
Zahra dan Ardi saat ini tengah berada di kamar inap mamanya Matteo. Mamanya Matteo kini sudah di pindahkan ke kamar inap, tapi dia masih belum sadarkan diri. Matteo kini tengah duduk di kursi dekat ranjang sambil menggenggam tangan mamanya.
“Matteo senang, Ma. Operasi Mama berhasil dan Mama akan segera sembuh,” ucap Matteo sambil mengecup punggung tangan Mamanya.
“Kak Ardi kenapa datang ke sini?” Zahra dan Ardi tengah duduk di sofa, mereka akan menunggu sampai mamanya Matteo sadarkan diri.
“Karena aku kangen sama kamu sayang,” ucap Ardi sambil mencolek hidung mancung istrinya.
“Kakak bohong, kakak datang ke sini karena kakak nggak percaya sama aku.”
Ardi menggenggam tangan istrinya, “aku bukannya nggak percaya sama kamu sayang, tapi aku takut kehilangan kamu. Aku benar-benar nggak ingin kehilangan kamu,” ucapnya sambil mengecup punggung tangan istrinya.
Matteo yang mendengar percakapan mereka pun beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menghampiri Ardi dan Zahra. dia lalu mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal dekat Ardi duduk.
“Apa segitu tidak percayanya kamu dengan istri kamu sendiri?” Matteo berbicara dengan nada tidak suka.
“Aku percaya sama istri aku, tapi aku tidak percaya sama kamu. Bukankah kamu mencintai istri aku sejak dulu?” Ardi terus menggenggam tangan istrinya.
Matteo menyunggingkan senyumannya, “aku memang masih sangat mencintai Zahra.” Ardi mengepalkan tangannya saat mendengar pengakuan Matteo, “tapi aku bukan pria seperti yang kamu pikirkan saat ini. Aku nggak mungkin menghancurkan rumah tangga Zahra hanya untuk memilikinya,” imbuhnya.
“Apa kamu yakin? Apa aku bisa memegang kata-kata kamu?” Ardi tidak semudah itu percaya dengan ucapan Matteo.
Matteo menganggukkan kepalanya, “aku bertemu Zahra setelah sekian lama, dan aku senang saat bertemu dengannya lagi. Tapi aku disini bukan untuk merebut Zahra dari kamu, tapi aku disini karena Mama aku,” ucapnya.
“Kak Ardi, cukup. Nggak seharusnya kakak bersikap seperti ini, apalagi dalam keadaan seperti ini. Aku hanya nggak ingin membuat tante sedih nantinya,” ucap Zahra.
“Ra, kamu tenang saja, aku akan segera memberitahu Mama, kamu nggak usah mengkhawatirkan kondisi Mama aku lagi,” ucap Matteo sambil menepiskan senyumannya.
Zahra menganggukkan kepalanya, “Matt, tante...” wanita itu lalu beranjak dari duduknya saat melihat wanita paruh baya itu sudah membuka kedua matanya, “tante sudah sadar?” tanyanya senang.
Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, “kamu masih disini sayang?” tanyanya dengan senyuman di wajahnya.
Zahra mendudukkan tubuhnya di kursi dekat ranjang, “tante istirahat saja, Zahra akan tetap disini untuk menemani tante,” ucapnya.
“Mama, Matteo senang Mama sudah sadar,” ucap Matteo sambil memeluk mamanya.
“Sayang, Mama nggak mungkin akan meninggalkan kamu, karena Mama ingin melihat kamu menikah sayang,” ucap wanita paruh baya itu.
“Mama nggak usah membicarakan itu lagi, sekarang yang terpenting Mama sembuh dulu,” ucap Matteo.
Mama Matteo menggelengkan kepalanya, “Mama nggak mau menundanya lagi sayang, apalagi sekarang Zahra sudah ada disini, lebih baik kamu melamarnya sekarang juga,” ucapnya.
Kedua mata Ardi dan Zahra membulat dengan sempurna, begitu juga dengan Matteo.
Ardi berjalan mendekati mereka, dia lalu merangkul pundak Zahra, “tapi Zahra nggak bisa menikah dengan Matteo tante,” ucapnya. Pria itu mencoba menahan amarahnya mengingat wanita paruh baya itu tengah sakit, dan juga dia bahkan hampir seusia mamanya.
“Kamu siapa?” tanya wanita paruh baya itu.
