
Ardi dan Zahra berpamitan kepada Matteo, mereka lalu pergi dari ruangan itu.
Matteo menatap kepergian Ardi dan Zahra, “apa kamu bahagia dengan pernikahanmu, Ra?” ucapnya. Matteo lalu kembali ke ruang rawat inap mamanya.
“Sayang, kok kamu sendirian, dimana Zahra?”
Matteo duduk di kursi dekat ranjang mamanya, “Zahra meminta maaf sama Mama karena nggak bisa berpamitan sama Mama. Zahra harus pulang karena dia sedang tidak enak badan, Ma. Dia meminta Matteo untuk menjaga Mama,” ucapnya berbohong. Maafkan aku, Ma. Jika saatnya sudah tepat, aku akan memberitahu semuanya, pikirnya.
“Sayang, Zahra itu gadis yang sangat baik. Dia sekarang semakin terlihat cantik dan dewasa,” ucap wanita paruh baya itu dengan senyuman di wajahnya.
“Zahra memang gadis yang sangat baik, itu sebabnya Matteo suka sama dia, Ma.”
***
Ardi meminta izin kepada Samuel untuk membawanya pulang, dia tidak tega melihat istrinya yang harus tetap bekerja saat kondisi kesehatannya sedang buruk seperti itu.
“Aku juga sudah menyuruh Zahra untuk beristirahat, tapi dia memang keras kepala dan bersikukuh untuk terus memeriksa pasiennya,” ucap Samuel.
“Maka dari itu, aku ingin membawanya pulang. Aku akan merawatnya di rumah,” ucap Ardi.
“Kalian ini kenapa sih, aku kan sudah bilang, aku baik-baik saja,” ucap Zahra sambil mengerucutkan bibirnya.
Tanpa aba-aba Ardi langsung mencium bibir tipis Zahra yang mengerucut itu. Samuel membulatkan kedua matanya melihat adegan seperti itu di depan matanya.
“Apa kalian tidak bisa melakukan itu di tempat lain?” ucap Samuel kesal.
Zahra lalu mendorong tubuh suaminya, “Kak Ardi apa-apaan sih, main cium-cium saja,” ucapnya kesal.
“Tapi kamu kan juga menikmatinya sayang,” goda Ardi.
“Sekarang kalian keluar dari ruangan aku, mata aku lama kelamaan bisa sakit melihat apa yang kalian lakukan,” usir Samuel.
Zahra dan Ardi tertawa, hingga membuat dahi Samuel mengernyit, “apa kalian sekarang sedang meledekku?” tanyanya kesal.
“Mau sampai kapan kakak akan terus menjomblo? Kak Kenzo aja sebentar lagi akan mempunyai anak,” ledek Zahra.
“Mungkin kakak sepupu kamu ini benar-benar ingin menjadi perjaka tua,” ledek Ardi kemudian.
“Kalian bisa keluar dari ruangan aku nggak!” seru Samuel.
Ardi dan Zahra lalu beranjak dari duduknya, “sepertinya Samuel benar-benar marah sayang, lebih baik kita pergi dari sini. Kamu juga harus beristirahat,” ajak Ardi.
“Jangan marah dong, Kak. kakak kalau marah nanti tambah jelek lo,” ledek Zahra lagi.
“Ra, kalau kamu nggak keluar dari ruangan aku ini, aku nggak akan mengizinkan kamu pulang,” ancam Samuel.
Ardi sontak langsung menarik tangan Zahra keluar dari ruangan Samuel. Ardi dan zahra lalu tertawa saat mereka sudah berada di luar ruangan itu.
“Kak Samuel kalau sedang marah, menyeramkan juga ya.”
Ardi menggenggam tangan Zahra, “sekarang aku akan mengantar kamu untuk periksa ke dokter kandungan, siapa tau kamu hamil sayang,” tebaknya.
Zahra menggelengkan kepalanya, “aku nggak hamil, Kak,” ucapnya.
“Apa kamu sudah memeriksakannya?”
“Belum, tapi aku tadi pagi sudah mengetesnya pakai tespek, dan hasilnya negatif,” ucap Zahra dengan wajah kecewa.
Ardi menarik tubuh zahra lalu memeluknya dengan sangat erat, “jangan bersedih sayang, kita akan terus berusaha,” ucapnya mencoba menenangkan istrinya.
“Sayang, kamu mau makan apa, nanti aku akan membelikannya. Hari ini aku akan memanjakan kamu.” Ardi masih terus fokus kedepan.
