
Setelah kepulangannya beberapa hari dari Pekanbaru, Ardi sudah memantapkan hatinya untuk segera menikahi Zahra. Sebenarnya dia juga takut jika nantinya Rasya akan merubah keputusannya. Kedua orangtua Ardi merasa sangat senang saat Ardi memutuskan untuk memulai hidup barunya.
Setelah bertahun-tahun menyendiri akhirnya sebentar lagi akan ada wanita yang akan secara resmi menjadi istrinya, yang akan selalu menemaninya dan mencurahkan semua kasih sayangnya. Mendengarkan keluh kesahnya serta selalu berada di sisinya.
Ardi nampak tengah mendandani Rasya, dia sengaja membeli setelan jas yang baru, karena ini adalah hari yang sangat spesial untuknya. Rasya nampak tengah berdiri di depan cermin besar di kamarnya, dia menampakkan senyuman di wajahnya saat melihat penampilannya yang begitu rapi dan menawan.
“Anak Papa ini memang tampan.” Ardi berdiri di belakang Rasya sambil memegang kedua pundaknya, “saat kamu dewasa nanti, pasti akan banyak cewek-cewek yang mengantri untuk menjadi pacar kamu,” imbuhnya.
Ardi mendengar suara teriakan mamanya yang memanggilnya untuk segera turun. Ardi membalik tubuh Rasya agar menatapnya, “sayang, sekarang Papa tanya sekali lagi, apa kamu yakin mengizinkan Papa untuk menikah dengan tante Zahra? karena setelah malam ini, kamu sudah nggak bisa lagi merubah keputusan kamu,” ucapnya.
Rasya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “tante Zahra orang yang baik, dia pantas untuk mendapatkan Papa,” ucapnya.
Ardi memeluk Rasya, “terima kasih sayang, terima kasih karena kamu mau menerima tante Zahra sebagai ibu sambung kamu,” ucapnya.
Setelah bersiap-siap mereka keluar dari kamar, mereka menuruni anak tangga satu persatu. Kedua orang tua Ardi sudah siap dan menunggu di ruang tamu.
Lina berjalan mendekati Ardi, dia lalu merapikan dasi yang Ardi kenakan, “malam ini sangat penting buat kamu sayang, jadi kamu harus terlihat tampan,” ucapnya.
“Tapi Ardi sudah tua, Ma. Bahkan sudah hampir kepala 4,” ucap Ardi sambil menepiskan senyumannya.
“Tapi wajah kamu masih terlihat muda, bahkan wajah kamu nggak mencerminkan umur kamu yang sudah hampir 37 tahun,” goda Lina.
“Mama bisa saja,” ucap Ardi dengan wajah yang memerah karena malu.
“Sudah ayo kita berangkat sekarang, nanti keburu malam,” ajak Jonny.
Mereka lalu melangkah keluar untuk menuju mobil, mereka lalu masuk ke dalam mobil. Ardi mulai melajukan mobilnya. Sebelum berangkat tadi, Ardi sudah mengirim pesan kepada Zahra jika dirinya dan juga keluarganya sudah dalam perjalanan menuju rumahnya.
Zahra yang sudah bersiap-siap, kini masih setia duduk di kursi meja rias. Dia tatap wajahnya cantiknya yang sudah dipoles dengan make up. Zahra terlihat sangat cantik dengan menggunakan gaun berwarna merah muda dengan panjang beberapa cm di bawah lututnya. Kedua lengannya nampak polos dan hanya sehelai tali yang menopang gaun yang di pakainya.
Terdengar suara ketukan di pintu, Zahra menyahut dan menyuruh si pengetuk pintu untuk masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu tau jika yang mengetuk pintu kamarnya adalah mamanya.
Mama Zahra melangkahkan kakinya mendekati putri semata wayangnya yang masih betah duduk di depan cermin meja riasnya. Wanita itu lalu mengusap lembut rambut putrinya yang tergerai dengan indah, “malam ini kamu terlihat sangat cantik sayang,” pujinya.
“Apa hanya malam ini saja putri Mama ini terlihat cantik?” Zahra mengerucutkan bibirnya.
“Putri Mama ini selalu terlihat cantik, bahkan kecantikan kamu ini lah yang membuat kaum adat sangat tertarik.”
Zahra membalikkan tubuhnya menghadap mamanya, “Ma, malam ini adalah malam yang sangat penting untuk Zahra. Zahra ingin mengucapkan terima kasih kepada Mama dan Papa, karena kalian sudah mau merestui hubungan Zahra dengan Kak Ardi, meskipun kalian tau tentang masa lalu Kak Ardi,” ucapnya.
“Sayang, apapun pilihan kamu, Mama dan Papa pasti akan mendukung kamu. Jika kamu sudah memantapkan hati kamu untuk menerima Ardi dan masa lalunya, maka Mama dan Papa juga tidak bisa menghalanginya. Kebahagiaan dan masa depan kamu, hanya kamu yang bisa memutuskannya. Tapi jika kelak Ardi menyakiti kamu, Mama dan Papa akan bertindak tegas.”
