Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 11..


Ardi menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, dia menghela nafas panjang sambil menatap langit-langit ruangannya. Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk, “masuk,” sahutnya dari dalam.


Pintu terbuka, Micel melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Ardi. Dia lalu memberikan setumpuk berkas yang Ardi minta.


“Terima kasih, sekarang kamu bisa keluar,” ucap Ardi lalu mulai memeriksa berkas-berkas itu.


Micel membalikkan tubuhnya lalu melangkah menuju pintu, sebelum dia keluar dia menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang untuk menatap hari, “ada apa dengannya, setelah pulang dari Pekanbaru, dia selalu terlihat sedih,” gumamnya dalam hati.


Setelah itu gadis itu melangkah pergi dari ruangan Ardi. Micel kembali mendudukan tubuhnya di kursi kerjanya.


“Ada apa ya dengan Ardi? Bukankah dia pergi ke Pekanbaru untuk melihat keponakannya, tapi kenapa setelah pulang dari Pekanbaru dia terlihat sangat sedih.” Micel menautkan jemari-jemarinya untuk menopang dagunya.


Kenzo yang ingin menemui Ardi, melihat Micel tengah melamun sambil menopang dagunya. Pria itu sebenarnya sudah tertarik kepada Micel sejak pertama kali Micel kerja menjadi sekretaris Ardi. Kenzo adalah sahabat serta rekan bisnis Ardi.


Micel tidak menyadari jika saat ini Kenzo tengah berdiri di depannya. Kenzo duduk di depan Micel sambil menatap wajah cantik gadis itu.


Kenzo menopang dagunya dengan tangan kanannya, “cantik,” ucapnya.


Micel tersentak, dia terkejut melihat Kenzo kini tengah duduk di depannya sambil menatapnya dengan senyuman manisnya.


“Em...m_maaf, Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya gugup.


Kenzo tersenyum melihat tingkah Micel, “aku ingin bertemu dengan Ardi, apa dia ada di dalam?” tanyanya.


“Ada, Pak, tapi...” Micel belum sempat menyelesaikan ucapannya, Kenzo sudah berdiri dan berjalan menuju ruangan Ardi.


“Ais...Ardi pasti marah nie, dia tadi berpesan tidak ingin di ganggu.” Micel bergegas mengikuti Kenzo menuju ruangan Bos nya.


Kenzo membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Ardi dan di ikuti Micel di belakangnya. Ardi menggalihkan


tatapannya ke arah Kenzo dan Micel.


“Maaf, Pak. Saya ingin melarang Pak Kenzo, tapi dia...” Ardi mengangguk dan mengibas-ngibaskan tangannya untuk meminta Micel keluar dari ruangannya. Micel mengangguk mengerti dan keluar dari ruangan Bos nya.


“Kenapa ponsel kamu mati?” tanya Kenzo sambil menarik kursi di depan Ardi lalu mendudukinya.


“Aku sedang nggak mau diganggu,” ucap Ardi sambil kembali mengecek berkas-berkas yang begitu menumpuk di atas meja kerjanya.


“Ayo malam ini kita nongkrong, sekalian untuk merayakan kerja sama kita,” ajak Kenzo.


“Maaf, aku nggak bisa. Aku sibuk,” tolak Ardi tanpa menatap lawan bicaranya.


Kenzo mendengus kesal, dia merasa di abaikan oleh sahabatnya itu, “aku nggak mau tau, nanti malam aku tunggu di tempat biasa,” ucapnya lalu berdiri dan melangkah keluar dari ruangan Ardi.


Ardi mendongakkan wajahnya menatap sahabatnya yang sudah menutup pintu ruangannya, dia lalu menggelengkan kepalanya, “dari dulu tidak pernah berubah, selalu saja suka memaksa,” ucapnya lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.


Kenzo kembali menyapa Micel, entah mengapa dirinya begitu tertarik dengan gadis yang mempunyai manik mata kecoklatan itu, “malam ini kamu sibuk nggak?” tanyanya sambil duduk di depan Micel.


