
Zahra yang sudah bersiap-siap sejak pagi lalu keluar dari kamarnya. Seperti biasanya dia selalu membantu mama mertuanya untuk menyiapkan sarapan pagi. Zahra terkejut saat melihat Monic sudah berada di dapur terlebih dahulu.
“Pagi, Ma, Kak,” sapa Zahra.
“Pagi sayang,” sapa Lina sambil menata makanan diatas meja.
“Lebih baik kamu bangunkan suami kamu saja sayang, semuanya sudah selesai kok,” ucap Lina.
Zahra menganggukkan kepalanya, dia lalu melangkahkan kakinya menjauh. Wanita itu memutuskan untuk membangunkan Rasya terlebih dahulu. Dengan perlahan dia mulai membuka pintu kamar Rasya, Zahra melihat Rasya masih terlelap dalam tidurnya.
“Sayang, ayo bangun, ini sudah pagi sayang,” ucapnya sambil mengusap lembut puncak kepala Rasya.
Rasya membuka kedua matanya secara perlahan, dia lalu mengerjapkan kedua matanya berkali-kali untuk menatap sosok yang sudah membangunkannya, “tante,” panggilnya.
“Iya sayang, ini tante. Ayo bangun, kamu harus sekolah.”
Rasya menganggukkan kepalanya, dia lalu bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk di tepi ranjang, “Mama Rasya di mana, tante?” tanyanya.
“Mama Rasya sedang menyiapkan sarapan untuk Rasya, sekarang Rasya lebih baik mandi dulu, setelah itu sarapan.”
“Baik, tante.” Rasya turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Zahra menyiapkan seragam sekolah untuk Rasya dan menaruhnya di atas ranjang. Setelah itu dia keluar dari kamar itu, sekarang Zahra ingin membangunkan suaminya.
“Kak, bangun, sudah siang ini,” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
Ardi pun membuka kedua matanya, dia lalu beranjak turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Zahra menyiapkan pakaian kerja suaminya. Setelah selesai bersiap-siap mereka keluar dari kamar untuk melakukan sarapan pagi.
“Ar, biar nanti Rasya aku yang mengantar ke sekolahnya,” ucap Monic.
“Baiklah,” sahut Ardi.
Setelah selesai sarapan Ardi dan Zahra berpamitan dengan kedua orangtuanya untuk berangkat bekerja. Seperti biasanya, Rasya mencium tangan Ardi dan juga Zahra. setelah itu mereka keluar dari rumah dan berjalan menuju mobil.
***
Ardi saat ini sedang berada di ruangannya bersama dengan Kenzo. Pria itu menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu.
“Apa kamu yakin mantan istri kamu itu datang ke sini hanya untuk menemui Rasya dan tidak mempunyai maksud lainnya?”
Ardi menggelengkan kepalanya, “aku juga nggak tau, tapi semoga saja hanya itu motif Monic datang ke sini,” ucapnya.
“Ardi, aku mengizinkan kamu menikahi Zahra hanya karena Zahra dulu merengek sama aku untuk merestui hubungan kalian. Dulu aku memang sangat mendukung kamu untuk mendapatkan Zahra, tapi setelah kamu menyakiti Zahra, aku jadi berpikir ulang untuk mendukung kamu dan Zahra.” Kenzo lalu menepuk bahu Ardi, “aku selama ini percaya sama kamu, jangan sampai kamu menghancurkan kepercayaan aku ini,” imbuhnya.
“Aku kan pernah bilang sama kamu, aku sudah menyesali perbuatan aku dulu. Zahra adalah segala-galanya untuk aku, jadi aku nggak mungkin akan menyakitinya.”
“Yang menyakiti Zahra bukan kamu, tapi masa lalu kamu. Mantan-mantan istri kamu yang selalu bermunculan di depan Zahra. Wanita mana yang mau menerima kehadiran mantan-mantan istri suaminya selain Zahra. Zahra itu wanita yang sangat kuat, dia rela menahan rasa sakit hatinya hanya demi kamu, dan seharusnya kamu menyadari itu,” sindir Kenzo.
“Tapi selama ini Zahra nggak berkata apa-apa sama aku. Dia bahkan bersikap seperti biasanya, jadi mana mungkin dia menyimpan rasa sakitnya?”
Ardi nampak tengah berpikir, dia mencoba mencerna apa yang Kenzo katakan kepadanya, apa benar selama ini Zahra menyimpan rasa sakitnya? Jika itu benar, aku akan merasa sangat bersalah, itu semua gara-gara aku.’
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Ardi bingung.
“Ajaklah Zahra jalan-jalan, atau makan malam romantis. Yang terpenting hanya ada kalian berdua saja.”
Ardi mengangguk mengerti, setelah itu dia juga ikutan menikmati cairan hitam pekat dari dalam cangkir itu.
