Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Aku nggak bercanda...


Kenzo tersenyum, “kenapa kamu se-terkejut itu?” tanyanya.


“Kamu nggak sedang bercanda kan?” Ardi masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat dan baca.


Kenzo menggelengkan kepalanya, “aku nggak sedang bercanda.” Pria itu lalu beranjak dari duduknya, “aku nggak bisa lama-lama, aku harap kamu bisa datang,” ucapnya lalu berjalan keluar dari ruangan Ardi.


Ardi kembali melihat undangan pernikahan yang masih dia pegang di tangannya, “Kenzo akan menikah, tapi siapa calon istrinya?” pria itu membaca nama yang tercetak di undangan itu, “Sahwa! Siapa dia?” tanyanya penasaran.


Ardi menepuk keningnya sendiri, “kenapa aku tadi nggak menanyakan soal Zahra, apa dia benar-benar sudah bertunangan?” ucapnya.


Ardi kembali berjalan menuju meja kerjanya, dia merasa hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Zahra lagi setelah sekian lama. Sebenarnya Ardi diam-diam tiga tahun yang lalu selalu mendatangi rumah Zahra, dia ingin melihat wajah gadis itu.


Tapi setiap Ardi mendatangi rumah Zahra, Ardi selalu melihat Zahra bersama dengan pria yang dia kenalkan sebagai tunangannya itu. Itu sebabya Ardi memilih untuk menyerah, meskipun begitu dia tetap berharap dirinya akan bisa memiliki gadis itu suatu saat nanti. Tapi ternyata dia salah, kini gadis yang sangat dia cintai sudah menjadi milik orang lain.


***


Zahra mendudukkan tubuhnya di atas sofa. Gadis itu merasa begitu kelelahan setelah bekerja di rumah sakit. Apa lagi hari ini begitu banyak pasien yang harus dia tangani.


Mama Zahra berjalan menghampiri putrinya, “kenapa kamu duduk di sini, apa kamu nggak mandi dulu?” tanyanya lalu duduk di samping putrinya.


Zahra lalu memeluk mamanya dengan sangat erat, “nanti aja, Zahra mau istirahat dulu,” ucapnya.


“Bagaimana dengan pekerjaan kamu, apa kamu suka kerja di rumah sakit kakek kamu?”


Zahra mengangguk, “Kak Samuel juga banyak membantu Zahra di sana,” ucapnya.


“Em...ngomong-ngomong soal Samuel, apa kamu tau sayang kalau papa nya Samuel ingin menjodohkannya?”


Kedua mata Zahra membulat dengan sempurna, “yang benar, Ma! Dengan siapa?” tanyanya terkejut.


“Mama juga belum tau dengan siapa, baru tadi Mama mendengarnya dari Papa kamu.” Mama Zahra mengusap puncak kepala Zahra, “lalu kapan putri Mama ini akan menikah?” tanyanya.


Zahra hanya menepiskan senyumannya, dia lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, “Zahra belum mau menikah, Ma,” ucapnya.


“Kenapa? Apa kamu masih menunggu Ardi?” Mama Zahra tau jika selama ini putrinya masih mengharapkan pria yang dulu putrinya kenalkan sebagai pacarnya itu.


Tapi selama ini kedua orang tua Zahra tidak mengetahui jika hubungan mereka sebenarnya hanyalah sandiwara. Zahra juga memberi alasan kepada kedua orangtuanya jika dia ingin lebih fokus pada kuliahnya dan mengakhiri hubungannya dengan Ardi.


Zahra menggelengkan kepalanya, “nggak kok, Ma. Tapi Zahra ingin fokus bekerja,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.


Mereka mendengar ketukan di pintu. “siapa yang datang?” tanya Mama Zahra lalu beranjak dari duduknya.


Mama Zahra berjalan menuju pintu utama lalu membuka pintu itu, “Kenzo!” ucapnya terkejut.


“Malam, Tante.” Kenzo mencium tangan mamanya Zahra.


Mamanya Zahra mempersilahkan Kenzo masuk, dia tau siapa yang ingin di temui keponakannya itu. Mama Zahra meninggalkan Kenzo dan Zahra, dia tidak ingin menganggu perbincangan kedua saudara itu.


“Ngapain Kak Kenzo malam-malam ke sini?” tanya Zahra penasaran.


“Tadi aku ke kantor Ardi.” Kenzo duduk di samping Zahra.


Zahra membulatkan kedua matanya, dia takut jika Ardi menanyakan soal Samuel kepada kakak sepupunya itu.


