
Ardi tersenyum, “ia sayang, aku belum pernah mendengar kamu bilang kalau kamu mencintai aku. Padahal aku selalu mengatakan itu sama kamu, kalau aku sangat...sangat mencintai kamu,” ucapnya dengan senyuman yang terus mengembang.
Zahra membulatkan kedua matanya, dia menelan saliva nya. Apa yang sedang di rencanakan sama mereka berdua? Pikirnya.
“Kenapaa wajah kamu seperti itu? Apa kamu malu karena ada Matteo di sini?” tanya Ardi sambil menampakkan senyuman di wajahnya.
Kedua mata Zahra mengerjap dua kali, dia lalu tersenyum miring, “sial ini pasti akal-akal mereka berdua. Tapi jika aku tidak mengikuti ucapan mereka, bisa-bisa terbongkar sudah sandiwara ini,” gumamnya dalam hati.
Gadis itu lalu menakup kedua pipi Ardi yang kini tengah tersenyum, “mana mungkin sayang, untuk apa juga aku merasa malu mengatakan cinta kepada pacar aku sendiri,” ucapnya sambil memelototkan kedua matanya.
Ardi memegang kedua pergelangan tangan Zahra lalu dia jauhkan dari kedua pipinya, dia akan merasa terancam jika masih berada di posisi itu, “kalau begitu aku ingin mendengar kamu bilang sama aku, masa sejak kita jadian hanya aku yang mengatakan cinta sama kamu,” tantangnya.
“Zahra, kamu nggak akan pernah mengatakan itu kan? Kalian nggak benar-benar menjalin hubungankan?” tanya Matteo sambil mengernyitkan dahi.
Ardi merangkul pundak Zahra, “kamu masih tidak percaya kalau Zahra adalah kekasih aku?” tanyanya.
“Ya...mana mungkin aku percaya dengan semua itu. Zahra tidak mungkin jatuh cinta sama pria yang bahkan jauh lebih tua darinya,” ledek Matteo.
“Bukankah pria yang lebih tua itu lebih menyenangkan dan lebih berpengalaman?” ucap Kenzo sambil melipat kedua lengannya di dada.
“Bukankah pria yang berpengalaman itu malah menjerumuskan?” Matteo tidak ingin kalah dalam beragumentasi, apa lagi ini menyakut dengan gadis yang sangat dia cintai.
“Jangan sama kan aku dengan pria-pria yang kamu maksud itu. Zahra memang jauh di bawah aku usianya, tapi Zahra gadis yang sangat pintar. Tentu dia tau mana yang baik dan mana yang buruk, jika aku ingin melakukan hal yang akan merusak dirinya, apa Zahra akan diam saja?” Ardi menggelengkan kepalanya, “dia pasti akan menolaknya, karena dia tau itu salah,” ucapnya.
“Bukankah Kak Ardi ini seorang duda beranak satu? Apa kedua orang tua Zahra juga tau soal itu?” Matteo semakin memperkeruh suasana.
“Matteo cukup, kenapa kamu tidak percaya kalau aku dan Kak Ardi memang pacaran?” tanya Zahra sambil menatap Matteo.
Senyuman menyeringai nampak dari bibir pemuda itu, “bagaimana aku bisa percaya, kalian bahkan tidak pernah melakukan apa pun selain nongkrong bersama dengan Kak Kenzo. Aku bahkan jarang melihat kamu pergi berdua dengan Kak Ardi,” ucapnya.
“Apa selama ini kamu diam-diam mengawasiku?” tanya Zahra kesal.
“Aku nggak bermaksud untuk mengawasi kamu, tapi aku merasa penasaran aja, kenapa kamu tiba-tiba bisa jadian dengan Kak Ardi, padahal waktu itu aku tanya kamu belum mau memikirkan soal pacaran. Kamu bilang sama aku
kalau kamu mau fokus dulu sama pendidikan kamu, makanya aku tetap bertahan dan menunggu kamu,” ucap Matteo.
“Sayang, apa kamu nggak bilang sama Matteo jika kita pacaran karena kamu ingin merasakan seperti apa itu pacaran?” tanya Ardi sambil mengedipkan matanya.
“M—maksud Kak Ardi apa?” tanya Zahra bingung.
“Bukannya kamu bilang sama aku kalau kamu ingin tau apa rasanya berciuman, berbagi kasih sayang dengan pria yang kamu sukai?” Ardi kini merubah posisinya menghadap gadis itu.
Zahra membulatkan kedua matanya, apa maksud Kak Ardi sebenarnya? Gadis itu kembali menelan ludah. Harus sampai sejauh mana dirinya akan terperangkap dalam sandiwara ini.
“Zahra, kenapa kamu hanya diam? Masa kamu nggak tau maksud dari perkataan Ardi? Ciuman...kamu tau kan apa maksudnya?” goda Kenzo.
“Zahra, kamu nggak mungkin akan melakukan itu kan? Nggak kan?” Matteo terlihat begitu gelisah. Apa dirinya akan menyaksikan gadis yang sangat dia cintai akan berciuman dengan pria lain di depannya? Hancur sudah jika itu
sampai terjadi.
“Aku...aku...”
“Zahra, kalau kamu ragu, itu berarti selama ini kalian membohongi aku, kamu juga berbohong kepada kedua orang tua kamu soal hubungan kamu dan Ardi?” Kenzo ingin membuat Zahra semakin terpojok. Dia kenal Zahra sejak
dia masih bayi, bahkan pertumbuhan gadis itu selalu dalam pengawasannya. Jadi Kenzo tau betul sifat gadis itu, dia akan semakin tersudut dalam keadaan seperti ini.
“Kenzo, jangan berkata seperti itu, aku nggak mungkin memaksa Zahra untuk mencium ku di depan kamu dan Matteo. Aku akan memintanya mencium ku saat kita hanya berdua, bukankah itu lebih terlihat romantis,” ucap Ardi sambil menaikkan kedua alisnya naik turun.
“Matt, sepertinya yang kamu katakan benar, mereka benar-benar tidak sedang berpacaran. Mereka telah membodohi aku selama ini. Zahra, aku kecewa sama kamu.” Kenzo menatap Ardi lalu mengedipkan kedua matanya.
“Kak...aku nggak bohong, aku dan Kak Ardi memang pacaran!” seru Zahra yang mulai terpancing oleh siasat Kenzo.
“Kalau kamu ingin aku dan Kak Kenzo percaya dengan hubungan kalian, sekarang buktikan pada kami kalau itu benar,” ucap Matteo.
“Jangan paksa Zahra, dia nggak mungkin akan melakukan itu, karena mereka nggak berpacaran,” ucap Kenzo.
“Aku...aku...aku akan buktikan pada kalian kalau aku dan Kak Ardi memang pacaran. Aku...aku akan...” Zahra membulatkan kedua matanya...
~oOo~