
Arka dan Kay menyusun sebuah kejutan untuk Ardi dan Zahra. Hari ini genap satu minggu pernikahan Ardi dan Zahra. Arka dan Kay sengaja melakukan ini sebelum mereka kembali ke Pekanbaru besok pagi.
“Bagaimana, Ka, apa semuanya sudah siap?” Kay berbicara dengan suaminya lewat telepon.
“Sudah sayang, semuanya sudah beres. Kamu nanti ajak Zahra ke sini, aku tadi sudah menghubungi kakak untuk segera menemui aku di sini.”
“Baiklah, kamu tunggu di sana. Aku akan bersiap-siap dulu dan mengajak Zahra ke sana.” Kay lalu mengakhiri panggilan itu.
Kay lalu berganti pakaian, setelah itu dia keluar dari kamarnya.
“Bunda mau kemana?” tanya Ansel saat melihat bundanya yang sudah rapi dengan menenteng tas di tangannya.
“Sayang, kamu di rumah dulu ya sama Kak Rasya, Bunda ada urusan penting sama tante Zahra,” ucapnya sambil mengusap puncak kepala anaknya.
Ansel menganggukkan kepalanya, “tapi nanti bawain Ansel oleh-oleh ya, Bunda,” pintanya.
Kay tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, dia lalu menghampiri Zahra yang sedang menemani Rasya menonton acara televisi, “Ra, kamu bisa menemani aku nggak, aku ada urusan penting di luar?” tanyanya.
Zahra mengangguk, dia lalu menatap ke arah Rasya, “sayang, maaf, tante pergi menemani bunda Kay dulu ya, kamu lanjutin aja nonton televisinya sama Ansel,” ucapnya.
“Baik tante,” ucap Rasya. Ansel lalu duduk di samping Rasya.
Zahra beranjak dari duduknya, “aku bersiap-siap dulu ya, Kak,” ucapnya dan mendapat anggukkan dari Kay.
Setelah beberapa menit Zahra sudah selesai bersiap-siap, dia lalu keluar dari kamarnya, dengan gaun yang kemarin di belikan oleh suaminya. Dress selutut berwarna merah maron, sangat pas di tubuh Zahra.
“Kita memangnya mau kemana, Kak?” tanya Zahra penasaran.
“Nanti kamu juga akan tau, nggak akan lama kok.” Kay menatap penampilan Zahra malam ini, “kamu terlihat sangat cantik,” pujinya.
“Benarkah.” Zahra melihat penampilannya sendiri, “gaun ini pemberian Kak Ardi, karena hari ini satu minggu pernikahan kami,” imbuhnya.
“Kak Ardi memang pandai dalam memilih gaun, gaun ini sangat indah dan cantik, sangat cocok untuk kamu.” Kay lalu menarik tangan Zahra, “ayo kita berangkat sekarang, nanti keburu malam,” ajaknya.
Zahra mengangguk, dia lalu mengikuti langkah Kay keluar dari rumah. Dalam perjalanan Zahra berusaha menghubungi suaminya, tetapi panggilan itu sama sekali tidak tersambung.
“Kamu sedang menghubungi siapa?” tanya Kay tanpa mengalihkan tatapannya lurus ke depan.
“Kak Ardi, kenapa dia belum juga pulang ke rumah, ponselnya juga nggak bisa di hubungi.”
“Mungkin Kak Ardi sedang banyak kerjaan di kantor, tadi Arka menelpon katanya dia sedang bersama dengan Kak Ardi.”
Zahra menghela nafas lega, “kalau sama Kak Arka aku bisa bernafas lega, aku takut terjadi apa-apa dengan Kak Ardi,” ucapnya.
Zahra mengernyitkan dahinya saat mobil yang dia tumpangi masuk ke dalam parkiran hotel bintang lima, “kak, untuk apa kita di sini?” tanyanya penasaran.
“Aku ada janji dengan seseorang di sini, nggak akan lama kok.” Kay lalu menghentikan mobilnya, “ayo,” ajaknya lalu membuka pintu dan keluar dari mobil itu.
Zahra membuka pintu dan keluar dari mobil itu. Mereka lalu masuk ke dalam hotel menuju lift. Mereka lalu masuk ke dalam lift saat pintu lift itu terbuka.
“Siapa yang ingin kakak temui di hotel ini?” tanya Zahra penasaran.
“Suami aku.”
Zahra membulatkan kedua matanya, “Kak Arka! Lalu kenapa kakak mengajak aku?” tanyanya terkejut.
“Karena aku ingin kamu ikut.” Kay melihat raut wajah Zahra yang masih membulatkan kedua matanya, “tenang saja, aku sama Arka nggak akan menginap di sini, aku hanya ada urusan saja sama dia,” ucapnya.
Pintu lift terbuka, mereka lalu keluar dari lift.
“Kalau Kak Arka di sini, itu berarti Kak Ardi juga ada di sini dong.”
Kay menggelengkan kepalanya, dia lalu mengangkat ponselnya yang berbunyi. Kay nampak tengah mendengarkan apa yang dibicarakan sang penelpon, “Ok,” sahutnya lalu mengakhiri panggilan itu.
Zahra mengernyitkan dahinya, “ya udah ayo kita ambil dulu,” ucapnya.
