Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Mengorbankan semuanya


Ardi dan Zahra mengunjungi rumah kedua orangtua Ardi, Kevin dan Rasya sudah berada di sana terlebih dahulu, karena Arka dan Kay menjemput mereka dari sekolah. Setiap bulan Kay dan Arka selalu pulang ke Jogja untuk mengunjungi Kevin, karena bagaimanapun mereka tidak bisa berpisah lama dengan Kevin.


“Gimana Ra, apa sudah ada perkembangan?” tanya Kay.


Ini sudah bulan ke tiga Zahra berhenti dari pekerjaannya, dia benar-benar istirahat total dari segala kegiatan apapun. Ardi bahkan melarang Zahra untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Ardi hanya mengizinkan Zahra untuk menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam saja, itu pun semua asisten rumah tangga mereka yang memasak semua makanan itu.


Zahra sebenarnya juga sudah bosan kalau tidak melakukan apa-apa, karena pekerjaannya hanya membaca dan menonton televisi. Bagaimana tidak bosan, biasanya Zahra setiap hari harus memeriksa pasiennya, belum lagi jika dia harus menangani korban kecelakaan, sungguh sangat melelahkan, tapi juga sangat menyenangkan karena itu adalah impian Zahra selama ini, yaitu bisa menyembuhkan orang yang sakit.


Zahra menatap Ardi, dia lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “terima kasih atas saran dan masukkan dari kakak,” ucapnya.


Kay tersenyum bahagia, bukan hanya Kay, tapi Arka, Lina dan Jonny juga ikut senang mendengar kabar gembira itu.


“Sudah berapa bulan?” tanya Lina dengan senyuman di wajahnya.


“Baru enam minggu, Ma,” ucap Ardi sambil menggenggam tangan Zahra.


“Selamat ya, Kak. akhirnya usaha kakak selama ini tidak sia-sia,” ucap Arka.


Ardi mengecup punggung tangan Zahra, “aku salut dengan perjuangan Zahra selama ini, dia bahkan rela berhenti bekerja hanya untuk memberikan keturunan untuk aku. padahal aku sama sekali nggak memperdulikan semua itu, tapi Zahra bahkan rela mengorbankan semuanya,” ucapnya bangga.


“Kak, mana ada sih istri yang nggak ingin suaminya bahagia, padahal keinginan kakak selama ini hanya satu, yaitu memiliki anak dari aku,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.


“Semoga anak kakak kali ini cewek ya, kasian Mama, ingin sekali mempunyai cucu cewek, sedangkan semua cucu-cucunya cowok,” ucap Arka.


“Mama memang ingin mempunyai cucu cewek, tapi jika anak Ardi dan Zahra harus cowok lagi, juga nggak apa-apa, itukan cucu Mama juga,” ucap Lina.


“Kalau Papa lebih suka cucu cowok, mereka bisa diandalkan, tapi jika nanti anak Ardi dan Zahra cewek, Papa juga akan sangat menyayanginya,” ucap Jonny.


Ardi sejak tadi tidak henti-hentinya mengecup punggung tangan Zahra, bahkan tangan satunya mengusap perut Zahra yang masih rata. Kay hanya tersenyum melihat perhatian Ardi ke Zahra, entah mengapa dia teringat saat pertama kali dirinya hamil. Ardi juga sangat perhatian kepadanya, bahkan Ardi selalu melakukan apapun yang Kay minta.


Arka menggenggam tangan Kay lalu mengecupnya, “ada apa sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanyanya saat melihat Kay hanya diam sambil menatap Zahra dan Ardi.


“Hem...” hanya deheman yang keluar dari mulut Kay saat itu.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Arka lagi.


Kay menggelengkan kepalanya, “bukan apa-apa, aku hanya bahagia saja, akhirnya Zahra hamil juga. Dua tahun lebih dia menunggu, akhirnya usaha mereka nggak sia-sia,” ucapnya pelan.


Arka mendekatkan wajahnya ke wajah Kay, “apa kita perlu memberikan adik untuk Ansel? Sekarang Ansel sudah besar, sudah seharusnya dia memiliki adik lagi, perempuan ya,” bisiknya.


“Jangan macam-macam deh, dua anak saja sudah cukup,” ucap Kay sambil mencubit perut Arka.


“Sayang, apa kalian mau menginap disini? Sudah lama kalian tidak menginap disini,” ucap Lina.


Ardi menatap Zahra, “bagaimana sayang? Aku ikut saja apa mau kamu,” ucapnya.


“Kita akan menginap disini, Ma. Lagian Rasya pasti juga kangen sama kakek dan neneknya, disini dia juga punya banyak teman,” ucap Zahra.


***


 


Saat ini Ardi sedang berada di teras depan bersama dengan Arka. Setelah selesai makan malam, mereka memutuskan untuk mengobrol di teras depan. Ada hal penting yang ingin Arka ceritakan dengan kakaknya itu.


Ardi duduk bersandar di sandaran kursi, “apa yang ingin kamu katakan?” tanyanya.


“Ka, kamu serius dengan apa yang kamu katakan!” tanya Ardi terkejut.


