Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Apa yang sebenarnya terjadi?


Zahra menyuruh mamanya untuk beristirahat di sofa, dia melihat mamanya yang terlihat sangat kelelahan. Sudah hampir satu jam Ardi dan Zahra berada di ruangan itu, tapi sampai sekarang papanya Zahra belum juga sadar.


Zahra melihat mamanya yang sudah mulai terlelap di atas sofa, dia lalu menyelimuti tubuh mamanya itu. Wanita itu lalu melangkahkan kakinya menuju ranjang tempat papanya terbaring tak sadarkan diri. Dia lalu menggenggam tangan papanya itu, “Pa, bangun Pa. Zahra kangen sama Papa,” ucapnya dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


Ardi membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalam sambil membawa sekantong kresek makanan. sejak tadi siang dirinya dan juga istrinya belum sempat makan siang, mereka terburu-buru pergi ke rumah sakit saat Kenzo memberitahunya kabar buruk.


“Sayang...” Ardi menyentuh pundak istrinya, Zahra menengok ke arahnya, “ayo kita makan dulu, sejak tadi siang kamu belum makan,” ajaknya.


Zahra menggelengkan kepalanya, “aku nggak lapar, Kak. aku akan tetap di sini menemani Papa,” tolaknya.


“Sayang, kamu juga harus menjaga kesehatanmu. Kalau kamu sakit siapa yang akan menjaga Mama dan Papa,” bujuk Ardi sambil duduk berjongkok di samping istrinya.


“Kak, kenapa sampai sekarang Papa belum sadar juga.” Zahra menatap kedua mata papanya yang masih terpejam.


“Kita tunggu saja, sebentar lagi Papa akan membuka kedua matanya. Jika Papa kamu tau kamu belum makan hanya karena mengkhawatirkannya, mungkin Papa kamu akan memarahi aku, karena aku nggak bisa membujuk kamu untuk makan. Kalau kamu sampai sakit, aku juga yang akan disalahkan, karena Papa kamu sudah menyerahkan tanggung jawab kepadaku atas kamu.”


Zahra mengangguk, “tapi aku mau makan dari tangan kakak,” ucapnya manja.


Ardi mengusap puncak kepala istrinya, lalu menganggukkan kepalanya. Pria itu lalu menarik salah satu kursi dan dia letakkan di samping kursi istrinya untuk dia duduki. Dengan sangat telaten Ardi mulai menyuapi istrinya itu, Ardi juga memakan makanan yang dia beli di kantin rumah sakit.


“Dimana Kak Kenzo?” Zahra lalu kembali membuka mulutnya dan menerima satu sendok penuh makanan yang di suapkan suaminya.


Ardi kembali menyendok satu sendok penuh makanan, “dia sudah pulang. Kakak ipar kamu itu kan sedang hamil muda, dia juga butuh perhatian suaminya,” ucapnya.


“Apa kakak sudah memberitahu Mama?”


Ardi menganggukkan kepalanya, dia lalu kembali menyuapi istrinya, “nanti Mama akan ke sini sama Papa dan Rasya,” ucapnya.


“Maaf ya, Kak. aku sudah merepotkan kakak dan keluarga kakak,” ucap Zahra sambil menundukkan wajahnya.


“Aku ini suami kamu, sudah seharusnya aku menemani kamu. Kedua orang tua aku sekarang juga orang tua kamu, jadi jangan pernah berbicara seperti itu lagi.”


“Maaf,” ucap Zahra lirih.


Ardi merangkul pundak istrinya lalu mengecup kening istrinya, “aku ingin menjadi orang pertama yang kamu mintai tolong saat kamu sedang ada masalah. Aku nggak ingin ada rahasia di antara kita,” ucapnya.


Zahra mengangguk mengerti, setelah beberapa menit makanan yang dibeli Ardi akhirnya habis tak tersisa. Ardi sengaja tidak membeli makanan untuk mama mertuanya, karena Ardi teringat akan kata-kata Zahra jika mamanya itu sangat menyukai sop buntut. Pria itu meminta mamanya untuk membuatkan sop buntut dan membawanya ke rumah sakit.


Terdengar suara ketukan di pintu, sebelum pintu dibuka dari luar. Kedua orangtua Ardi dan Rasya masuk ke dalam ruangan itu. Ardi mengambil rantang yang dibawa oleh mamanya itu, rantang itu berisi makanan yang di pesan oleh Ardi untuk mama mertuanya.


“Makasih ya, Ma. Maaf Ardi sudah merepotkan Mama,” ucap Ardi sambil meletakkan rantang itu ke atas meja.


Mama Zahra sudah bangun dari tidurnya, dia lalu mengubah posisinya jadi duduk. Dia juga menyapa dan menyalami kedua besannya itu. Lina mengatakan kepada mamanya Zahra untuk tetap tegar menghadapi cobaan yang saat ini sedang dia hadapi. Sedangkan Mama Zahra juga mengucapkan terima kasih karena sudah mau menyempatkan waktu untuk datang menjenguk suaminya.


“Bagaimana keadaan Papa mertua kamu?” tanya Jonny sambil melihat besannya yang masih belum sadarkan diri.


“Kata dokter keadaan Papa baik-baik saja, masa kritisnya sudah lewat, ini tinggal menunggu beliau sadar,” sahut Ardi.