***
Ardi sengaja mengajak Zahra untuk pergi ke pantai. Mereka sengaja izin setengah hari kerja. Sesampainya di pantai, mereka melihat pemandangan yang sangat indah, udara yang sangat sejuk, meskipun hari itu matahari sangat terik. Ardi dengan romantisnya memayungi Zahra agar tidak terkena sinar matahari yang begitu terik.
Karena hari itu bukan hari libur, suasana pantai nampak sepi, hanya ada beberapa pasangan yang berada di sana menikmati keindahan pantai itu. Ardi sengaja mengajak Zahra ke pantai, karena dia tahu jika istrinya itu sangat menyukai pantai.
Zahra dan Ardi berjalan menuju pantai, mereka lalu berdiri di tepi pantai sambil menatap lautan yang sangat luas dan indah.
Ardi memberikan payung yang dia pegang kepada Zahra, setelah itu dia memeluk Zahra dari belakang, “apa kamu suka tempat ini sayang?” tanyanya sambil menopangkan dagunya ke bahu istrinya.
Zahra menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, “sangat suka, tempatnya sangat indah dan sejuk,” ucapnya sambil menghirup udara pantai yang sangat sejuk itu.
“Sayang, apa kamu merasa nggak nyaman dengan kehadiran Monic di rumah? Kalau kamu merasa nggak nyaman kita bisa pindah ke rumah aku yang dulu pernah aku pakai saat tinggal bersama dengan Kay. Sebenarnya rumah itu sudah aku atas namakan Kevin, tapi untuk sementara kita bisa tinggal di sana jika kamu nggak ingin tinggal satu atap dengan Monic.”
Zahra membalikkan tubuhnya, mengubahnya untuk menatap kedua mata suaminya yang terlihat sangat indah, “aku memang merasa nggak nyaman tinggal bersama dengan mantan istri kakak itu, tapi jika kita tinggal di rumah kakak yang dulu, lalu bagaimana dengan Rasya? Aku nggak ingin meninggalkan Rasya, Kak,” ucapnya.
Ardi menghela nafas panjang, “maafkan aku sayang, aku nggak tau kenapa semua menjadi seperti ini. Kenapa cobaan selalu datang menghampiri rumah tangga kita,” ucapnya merasa sangat bersalah.
Zahra membuang payung yang tadi dia pegang, dia lalu menangkup kedua pipi suaminya dan membenamkan bibirnya ke bibir suaminya. Ardi yang mendapatkan perlakuan seperti itu tidak hanya tinggal diam. Pria itu membalas ciuman itu bahkan lebih panas lagi, hingga nafas mereka seakan habis, dan mereka pun akhirnya mengakhiri ciuman panas itu.
Mereka lalu mulai mengatur nafas mereka yang tidak beraturan. Setelah merasa nafasnya sudah kembali normal, Zahra memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat, “kakak nggak perlu minta maaf sama aku. sejak aku mau menerima lamaran kakak, sejak itu aku sudah siap untuk menerima apapun yang akan terjadi nantinya. Aku sudah tau kalau semua ini pasti akan terjadi, jadi aku sudah siap menghadapinya,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.
Ardi mengecup kening istrinya, “kita akan menghadapi masalah ini sama-sama. Aku nggak akan membiarkan kamu untuk menghadapinya sendirian,” ucapnya.
Mereka pun memutuskan untuk berjalan menyusuri pantai. Sesekali Zahra mencelupkan kakinya ke dalam air, dia terlihat sangat bahagia. Setelah merasa kelelahan dan lapar, mereka akhirnya memutuskan untuk memesan kamar hotel yang letaknya tidak jauh dari kawasan pantai.
Untung besok adalah hari libur, hingga mereka masih mempunyai banyak waktu untuk menikmati keindahan pantai itu, bahkan bermalam di hotel itu dan menghabiskan malam yang panas tanpa ada seorangpun yang akan mengganggu pergulatan mereka.
Setelah merasa sangat kelelahan dengan tubuh yang bercucuran keringat, Ardi menarik tubuh Zahra dan menenggelamkan wajah istrinya ke dalam dada bidangnya, “tidurlah,” ucapnya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga tubuh istrinya yang polos tanpa sehelai kainpun.
Zahra mendongakkan wajahnya menatap suaminya, “aku belum mengantuk, aku ingin menghabiskan malam ini dengan begadang,” ucapnya.
“Kalau begitu bagaimana kalau kita mengulang kembali apa yang baru saja kita lakukan, dan kita lakukan itu sampai kita benar-benar tidak berdaya,” ucap Ardi sambil tersenyum.
Dengan malu-malu daan wajah yang merah merona, Zahra mulai mengangguk pelan. Wanita itu juga tidak memungkiri jika dirinya juga sangat menginginkan itu. Belaian dan sentuhan-sentuhan lembut tangan Ardi sudah menjadi candu baru untuk Zahra, bahkan bukan hanya untuk Zahra, tapi untuk Ardi juga, tubuh Zahra bagaikan magnet yang selalu menariknya dimanapun dia berada. Dan adegan panas itu kembali terulang, entah berapa kali pergulatan panjang itu terjadi.
~oOo~