Kay menggelengkan kepalanya, “kamu tunggu aku di kamar nomor 235, nanti aku susul, aku mau ambil berkas itu dulu,” ucapnya.
Zahra menggelengkan kepalanya, “aku nggak mau, Kak. masa aku ke kamar itu sama Kak Arka, lalu apa kata orang nanti,” tolaknya.
Kay tertawa, “mana mungkin aku menyuruh kamu untuk berdua sama Arka, sudah gila apa. Di dalam kamar itu ada client Arka, dia satu wanita dan satu laki-laki. Mereka sengaja meeting di sini karena mereka menginap di hotel ini. Mereka itu sepasang suami istri,” ucapnya berbohong.
Zahra menghela nafas lega, “aku kirain hanya ada Kak Arka di kamar itu,” ucapnya sambil menyengir kuda.
“Ya sudah, kamu duluan ke sana, aku mau kembali ke mobil dulu.”
Zahra menganggukkan kepalanya, dia lalu melangkahkan kakinya menuju kamar yang di maksud oleh Kay. Sedangkan Kay kembali masuk ke dalam lift. Arka tampak tengah menunggu di parkiran, sebelum menelpon Kay, Arka menyuruh Ardi untuk langsung masuk ke dalam kamar 235.
Kay melangkahkan kakinya menghampiri Arka yang sudah menunggunya, “maaf, aku sedikit terlambat mengajak Zahra ke sini,” ucapnya saat dia sudah tepat berdiri di depan suaminya.
“Nggak apa-apa sayang, Kak Ardi juga belum lama sampai. Mungkin sekarang dia sedang terkejut saat masuk ke kamar itu. Karena kamar itu sengaja aku desain seromantis mungkin.”
“Zahra sekarang pasti sudah berdiri di depan pintu kamar itu,” ucap Kay dengan senyuman di wajahnya.
Arka melingkarkan lengannya ke pinggang Kay, “kenapa kita nggak menginap di hotel ini juga? Kan kita bisa sekalian bulan madu kedua sayang,” godanya.
Kay mendorong tubuh Arka, “jangan macam-macam ya, apa kamu lupa masih ada Ansel yang sedang menunggu kita di rumah,” ucapnya.
Arka mengerucutkan bibirnya, “kan di rumah ada Mama dan Papa, jadi nggak apa-apakan sekali-kali dia tidur sendiri,” ucapnya.
“Ansel itu nggak bisa tidur kalau nggak aku peluk.” Kay lalu membuka pintu mobil, “sebelum pulang kita mampir beli makanan untuk Ansel dan Rasya,” ucapnya lalu masuk ke dalam mobil.
Arka hanya mendengus kesal, dia lalu membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, “tapi nanti aku akan tetap memintanya,” ucapnya lalu melajukan mobilnya.
“Tadi Kak Ardi datang ke sana naik apa, kalau mobilnya kamu bawa?”
“Naik taksi.”
“Terus kalau kamu belum bertemu dengan Kak Ardi itu berarti kunci mobilnya masih kamu bawa dong.”
Arka membulatkan kedua matanya, “astaga, aku lupa,” ucapnya sambil menepuk keningnya.
Kay menggelengkan kepalanya, “ya mau bagaimana lagi, biarkan mereka pulang naik taksi. Atau mungkin besok Kak Ardi akan menelfon kamu untuk mengantarkan kunci mobilnya,” ucapnya.
“Ya nggak apa-apa sayang, sekalian besok kita minta mereka untuk mengantarkan kita ke bandara.”
Kay menatap keluar jendela, “aku kangen sama Kevin,” ucapnya.
“Ya mau bagaimana lagi, Kevin kan harus sekolah, jadi dia nggak bisa menginap disini, jadi dia ikut pulang sama bunda dan ayah.” Arka menggenggam tangan Kay, “Kevin itu sudah besar sayang, jangan perlakukan dia seperti anak kecil lagi,” imbuhnya.
“Tapi bagi aku, Kevin tetap masih kecil, aku sepertinya nggak rela Kevin tumbuh dewasa secepat itu.”
Arka mengusap puncak kepala Kay, “kamu ini aneh, dimana-mana itu orangtua ingin anaknya segera tumbuh besar, la kamu...malah nggak rela Kevin tumbuh besar,” ucapnya.
“Karena aku belum rela jika suatu saat kevin pergi meninggalkan kita, aku belum siap jika suatu saat nanti Kevin meminta kita untuk melamarkan seorang gadis untuknya,” ucap Kay sambil menundukkan wajahnya.
Saat mendengar apa yang istrinya katakan, Arka pun tertawa, “sayang, itu masih sangat lama. Sekarang saja Kevin baru kelas 1 SMP, itu masih lama banget sayang. Kamu ini ada-ada saja,” ucapnya.
Sedangkan di dalam hotel, Zahra tengah berdiri mematung di depan pintu kamar yang di maksud oleh kay. Sudah hampir 15 menit dia berdiri di depan kamar itu, “apa yang harus aku lakukan, apa aku pulang saja ya. Untuk apa aku masuk ke dalam kamar ini, sedangkan Kak Kay saja nggak ada.”
Zahra tampak ragu untuk mengetuk pintu kamar itu, “Kak Kay kemana sih, kenapa lama sekali. Sudah hampir setengah jam aku menunggu,” gerutunya.
Tiba-tiba....
~oOo~