Jonny menatap Zahra yang tengah mengobrol dengan istrinya, Rasya dan juga besannya, “kamu harus menguatkan istri kamu, mungkin saat ini dia sangat terguncang,” ucapnya.


Ardi menganggukkan kepalanya, “Ardi akan melakukannya, Pa. Oya, Pa, untuk sementara Ardi dan Zahra akan tetap di rumah sakit. Ardi titip Rasya ya, Pa,” pintanya.


Jonny menepuk bahu Ardi, “kamu tenang saja, Rasya dan perusahaan biar Papa yang urus, kamu pikirkan keluarga istri kamu aja dulu,” ucapnya.


“Makasih ya, Pa.” Ardi lalu menatap ke arah papa mertuanya, pria itu terkejut saat melihat pria paruh baya itu mulai membuka kedua matanya secara perlahan, “Papa, Papa sudah sadar,” ucapnya sambil menggenggam tangan Papa mertuanya itu.


Zahra dan Mamanya yang mendengar itu pun bergegas melangkahkan kakinya menuju ranjang.


“Pa, apa yang Papa rasakan sekarang?” Zahra mulai mengecek denyut nadi pada pergelangan tangan papanya, semuanya sudah kembali normal.


“Om, apa yang Om rasakan sekarang?” tanya Samuel.


“Kepala...kepala...sakit.” Papa Zahra menjawab dengan lirih sambil memegang kepalanya yang di perban.


“Kak...” Zahra terlihat sangat cemas, sedangkan mama Zahra kini mulai terisak dengan air mata yang terus mengucur membasahi kedua pipinya.


“Tolong kalian keluar dulu dari ruangan ini, biarkan pasien beristirahat dengan tenang,” pinta Samuel.


“Aku ingin menemani Papa, izinkan aku untuk tetap di sini, aku juga dokter di sini,” pinta Zahra dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


“Baiklah, tapi hanya kamu yang boleh di sini, yang lain silahkan menunggu di luar,” pinta Samuel.


Ardi membantu mama mertuanya untuk keluar dari ruangan itu dan diikuti oleh Lina, Jonny dan juga Rasya di belakangnya.


“Kak, katakan apa yang terjadi, Papa baik-baik saja kan?” Zahra terlihat sangat cemas.


Samuel menghela nafas panjang, “Om, apa Om bisa mengingat apa yang terjadi dengan Om?” Samuel mencoba untuk mengetes papanya Zahra. Apa yang dia takutkan semoga tidak menjadi kenyataan.


Papanya Zahra mengangguk. Samuel dan Zahra menghela nafas lega. Apa yang mereka takutkan tidak menjadi kenyataan.


“Pa, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Papa bisa mengalami kecelakaan?” tanya Zahra.


Dengan suara pelan dan terasa berat, Papa Zahra mulai menceritakan apa yang terjadi saat itu. Papa Zahra merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi. Kedua mata Samuel dan Zahra membulat dengan sempurna, mereka sangat terkejut mendengar penjelasan dari papanya Zahra.


“Kak...” Zahra terlihat sangat takut.


Samuel memeluk Zahra dan mencoba untuk menenangkannya, “aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika memang ada korban lain dalam kecelakaan itu, aku akan mencoba mencari tahu siapa korban itu dan siapa keluarganya,” ucapnya.


“Apa Papa akan disalahkan nantinya?”


“Semoga ini bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Tapi aku merasa ada yang aneh, jika Papa kamu merasa menabrak sesuatu sebelum kecelakaan itu terjadi, kenapa hanya Papa kamu yang dibawa kerumah sakit ini, sedangkan korban yang lain nggak mereka bawa ke sini?”


“Maksud kakak apa?”


“Ra, Om di bawa kesini oleh warga sekitar dalam keadaan sudah tak sadarkan diri dengan kondisi kepala Om yang sudah bercucuran darah, karena aku sangat panik waktu itu, aku tidak menanyakan apa yang terjadi kepada orang itu. Aku sibuk mempersiapkan operasi untuk Om,” jelas Samuel.


“Kak, jika itu yang terjadi, mungkin Papa salah lihat, dia nggak menabrak siapapun, ini kecelakaan tunggal.”


“Biar aku yang mencari tau, kamu nggak usah cemas. Sekarang yang terpenting kesehatan Papa kamu,” ucap Samuel sambil menepuk bahu Zahra.


Zahra lalu mendudukkan di kursi di samping ranjang papanya, “Papa istirahat saja, keadaan Papa masih belum pulih sepenuhnya,” pintanya.


“Mama kamu, bagaimana keadaan Mama kamu sayang.”


Zahra menggenggam tangan papanya, “Mama sangat mengkhawatirkan Papa, berjam-jam Mama menangisi Papa,” ucapnya.


“Maafkan Papa sayang, Papa sudah membuat kalian semua khawatir.” Papa Zahra menatap Samuel, “Sam, siapa yang sudah membawa Om kemari?” tanyanya kemudian.


“Warga sekitar Om, tapi Samuel tidak tahu nama mereka, Samuel terlalu pani, jadi lupa bertanya siapa nama mereka,” ucap Samuel.


“Mungkin nanti akan ada polisi yang mencari Papa, karena mobil Papa masih berada di tempat kejadian,” ucap Papa Zahra.


“Pa, apa Papa yakin dengan apa yang Papa ingat tadi? Apa Papa benar-benar menabrak seseorang?”


~oOo~