Zahra menggelengkan kepalanya, “aku sedang nggak berselera makan, Kak. lebih baik kita langsung pulang ke rumah saja, aku ingin segera beristirahat,” ucapnya.
Ardi menambah sedikit kecepatannya agar mereka bisa secepatnya sampai di rumah. Sesampainya di rumah Ardi membantu Zahra untuk keluar dari mobil, dia juga membantu istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah.
Sudah satu minggu ini Ardi mempekerjakan dua asisten rumah tangga akan membantu Zahra untuk mengurus rumah dan memasak. Ardi juga memperkerjakan supir pribadi untuk mengantar jemput Rasya ke sekolah.
Ardi merebahkan tubuh istrinya ke atas ranjang, dia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya, “sekarang beristirahatlah, aku akan membuatkan bubur untuk kamu,” ucapnya.
Zahra yang sudah memejamkan kedua matanya hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya. Ardi pun melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Pria itu mulai menyibukkan diri di dapur.
“Tuan, biar bibik saja yang memasak,” tawar wanita paruh baya itu.
“Tidak usah, Bik. Saya bisa sendiri kok, lebih baik mengerjakan pekerjaan yang lain,” tolak Ardi.
Wanita paruh baya itu hanya menganggukkan kepalanya dan pergi dari dapur.
Rasya melihat papanya sedang sibuk di dapur. Anak kecil itu pun melangkahkan kakinya menghampiri Papanya, “Papa sedang membuat apa?” tanyanya penasaran.
“Papa sedang membuatkan bubur untuk Mama sayang, saat ini Mama sedang tidak enak badan.” Ardi lalu mematikan kompor, dia lalu mengambil mangkuk yang akan digunakan untuk menaruh bubur buatannya.
“Sayang, apa kamu ingin melihat Mama kamu? Mama kamu pasti senang saat melihat kamu ada disana,” ajak Ardi.
Rasya menganggukkan kepalanya, “apa Rasya juga boleh menyuapi Mama?” pintanya.
Ardi tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, “tentu dong sayang, Papa malah senang kamu mau menyuapi Mama kamu makan,” ucapnya sambil mengusap puncak kepala anak itu.
Mereka pun masuk ke dalam kamar itu. Zahra masih terlihat memejamkan kedua matanya, dia terlihat benar-benar sakit.
“Sayang, ayo bangun dulu, kamu juga harus makan agar cepat sembuh,” bujuk Ardi sambil mengusap puncak kepala Zahra.
Zahra yang merasakan sentuhan Ardi pun mulai membuka kedua matanya, “apa buburnya sudah matang?” tanyanya sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang.
“Sudah sayang, sekarang yang akan menyuapi kamu adalah Rasya. Dia ingin sekali menyuapi Mamanya,” ucap Ardi dengan senyuman di wajahnya.
Senyuman yang sanggup meluluhkan hati Zahra, bahkan membuatnya merasa sangat bahagia saat melihat senyuman manis suaminya itu.
Zahra pun menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, dia lalu menyuruh Rasya untuk duduk di tepi ranjang, “Mama senang jika Rasya mau menyuapi Mama,” ucapnya bahagia.
Ardi pun memberikan mangkuk yang berisi bubur itu kepada Rasya. Dengan perlahan Rasya mulai menyuapi zahra, dan Ardi terlihat sangat senang melihat apa yang ada di depan kedua matanya.
“Rasya senang bisa menyuapi Mama, Mama juga harus cepat sembuh, karena kalau Mama sakit, nanti nggak ada yang akan menemani Rasya sampai Rasya tertidur,” ucap Rasya sedih.
Zahra memeluk Rasya, “maafkan Mama ya sayang, Mama janji Mama kan secepatnya sembuh,” ucapnya.
Zahra pun menghabiskan bubur buatan suaminya itu, itu pun dia memakannya dari tangan putra kesayangannya.
Ardi mengambil mangkuk kosong itu dari tangan Rasya dan meletakkan ke atas meja. Dia lalu meminta Zahra untuk kembali beristirahat. Ardi dan Rasya lalu keluar dari kamar itu.
“Sayang malam ini biar Papa saja yang menemani kamu tidur ya sayang.”
Rasya pun menganggukkan kepalanya, “sebenarnya Mama sakit apa sih, Pa?” tanyanya sedih.
“Mama kamu hanya kecapean sayang.” Mereka lalu melangkah menaiki tangga satu persatu. Zahra menjadi seperti ini apa gara-gara aku ya, aku setiap malam selalu mengajaknya bertempur, bahkan kita melakukan itu bukan hanya sekali dua kali, pikirnya.
~oOo~