Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Malah enak-enakan


Papa Zahra mengangguk pelan, “Papa yakin sayang. Waktu itu saat tiba-tiba ada seseorang yang berlari tepat di depan mobil Papa, Papa berusaha menghindari orang itu dan akhirnya mobil Papa menabrak pohon, setelah itu Papa tidak ingat apa-apa lagi. Papa terbangun sudah ada di rumah sakit,” ucapnya.


“Kak, kalau begitu ada kemungkinan orang itu masih selamat, mungkin Papa hanya menyerepetnya saja.” Zahra berharap apa yang dia yakini benar. Papa nya sama sekali tidak menabrak orang itu, dan itu juga murni kecelakaan.


“Om, lebih baik sekarang Om istirahat saja, biar Samuel yang mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dengan orang itu,” ucap Samuel.


Setelah Papa Zahra kembali memejamkan kedua matanya, Zahra dan Samuel keluar dari ruangan itu. Zahra meminta mamanya untuk menemani papanya. Wanita itu juga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada suaminya. Ardi yang mendengar cerita istrinya benar-benar terkejut.


“Sayang, kamu tenang saja, biar aku dan Kenzo yang mengurus semuanya. Biarkan Samuel tetap di sini untuk merawat Papa,” ucap Ardi sambil memeluk istrinya.


“Terima kasih ya, Kak,” ucap Zahra sambil menepiskan senyumannya.


Kedua orangtua Ardi dan Rasya pamit undur diri, sedangkan Ardi ingin segera menemui Kenzo untuk menyelesaikan masalah Papa mertuanya. Sesampainya di rumah Kenzo, Ardi menekan tombol di samping di pintu itu.


Tak berselang lama pintu itu terbuka, ternyata yang membukakan pintu adalah Sahwa, istrinya Kenzo, “Kak Ardi, ada apa kakak kesini?” tanyanya terkejut.


“Apa suami kamu ada?” Sahwa mengangguk kan kepalanya, dia lalu menyuruh Ardi masuk dan duduk, sedangkan dirinya masuk ke dalam untuk memanggil suaminya.


Sahwa mencoba membangunkan suaminya yang belum lama tertidur itu, “Kak, bangun.” Wanita itu menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.


Kenzo terlihat begitu malas untuk membuka kedua matanya, “sayang, ada apa sih, aku masih mengantuk ini,” ucapnya sambil menguap.


“Ada Kak Ardi di luar, sepertinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan. Mungkin ini ada hubungannya dengan Papanya Zahra.”


Kenzo sontak langsung bergegas turun dari ranjang dan menghampiri Ardi di ruang tamu, “apa terjadi sesuatu dengan Om Satya?” tanyanya panik.


Ardi meminta Kenzo untuk duduk, saking terkejutnya Kenzo bahkan belum mencuci mukanya, “apa kamu baru bangun tidur? Muka kamu kucel begitu,” ledeknya.


“Ar, aku lagi serius ini, bisa-bisanya kamu bercanda di situasi seperti ini!” Kenzo mendengus kesal.


“Maaf, Papa baik-baik saja, dia juga tidak amnesia.” Kenzo menghela nafas lega, “tapi ada satu hal yang harus kita selidiki,” imbuhnya.


Kenzo mengernyitkan dahinya, “selidiki soal apa? kecelakaan itu?” tanyanya.


Ardi menganggukkan kepalanya, “sepertinya itu bukan kecelakaan tunggal,” ucapnya.


Kenzo menyandarkan tubuhnya ke sofa, dia lalu meminta istrinya untuk membuatkan minuman untuk Ardi.


“Kenapa kamu terlihat begitu santai, aku ke sini bukan untuk minta minum, aku ingin mengajak kamu untuk ke tempat kejadian, dan mencari tau apa yang terjadi sebenarnya.”


“Sebenarnya saat aku pulang tadi, aku bertemu dengan polisi di lobby rumah sakit. Mereka mencari informasi tentang korban kecelakaan yang mempunyai mobil dengan plat nomor yang sama persis dengan milik Om Satya. Jadi aku bertanya kepada polisi itu apa yang sebenarnya terjadi.”


Sahwa datang sambil membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi dan meletakkannya di atas meja, “silahkan diminum,” ucapnya sambil duduk di samping Kenzo.


Ardi menganggukkan kepalanya, “lalu apa yang di katakan polisi itu?” tanyanya penasaran.