Sedangkan di sisi lain, Ardi dan keluarganya sudah sampai di rumah Zahra. Mereka kini tengah berdiri tepat di depan rumah Zahra. Ardi mengangkat tangan kanannya untuk memencet tombol bel di samping pintu. Terdengar sahutan dari dalam sebelum pintu itu terbuka dengan lebar. Asisten rumah tangga Zahra menyuruh Ardi dan keluarganya untuk masuk ke dalam dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
Setelah itu wanita paruh baya itu berniat untuk memanggil majikannya dan memberitahukan kepada mereka jika tamu penting yang mereka tunggu sejak tadi sudah datang dan tengah menunggunya di ruang tamu.
Papa Zahra segera menemui tamu pentingnya itu. Ardi yang melihat calon mertuanya sedang berjalan menuju ruang tamu pun bergegas beranjak dari duduknya. Pria itu mulai menyapa calon mertuanya dan mencium tangannya. Papa Zahra menyapa kedua orang tua Ardi, dan mereka pun saling bersalaman satu sama lain.
Sambil menunggu Zahra dan mamanya, mereka pun memulai obrolan agar tidak merasa canggung. Kedua mata Ardi menatap ke arah tangga tempat dimana Zahra dan Mamanya tengah menuruni tangga itu. Ardi begitu kagum melihat kecantikan Zahra malam ini, apalagi melihat wanita itu masih mengenakan kalung pemberiannya.
Zahra menyapa dan mencium punggung tangan kedua orang tua Ardi, dia juga menyapa dan mencium kedua pipi Rasya. Setelah itu Zahra mendudukkan tubuhnya di samping Rasya.
Papa Ardi memulai percakapan terlebih dahulu, dia mengatakan niatnya datang ke rumah itu. Dia meminta secara resmi putri mereka untuk menikah dengan putranya. Jonny juga mengatakan semuanya tentang Ardi, tidak ada yang ditutupi-tutupi.
Kedua orang tua Zahra terlihat sangat terkejut saat mengetahui kebenaran tentang kandasnya kedua pernikahan Ardi. Mereka sempat berpikir jika Ardi sudah mempermainkan perasaan kedua istrinya dan meninggalkan mereka begitu saja. Tapi ternyata pemikiran mereka selama ini salah, justru di sini Ardi lah korban dan yang paling sangat menderita.
Meskipun Jonny tidak menceritakan secara mendetail tentang kandasnya pernikahan pertama putranya itu, karena dia juga tidak mungkin menceritakan aib keluarga sendiri, apalagi itu berhubungan dengan anak keduanya Arka.
“Om, Tante, meskipun saya waktu itu sudah melamar Zahra secara resmi kepada Om dan Tante, tapi malam ini saya ingin meminta izin lagi kepada Om dan Tante untuk mengizinkan saya menikahi Zahra. Saya berjanji akan menjaga dan menyayangi Zahra sama seperti halnya Om dan Tante menyayanginya selama ini. Saya tidak akan membiarkan Zahra bersedih, itu janji saya kepada Om dan Tante,” ucap Ardi.
“Om dan Tante sudah merestui kalian, Om berharap kamu benar-benar akan menepati janji kamu. Zahra adalah putri kamu satu-satunya, dan kami ingin yang terbaik untuknya,” ucap Papa Zahra.
Zahra dan Ardi saling menatap, wanita itu tersenyum dengan kedua pipinya yang mulai merona merah. Akhirnya keinginannya akan segera terwujud, menjadi istri dan pria yang sangat dia cintai.
Kedua belah pihak keluarga pun mulai menentukan tanggal yang baik untuk pemberkatan pernikahan mereka. Dan juga acara resepsi yang akhirnya mereka putuskan untuk menggelarnya di sebuah gedung hotel bintang lima.
“Baiklah, kita sudah sepakat untuk melaksanakan pernikahan mereka dua minggu dari sekarang,” ucap Papa Zahra. Ardi dan Zahra mengangguk setuju.
Dua wanita paruh baya berjalan menuju ruang tamu sambil membawa nampan yang berisi minuman dan camilan untuk majikannya dan keluarga Ardi, mereka lalu meletakkan minuman dan camilan itu di atas meja. Salah satu wanita paruh baya itu mempersilahkan mereka untuk menikmati apa yang baru saja mereka sajikan di atas meja, setelah itu mereka pamit undur diri.
Zahra mengambil segelas jus jeruk, lalu dia berikan kepada Rasya. “Terima kasih, Tante,” ucap Rasya lalu menerima jus jeruk itu.
Kedua orang tua Ardi nampak tersenyum bahagia saat melihat Zahra yang begitu perhatian dengan cucu mereka. Mereka berharap Zahra akan mencurahkan kasih sayang seorang ibu kepada Rasya yang tidak pernah dia dapat dari ibu kandungnya.
Pertemuan malam itu pun berjalan dengan sangat lancar. Tanggal pernikahan pun telah di tentukan, selain itu Zahra dan Ardi juga sudah sempat melihat-lihat gaun pengantin yang akan mereka pakai nantinya. Kini tinggal menghitung hari, dimana mereka akan melangsungkan pemberkatan pernikahan mereka.
~oOo~