Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 21


Ardi dan Kenzo kini sudah berada di dalam bandara. Mereka menunggu kedatangan Zahra di pintu kedatangan. Sebelum menuju bandara mereka mampir kesebuah toko bunga. Kenzo menyuruh Ardi untuk membeli sebuket bunga mawar, dan dengan bodohnya pria itu menurutinya.


“Kenapa juga aku menuruti ucapan Kenzo, sekarang aku seperti seseorang yang sedang menanti kekasihnya,” rutuk Ardi dalam hati sambil melihat sebuket bunga mawar di tangannya.


Kenzo kini tengah berusaha menahan tawa melihat tingkah bodoh sahabatnya yang langsung menurut saat dia suruh membeli sebuket bunga mawar. Padahal saat itu Kenzo hanya berniat untuk mengerjai Ardi, tapi dengan


bodohnya pria itu malah menurut begitu saja.


Kenzo mengernyitkan dahinya saat melihat pemuda yang sedang melambaikan tangan ke arahnya, “Matteo!” serunya terkejut.


Ardi yang merasa tidak asing dengan nama itu, akhirnya mengikuti arah mata sahabatnya itu, “jadi dia yang namanya Matteo,” gumamnya dalam hati.


“Hai, Kak. Kak Kenzo mau menjemput Zahra?” tanya pemuda itu.


Kenzo mengangguk, “kamu sendiri ngapain di sini?” tanyanya balik.


“Aku juga mau menjemput Zahra, Kak. Kemarin dia menelfon katanya mau pulang ke Jogja, jadi aku mau menjemputnya,” ucap pemuda itu dengan senyuman di wajahnya.


Ardi terus menatap pemuda yang kini berdiri di hadapannya, dia masih muda, nggak kayak aku yang sudah tua, pikirnya.


“Oh ya, kenalin ini sahabat aku, Ardi,” ucap Kenzo mencoba untuk memperkenalkan Ardi dengan pemuda itu. Entah apa yang tengah di rencanakan Kenzo saat ini.


Ardi menjabat tangan pemuda itu, “Ardi,” ucapnya memperkenalkan diri.


“Matteo, Kak.” Pemuda itu melihat Zahra dari kejauhan, dia lalu melambaikan tangannya ke arah Zahra.


Ekor mata Ardi mengikuti tatapan mata Matteo, terlihat senyuman merekah dari bibir pria itu saat menatap gadis yang tengah berjalan ke arahnya.


“Kak Kenzo sudah dari tadi di sini?” tanya Zahra sambil berjalan mendekat.


“Ya...lumayan,” ucap Kenzo. Pemuda itu lalu menyenggol lengan Ardi dan menggerakkan kedua alisnya naik turun.


Ardi yang mengerti dari maksud sahabatnya itu lalu berjalan mendekati Zahra, “ini buat kamu,” ucapnya sambil memberikan sebuket bunga mawar itu kepada gadis itu.


Zahra mengernyitkan dahinya, apa maksudnya ini coba? “makasih,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya. Gadis itu menerima sebuket bunga mawar itu dari tangan Ardi. Tapi ada berbagai pertanyaan di benak gadis


itu saat menerima bunga itu.


Matteo yang sedaari tadi mengamati gerak gerik Ardi juga merasa sangat pensaran, apa-apaan ini?. Pemuda itu kini berjalan mendekati Zahra, “hai, gimana perjalanannya?” tanyanya.


“Hai, Matt. Kamu datang juga, aku kira kamu nggak bakalan menjemputku. Perjalanan kali ini sangat melelahkan,” keluh gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya.


“Mau pulang sekarang atau mau mampir makan dulu?” tanya Matteo. Kedua orang itu terus mengobrol dan tidak memperdulikan keberadaan Kenzo dan Ardi.


“Aku lapar, kita makan dulu ya, setelah itu baru pulang,” ucap Zahra sambil mengandeng lengan Matteo.


“Kebiasaan kamu ya, kalau sudah ketemu sama ini cowok, kamu selalu melupakan aku!” Kenzo melipat kedua lengannya di dada.


Tatapan mata Ardi tidak lepas dari tangan gadis itu yang masih saja melingkar di lengan pemuda itu. Tatapan tidak suka, ingin rasanya Ardi melepaskan genggaman tangan itu, tapi apalah daya tidak ada keberanian dalam dirinya. Kenapa aku harus marah? Apa hak aku coba untuk melarang mereka? Gerutunya.


“Ih kakak, udah tua juga, masih suka merajuk,” ledek Zahra.


“Bagaimana kalau kita makan sama-sama saja? Sebenarnya aku tadi ke sini nggak bawa mobil,” aku Matteo sambil menggaruk-ngaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Ya udah, kita nebeng aja sama Kak Kenzo. Boleh kan, Kak?” tanya Zahra.


