya tanya sedang apa aku di sini, ya aku jawab saja aku sedang menunggu teman kakak.” Zahra menatap Ardi yang kini tengah tersenyum sambil menatapnya.


“Lalu apa lagi.”


“Itu nggak penting, sekarang kakak harus menghubungi teman kakak, apa dia benar-benar serius mau bantuin aku, kalau nggak ya nggak apa-apa, aku bisa cari orang lain yang mau membantu aku,” ucap Zahra lalu mengakhiri panggilan.


“Ada apa?” tanya Ardi masih terus berpura-pura.


Zahra menggeleng, “nggak ada apa-apa,” ucapnya.


Ardi merasakan getaran di saku celananya, dia lalu mengambil ponselnya dan menjawab panggilan itu, “halo,” sahutnya.


“Apa kamu belum mengatakan pada Zahra kalau kamu bersedia membantunya?”


“Belum, aku ingin dia yang mengatakan langsung ke aku apa masalahnya,” ucap Ardi sambil menatap gadis yang duduk di depannya sambil mengernyitkan dahinya.


“Zahra nggak akan bilang sama kamu, dia aja nggak tau kalau kamu adalah cowok itu.”


“Aku tau.”


“Terus kenapa kamu masih tetap diam dan tidak memberi tahu Zahra.”


“Aku akan mem...” Ardi belum sempat menyelesaikan ucapannya tiba-tiba gadis didepannya mengambil ponselnya.


“Kak, jangan bilang cowok yang kakak maksud itu Kak Ardi,” ucap Zahra sambil terus menatap Ardi.


“Orang itu memang Ardi.”


“Tapi kenapa?” tanya Zahra penasaran.


“Karena hanya dia lelaki yang bisa aku percayai untuk menjaga kamu.”


“Tapi Kak Ardi sudah punya istri, Kak. Nanti kalau istrinya marah bagaimana, aku nggak mau di anggap sebagai pelakor!” serunya.


Ardi mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Zahra, “aku nggak punya istri, jadi nggak akan yang mengatai kamu pelakor,” ucapnya lalu kembali mengambil ponselnya dari tangan gadis itu. Ardi mengakhiri panggilan


dari Kenzo.


“Tapi waktu itu kakak bilang kakak sudah mempunyai anak,” ucap Zahra bingung.


Ardi menghela nafas panjang, pria itu ingin mengatakan semuanya kepada gadis itu, tentang semua hal yang menyangkut dirinya dan juga statusnya, “aku memang sudah menikah, aku juga sudah mempunyai anak, tapi aku


Zahra membulatkan kedua matanya mendengar penjelasan Ardi, dia pun menggeleng tidak percaya, “aku nggak percaya kalau Kak Ardi duda,” ucapnya.


“Kenapa kamu tidak percaya?”


“Karena Kak Ardi masih kelihatan muda, jadi aku nggak percaya kalau Kak Ardi itu duda.”


"Jadi menurut kamu aku masih tampan nie," goda Ardi sambil bergaya sok cool.


 


 


"Beneran Kak Ardi itu duda?" tanya Zahra masih tidak percaya.


 


 


“Buat apa aku bohong, aku memang duda, kamu bahkan pernah bertemu dengan mantan istri aku,” ucap Ardi sambil menepiskan senyumannya.


“Kapan? Di mana?” tanya Zahra sambil mengernyitkan dahinya.


“Waktu kamu mengembalikan KTP aku, di rumah aku.”


“Aku nggak bertemu dengan siapapun kecuali mamanya Kak Ardi dan istrinya Kak Arka,” ucap Zahra masih terlihat bingung.


“Ya itu mantan istri aku.”


“Maksud kakak, Kak Kay?” tanya Zahra dengan kedua mata membulat sempurna, Ardi menganggukkan kepalanya.


“Hah...” mulut Zahra seketika menganga saking terkejutnya.


“Aku tau kamu sangat terkejut, tapi aku nggak bisa cerita meskipun kamu sangat penasaran,” ucap Ardi sambil menepiskan senyumannya.


Zahra menutup mulutnya kembali, sebenarnya ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tapi gadis itu menggurungkan niatnya. Dirinya tidak ingin mencampuri urusan orang lain.


“Sekarang aku tanya sama kamu, kenapa kamu ingin mencari cowok yang bisa kamu jadikan kekasih bohongan kamu? Kenapa kamu nggak mencari pacar aja, pacar dalam arti yang sebenarnya.”


“Sebenarnya ide ini dari Kak Kenzo, dan menurut aku itu nggak ada salahnya juga di coba. Siapa tau itu bisa membuat Matteo melupakan perasaannya kepadaku dan mulai mencintai wanita lain.”


“Kalau aku sih mau aja membantu kamu, tapi apa kamu mau menjadikan aku kekasih bohongan kamu?” tanya Ardi sambil menatap kedua mata gadis itu.


Zahra nampak tengah berfikir, apa nggak ada cowok lain apa? Matteo kan tau siapa Kak Ardi, apa dia akan percaya? Pikirnya.


“Kalau kamu nggak mau juga nggak apa-apa,” ucap Ardi sambil menepiskan senyumannya.


Tak berselang lama pelayan datang sambil membawa nampan yang berisi pesanannya. Pelayan itu meletakkan makanan dan minuman di atas meja. Ardi pun mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu.


“Makan lah, mumpung masih hangat. Nanti kalau dingin rasanya jadi kurang nikmat,” ucap Ardi lalu mulai menyantap nasi goreng di depannya.


Zahra hanya diam sambil menatap Ardi yang tengah menikmati makanannya, “kenapa Kak Ardi mau membantuku?” tanyanya.


“Makan lah dulu, nanti baru kita bicarakan lagi, aku sangat lapar.”


“Kak..” panggil gadis itu.


“Hemm..” Ardi menghentikan menguyahnya, dia lalu menatap kedua mata gadis itu.


“Apa Kak Kenzo yang memaksa kakak untuk melakukan ini?”


Ardi menelan makannya, dia lalu menggelengkan kepalanya, “karena aku ingin membantumu, itu saja,” ucapnya dengan menepiskan senyumannya.


“Kenapa kakak ingin membantu ku, sedangkan kakak tidak begitu mengenalku?”


“Apa aku harus memberikan alasan jika aku ingin membantu seseorang?”


Zahra menggangguk pelan, “harus, karena aku bukan tipe orang yang suka menyusahkan orang yang tidak aku kenal,” ucapnya.


“Jadi aku bukan orang yang kamu kenal?” tanya Ardi sambil mengernyitkan dahinya.


“B—ukan itu maksud aku, aku cuma...”


Ardi menghela nafas panjang, “sekarang aku tanya sekali lagi sama kamu. Apa kamu mau aku membantumu atau tidak? Aku nggak akan memaksa kamu untuk menerima bantuan aku,” ucapnya.


~oOo~