
Zahra kini sedang duduk di teras belakang rumah bersama dengan suaminya. Ardi kini tengah memangku laptopnya, ada pekerjaan penting yang harus dia kerjakan. Meskipun saat ini dia sedang free, tapi Ardi tetap mengerjakan pekerjaannya di rumah, dan itu pun juga atas persetujuan Zahra.
Zahra mengambilkan satu potong kue lalu dia suapkan ke mulut suaminya, “apa begitu banyak ya file-file yang harus kakak cek?” tanyanya.
Ardi mengangguk, “aku minta maaf ya sayang, file-file ini harus aku kirim hari ini juga, maaf aku nggak bisa menemani kamu jalan-jalan,” ucapnya tanpa mengalihkan tatapannya pada layar laptop di depannya.
“Aku memang sedang nggak mood kemana-mana, mendingan di rumah sama kakak.” Zahra menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya, “Kak, kemarin Kak Kay mengajak aku bicara,” imbuhnya.
Ardi menghentikan aktivitasnya, dia lalu memiringkan wajahnya untuk menatap wajah istrinya yang kini sudah mengubah posisinya menjadi menghadapnya, “berbicara soal apa?” tanyanya penasaran.
“Soal yang aku katakan sama kakak waktu di tempat itu.”
“Soal Rasya atau soal kecurigaan kamu tentang perasaan Kay sama aku?”
Zahra mencium kilas bibir suaminya, itu sudah menjadi kebiasaan mereka saling mencium satu sama lain, tidak perduli dimanapun mereka berada, “soal Rasya, Kak. Masa Kak Kay membicarakan soal kakak, atau jangan-jangan kakak berharap kami membicarakan kakak?” tebaknya.
“Ya nggak gitu juga sayang, aku hanya nggak ingin ada kesalahpahaman lagi di antara kita.” Ardi lalu kembali fokus pada laptopnya, “lalu apa yang Kay bicarakan soal Rasya sama kamu?” tanyanya kemudian.
“Kemarin kan aku sedang duduk di sini sendirian, lalu...
Flash back
Zahra yang di tinggal Ardi untuk mengurus sesuatu bersama dengan adiknya, memutuskan untuk duduk di teras belakang sambil menikmati udara pagi yang sangat menyejukkan. Tapi wanita itu di kejutkan saat Kay tiba-tiba datang menghampirinya.
“Hai Zahra, aku buatkan jus jeruk buat kamu.” Kay menaruh segelas jus jeruk di atas meja, dia lalu mendudukkan tubuhnya di samping Zahra, “kamu nggak ingin pergi jalan-jalan?” tanyanya kemudian.
“Aku sedang malas kemana-mana, Kak.” Zahra lalu menyibukkan diri dengan ponsel di tangannya, entah apa yang sedang wanita itu lakukan dengan ponselnya itu.
“Ra, boleh aku bicara sesuatu sama kamu?” Zahra hanya menjawab dengan anggukkan.
“Aku tau kamu marah sama aku, atau benci sama aku, karena kesalahpahaman di antara kita.”
Zahra mengernyitkan dahinya, dia lalu mengalihkan pandangannya dari layar pipih itu ke arah wanita yang duduk di sampingnya, “salah paham kakak bilang?” tanyanya tidak percaya, mana bisa itu disebut salah paham.
“Saat kamu ingin membangunkan Rasya waktu itu, aku nggak bermaksud untuk melarang kamu. Aku melakukan itu ada alasannya.”
“Alasan! Mana ada alasan yang membuat kakak melarang aku untuk dekat dengan anak suami aku, Kak!”
“Ra, dengerin aku dulu, aku tau kamu kesal dengan sikap aku, tapi aku mohon, dengerin penjelasan aku dulu,” pinta Kay.
Zahra menghela nafas panjang, dia teringat akan kata-kata yang Ardi ucapkan padanya waktu itu, bicaralah baik-baik dengan Kay. Wanita itu pun akhirnya menganggukkan kepalanya, “sekarang apa yang ingin Kak Kay jelaskan?” tanyanya.
“Kamu kan baru menikah dengan Kak Ardi, dan kamu juga belum dekat dengan Mama. Aku sengaja melakukan itu agar kamu bisa dekat dengan Mama, dengan kamu membantu Mama memasak, maka kamu akan lebih dekat dengan Mama. Dan soal membangunkan Rasya, sebelum aku bangunkan dia sudah bangun. Rasya itu anak yang mandiri, jadi dia nggak perlu di bangunkan untuk berangkat sekolah. Aku sama sekali nggak bermaksud untuk menjauhkan Rasya dari kamu. Aku senang jika akhirnya ada seseorang yang bisa melimpahkan kasih sayangnya untuk Rasya, karena selama ini dia nggak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya,” jelas Kay.
“Lalu saat di meja makan waktu itu, apa maksud kakak?”
“Waktu itu Rasya memang bilang sama aku kalau dia sedang menunggu kamu untuk menyiapkan sarapan untuknya, tapi Rasya kan juga harus segera berangkat sekolah, sedangkan kamu sedang mengurus suami kamu, jadi aku menyiapkan sarapan untuk Rasya, karena aku takut dia kesiangan, dan apa yang aku takutkan terjadi kan, kalian pasti sampai di sekolah Rasya saat bel sudah berbunyi,” tebak Kay.
