Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Belum sepenuhnya yakin...


Zahra membekap bibirnya dengan air mata yang semakin mengalir deras. Bahu gadis itu bergetar, isakannya pun semakin terdengar. Gadis itu menunduk, memandangi cincin yang berada di tangan Ardi.


Saat ini bukan hanya Ardi yang sedang gugup menunggu jawaban Zahra. Tapi juga Samuel yang berdiri tepat di samping Zahra, Kenzo dan Sahwa yang berdiri di pelaminan, Micel dan Kris yang berada tidak jauh dari tempat Ardi dan Zahra, dan tentu saja para tamu undangan yang sejak tadi menatap ke arah mereka. Mereka semua menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Zahra.


Zahra bingung harus menjawab apa, tapi setelah mendengar apa yang Ardi katakan, dia juga tidak ingin kehilangan kesempatan ini untuk kedua kalinya. Zahra menarik nafas dan membuangnya secara perlahan, dia lalu kembali menatap cincin berlian yang berada di tangan Ardi.


“Iya...” Zahra menganggukkan kepalanya, “iya, aku mau menikah dengan Kak Ardi,” ucapnya.


Ardi menghela nafas lega, kedua sudut bibirnya tertarik lebar hingga membentuk sebuah senyuman. Pria itu lalu memasangkan cincin berlian itu di jari manis Zahra. Setelah itu dia berdiri dan memeluk erat tubuh Zahra, “terima kasih. Terima kasih kamu mau menerima ku.” Ardi lalu menghapus air mata yang terus keluar dari kedua sudut mata Zahra, “jangan menangis,” ucapnya.


“Kakak kok bisa melakukan ini, apa Kak Kenzo nggak akan marah karena kakak melamarku di acara pernikahannya?” tanya Zahra di sela tangisannya yang masih terisak.


Ardi tersenyum, dia tau kalau sejak tadi Kenzo sedang menatap ke arahnya. Dia lalu memeluk Zahra dengan sangat erat, dia tidak menyangka keinginannya untuk menjadikan Zahra sebagai istrinya akan segera terwujud, “kamu tenang saja, biar nanti aku yang urus,” bisiknya di telinga Zahra.


Zahra semakin mempererat pelukannya, “aku nggak menyangka kakak akan langsung melamarmu,” ucapnya.


“Aku juga nggak menyangka akan melakukan ini, setelah Kenzo memberitahuku kalau Samuel itu bukan tunangan kamu, aku langsung keluar dan mengambil cincin ini dari dashboard mobilku. Aku sudah mempersiapkan cincin ini sejak lama.”


Mereka berpelukan di tengah riuh tepuk tangan dari seluruh para tamu undangan. Menyadari itu mereka langsung melepaskan pelukan mereka.


Samuel menepuk bahu Ardi, “gerak cepat juga kamu.” Dia lalu mengulurkan tangannya, “selamat ya, aku senang akhirnya Zahra bisa mendapatkan kebahagiaannya kembalinya,” ucapnya.


Ardi menjabat tangan Samuel dan mengucapkan terima kasih.


Sedangkan di pelaminan Kenzo mendengus kesal, “katanya nggak akan membuat kekacauan, tapi dia malah membuat heboh seluruh tamu undangan,” gerutunya.


“Kenapa kakak kesal begitu, apa kakak nggak bahagia melihat mereka bahagia?” Zahwa menyentuh lengan Kenzo.


“Aku bahagia melihat mereka akhirnya bisa bersatu, sudah begitu banyak penderitaan yang Ardi alami selama ini, tapi akhirnya dia bisa mendapatkan gadis yang sangat dia cintai. Tapi kenapa dia melamar Zahra di acara pernikahan kita tanpa meminta izin dulu sama aku,” keluhnya.


Micel dan Kris melangkahkan kaki mereka menuju tempat Ardi dan Zahra.


“Selamat ya, Ar. Akhirnya kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan sejak dulu,” ucap Micel sambil mengulurkan tangannya.


Ardi menjabat tangan Micel, “terima kasih,” ucapnya. Kris juga mengucapkan selamat kepada Ardi dan Zahra.


Micel memeluk Zahra lalu melepaskannya, “selamat ya, dan aku minta maaf atas semua sikap buruk aku dulu,” ucapnya. Zahra tersenyum lalu mengangguk kan kepalanya.


