Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Kemungkinan yang akan terjadi


Samuel belum sempat melanjutkan kata-katanya, Zahra sudah keburu masuk ke dalam kamar inap papanya. Wanita itu sangat terkejut saat melihat mamanya tengah menangis sambil menggenggam tangan papanya.


“Ma,” panggil Zahra lirih, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati mamanya, “Papa kenapa, Ma?” tanyanya kemudian saat dirinya sudah berada di samping mamanya.


Mama Zahra langsung berhambur memeluk putrinya itu, dia menangis dalam dekapan putrinya.


“Ada apa, Ma, Papa baik-baik saja kan?” tanya Zahra lagi. Dia tidak bisa diam saja melihat mamanya yang sejak tadi bahkan tidak menjawab semua pertanyaannya dan malahan terus menangis terisak.


Samuel, Kenzo dan Ardi masuk ke dalam ruangan itu. Ardi berjalan mendekati Zahra dan juga mama mertuanya. Ardi mencoba untuk menenangkan mama mertuanya yang terus menangis dalam dekapan istrinya.


“Kak, katakan, Papa ku kenapa, Kak!” nada suara Zahra sedikit meninggi dan diikuti isak tangis yang sudah tak sanggup untuk dia tahan lagi.


“Tadi Om di bawa ke sini sedikit terlambat, tapi untungnya dia tidak apa-apa,” ucap Samuel.


Zahra mengernyitkan dahinya, “lalu kenapa Mama menangis?” wanita itu lalu melepaskan pelukan mamanya, “kenapa Mama menangis seperti ini, bukankah Papa baik-baik saja?” tanyanya bingung.


Mama Zahra hanya diam sambil menatap ke arah suaminya yang masih tidak sadarkan diri, “ini semua karena Mama sayang, Mama yang sudah membuat Papa jadi seperti ini,” ucapnya di sela isak tangisnya.


“Tante, jangan menyalahkan diri tante sendiri, ini semua sudah takdir,” ucap Kenzo.


Mama Zahra menggelengkan kepalanya, “tapi tetap saja semua ini gara-gara tante, seandainya tante tidak memaksa om kamu untuk pulang cepat, maka kecelakaan ini nggak akan terjadi,” ucapnya.


Zahra lalu duduk berjongkok di depan mamanya, dia lalu menghapus air mata mamanya, “Ma, yang penting sekarang Papa baik-baik saja. Zahra janji sama Mama, Zahra akan merawat Papa dengan sangat baik sampai dia sembuh sepenuhnya,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.


“Maafin Mama sayang, maafin Mama,” ucap Mama Zahra.


Zahra menganggukkan kepalanya, dia lalu beranjak berdiri, “tapi Kak, kenapa sampai sekarang Papa masih belum juga sadarkan diri?” tanyanya penasaran.


“Om baru saja melewati masa kritisnya, dia masih dalam pengaruh obat. Biarkan Papa kamu untuk beristirahat.” Samuel lalu menarik tangan Zahra dan keluar dari ruangan itu, dan tentu saja itu membuat Ardi dan Kenzo mengernyitkan dahinya. Mereka pun mengikuti mereka keluar dari ruangan itu.


“Ada apa, Kak? apa ada sesuatu yang kakak sembunyikan dari Mama?” tanya Zahra cemas.


Samuel menganggukkan kepalanya, “tapi ini hanya kemungkinan yang akan terjadi dengan Papa kamu, kita akan bisa mengetahuinya setelah Papa kamu sadar nanti,” ucapnya.


“Apa kemungkinan itu, Kak? jangan bikin aku takut,” ucap Zahra dengan kedua mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Ardi merangkul pundak istrinya dan mencoba untuk menenangkannya.


“Benturan di kepala Papa kamu itu sangat keras, tadi tim medis sudah sekuat tenaga untuk menyelamatkan Papa kamu, dan itu berhasil. Tapi karena benturan keras itu, ada kemungkinan kalau Papa kamu mungkin akan mengalami amnesia. Aku memang sengaja tidak memberitahu tante, karena aku takut itu akan semakin mengguncang jiwanya. Apalagi dengan kondisi tante saat ini,” jelas Samuel.


Zahra membulatkan kedua matanya dengan sempurna, mulutnya menganga tidak percaya. Bukan hanya Zahra, tapi Ardi dan Kenzo juga sama terkejutnya seperti Zahra saat ini.


“Kakak bercanda kan, Papa aku nggak mungkin amnesia, Papa nggak mungkin lupa sama aku dan Mama, nggak! Nggak!” air mata Zahra kini mengalir membasahi kedua pipinya, kenyataan pahit ini sangat mengguncang jiwanya. Apalagi yang mengalami semua itu adalah orang yang sangat dia sayangi.


Ardi memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat, dia lalu mengusap punggung istrinya dengan sangat lembut, “sayang, kita berdoa saja semoga itu nggak akan terjadi dengan Papa kamu. Itu kan baru kemungkinan, kita masih punya sedikit harapan,” ucapnya mencoba menenangkan istrinya.


