Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Rasya ingin Papa bahagia


Ardi dan Zahra mengajak Rasya, Kevin dan Ansel ke sebuah gerai es cream ternama di kota itu. Awalnya Kay tidak mengizinkan anak-anaknya untuk pergi bersama dengan Zahra dan Ardi, tapi setelah dibujuk oleh Arka, akhirnya Kay mengizinkan mereka.


Dalam perjalanan Zahra melihat ketiga anak itu terlihat sangat senang, “Kak, tadi kenapa Kak Kay melarang Kevin dan Ansel untuk ikut bersama dengan kita?” tanyanya penasaran.


“Bukan apa-apa sayang, jadi kamu nggak usah memikirkan itu. Ini kan hari terakhir kita di sini, jadi aku ingin bersenang-senang dengan kamu dan anak-anak,” ucap Ardi sambil tersenyum. Zahra menganggukkan kepalanya.


Ardi menghentikan mobilnya di depan gerai es cream yang mereka tuju. Mereka lalu keluar dari mobil, dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam gerai es cream itu tersebut.


“Papa, Rasya mau es cream rasa strawberry dan coklat,” pinta Rasya heboh.


“Kevin dan Ansel juga rasa strawberry dan coklat,” ucap Kevin.


“Baiklah sayang.” Ardi lalu menatap Zahra yang hanya diam saja, “apa kamu nggak mau es cream?” tanyanya.


“Em...aku mau yang vanila sama blueberry,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.


“Ok, kalian tunggu ya, Papa akan memesan es creamnya.” Ardi lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mereka. Setelah memesan Ardi lalu kembali menghampiri Zahra dan anak-anaknya. Tak berselang lama pesanan mereka datang. Mereka lalu mulai menikmati es cream yang terhidang di meja.


“Es cream ini rasanya sangat enak,” ucap Ansel sambil terus memasukkan es cream ke dalam mulutnya.


Zahra mengambil tisu di dalam tasnya, dia lalu mengusap es cream yang belepotan di mulut Rasya, “apa rasanya enak sayang?” tanyanya kemudian.


Rasya hanya menganggukkan kepalanya. Kevin menatap ke arah Ardi dan juga Zahra, ‘apa Ayah akan benar-benar menikah dengan tante Zahra?’


“Tante, minta tisunya dong, mulut Ansel belepotan es cream,” pinta Ansel.


Zahra tersenyum, dia lalu kembali mengambil tisu dari dalam tasnya dan dia letakkan di atas meja, setelah itu dia berdiri dan berjalan mendekati Ansel, dia lalu berjongkok di depan Ansel, “sini biar tante yang bersihin sayang,” ucapnya lalu mulai membersihkan mulut Ansel yang belepotan es cream.


“Makasih ya tante,” ucap Ansel senang dengan perhatian Zahra.


Zahra menatap Kevin, “apa kamu juga mau tante usapin itu bekas es creamnya?” tawarnya.


Kevin menggelengkan kepalanya, dia lalu mengambil tisu dan mengusap mulutnya yang masih ada sedikit noda es cream.


“Anak Ayah kan sudah besar, dia sudah bisa mandiri,” ucap Ardi sambil tersenyum menatap Kevin.


Zahra berdiri dan kembali duduk di samping Ardi, “iya, Kak. Kevin kan sudah besar, dia juga pandai menjaga adik-adiknya,” pujinya.


“Ayah, apa Kevin boleh bertanya sesuatu?” tanya Kevin.


Ardi menganggukkan kepalanya, “kamu mau bertanya apa sayang?” tanyanya balik.


“Em...apa benar Ayah akan menikah dengan tante Zahra?” tanya Kevin.


Ardi dan Zahra saling menatap, mereka lalu menatap ke arah Rasya yang kini juga tengah menatapnya.


“Ayah memang akan menikah dengan tante Zahra, tapi Ayah belum tau kapan. Kenapa kamu menanyakan itu sayang, apa kamu nggak suka sama tante Zahra?” tanya Ardi.


Kevin menggelengkan kepalanya, “bukan begitu, Yah. Jika Ayah benar-benar akan menikah dengan tante Zahra, Kevin ikut bahagia. Apalagi tante Zahra sangat baik sama Kevin dan adik-adik Kevin,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Zahra terlihat sangat bahagia mendengar ucapan Kevin, ternyata Kevin mau menerimanya.


“Makasih sayang, tapi Ayah masih menunggu persetujuan dari adik kamu,” ucap Ardi sambil melirik ke arah Rasya.


“Apa Rasya nggak suka sama tante Zahra?” tanya Kevin terkejut.


Ardi merangkul pundak Rasya, “bukannya nggak suka, tapi Rasya masih butuh waktu untuk menerima Tante Zahra sebagai ibu sambungnya,” ucapnya.


“Kak, aku juga nggak ingin memaksa Rasya untuk menerima aku. Biarlah semua berjalan apa adanya,” ucap Zahra.


Rasya mendongakkan wajahnya menatap Zahra yang kini juga tengah menatapnya, “em...Rasya...” anak itu seakan ragu untuk mengucapkan kata-kata yang ingin dia ucapkan.


“Rasya sayang, tante akan tetap menunggu, jadi kamu nggak usah mencemaskan semua itu. Apapun jawaban Rasya nanti, tante akan menerimanya,” ucap Zahra.


