Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 26


Kini Ardi sudah berada di rumah Kenzo. Mereka tengah berada di teras belakang sambil menikmati keindahan malam.


“Sekarang katakan, apa yang ingin kamu bicarakan tentang Zahra?”


“Zahra sedang mencari seseorang yang mau di jadikan kekasih pura-puranya.”


Ardi membulatkan kedua matanya, “maksudnya?” tanyanya.


“Kamu tau Matteo kan?” Ardi menganggukkan kepalanya, “Zahra ingin Matteo membuang jauh-jauh perasaannya terhadapnya. Zahra sudah sering bilang kepada Matteo jika dirinya hanya menganggap Matteo sahabatnya, tapi


sampai sekarang dia belum menyerah untuk mendapatkan Zahra,” jelas Kenzo.


“Tunggu-tunggu, aku belum paham apa maksud kamu. Sekarang langsung intinya saja,” ucap Ardi bingung.


“Dasar lemot! Dengerin aku baik-baik. Aku meminta kamu untuk menjadi kekasih pura-puranya Zahra. Dia ingin membuat Matteo menjauhinya, apa kamu sekarang sudah paham?” tanya Kenzo kesal.


Ardi mengangguk mengerti, “tapi kenapa Zahra hanya mencari cowok untuk dia jadikan kekasih bohongannya, kenapa dia nggak mencari cowok dan dia jadikan kekasihnya sungguhan?” tanyanya bingung.


“Zahra itu nggak mudah tertarik sama lelaki, karena yang ada pikirannya hanyalah mengejar cita-citanya. Matteo yang ganteng kayak gitu aja, Zahra sama sekali tidak tertarik.”


“Lalu kenapa kamu malah menyuruh aku untuk menjadi kekasih bohongannya Zahra? Kenapa nggak cowok lain?”


Kenzo menepuk keningnya sendiri, ternyata semakin bertambah umurnya, sahabatnya ini semakin lemot cara pikirnya, “bukannya kamu suka sama Zahra? Aku meminta kamu itu dengan alasan agar kamu bisa dekat dengan Zahra, kamu bisa mengenalnya dari dekat. Buat Zahra jatuh cinta sama kamu,” ucapnya.


“Kenapa kamu melakukan semua ini? Apa kamu nggak takut aku akan menyakiti sepupu kamu itu?” tanya Ardi penasaran, bagaimana bisa sahabatnya itu ingin mendekatkan dirinya dengan sepupunya, padahal sahabatnya


itu tau jika dirinya seorang duda dan mempunyai seorang anak.


“Karena aku percaya sama kamu. Kamu itu pria yang baik, hanya saja takdir tidak berpihak padamu.”


“Tapi aku nggak percaya dengan diriku sendiri. Aku sendiri belum yakin dengan perasaan aku, apa aku benar-benar menyukai Zahra atau aku hanya tertarik dengan tatapan mata Zahra yang sama seperti tatapan mata Kay. Aku takut akan menyakiti Zahra, dan aku nggak mau itu sampai terjadi,” ucap Ardi sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.


“Aku tau kamu sampai sekarang belum bisa sepenuhnya melupakan Kay, tapi bukannya ini kesempatan kamu untuk membuktikan jika kamu bisa sepenuhnya move on dari Kay. Aku yakin kamu bisa, dan Zahra orang yang


sangat tepat,” ucap Kenzo sambil menepuk bahu Ardi.


“Kamu tega menjadikan Zahra sebagai alat untuk aku melupakan Kay?” tanya Ardi tidak percaya dengan apa yang di katakan sahabatnya itu.


“Aku hanya ingin Zahra menyadari jika kamu lelaki yang pantas untuknya. Dan aku percaya jika kamu nggak akan mungkin menyakiti Zahra.”


“Apa Zahra tau jika yang ingin kamu jadikan kekasih bohongannya itu aku?”


Kenzo menggelengkan kepalanya, “tapi Zahra setuju dengan siapapun dia akan bersandiwara,” ucapnya.


“Kenapa?”


“Karena dia ingin Matteo segera membuang jauh-jauh perasaannya, dia tidak ingin menyakiti Matteo terlalu lama, dia ingin melihat Matteo bahagia.”


Ardi beranjak dari duduknya, “kamu atur pertemuan aku dengan Zahra besok,” ucapnya.


“Jadi kamu mau kan menjadi kekasih bohongannya Zahra?” tanya Kenzo dengan sangat antusias.


“Kita lihat besok, aku ingin bicara dulu sama Zahra. Aku pulang dulu,” ucap Ardi lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Kenzo.