Arka menghela nafas, “untuk apa aku bercanda, Kak. sebenarnya aku ingin menceritakan semua ini sama kakak waktu aku mengantar Kevin kesini waktu itu, tapi karena kakak sendiri sedang ada masalah dengan Zahra, makanya aku tidak cerita apa-apa,” ucapnya.


“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Apa Om David dan Tante Merisa tau semua ini? Dan Kay?”


Arka menggelengkan kepalanya, “aku nggak berani menceritakan ini sama mereka, apalagi perusahaan itu adalah perusahaan yang Ayah rintis dari nol. Aku memang nggak berguna, Kak, aku begitu percaya dengan rekan bisnis aku itu, tapi ternyata dia menipuku,” ucapnya sambil menundukkan wajahnya.


“Ka, sebesar apa kerugian yang akan ditanggung perusahaan?”


“Semua aset perusahaan bila dijual tidak akan sanggup untuk menutup kerugian itu, bahkan jika aku menjual rumah aku pun, itu masih kurang. Aku mempertaruhkan semuanya, karena aku pikir itu kerja sama itu akan sangat menguntungkan, tapi...”


“Lalu bagaimana cara kamu memberitahu keluarga kamu? Kamu tidak lupa kan kalau Om David itu mempunyai penyakit jantung?” tanya Ardi cemas.


Arka meraup wajahnya gusar, “aku nggak tau, Kak. rasanya aku ingin mati, aku nggak mau keluarga aku menderita, aku nggak ingin kehilangan mereka semua, aku nggak akan sanggup,” ucapnya.


“Tapi jika kamu terus menutup-nutupi ini, maka semuanya akan semakin kacau. Lalu apa yang bisa aku bantu untuk menolongmu?” Ardi tidak mungkin tega melihat adiknya menderita, apalagi kedua orangtua Kay sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri.


“Aku mau meminjam uang pada kakak untuk membayar gaji karyawan aku, sudah dua bulan mereka tidak aku gaji. Tabungan aku mulai menipis, dan aku nggak bisa mengatakan itu sama Kay, aku takut, Kak. aku takut,” ucap Arka sambil menghela nafas berat.


“Aku akan membantumu, tapi perusahaan kamu, bagaimana?”


“Aku akan menjual semua aset yang tersisa untuk menutup hutang-hutang aku, rumah yang dulu aku beli, aku juga akan menjualnya, semuanya.”


“Lalu setelah itu, apa yang akan kamu lakukan? Om David, Tante Merisa, Kay dan Ansel, mereka juga butuh penjelasan kamu nantinya.”


“Aku akan mengatakan semuanya, tapi setelah aku menutup semua hutang-hutang aku.” Arka berdiri lalu bersujud di depan Ardi, hingga membuat Ardi membulatkan kedua matanya karena terkejut melihat apa yang dilakukan Arka, “Kak, apa kakak mau memenuhi satu permintaan aku ini?” tanyanya kemudian.


“Ka, bangun nggak! Apa yang kamu lakukan?” teriak Ardi.


Arka menggelengkan kepalanya, “aku ingin kakak berjanji dulu sama aku, kalau kakak akan memenuhi permintaan aku,” ucapnya.


“Baiklah, aku janji, aku akan menuruti apapun permintaan kamu.” Ardi lalu membantu Arka untuk berdiri, “apa permintaan kamu itu?” tanyanya kemudian.


“Aku sudah hancur, Kak. tapi aku nggak ingin sampai keluarga aku ikut merasakan kehancuran aku. aku ingin kakak berjanji akan menjaga keluargaku apapun yang terjadi,” pinta Arka.


Ardi mengernyitkan dahinya, “apa maksud kamu? Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan meninggalkan keluarga kamu?” tanyanya bingung.


Arka menggelengkan kepalanya, “aku nggak akan pernah melakukan itu, Kak. Bagaimana mungkin aku meninggalkan mereka, karena mereka sangat berarti untuk aku,” ucapnya.


“Lalu maksud permintaan kamu itu tadi apa?”


“Apa kakak akan mengizinkan aku untuk bekerja di perusahaan kakak? Aku butuh uang untuk menghidupi keluargaku, dan jika suatu saat terjadi sesuatu sama aku, aku ingin kakak menjaga Kay, Ansel dan juga Kevin,” pinta Arka.


“Yang lebih berhak menjaga mereka itu kamu, dan soal pekerjaan, kamu bisa kapan saja kerja di perusahaan aku, atau kamu mau mengurus perusahaan Papa? Kasihan Papa pasti sudah lelah mengurus perusahaan itu, aku juga nggak bisa selamanya mengurus dua perusahaan sekaligus.”


“Apa Papa akan mengizinkan aku untuk mengurus perusahaan itu, setelah Papa tau aku sudah menghancurkan perusahaan sahabatnya,” ucap Arka cemas.


Ardi menepuk bahu Arka, “kamu tenang saja, biar aku yang bicara sama Papa. Lebih baik kamu pikirkan bagaimana cara memberitahu keluarga kamu, jangan sampai membuat Om David sampai shock nantinya,” ucapnya.


Arka menganggukkan kepalanya, “terima kasih ya, Kak. terima kasih,” ucapnya.


~oOo~