“Rasya akan mengizinkan Papa untuk menikah sama tante Zahra, karena Rasya ingin Papa bahagia,” ucap Rasya pelan.


Ardi dan Zahra membulatkan kedua matanya saat mendengar apa yang Rasya katakan.


“Sayang, katakan sekali lagi, apa kamu benar-benar setuju Papa menikah dengan tante Zahra?” tanya Ardi memastikan.


Rasya mengangguk pelan, “Rasya ingin Papa bahagia,” ucapnya.


Ardi lalu memeluk Rasya dengan sangat erat, “terima kasih sayang, terima kasih karena kamu sudah mau menerima tante Zahra dan mengizinkan Papa untuk menikah dengannya,” ucapnya.


Zahra beranjak dari duduknya, dia lalu mendekati Rasya dan memeluknya, “terima kasih sayang karena sudah mau menerima tante, tante janji, tante akan mencurahkan semua kasih sayang tante sama Rasya,” ucapnya lalu melepaskan pelukannya. Rasya hanya menepiskan senyumannya dan menganggukkan kepalanya.


“Ayah, apa Kevin juga harus memanggil tante Zahra Mama?” tanya Kevin.


Ardi tersenyum, “Ayah nggak akan memaksa kamu untuk memanggil tante Zahra Mama, karena kamu berhak untuk mengambil keputusan itu. Selamanya Bunda Kay adalah Bunda kamu,” ucapnya.


“Benar kata Ayah kamu, jika kamu nggak bisa, kamu panggil tante saja, karena itu juga sudah cukup buat tante,” ucap Zahra lalu berdiri dan kembali duduk di samping Ardi. Kevin menganggukkan kepalanya.


“Apa Kak Rasya akan mempunyai Mama baru, Om?” tanya Ansel.


Ardi menatap Rasya yang masih menundukkan wajahnya, “iya sayang, Kak Rasya akan mempunyai Mama baru, tapi jika Kak Rasya belum bisa memanggil tante Zahra dengan panggilan Mama juga nggak apa-apa, pelan-pelan saja,” ucapnya.


Setelah menghabiskan es cream mereka, mereka berjalan keluar dari gerai es cream itu. Ardi dan Zahra mengajak anak-anak itu untuk bersenang-senang, apalagi hari ini dia sangat bahagia saat Rasya akhirnya mau menerimanya dan mengizinkannya untuk menikah dengan ayahnya. Saat ini mereka sedang berada di area taman bermain. Ardi dan Zahra melihat Kevin, Rasya dan juga Ansel tengah bermain dengan sangat riang gembira.


Ardi merangkul pundak Zahra, dia lalu mengecup puncak kepala wanita itu, “aku sangat bahagia, akhirnya Rasya mau menerima kamu sebagai ibu sambungnya,” ucapnya.


“Aku juga nggak menyangka Rasya bisa merubah keputusannya secepat ini.”


“Itu semua juga karena kegigihan kamu sayang, kamu nggak pantang menyerah untuk mendapatkan hati Rasya.”


Zahra menatap kedua manik mata Ardi, “lalu kapan kakak akan datang ke rumah aku untuk menentukan tanggal pernikahan kita?” tanyanya dengan senyuman di wajahnya.


Ardi menangkup kedua pipi Zahra dengan kedua tangannya, dia lalu mencium kilas bibir Zahra. Entah mengapa bibir tipis wanita itu semakin membuatnya candu, “apa kamu sudah nggak sabar ingin menikah denganku?” godanya.


Zahra menurunkan kedua tangan Ardi dari pipinya, “bukannya nggak sabar, tapi kan aku juga butuh kepastian, Kak. Selain itu aku juga takut kalau nanti Rasya tiba-tiba berubah pikiran,” ucapnya.


“Kamu tenang saja, Rasya nggak akan berubah pikiran, karena aku lihat Rasya sudah nyaman saat bersama dengan kamu.”


“Semoga saja,” ucap Zahra sambil menatap Rasya yang tengah bermain bom bom car.


Ardi lalu menggenggam tangan Zahra, “kalau kita sudah menikah, kamu ingin berbulan madu dimana?” tanyanya.


Zahra menggelengkan kepalanya, “aku nggak ingin kemana-mana, Kak. Aku nggak ingin memisahkan Rasya dari Papa nya walaupun hanya sebentar, jika kita pergi berbulan madu, nanti Rasya pasti akan merasa kesepian,” ucapnya.


“Kamu yakin?” tanya Ardi memastikan. Dia tidak menyangka Zahra akan mempunyai pemikiran seperti itu, tapi dia juga merasa senang karena Zahra ternyata sangat memperdulikan anaknya.


Zahra menganggukkan kepalanya, “kita habiskan waktu kita untuk mengajak Rasya jalan-jalan saja, Kak, dengan begitu Rasya akan merasa senang karena bisa menghabiskan waktu bersama dengan papanya, karena aku tau kakak nggak punya waktu untuk bersama dengan Rasya,” ucapnya.


Ardi tersenyum, dia lalu mengecup puncak kepala Zahra, “terima kasih sayang, terima kasih. Kamu lebih mementingkan kebahagian Rasya ketimbang kebahagiaan kamu sendiri,” ucapnya.


“Karena Rasya sangat berharga untuk kakak, jadi dia juga sangat berharga untuk aku,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.


~oOo~