“Tante, maafkan Zahra. seharusnya Zahra memberitahu tante sejak awal, tapi Zahra tidak ingin kondisi tante memburuk, jadi Zahra tidak memberi tahu tante jika Zahra sebenarnya sudah menikah,” ucap Zahra sambil menundukkan wajahnya.
Wanita paruh baya itu menatap putranya yang hanya diam sambil menundukkan wajahnya, “kenapa kamu membohongi Mama selama ini?” tanyanya kecewa.
“Maafin Matteo, Ma. Matteo hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu Mama semua ini,” ucap Matteo.
“Tante, Matteo melakukan ini karena Matteo sayang sama tante, dia tidak ingin tante kecewa dan semakin khawatir nantinya,” ucap Zahra.
“Tapi sekarang tante sangat kecewa, selama ini tante berharap kamu akan menjadi menantu tante, tapi sekarang semua impian itu hancur,” ucap mama Matteo sedih.
“Ma, maafin Matteo,” pinta Matteo.
“Tante, masih banyak wanita diluar sana yang bisa menjadi menantu tante, kenapa tante begitu ingin Zahra menjadi menantu tante?” tanya Ardi penasaran.
Wanita paruh baya itu menggenggam tangan Zahra, “karena tante sudah mengenal Zahra saat dia masih duduk di bangku SMA, diaa juga gadis pertama yang Matteo kenalkan sama tante. Tante kira mereka memiliki hubungan spesial karena mereka selalu bersama-sama, itu sebabnya tante hany ingin Zahralah yang menjadi menantu tante, karena tante sudah menganggap Zahra seperti anak tante sendiri,” ucapnya.
“Tante, meskipun Zahra nggak menikah dengan Matteo, tapi tante masih bisa menganggap Zahra seperti anak tante sendiri,” ucap Zahra sambil menepiskan senyumannya.
Ardi duduk berjongkok di samping Zahra, dia lalu meletakkan tangannya di atas tangan wanita paruh baya itu, “sekarang tante juga mempunyai satu putra lagi, tante juga bisa menganggap Ardi sebagai putra tante,” ucapnya.
Matteo membulatkan kedua matanya, dia terlihat sangat terkejut saat melihat Ardi yang bersikap baik dengan mamanya.
“Jadi sekarang tante mempunyai tiga anak?” wanita paruh baya itu pun tersenyum senang, “Matteo, apa kamu setuju jika Mama mengangkat Zahra dan Ardi sebagai anak Mama?” tanyanya kemudian.
“Tentu saja, Ma. Jika itu bisa membuat Mama bahagia,” ucap Matteo dengan senyuman di wajahnya.
Suasana kamar itu kini kembali ceria, senyuman terus terukir di wajah wanita paruh baya itu, ‘sayang, Mama tau saat ini kamu sedang sedih dan patah hati, tapi Mama berharap kamu akan segera mendapatkan pengganti zahra,’ gumamnya dalam hati.
“Apa yang sedang Mama pikirkan?” tanya Matteo saat melihat mamanya hanya diam sambil menatapnya.
Saat ini di kamar itu hanya ada Matteo dan mamanya. Zahra harus kembali bekerja, sedangkan Ardi harus kembali ke kantornya.
“Apa kamu baik-baik saja sayang? Mama tau saat ini kamu pasti sangat terluka.”
Matteo menggelengkan kepalanya, “Matteo sudah mengikhlaskan Zahra sejak dulu, Ma. Sejak dia lebih memilih Ardi ketimbang anak Mama yang ganteng ini,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Wanita paruh baya itu mengusap lengan putranya, “anak Mama ini memang ganteng, pasti akan banyak gadis yang akan mengantri untuk menjadi istri kamu. Jadi bukalah hati kamu untuk gadis lain,” ucapnya.
Matteo hanya mampu menganggukkan kepalanya, dia tidak mungkin menolak keinginan mamanya itu, ‘apapun akan aku lakukan demi Mama, karena hanya Mama yang aku miliki di dunia ini,’ gumamnya dalam hati.
Matteo menyuruh mamanya untuk beristirahat, karena kondisinya belum sepenuhnya pulih. Pria itu juga tahu jika kabar mengejutkan itu juga sangat menguncangnya, tapi dia tau jika mamanya saat ini sedang berpura-pura baik-baik saja.
~oOo~