“Em...apa Kak Ardi bertanya sesuatu kepada kakak?”


“Maksud kamu bertanya soal kamu?”


Zahra bingung harus menjawab apa.


“Tidak, lagian aku ke sana hanya mengantar undangan pernikahan aku aja.” Kenzo menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.


Zahra menaikkan kedua kakinya ke atas sofa lalu melipatnya, kini Zahra duduk menghadap Kenzo, “Kak, apa aku boleh meminta tolong sama Kakak?” pintanya.


“Kamu mau minta tolong apa?” Kenzo terlihat sangat kelelahan, dia baru saja selesai menyebar semua kartu undangan pernikahannya.


Zahra tampak ragu, “em...kalau di lihat dari ekspresi Kak Kenzo sepertinya dia nggak tau kalau aku tadi bertemu dengan Kak Ardi. Lebih baik aku diam aja,” gumamnya dalam hati. “Em...nggak jadi deh Kak,” ucapnya.


Kenzo menautkan kedua alisnya, dia lalu memiringkan wajahnya menatap Zahra, “apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?” tanyanya curiga.


Zahra menggeleng, dia mencoba untuk bersikap biasa saja, tatapan mata Kenzo seakan tengah mengitimidasinya, “sebenarnya aku ingin minta izin sama kakak.” Gadis itu terlihat masih ragu untuk mengucapkan kata-katanya, “em...apa aku boleh mengajak Kak Samuel di acara pernikahan kakak?” tanyanya ragu-ragu.


Kenzo membenarkan posisi duduknya, “kenapa kamu ingin mengajaknya, kamu tau kan hubungan aku sama dia tidak baik?” tanyanya tidak suka.


“Tapi bagaimana pun Kak Samuel itu adik Kak Kenzo.”


“Aku nggak pernah menganggap dia adik aku.” Raut wajah Kenzo terlihat sangat kesal.


Tapi Zahra tidak kehabisan akal, bagaimana pun caranya dia harus mengajak Samuel ke acara pernikahan Kenzo, karena kakak sepupunya itu ternyata juga mengundang Ardi. Jika nanti Ardi melihat dirinya tidak bersama dengan Samuel maka kebohongannya akan terbongkar.


“Tapi Om akan tetap mengundang Kak Samuel, dia kan juga anaknya,” ucap Zahra sambil melipat kedua lengannya di dada.


Kenzo terlihat nampak kesal, tapi yang Zahra katakan ada benarnya. Papanya pasti juga mengundang adik tirinya itu, “apa kamu begitu dekat dengan Samuel?” tanyanya.


“Ya iyalah, Kak Samuel kan senior aku di rumah sakit, dia juga yang mengajari aku selama ini hingga aku lulus dengan nilai yang terbaik,” ucap Zahra bangga.


Kenzo berdecih, “apa yang bisa di banggakan darinya,” ledeknya.


Walau pun Kenzo dan Samuel adalah saudara satu ayah, tapi mereka tidak tinggal bersama, karena Kenzo menentang pernikahan kedua ayahnya. Hingga sampai sekarang hubungan Kenzo dan Samuel masih renggang.


“Banyak yang bisa di banggakan dari Kak Samuel, pertama...dia tampan, kedua...dia baik hati, ketiga...dia cerdas dan..." Zahra berceloteh panjang lebar tentang rasa kagumnya kepada Samuel.


Kenzo yang merasa kesal karena Zahra terus memuji adik tirinya itu pun beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya keluar rumah.


“Aku akan tetap mengajak Kak Samuel!” teriak Zahra.


“Terserah!” teriak Kenzo lalu membuka pintu dan keluar dari rumah Zahra.


Zahra hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap kekanak-kanakan kakak sepupunya, “aku akan mendekatkan kalian, karena kalian adalah kakak beradik,” ucapnya.


Zahra beranjak dari duduknya, dia lalu berjalan menaiki tangga satu persatu untuk menuju kamarnya. Gadis itu berniat untuk membersihkan dirinya, setelah seharian bekerja di rumah sakit, tubuhnya terasa sangat lelah. Zahra memutuskan untuk berendam air hangat untuk merilexkan tubuhnya agar kembali segar.


Gadis itu nampak tengah melamun saat dirinya tengah berendam di dalam bathup, “kenapa aku harus bertemu dengan Kak Ardi lagi? Saat ini dia pasti sudah bahagia dengan Kak Micel.” Zahra menghela nafas berat, “aku harus melupakan dia sepenuhnya, nggak ada lagi yang bisa aku harapkan, dia sudah menjadi milik orang lain.”


~oOo~