Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Ibu dari anak kamu


Sudah hampir satu bulan Monic tinggal di rumah Ardi. Dan selama itu pula dia melihat kedekatan Rasya dengan Zahra. Monic terlihat tidak suka melihat anaknya begitu sayang dengan istri muda mantan suaminya itu.


Segala cara sudah Monic lakukan untuk mempengaruhi Rasya agar membenci Zahra, tapi semua usahanya sia-sia, karena Rasya selalu mengatakan jika Mama Zahra adalah orang yang sangat baik dan sayang sama Rasya, dan tentu saja itu semua membuat Monic semakin membenci Zahra.


Kedatangan Monic jauh-jauh dari LA adalah ingin bertemu dengan anaknya dan meminta Ardi untuk membiarkan Rasya tinggal bersamanya. Tapi dia tidak menyangka jika Ardi sudah menikah lagi, dan itu membuat dirinya tidak suka. Selama ini dia masih betah menyendiri, tapi mantan suaminya malah sudah menikah dengan daun muda.


Monic bukannya ingin kembali bersama dengan Ardi, tapi Monic tidak suka melihat Ardi bahagia, sedangkan dirinya sampai sekarang masih tetap sendiri. Wanita menyalahkan Ardi atas hancurnya masa depan serta kehidupannya selama ini. Apalagi setelah melihat anaknya lebih menyayangi ibu tirinya ketimbang ibu kandungnya sendiri, itu membuat Monic semakin sakit hati.


Monic tengah duduk di teras belakang bersama dengan Rasya, dia tidak akan pernah menyerah untuk membujuk anak kecil itu agar mau ikut dengannya ke LA. Monic mengusap lembut puncak kepala Rasya, “sayang, selama ini kamu kan sudah tinggal sama Papa kamu. Bagaimana kalau sekarang Rasya ikut sama Mama. Kita akan hidup berdua di LA, disana rumahnya lebih bagus dari ini. Semua yang Mama miliki adalah milik Rasya juga. Apa Rasya mau tinggal sama Mama?” tanyanya.


“Kenapa Mama nggak tinggal di sini saja, Rasya mau tinggal sama Mama dan Papa.”


“Tapi itu nggak mungkin sayang, Papa kamu kan sudah punya Tante Zahra, dan Mama hanya punya Rasya. Apa Rasya nggak sayang sama Mama?”


Rasya hanya diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia menyayangi Mamanya tapi dia juga tidak ingin kehilangan Papanya.


“Papa kamu kan sudah ada yang menemani, nanti Papa kamu juga bakalan punya anak lagi sama Tante Zahra. Kalau Tante Zahra sudah mempunyai anak sendiri, maka Tante Zahra nggak akan sayang lagi sama Rasya. Rasya lebih baik ikut sama Mama, Mama akan selalu sayang sama Rasya,” bujuk Monic.


“Itu nggak mungkin, Ma. Mama Zahra sayang sama Rasya, dia nggak akan pernah meninggalkan Rasya!”


Monic memeluk Rasya dengan sangat erat, “yang lebih sayang kepada anaknya itu hanyalah ibu kandungnya sayang, sedangkan Tante Zahra hanya ibu tiri kamu, kasih sayangnya suatu saat akan terbagi untuk anak kandungnya,” bujuknya lagi.


Rasya menggelengkan kepalanya, anak itu mulai menangis terisak, “Mama bohong, Mama Zahra bukan orang seperti itu! Mama jahat!” teriaknya lalu beranjak berdiri dan berlari menaiki tangga.


Lina yang berada di dapur begitu terkejut mendengar teriakan Rasya, dia pun bergegas berlari menuju ruang tengah, tapi yang dia lihat hanya Monic yang tengah duduk di sofa sambil meraup wajahnya kasar.


“Mon, apa yang terjadi? Mama tadi mendengar Rasya berteriak?” tanya Lina sambil berdiri di depan Monic.


Monic menggelengkan kepalanya, “nggak ada apa-apa kok, Ma. Rasya hanya marah dengan Monic,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.


“Mon, selama ini Mama bukannya membenci kamu. Mama tau semua itu juga kesalahan Ardi, karena dia menikahi kamu disaat dia hilang ingatan. Tapi sekarang sudah berbeda, Ardi sudah menikah, dia baru saja merasakan kebahagiaannya lagi setelah sekian lama. Jadi Mama harap kamu tidak akan menghancurkan kebahagiaan Ardi.”


Monic beranjak dari duduknya, “Ma, Monic sama sekali tidak ada niatan untuk menghancurkan kebahagiaan Ardi. Monic hanya ingin hidup bersama dengan Rasya, apa itu salah, Ma?”


“Mama tau bagaimana perasaan kamu, sudah hampir 7 tahun lebih kamu hidup terpisah dari anak kamu. Tapi bukannya kamu sendiri yang meninggalkan Rasya dan memilih hidup sendiri? Kamu bahkan sudah menyerahkan hak asuh anak kepada Ardi.”