“Benar kata suami kamu, Ra. Itu kan baru kemungkinan, ibarat 99% itu akan terjadi pada Om, tapi kita masih punya harapan meskipun itu hanya 1%, tapi kita juga harus yakin itu,” ucap Kenzo.


“Sayang, kamu harus kuat. Kalau kamu sedih seperti ini, lalu siapa yang akan menguatkan Mama kamu. Hanya kamu yang Mama kamu miliki sekarang,” ucap Ardi sambil menghapus air mata istrinya menggunakan kedua ibu jarinya.


“Sayang, lihat aku.” Ardi mendongakkan wajah istrinya agar menatapnya, “Mama kamu masih mempunyai kamu, aku, dan juga yang lainnya, jadi kamu nggak usah cemas,” ucapnya.


“Tapi kan kita tinggal di rumah kakak, sedangkan Mama...dia pasti akan merasa kesepian nantinya. Tidak ada lagi yang bisa diajak bicara, meskipun Papa merespon apa yang Mama katakan, pasti itu rasanya akan berbeda dengan kondisi Papa seperti itu.” Zahra meluapkan semua ketakutannya jika itu memang benar-benar terjadi.


“Kita akan menemani Mama dan Papa, kita bisa tinggal di rumah Mama untuk sementara waktu,” ucap Ardi sambil tersenyum.


“Kak...apa kakak yakin dengan apa yang kakak katakan? Lalu Rasya, bagaimana dengan Rasya? Apa dia mau tinggal di rumah aku?” tanya Zahra cemas.


Ardi mengecup kening istrinya, “kamu nggak usah mengkhawatirkan itu, biar Rasya menjadi urusan aku. Rasya pasti mau tinggal di rumah kamu, bukankah kalian sudah dekat sekarang?” ucapnya sambil tersenyum.


Zahra menganggukkan kepalanya, dia lalu memeluk suaminya dengan sangat erat, “terima kasih, Kak. terima kasih,” ucapnya. Mereka lalu kembali masuk ke dalam ruang rawat inap papa nya Zahra.


Zahra berjalan mendekati mamanya yang terus menggenggam tangan papanya, “Ma, Mama nggak usah khawatir, Papa akan baik-baik saja,” ucapnya sambil mengusap punggung mamanya.


“Tapi kenapa sampai sekarang Papa kamu belum juga sadarkan diri?” Mama Zahra sudah terlihat sedikit tenang dari yang tadi. Dia sudah tidak menangis terisak lagi, tapi di kedua sudut matanya masih ada sisa-sisa air matanya.


“Papa kan habis di operasi, Ma. Bahkan operasi itu bukan operasi kecil, Ma. Sekarang Papa masih dalam pengaruh obat bius, jadi Mama nggak usah khawatir,” jelas Zahra.


“Sayang, jika sampai terjadi apa-apa dengan Papa kamu, Mama nggak akan pernah memaafkan diri Mama. Mama akan ikut kemanapun Papa kamu pergi, Mama nggak bisa hidup tanpa Papa kamu.” Mama Zahra terus menggenggam tangan suaminya itu.


“Mama jangan pernah bicara seperti itu lagi, Zahra nggak suka! Kalau Mama dan Papa pergi, lalu Zahra sama siapa, Ma. Mama dan Papa sangat penting untuk Zahra.” Zahra menggenggam tangan mama nya, “Mama harus percaya sama Zahra dan semua dokter di rumah sakit ini. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan Papa,” ucapnya.


Ardi berjongkok di samping mama mertuanya itu, “Ardi juga akan selalu ada buat Mama, kalau perlu Ardi dan Zahra akan menemani Mama sampai Papa benar-benar sembuh,” ucapnya.


“Tapi jika kalian tinggal dengan Mama, lalu anak kalian bagaimana?” tanya Mama Zahra cemas.


“Rasya akan ikut dengan kami, dia juga bisa menemani Mama agar Mama tidak kesepian nantinya,” ucap Ardi.


Mama Zahra memeluk Zahra dan juga Ardi, “makasih sayang, Mama senang masih ada banyak orang yang peduli sama Mama. Mama juga bersyukur mempunyai menantu yang baik seperti Ardi,” ucapnya.


Samuel dan Kenzo hanya tersenyum melihat keluarganya yang kembali tersenyum. Kenzo mengajak Samuel keluar dari ruangan itu dan membiarkan mereka untuk saling menguatkan satu sama lain.


“Makasih ya, kalau nggak ada kamu, aku nggak tau apa yang akan terjadi dengan Om.”


Samuel tersenyum, “apa kakak lupa, jika Om itu juga keluarga aku,” ucapnya.


Kenzo memeluk Samuel, “maafin aku jika selama ini aku sudah bersikap jahat dan nggak adil sama kamu dan Mama,” ucapnya.


“Aku senang kakak sudah mau menerima aku dan Mama sekarang.”


“Hidup itu harus terus berjalan, tapi aku nggak mau hidup dalam kebencian,” ucap Kenzo dengan senyuman di wajahnya.


~oOo~