“Aku aja Cuma numpang, kamu tanya aja sama dia.” Kenzo menunjuk pria yang berdiri di sampingnya.


“EM...Kak Ardi, kita boleh nebeng mobil Kak Ardi, kan?” tanya Zahra sambil menatap Ardi.


Tatapan itu lagi. Kenapa Zahra harus memiliki tatapan mata itu, pikirnya. Ardi mengangguk setuju, pria itu lalu mengajak mereka menuju parkiran.


***


“Zahra, kamu mau meneruskan kuliah kedokteran di mana?” tanya Matteo.


“Belum tau juga mau kuliah di mana. Tapi untuk sekarang aku mau istirahat dulu, setelah itu baru nyari kampus mana yang cocok,” ucap gadis itu.


“Aku akan bantu carikan kampus terbaik di sini,” ucap Matteo.


Zahra mengangguk sambil menikmati makanannya.


Ardi dan Kenzo hanya menjadi obat nyamuk kedekatan Zahra dan Matteo. Rencana Kenzo untuk mendekatkan Ardi dengan sahabatnya gatot alias gagal total.


Kenzo bisa melihat sejak tadi sahabatnya bahkan tidak mengalihkan tatapannya dari sepupunya. Pria itu masih ada seribu cara untuk mendekatkan sahabatnya dengan sepupunya. “Matteo, kamu bisa temani aku sebentar nggak?” tanyanya.


“Ke mana, Kak?” tanya pemuda itu.


“Udah ayo ikut aku, nggak akan lama kok.” Kenzo lalu meminta kunci mobil Ardi.


“Kalian mau ke mana sih?” tanya Ardi penasaran sambil memberikan kunci mobilnya kepada Kenzo.


“Ada sesuatu yang mau aku beli,” ucap pria itu lalu mengambil kunci itu dari tangan Ardi.


“Kenapa nggak pergi sama sahabat kakak aja?” tanya Matteo, sebenarnya pemuda itu masih ingin bersama dengan Zahra, dia tidak rela jika harus pergi secepat ini.


“Aku mau nya sama kamu, lagian aku juga butuh pendapat kamu.” Kenzo lalu berdiri, “udah ayo,” imbuhnya lalu menarik tangan Matteo. Mau tidak mau pemuda itu berdiri dan mengikuti kakak sepupu sahabatnya itu.


Kini hanya tinggal Zahra dan Ardi, mereka terlihat sangat canggung. Ini ke tiga  kalinya mereka bertemu.


“Kamu masih marah sama aku soal ucapan aku waktu itu?” tanya Ardi mencoba membuka pembicaraan.


Zahra menggelengkan kepalanya, “aku nggak punya hak untuk marah. Kakak punya hak untuk berpendapat,” ucapnya tanpa menatap ke arah pria yang sedang duduk di depannya.


“Aku minta maaf, jika kata-kata aku menyinggung perasaan kamu, apa lagi ucapan aku itu membuat kamu menangis,” ucap Ardi menyesal.


Zahra memberanikan diri untuk menatap pria di depannya, “kenapa kakak bisa berfikiran seperti itu tentang aku? Apa kakak tau tentang apa yang aku alami selama ini?” tanyanya.


“Maaf.” Hanya itu yang mampu Ardi ucapkan saat ini.


Zahra beranjak dari duduknya, “maaf, Kak. Aku sangat lelah, aku mau pulang,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya. Tapi dengan cepat Ardi berdiri dan menarik tangan gadis itu hingga gadis itu kini tepat berada di


depan matanya dengan jarak yang sangat dekat.


Ardi merasakan detak jantungnya seakan ingin meloncat keluar. Jantungku, ada apa dengan jantungku? “ah...maaf. aku nggak bermaksud untuk lancang, tapi jika kamu pergi, apa yang harus aku katakan sama Kenzo nanti,” ucapnya gugup.


Zahra melepaskan genggaman tangan Ardi, “bilang saja aku pulang duluan karena aku merasa lelah,” ucapnya lalu melangkah pergi.


“Tapi barang-barang kamu kan ada di mobil aku!” teriak Ardi.


Zahra sontak langsung menghentikan langkahnya, dia lalu menengok ke belakang menatap Ardi, “tolong nanti antarkan ke rumah aku. Maaf, Kak, aku benar-benar capek. Aku ingin cepat beristirahat,” ucapnya lalu kembali


melangkahkan kakinya sambil melambaikan tangannya tanpa menatap Ardi.


Ardi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “ada apa denganku? Kenapa aku bisa sebahagia ini setelah bertemu dengan Zahra?”


~oOo~


MATTEO ZAIDAN