“Maaf, Pak, saya sedang sibuk,” ucapnya.


“Lama-lama aneh ya itu orang, di jawab aja belum main pergi aja. Siapa juga yang mau makan malam bersamanya. Dasar!” Micel mendengar telfonnya berdering, dia lalu mengangkata gagang telfon itu lalu menjawabnya, “ya, Pak,” jawabnya.


“Siang sampai sore nanti tolong kosongkan jadwal saya.”


“Baik, Pak.”


“Oya...nanti kamu pulang duluan saja, nggak usah menunggu saya,” ucap Ardi lalu mengakhiri panggilan.


Micel semakin penasaran dengan Ardi, bahkan setelah mengetahui jika Ardi seorang duda, kini rasa cinta yang dulu pernah Micel rasakan untuk Ardi kini mulai kembali tumbuh.


“Aku nggak akan pulang, aku akan tetap menunggu mu, aku tau dirimu sedang ada masalah.” Micel menatap ruangan dengan pintu bercat putih itu.


Semua karyawan sudah keluar dari kantor, karena sudah waktunya untuk pulang kerja, tapi Micel tetap duduk di kursi kerjanya. Gadis itu masih tetap ingin menunggu Ardi sampai keluar dari ruangannya.


Kenzo menepati janjinya, dia kini sudah berdiri di depan kantor Ardi, “Micel mana sih, kok lama banget nggak keluar-keluar,” keluhnya. Sudah hampir satu jam Kenzo menunggu di depan kantor Ardi, akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam kantor Ardi. Dia ingin memastikan sebenarnya apa yang terjadi.


Kenzo melihat Micel masih duduk di kursi kerjanya sambil memainkan ponselnya. Lelaki itu berjalan menghampiri gadis itu, “kok belum pulang, lagi menunggu siapa? Karyawan lain sudah pada pulang dari tadi?” tanyanya.


Micel membulatkan kedua matanya dengan sempurna, “Pak Kenzo! Apa yang sedang anda lakukan di sini?”


tanyanya terkejut.


“Apa kamu lupa, bukannya tadi siang aku bilang akan menjemputmu untuk makan malam.” Kenzo melipat kedua lengannya di dada, “kamu sendiri ngapain masih di sini, bukankah jam pulang kerja sudah dari satu jam yang lalu?” tanyanya.


“Saya...” Micel menghentikan ucapannya saat melihat pintu ruangan Ardi terbuka.


Ardi keluar dari ruangannya, dia terkejut melihat Kenzo dan Micel masih berada di kantornya, “apa sedang kalian lakukan di sini?” tanyanya sambil berjalan mendekat.


“Aku ingin mengajak Micel makan malam, kamu juga ikut kan?” tanya Kenzo sambil menatap Ardi.


“Kaan aku bilang aku nggak bisa,” ucap Ardi.


“Ayolah, aku jamin kamu nggak akan menyesal, banyak gadis-gadis cantik di sana,” bujuknya.


Ardi menghela nafas panjang, mau di tolak seperti apa pun Kenzo tidak akan pernah menyerah, “ ya udah, ayo. Tapi aku nggak bisa lama-lama,” ucapnya.


“Ok...Micel, kamu ikut juga kan?” tanya Kenzo. Micel meenatap Ardi, dia lalu menganggukkan kepalanya.


“Bagus, kamu ikut sama aku, ada yang ingin aku berikan sama kamu.” Kenzo menarik tangan Micel.


“Tapi saya...”


“Sudah ayo, nanti kita bisa terlambat,” ucap Kenzo sambil menarik tangan Micel dan pergi meninggalkan Ardi yang masih diam mematung melihat sikap sahabatnya terhadap sekretasrisnya.


“Ada apa dengan Kenzo, apa dia tertarik dengan Micel?” Ardi mengernyitkan dahinya penasaran.


~oOo~