
Arka mengajak Monic untuk membiarkan Ardi dan Kay bicara berdua.
"Ayo kita keluar, biarkan Kay bersama kak Ardi," ajak Arka.
"Nggak! aku nggak akan membiarkan kak
Ardi bersama Kay!" Monic lalu duduk di tepi ranjang.
"Kenapa? Apa kamu takut kak Ardi akan meninggalkanmu?" sindir Arka.
"Aku cuma nggak ingin Kay berdua sama Ardi."
"Kamu egois kalau gitu," ejek Arka.
"Aku cuma mempertahankan apa yang menjadi milikku."
"Sejak awal Kak Ardi bukan milikmu, tapi
milik Kay, tapi Kay merelakan kak Ardi untuk kamu, kamu tau kenapa?"
"Nggak! dan aku nggak perduli!"
"Itu karena Kay peduli sama anak yang kamu kandung, karena anak itu anak kak Ardi, jika saat ini kamu nggak sedang hamil, maka Kay tidak akan pernah melepaskan kak Ardi, kamu ingat itu!"
"Bukannya kamu juga mencintai Kay, kenapa kamu nggak berusaha untuk mendapatkannya kembali?"
"Aku nggak seegois kamu.,Cinta itu nggak harus memiliki."
"Tapi nyatanya kamu mempunyai anak dengan Kay. Bukankah Kevin itu anak kamu bukan anak Ardi? Kamu tega menghamili istri kakak kamu sendiri, bukankah itu lebih kejam dan egois," sindir Monic.
"Itu kesalahan terbesar aku, makanya aku merelakan Kay, karena aku ingin Kay dan kak Ardi bahagia."
"Tapi aku nggak sebaik kamu, Ka. Aku nggak akan membiarkan Ardi pergi dari aku."
"Walau kak Ardi nggak perduli dan nggak mencintaimu? Apa kamu bahagia hidup seperti itu?"
"Aku nggak perduli!"
"Kalau kamu ingin kak Ardi sembuh lebih baik kita keluar dan biarkan Kay bicara sama kak Ardi. Kamu tenang saja Kay nggak akan merebut kak Ardi dari kamu, lebih baik sekarang kita keluar," ajak Arka lalu menarik tangan Monic dan mengajaknya keluar dari kamar.
Kay masih tetap diam sedangkan Ardi masih duduk berjongkok didepan Kay sambil menggenggam tangan Kay.
"Kak, bangunlah dan duduk di samping aku," pinta Kay sambil membantu Ardi berdiri.
Kay menatap wajah Ardi yang sangat pucat dan lemah.
"Kak Ardi sudah makan?" Ardi menggelengkan kepalanya.
"Mau aku suapin?" tawar Kay.
Ardi tersenyum dan menganggukkan
kepalanya.
"Ya sudah, aku ambilkan makanan dulu," ucap Kay lalu berdiri.
Kay keluar dari kamar Ardi dan berjalan menuju dapur.
"Ini makanan untuk Ardi," ucap Lina sambil memberikan nampan berisi makanan dan susu hangat.
"Makasih ya, Ma."
"Bujuk Ardi agar mau minum obat," pinta Lina.
Kay duduk di samping Ardi dan menyuapi Ardi dengan perlahan. Setelah selesai makan Kay memberikan obat kepada Ardi. Ardi begitu menuruti semua yang Kay suruh.
"Jangan pergi lagi, aku nggak bisa hidup tanpa kamu," ucap Ardi sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Kay.
"Kak, kenapa kamu jadi seperti ini? Jangan menyiksa diri kamu, Kak. Lanjutkan lah hidupmu, kasian Monic, dia sangat membutuhkan Kak Ardi saat ini," bujuk Kay.
"Aku nggak perduli, kalau kamu mau aku akan menceraikan Monic sekarang juga, agar kamu mau kembali lagi sama aku."
"Jangan lakukan itu, Kak. Sebentar lagi anak Kak Ardi akan lahir. Bukankah itu yang Kak Ardi tunggu-tunggu. Kelahiran anak kandung Kak Ardi."
"Sayang, sampai kapanpun Kevin itu anak aku, aku yang sudah membesarkannya selama hampir 3 tahun. Aku juga yang memberinya nama. Aku nggak pernah menganggap Kevin bukan anak aku," ucap Ardi sambil menggenggam Kay.
"Tapi kenyataannya Kevin itu anaknya Arka, Kak," ucap Kay sedih.
"Sayang, jangan pernah kamu bilang seperti itu, Kevin tetap anak aku."
"Kak, maafin aku, tapi hubungan kita sudah berakhir kak, kita nggak mungkin bisa bersama lagi."
"Aku mohon sayang, aku tau aku salah, tapi itu juga diluar kesadaran aku," pinta Ardi sambil menggenggam tangan Kay.
Kay tidak tega melihat keadaan Ardi saat
ini. Hatinya sakit melihat orang yang dulu pernah ia sayangi menjadi terpuruk seperti ini.
"Kak, aku sudah mengikhlaskan Kak Ardi untuk Monic. Aku mohon Kak Ardi mau menerima kenyataan itu," pinta Kay.
"Tapi yang aku mau kamu sayang, aku nggak mau orang lain. Aku mohon kamu mau kan rujuk sama aku," pinta Ardi memelas.
Kay tidak tau harus menjawab apa. Kay tidak mau menyakiti Ardi karena kondisi Ardi saat ini.
"Lebih baik Kak Ardi nggak usah banyak berfikir, kak Ardi harus istirahat. Ayo aku antar kak Ardi ke ranjang," ucap Kay lalu membantu Ardi berdiri.
Kay memapah tubuh Ardi dan merebahkannya di ranjang. Kay menarik selimut dan menyelimuti Ardi.
"Jangan pergi, tetaplah disini," pinta Ardi sambil menarik tangan Kay.
"Aku nggak akan kemana-mana, Kak Ardi beristirahat lah," ucap Kay lalu duduk di tepi ranjang.
Ardi masih terus menggenggam tangan Kay dan tidak mau melepaskannya. Ardi takut Kay akan pergi meninggalkannya saat ia tertidur.
"Tidurlah kak, aku janji nggak akan kemana-mana, kak Ardi harus istirahat agar cepat sembuh, aku sedih melihatmu seperti ini," ucap Kay sambil mengusap lembut puncak kepala Ardi.
"Baiklah."
Ardi pun mulai memejamkan matanya. Kay melihat Ardi sudah terlelap. Kay ingin melepaskan tangan Ardi dari tangannya tapi tidak bisa karena Ardi menggenggamnya sangat erat.
Kay merasa sangat lelah, matanya terasa sangat mengantuk. Kay pun menyenderkan kepalanya ke dada bidang Ardi. Tak butuh waktu lama Kay pun terlelap.
Keesokan harinya.
Kay mulai membuka matanya karena merasakan sesuatu sedang mengusap puncak kepalanya. Kay mengangkat kepalanya dan melihat Ardi sedang tersenyum menatapnya.
"Pagi sayang," ucap Ardi lalu bangun dan menyandarkan tubuhnya.
"Maaf kak, aku ketiduran. Kak Ardi pasti capek semalaman menahan kepala aku."
"Nggak apa-apa sayang, lagian ini juga bukan yang pertama kali, bukannya dulu kamu paling suka tidur di dada aku," goda Ardi sambil tersenyum.
Terdengar suara pintu terbuka.
~oOo~