“Kecelakaan itu memang bukan kecelakaan tunggal, Om Satya memang menabrak seseorang, tapi itu bukan kesalahan Om Satya,” ucap Kenzo.


Ardi merasa lega, dia akhirnya bisa memberikan kabar gembira untuk istrinya, “lalu itu kesalahan siapa?” tanyanya.


“Lalu nasib maling itu bagaimana?” tanya Ardi yang masih sangat penasaran.


“Dia sudah dibawa ke kantor polisi. Dia hanya terserempet mobil Om Satya, jadi lukanya tidak terlalu parah. Mungkin besok polisi akan kembali ke rumah sakit untuk meminta keterangan dari Om Satya.” Kenzo kembali menyeruput kopi itu sebelum meletakkannya kembali ke atas meja.


“Kenapa kamu nggak memberi tahu aku atau Samuel tentang semua ini? Apa kamu nggak tau betapa cemasnya Zahra saat ini! Dia takut Papanya akan disalahkan dalam kecelakaan itu, dan kemungkinan besar akan masuk ke dalam penjara,” omel Ardi.


Kenzo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil menyengir kuda, “maaf, aku lupa, tapi aku awalnya ingin memberitahu kalian semua, tapi karena badan aku capek dan mengantuk, akhirnya aku pulang dulu ke rumah, dan memberitahu kalian besok. Tapi kamu malah datang ke sini,” jelasnya.


“Dasar! Orang lagi pada panik, kamu malah enak-enakan tidur!” omel Ardi sebelum menikmati secangkir kopi di tangannya.


“Bagimana keadaan Om Satya?” tanya Sahwa.


“Papa sudah sadar, dia juga baik-baik saja, tinggal menunggu pemulihan saja,” sahut Ardi lalu meletakkan kembali secangkir kopi itu ke atas meja.


Ardi lalu beranjak berdiri, “kalau begitu aku akan kembali ke rumah sakit, saat ini Zahra pasti sangat mencemaskan Papanya,” pamitnya.


Kenzo menganggukkan kepalanya, “nanti aku sama istriku akan menyusul,” ucapnya dan mendapatkan anggukkan kepala dari Ardi.


***


 


Sesampainya di rumah sakit, Ardi langsung menyampaikan kabar gembira itu. Samuel, Zahra, dan kedua orangtua Zahra akhirnya bisa bernafas lega. Ardi senang melihat istrinya bisa kembali tersenyum.


“Makasih ya, Kak. kalau nggak ada kakak mungkin aku nggak akan sanggup melewati semua ini.”


Ardi menggenggam tangan istrinya lalu mengecupnya, “aku akan selalu ada buat kamu sayang, sekarang kamu nggak usah perlu khawatir lagi, semua akan baik-baik saja,” ucapnya.


“Kak, Papa kan baik-baik saja, dia juga nggak amnesia, apa kita jadi tinggal di rumah aku untuk menemani Papa dan Mama?”


Ardi menangkup kedua pipi istrinya dengan kedua telapak tangannya lalu mencium kilas bibir tipis istrinya itu, “jika kamu ingin tinggal bersama dengan Mama dan Papa kamu, aku nggak keberatan, tapi hanya untuk sementara saja,” ucapnya.


Zahra menganggukkan kepalanya, “terima kasih ya, Kak,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Ardi dan Zahra kembali masuk ke dalam ruang inap papanya, mereka melihat mama Zahra sedang menyuapi suaminya.


“Sayang, Papa kamu ternyata manja juga ya, sama seperti kamu,” godanya sambil merangkul pundak istrinya.


“Ya kan Papa aku lagi sakit, Kak, ya wajar saja kalau Mama menyuapi Papa makan. Apa kakak nggak suka ya kalau aku bersikap manja sama kakak?” tanya Zahra sambil menatap kedua manik mata suaminya.


“Suka dong sayang, suka sekali malahan, itu pertanda kalau kamu butuh aku dan sayang sama aku.” Ardi memeluk tubuh istrinya, “kalau kamu sehari saja nggak bersikap manja, rasanya ada yang hilang,” akunya.


“Kakak bisa saja.” Wajah Zahra kini merah merona karena malu. Suaminya itu memang sangat jujur dengan apa yang ada di hatinya saat ini. Itu lah yang membuat Zahra semakin mencintai suaminya itu.


~oOo~