Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Flash back 2


Sudah 2 bulan Monic pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan. Monic senang, karena kehadiran Rasya membuat Ardi kembali memperdulikannya. Bahkan Ardi selalu pulang lebih awal hanya untuk melihat sang buah hati.


Ardi masuk ke dalam kamar dan melihat Monic tengah menyusui Rasya. Ardi meletakkan tas kerjanya di atas meja. Dia duduk di samping Monic sembari mengecup kening putranya. Terlihat senyuman merekah di wajah Ardi, karena anaknya terlihat sangat menggemaskan jika tengah tertidur sehabis menyusu. Ardi hendak mengendong Rasya tapi di larang oleh Monic.


"Mandilah dulu, kamu pasti capek," ujar Monic sembari meletakkan Rasya di atas box bayi yang letaknya tak jauh dari ranjangnya. Monic mendekati Ardi dan mencoba untuk melepaskan dasi yang Ardi pakai.


Ardi hanya diam saja saat Monic melepaskan dasi dari kerah kemejanya. Monic mendongakkan wajahnya menatap Ardi. Dia sangat merindukan saat-saat seperti ini. Ardi menghela nafas lelah dan sedikit mendorong tubuh Monic agar menjauh darinya. Dia merasa tidak nyaman dengan posisinya sekarang, karena Monic mulai mendekatkan wajahnya dan menatap lekat bibir Ardi.


"Maaf, aku sangat lelah dan ingin segera mandi." Ardi lalu bergegas menuju kamar mandi.


Monic tersenyum tipis sembari mengepalkan tangannya. Dia mencoba untuk tetap tenang, dia tidak ingin memancing keributan dengan Ardi.


Monic keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Dia ingin menyiapkan makan malam untuk Ardi. Kalau Ardi bekerja, Monic hanya bisa memesan makanan dari luar, karena dirinya sekarang sudah tak bisa leluasa seperti dulu lagi. Semenjak kehadiran Rasya Monic sudah tak sanggup untuk mengurus rumah. Dia pun memperkerjakan asisten rumah tangga tapi hanya sampai sore hari.


Setelah selesai menyiapkan makanan di atas meja, Monic memanggil Ardi untuk makan malam. Ardi keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan. Dia duduk di depan Monic. Monic mengambilkan makanan dan meletakkannya di depan Ardi.


Ardi mulai menyantap makanan itu, karena Ardi merasa sangat lapar. Semenjak ada Rasya, Ardi selalu makan malam di rumah. Biasanya dia selalu makan di luar bersama dengan rekan kerjanya. Monic menatap Ardi yang tengah makan dengan lahapnya.


"Kamu nggak makan?" Tanya Ardi lalu kembali memasukan satu suapan ke mulutnya. Monic menggelengkan kepalanya sembari tersenyum menatap Ardi.


"Kamu harus makan yang banyak biar Asi kamu melimpah dan Rasya juga nggak akan kekurangan Asi kamu," sambung Ardi lagi.


"Tadi aku sudah makan kok, nanti kalau aku lapar aku akan makan lagi," ucap Monic. Setelah selesai makan Ardi berjalan menuju ruang kerjanya.


Ardi memang banyak menghabiskan waktunya di ruang kerjanya setelah Rasya tidur, karena dia tidak ingin menghabiskan waktu di kamar bersama dengan Monic. Ardi terus berkutat dengan laptopnya di meja kerjanya. Dia selalu membawa pekerjaannya ke rumah hanya untuk melewati malamnya.


Waktu menunjukan pukul 23.00 WIB. Ardi menutup laptopnya dan keluar dari ruang kerjanya. Biasanya jam segini Monic sudah tidur, karena seharian kelelahan menjaga dan merawat Rasya. Ardi masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Monic sudah terlelap. Ardi berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Monic. Ardi menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya dan juga Monic.


Entah mengapa malam ini terasa begitu dingin. Ardi mencoba untuk memejamkan matanya. Dia tidur dengan membelakangi Monic. Monic sebenarnya belum tidur, dia hanya pura-pura tidur, karena Monic sangat merindukan Ardi.


Monic memberanikan diri untuk memeluk Ardi dari belakang, dia mencium punggung Ardi. Ardi yang saat itu belum tertidur sontak terkejut dengan perlakuan Monic terhadapnya. Meski Monic adalah istrinya, tapi Ardi sudah tak pernah menyentuh Monic lagi. Ardi membalikan tubuhnya menatap Monic.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Ardi sembari menyingkirkan tangan Monic dari tubuhnya.


"Aku merindukanmu, sudah lama aku tak menyentuhmu seperti ini. Izinkan aku untuk memelukmu lagi. Aku ingin merasakan hangatnya tubuhmu," ucap Monic dengan raut wajah memelas.