Monic kembali terduduk lemas di sofa, air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya tumpah membasahi kedua pipinya, “Monic menyesali semua itu, Ma. Hanya Rasya yang Monic miliki, Monic sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi,” ucapnya di sela isak tangisnya.


Lina duduk di samping Monic, “penyesalan itu memang selalu ada diakhir, tapi kamu masih bisa memperbaiki semuanya. Mama sudah mendengar semuanya dari Ardi, bagaimana perlakuan kamu dulu kepada Rasya. Saat mendengar itu Mama marah, Mama tidak menyangka kamu tega melakukan itu sama anak kamu sendiri yang bahkan tidak tahu apa-apa,” ucapnya.


Lina mengusap lengan Monic dengan lembut, “Ardi sudah memberikan kamu waktu untuk mencurahkan kasih sayang kamu kepada Rasya selama kamu di sini, tapi sepertinya kamu tidak memanfaatkan itu dengan sebaik-baiknya. Rasya itu bukan lagi anak kecil yang bisa kamu bohongi, dia sudah bisa membedakan mana kasih sayang yang tulus dan kasih sayang yang tidak tulus. Mungkin Rasya merasa kasih sayang Zahra lah yang lebih tulus,” ucapnya.


“Kenapa Mama bilang seperti itu sama Monic? Monic ini ibu kandung Rasya, Monic yang mengandungnya selama 9 bulan, dengan bertaruh nyawa Monic melahirkan Rasya, Ma!” seru Monic keras.


Ardi yang baru pulang kerja bersama dengan Zahra, tidak sengaja mendengar apa yang sedang diperbincangkan antara Lina dan Monic.


“Kamu memang ibu kandungnya, kamu juga yang mengandung dan melahirkan nya, tapi selama ini kamu sudah menyia-nyiakan anak kamu sendiri hanya karena ego kamu yang tinggi!” teriak Ardi sambil berjalan menuju ruang tengah.


“Aku bersikap seperti itu karena kamu! Kamu nggak pernah peduli sama aku, memandang ku pun kamu nggak sudi, padahal aku ini istri kamu! Ibu dari anak kamu, Ar!” teriak Monic keras.


Ardi menggenggam tangan Zahra, “sayang, kamu pasti capek, sekarang lebih baik kamu masuk ke kamar. Dan tolong jaga Rasya,” pintanya dan langsung mendapat anggukkan dari Zahra.


Ardi berjalan mendekati Monic, “Ma, bisa tinggalkan kita berdua saja,” pintanya.


“Tapi sayang, Mama tidak ingin kamu dan Monic...”


“Ardi mohon, Ma,” pinta Ardi lagi.


Lina menghela nafas panjang, “baiklah, tapi kalian harus membicarakan ini dengan baik-baik. Apalagi sebentar lagi Papa kamu akan pulang,” ucapnya.


Ardi mengangguk mengerti. Lina lalu melangkahkan kakinya menjauh. Ardi mengajak Monic untuk berbicara di teras belakang, dia tidak ingin Zahra maupun Rasya mendengar perdebatan panjang mereka.


“Apa yang ingin kamu bicarakan sama aku? apa kamu ingin melarang aku untuk bertemu dengan anak aku sendiri!” seru Monic.


“Apa kamu lupa dengan peringatan terakhir yang aku katakan waktu itu! Jika sampai kamu membuat keributan di rumah aku, maka aku nggak akan segan-segan untuk mengusir kamu dari sini sekarang juga!” ancam Ardi.


Monic tertawa sarkas, “apa kamu benar-benar sanggup melakukan itu? Lalu apa yang akan dikatakan Rasya, jika Papanya sudah mengusir Mamanya dari rumahnya?”


“Aku tau Rasya nggak akan pernah meragukan keputusan Papanya, apalagi selama ini hanya aku yang berada di sisinya, bukan kamu!” seru Ardi sambil mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Monic.


“Jika aku pergi dari sini, aku akan membawa Rasya bersama denganku, kita lihat saja, siapa yang akan dipilih oleh Rasya nantinya!” Monic melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Ardi yang sudah dipenuhi oleh amarah.


“Kita lihat saja nanti, Rasya nggak akan pernah memilih kamu, karena hanya aku yang dibutuhkan oleh Rasya, apalagi sekarang sudah ada Zahra di sisinya.” Meskipun begitu, Ardi juga mempunyai rasa takut akan kehilangan Rasya. Apalagi selama ini Rasya selalu menanyakan tentang ibu kandungnya dan ingin tinggal bersamanya, “apakah Rasya masih mempunyai keinginan untuk tinggal bersama dengan Monic? Tapi kan sekarang sudah ada Zahra, apa Rasya bisa merubah keinginannya itu?”


~oOo~