“Kalian jangan senang dulu, karena kalian belum meminta restu sama om dan tante,” ucap Samuel sambil tersenyum.


Ardi menggenggam tangan Zahra, “aku akan segera melamar kamu secara resmi kepada kedua orang tua kamu. Dan soal Mama dan Papa aku, kamu nggak perlu khawatir, karena mereka pasti merestui kita. Apalagi Mama sudah mengenal kamu,” ucapnya.


Zahra mengangguk. Tapi dia masih merasa cemas, kalau soal mamanya, dia yakin mamanya akan setuju jika dia menikah dengan Ardi, tapi kalau soal papanya, gadis itu belum sepenuhnya yakin. Semua itu karena kandasnya hubungan mereka empat tahun yang lalu.


Papa Zahra mengira jika Ardi telah mempermainkan putrinya, dan meninggalkan putrinya dalam kesedihan yang dalam. Tapi Zahra akan tetap berusaha untuk meyakinkan papanya agar dia mau merestui hubungan mereka.


Kini mereka tengah duduk saling berhadap-hadapan, hanya terhalang meja yang berbentuk bundar yang berada di tengah-tengah mereka.


“Kamu kenapa nggak izin dulu sama aku kalau kamu mau melamar Zahra?” tanya Kenzo sambil melipat kedua lengannya di dada.


Ardi tersenyum, “maaf, aku aja tadi baru memikirnya setelah kamu memberi tahu kalau Samuel bukan tunangan Zahra.” dia lalu menggenggam tangan Zahra dan mengecupnya, “aku nggak mau melewatkan kesempatan ini lagi,” ucapnya.


“Dasar!” seru Kenzo.


“Kak Micel dan suaminya ke mana?” Zahra melihat sekitar hanya ada mereka saja di tempat itu.


“Mereka tadi pulang duluan, Micel kan sedang hamil muda, nggak baik pulang larut malam,” ucap Ardi.


Samuel beranjak dari duduknya, “kalau begitu aku juga pulang duluan, karena besok aku ada pekerjaan penting,” ucapnya.


“Pekerjaan penting apa?” tanya Kenzo.


“Kak Kenzo ini aneh, tentu saja mengoperasi orang lah, Kak. Kak Samuel kan dokter spesialis jantung,” ucap Zahra. Samuel pamit undur diri dan berjalan menjauh.


Ardi melihat jam di pergelangan tangannya, “sudah larut malam. Kita juga harus pulang, kasian Kenzo, dia pasti sudah nggak sabar ingin melakukan malam pertamanya,” godanya.


Kenzo menatap istrinya yang kini tengah menundukkan wajahnya, “aku memang sudah nggak sabar,” ucapnya dan dia langsung mendapat cubitan di pinggangnya dari Sahwa.


Zahra beranjak dari duduknya, “jangan membicarakan itu di depan aku,” ucapnya kesal.


“Kenapa? Apa kamu penasaran gimana rasanya?” Kenzo lalu menatap Ardi, “aku sudah menyewa kamar di hotel ini, apa kalian juga mau?” godanya.


Ardi menatap Zahra yang kini tengah menatapnya dengan sorot mata yang tajam, “aku akan melakukan itu jika sudah waktunya. Untuk saat ini aku akan menahannya,” ucapnya.


Zahra melangkahkan kakinya meninggalkan Ardi, Kenzo dan juga Sahwa. Ardi bergegas beranjak dari duduknya dan mengejar Zahra yang sudah keluar dari gedung itu. Mereka kini sudah berada di dalam mobil, Zahra masih terlihat sangat kesal. Ardi hanya menggelengkan kepalanya, dia lalu melajukan mobilnya.


“Jangan kamu hiraukan ucapan Kenzo tadi.” Ardi masih fokus menatap ke depan.


“Siapa juga yang memikirkan itu,” ucap Zahra ketus.


“Lalu apa yang sedang kamu pikirkan?” Ardi sekilas mengalihkan pandangannya menatap Zahra, lalu dia kembali fokus menatap ke depan.


Zahra menghela nafas, dia lalu menatap Ardi yang masih fokus menatap ke depan, “ini soal Papa aku, apa Papa akan merestui hubungan kita?”


Ardi menghentikan mobilnya di tepi jalan, dia lalu menatap wajah Zahra yang terlihat sangat sedih. Apa semua itu ada hubungannya dengan sandiwara yang aku dan Zahra lakukan dulu? pikirnya.


~oOo~