"Maaf Mon, aku nggak bisa," tolak Ardi lalu beranjak turun dari ranjang. Monic turun dari ranjang dan memeluk Ardi dari belakang.


"Maafin aku Mon, tapi aku nggak bisa," ucap Ardi pelan. Semenjak perceraiannya dengan Kay, Ardi sudah bertekad, dia tidak akan menyentuh Monic lagi. Karena dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi.


"Tapi kenapa? Aku ini istri kamu, aku menginginkan mu. Kalau bukan kamu yang memenuhi kebutuhan aku terus siapa? Aku mohon," pinta Monic. Ardi tetap bersikukuh tidak akan melakukannya.


Monic melepaskan pelukannya dan berjalan menuju pintu. Dia mengunci pintu kamarnya dan mengambil kunci itu lalu di masukan kedalam saku celananya. Monic tetap tak akan melepaskan Ardi malam ini. Dia sudah menahan diri selama berbulan-bulan. Entah mengapa malam ini hasratnya begitu memuncak hingga dia kehilangan akal sehatnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Teriak Ardi terkejut saat melihat Monic mulai melepas semua pakaiannya.


Monic sudah seperti wanita ****** yang haus akan belaian. Dia berjalan mendekati Ardi. Ardi mencoba untuk menahan dirinya. Dia juga laki-laki normal, ibarat kucing jika di sunguhi makanan lezat pasti akan tertarik.


Ardi menelan Saliva nya berkali-kali sembari menatap tubuh molek Monic. Monic terus berjalan mendekat, tapi Ardi terus melangkah mundur. Ingin sekali Ardi berteriak memarahi Monic, tapi dia urungkan, karena Ardi tidak ingin menganggu tidur Rasya.


Kini Ardi sudah terpojok, karena dirinya saat ini sudah berada di tepi ranjang. Monic mendorong tubuh Ardi hingga terjatuh di atas ranjang. Monic sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya.


Ardi yang mendapatkan sentuhan-sentuhan dari tangan Monic sudah tidak sanggup menahan benteng di dalam dirinya. Saat ini tubuhnya hampir telanjang bulat. Ardi terbayang akan Kay. Dia teringat akan tangisan kekecewaan Kay terhadap dirinya.


Ardi kini telah mendapatkan kesadarannya kembali. Dia mendorong tubuh Monic dan kembali mengenakan pakaiannya. Ardi mengambil kunci dari dalam celana Monic dan segera membuka pintu kamar. Ardi menoleh ke arah Monic sembari mengucapkan kata maaf. Dia keluar dari kamar Monic lalu menutup pintu kamar.


Monic menjatuhkan dirinya ke lantai. Dia menangis sekeras-kerasnya. Dia bahkan sudah membuang harga dirinya hanya untuk mendapatkan Ardi kembali, tapi semuanya sia-sia. Ardi tetap tak akan pernah mau menyentuhnya.


Ardi masuk ke kamar lain. Dia berjalan menuju kamar mandi dan menguyur tubuhnya dengan air dingin untuk menetralkan kembali hasrat dalam dirinya yang sempat memuncak atas perlakuan Monic. Setelah merasa lebih nyaman Ardi keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya kembali.


Ardi merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamarnya. Ardi mengepalkan kedua tangannya dan menghantamkannya ke kasur.


"Aku sudah nggak bisa lagi tidur sekamar dengan Monic, aku nggak mau hal seperti ini terjadi lagi. Maafin aku Kay, maafin aku. Aku sangat mencintaimu Kay, aku merindukanmu. Apa kamu juga merindukan aku? Apa sekarang kamu sudah bahagia bersama dengan Arka?" Tanpa sadar air mata mengalir dari ke dua mata Ardi. Dia benar-benar sangat merindukan Kay.


Sampai sekarang Ardi belum merelakan Arka menikahi Kay. Ardi belum tahu jika Arka dan Kay hanya berpura-pura menikah di depan Ardi hanya untuk membuat Ardi bisa melepaskan Kay.


~oOo~


Maaf jika aku lambat updatenya. Setelah melihat perkembangan novel aku yang ini rasanya menjadi tidak semangat untuk meneruskannya karena yang aku lihat like dan comentnya cuma dikit,bahkan nggak mencampai angka 100😔😔.


Gimana bisa aku update tiap hari kalau hasilnya sungguh tidak memuaskan.Apa karena cerita aku kurang menarik hingga tak ada yang mau like dan coment.Bahkan aku lihat Viewnya juga cuma dikit.


Rasanya begitu sangat melelahkan.Terasa sia-sia jika semua jerih payah aku.😔😔😢