***


“Jangan lupa, di restoran yang sudah aku kasih tau,” ucap Kenzo.


“Kalau boleh aku tau, siapa cowok yang ingin menjadi kekasih bohongan aku?” tanya Zahra penasaran.


“Nanti kamu juga akan tau,” ucap Kenzo lalu mematikan telfon.


Zahra keluar dari kamarnya, dia berjalan menuruni anak tangga satu persatu sambil terus menggerutu. Mamanya Zahra yang melihat wajah putrinya yang begitu kusut pun merasa sangat penasaran.


“Ada apa sayang?” tanyanya penasaran.


“Tumben Mama jam segini ada di rumah, Mama nggak kerja?” tanya Zahra terkejut.


“Mama sengaja pulang untuk makan siang sama kamu sayang, kan Mama sudah janji akan menyisihkan waktu Mama untuk menemani kamu.”


Zahra hanya menepiskan senyumannya, “tapi maaf, Ma. Hari ini Zahra ada janji dengan teman Zahra untuk makan siang di luar,” ucapnya.


“Siapa? Cowok atau cewek?”


“Cowok, Ma. Temannya Kak Kenzo.”


Mamanya Zahra mengernyitkan dahinya, “teman Kenzo, kok kamu bisa kenal dengan teman-teman Kenzo?” tanyanya penasaran.


“Kan teman Zahra sejak kecil yang selalu ada buat nemenin Zahra hanya Kak Kenzo, jadi Zahra kenal teman-teman Kak Kenzo.”


“Apa cowok itu pacar kamu? Mama ingin mengenalnya, selama ini Mama nggak pernah lihat kamu jalan sama cowok selain Matteo,” ucap Mamanya Zahra dengan senyuman di wajahnya.


“Matteo itu cuma sahabat Zahra, Ma.” Gadis itu lalu mencium tangan mamanya, “Zahra berangkat dulu ya, Ma. Zahra takut telat,” imbuhnya.


“Hati-hati, jangan lupa kenalkan dia sama Mama,” goda mamanya Zahra.


Zahra tidak mengubris ucapan mamanya dan berjalan keluar dari rumah.


“Putri kecilku sudah mulai dewasa,” ucap Mamanya Zahra sambil menatap kepergian putri semata wayangnya.


***


Kini gadis itu tengah duduk di salah satu kursi di restoran tempat yang sudah di janjikan oleh kakak sepupunya. Zahra nampak masih menunggu, sudah hampir setengah jam gadis itu berada di restoran itu, tapi cowok yang ingin menemuinya belum juga datang.


“Apa Kak Kenzo sengaja mengerjai aku ya, sudah setengah jam aku menunggu di sini, tapi mana cowok itu, nggak muncul-muncul juga,” ucap Zahra kesal.


Dengan nafas yang terengah-engah, Ardi berlari menuju restoran, “semoga dia tidak menunggu lama,” ucapnya sambil terus berlari.


Sesampainya di depan restoran pria itu mulai mengatur nafasnya agar kembali normal. Setelah merasa nafasnya sudah mulai teratur, Ardi berjalan memasuki restoran, dia melihat Zahra sudah duduk di kursi dekat jendela.


Ardi menyakinkan dirinya jika yang dia lakukan ini sudah benar, dengan perlahan dia mulai melangkahkan kakinya mendekati meja gadis itu.


“Boleh aku duduk di sini?” tanyanya saat dirinya sudah berada di depan gadis itu.


“Kak Ardi? Apa yang Kak Ardi lakukan di sini?” tanya Zahra terkejut.


Ardi menarik salah kursi di depan Zahra lalu dia duduki, “aku ingin makan siang di sini. Kamu sendiri kenapa ada di sini?” tanyanya.


“Aku sedang menunggu seseorang,” ucap Zahra sambil menepiskan senyumannya. Gadis itu tidak menyangka akan bertemu dengan lelaki yang sudah membuat dirinya merasa begitu penasaran selama ini.


“Siapa, pacar kamu?” tanya Ardi berpura-pura tidak tau.


Zahra menggelengkan kepalanya, “aku juga nggak tau siapa dia, kata Kak Kenzo aku hanya di suruh menunggu di sini,” ucapnya.


“Jadi orang itu cowok?” Zahra menganggukkan kepalanya, “mau apa kamu ingin bertemu dengan cowok itu?” tanyanya. Ardi sengaja ingin memancing gadis itu agar mengutarakan keinginannya yang sebenarnya. Walaupun


sahabatnya sudah menjelaskan semuanya, tapi dia ingin mendengarnya langsung dari mulut gadis itu.


~oOo~