Zahra menepiskan senyumannya, “iya sih, terlambat sedikit saja, pintu gerbang sekolah sudah ditutup,” ucapnya.
“Ra, aku tau kamu sudah tau semua tentang masa lalu Kak Ardi, tentang hubungan aku dan Kak Ardi dulu. Aku lah yang salah sama Kak Ardi, karena aku nggak bisa jujur sama dia, dan di saat dia kembali bersama dengan istri keduanya, aku malah nggak terima. Aku sakit hati, bagaimana dia bisa menduakan aku seperti itu. Tapi setelah aku pikir-pikir, justru akulah yang pertama kali mengkhianati Kak Ardi dengan Arka. Arka memang cinta pertama aku, bahkan dulu kita mempunyai mimpi untuk membangun rumah tangga yang harmonis dan bahagia.” Kay menghela nafas panjang, “sampai akhirnya aku mengkhianatinya dengan menerima perjodohan aku dengan Kak Ardi. Mungkin ini adalah balasan yang harus aku terima karena perbuatan aku selama ini,” imbuhnya.
“Kak, aku minta maaf ya, aku sempat berpikiran buruk tentang kakak.”
Kay tersenyum, dia lalu menggenggam tangan Zahra, “kamu nggak salah, yang salah di sini aku, seharusnya aku nggak bersikap seperti itu sama kamu. Dan aku juga minta maaf, karena waktu aku itu aku bicara seperti itu sama kamu soal makanan kesukaan Kak Ardi. Aku nggak seharusnya bicara seperti itu, apalagi kamu kan baru menikah dengan Kak Ardi,” ucapnya.
“Tapi kata-kata kakak waktu itu ada benarnya kok, aku memang sama sekali nggak tau tentang apa saja yang disukai Kak Ardi. Mungkin aku yang kurang peka aja,” ucap Zahra sambil tersenyum.
Kay mengulurkan tangannya, “sekarang apa kamu mau berteman dengan mantan istri suami kamu ini,” godanya.
Zahra tertawa, dia lalu menjabat tangan Kay, “ini momen langka lo, Kak,” ucapnya.
“Kok bisa?”
“Sekarang mana ada istri yang mau berteman dengan mantan istri suaminya selain aku, aku bahkan menganggap Kak Kay sebagai kakak aku.”
Kay dan Zahra pun tertawa renyah, apa yang mereka lakukan memang diluar dugaan mereka. Istri baru yang menjadi saudara mantan istri suaminya, sungguh aneh, pikirnya.
Flash off
Ardi yang mendengarkan cerita Zahra hanya mampu menggelengkan kepalanya mendengar kekonyolan istrinya itu. Tapi dia juga bahagia, akhirnya kesalahpahaman antara Zahra dan Kay pun terselesaikan. Istrinya itu tidak akan merengek-rengek lagi padanya untuk meminta pindah rumah, padahal mereka baru 4 hari menikah, lalu apa yang akan kedua orangtua Ardi katakan nantinya. Mereka pasti akan mengira Zahra tidak betah tinggal bersama dengan mereka.
“Sekarang kamu nggak akan lagi merengek sama aku untuk pindah rumah kan sayang?” goda Ardi dengan senyuman di wajahnya.
Zahra tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, “setelah aku pikir-pikir, kalau kita pindah rumah, nanti kasihan Rasya kalau kita sudah mulai masuk kerja nanti. Dia pasti akan kesepian di rumah, tapi kalau kita tinggal di sini kan ada Mama dan papa yang akan menemaninya,” ucapnya.
Ardi menggenggam tangan istrinya lalu mengecupnya, “terima kasih ya sayang, makasih karena kamu masih sangat memperdulikan Rasya,” ucapnya.
“Rasya sudah aku anggap seperti anak aku sendiri, Kak. Jadi kakak nggak perlu berterima kasih sama aku, karena itu sudah menjadi kewajiban aku sebagai ibunya,” ucap Zahra sambil merangkul lengan Ardi dan menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya.
Ardi mengecup puncak kepala istrinya, “aku beruntung mempunyai istri sebaik kamu,” ucapnya.
“Justru aku yang beruntung mempunyai suami yang selalu menuruti apapun yang aku mau,” ucap Zahra sambil menggerakkan kedua alisnya naik turun.
“Dasar! Setelah empat hari tinggal sama kamu, aku baru tau kalau kamu itu ternyata manja ya,” goda Ardi sambil mencubit hidung mancung istrinya.
“Biarin, yang penting kan kakak cinta sama aku.”
Ardi lalu menangkup kedua pipi istrinya itu dengan kedua telapak tangannya, dia lalu membenamkan bibirnya di bibir tipis istrinya itu walaupun hanya sesaat, “sayang, apa datang bulan kamu masih lama? Aku sudah nggak bisa menahannya lagi,” rengeknya.
“Tunggu beberapa hari lagi. Kakak harus bersabar lebih lama lagi,” goda Zahra lalu beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Ardi yang saat ini tengah mengerucutkan bibirnya.
Ardi menghela nafas panjang, “bagaimana cara aku untuk menahannya jika setiap hari kita tidur saling berpelukkan seperti itu, setiap malam bahkan aku ingin sekali menerkammu,” gerutunya.
~oOo~