Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Belum hamil juga


Sudah satu minggu papanya Zahra keluar dari rumah sakit, sudah satu minggu pula Ardi dan Rasya tinggal di rumah Zahra. ardi dan Zahra tidak menyangka Rasya bisa sedekat itu dengan kedua orangtua Zahra. Bahkan Rasya bersikap sangat sopan kepada kedua orangtua Zahra yang sudah dianggap seperti kakek dan neneknya.


Seperti hari ini, Zahra berniat membawakan makanan untuk papanya, tapi Rasya tiba-tiba meminta Zahra untuk memberikan mangkuk yang berisi sop itu kepadanya.


“Ma, apa boleh Rasya yang menyuapi kakek makan hari ini?”


Zahra tersenyum senang, “tentu boleh dong sayang, Mama justru merasa sangat senang jika Rasya mau melakukan itu,” ucapnya.


Zahra dan Rasya masuk ke dalam kamar kedua orangtuanya. Papa Zahra sedang bersandar di sandaran ranjang sambil membaca buku.


“Pa...” panggil Zahra lalu duduk di tepi ranjang. Sedangkan Rasya duduk di kursi dekat ranjang, “Rasya mau menyuapi Papa makan katanya,” ucapnya.


Papa Zahra tersenyum, “cucu kakek ini selain tampan, sayang juga sama kakek,” ucapnya senang.


“Rasya kan memang sayang sama kakek,” ucap Rasya dengan senyuman di wajahnya.


Zahra lalu memberikan mangkuk yang berisi sup itu kepada Rasya, “kalau begitu Mama keluar dulu ya sayang,” ucapnya setelah Rasya menerima mangkuk itu.


Rasya menganggukkan kepalanya, setelah itu Zahra keluar dari kamar papanya meninggalkan Rasya berdua bersama dengan papanya.


“Kakek harus makan yang banyak ya, biar cepat sembuh.” Rasya lalu menyuapkan satu suap ke dalam mulut papanya Zahra.


Papa Zahra tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “kakek juga ingin cepat sembuh sayang, biar kakek bisa bermain dengan cucu kakek ini,” ucapnya.


“Rasya nggak tega melihat Mama sedih saat melihat kakek sakit. Rasya ingin Mama kembali bahagia seperti dulu lagi.” Rasya lalu kembali menyuapkan satu sendok makanan ke mulut papanya Zahra.


Papa Zahra merasa terharu melihat anak tiri putrinya itu ternyata sangat menyayangi putrinya dan juga dirinya, “Rasya sayang, apa kamu sangat menyayangi Mama Zahra?” tanyanya.


Rasya menganggukkan kepalanya, “sangat kakek, karena Mama Zahra sangat baik dan sayang sama Rasya. Mama Zahra bukan ibu tiri yang jahat,” ucapnya.


“Ya...Mama kamu itu memang sangat baik.”


***


 


Zahra membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamarnya, dia melihat suaminya tengah berkutat dengan laptop yang dia taruh di atas kedua pahanya.


“Apa pekerjaan kakak belum selesai?” Zahra lalu duduk di samping suaminya.


Ardi menggelengkan kepalanya, “tinggal sedikit lagi sayang, memangnya kenapa? Kok cepat sekali kamu menyuapi Papa makan,” ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


“Rasya yang menyuapi Papa, katanya dia ingin sekali menyuapi kakeknya.”


Ardi mengalihkan pandangannya dari laptopnya dengan kedua mata yang membulat sempurna, dia terlihat sangat terkejut, “kamu nggak sedang bercandakan sayang, Rasya sedang menyuapi Papa kamu?” tanyanya memastikan.


Zahra menganggukkan kepalanya, “buat apa juga aku bercanda, kan itu bagus, Rasya bisa dekat dan sayang sama Papa aku,” ucapnya.


Ardi merangkul pundak istrinya lalu mengecup kening istrinya itu, “aku senang mendengarnya, ternyata tinggal di sini satu minggu, Rasya bisa berubah seperti itu. Gimana kalau satu bulan lebih, mungkin dia bisa menerima kalau akan hadir anggota baru di rumah kita,” godanya dengan menggerakkan kedua alisnya naik turun.


“Semoga saja, Kak.” Zahra lalu mengubah posisi duduknya menjadi menghadap suaminya dengan duduk bersila di atas sofa, “Kak, tapi kenapa sampai sekarang aku belum hamil juga ya, padahal kita sering melakukan itu. Kita juga sudah 4 bulan menikah,” ucapnya.


“Iya sih, Kak. tapi aku sudah nggak sabar ingin segera hamil, aku ingin tau gimana rasanya hamil.” Zahra lalu mengusap perutnya.


“Sayang, kita hanya bisa berdoa dan berusaha, tapi hanya yang di Dia yang menentukan semuanya.”


“Kak, seandainya aku nggak bisa memberikan kakak keturunan, apa kakak akan meninggalkan aku?” Zahra bertanya sambil menatap kedua manik mata suaminya secera bergantian.


Ardi menggelengkan kepalanya, “aku memang sangat menginginkan anak dari kamu, aku bahkan sudah nggak sabar ingin melihat kamu hamil. Tapi jika ternyata keinginan aku itu belum bisa terwujud, aku nggak akan pernah meninggalkan kamu. Sudah ada Rasya yang mengisi hari-hari kita,” ucapnya sambil mengecup puncak kepala istrinya.


Zahra hanya menepiskan senyumannya, tapi jika itu benar-benar terjadi, dirinya akan sangat merasa bersalah terhadap Ardi. Dia merasa dirinya bukanlah istri yang sempurna jika dia tidak bisa memberikan anak untuk suaminya itu.


“Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?” Ardi bertanya saat melihat istrinya yang tiba-tiba langsung terdiam, saat mendengar apa yang dia katakan.


Zahra menggelengkan kepalanya, “bukan apa-apa kok, Kak.” wanita itu lalu beranjak berdiri, “aku mau melihat Papa dulu,” ucapnya lalu berjalan keluar dari kamarnya.


Ardi meletakkan laptopnya ke atas meja, dia lalu beranjak untuk mengejar istrinya. Pria itu menarik tangan istrinya dan memeluknya dengan sangat erat, “sayang, kamu nggak usah terlalu memikirkan itu. Aku janji nggak akan membicarakan soal mempunyai anak lagi,” ucapnya.


Zahra melepaskan pelukan suaminya, “tapi jika aku sampai nggak bisa hamil, itu berarti aku bukan istri yang sempurna untuk kakak. Kakak berhak mendapatkan apa yang kakak inginkan,” ucapnya dengan kedua sudut mata yang sudah mulai di genangi air mata.


“Sayang, apa yang kamu katakan! Aku nggak suka kamu bicara seperti itu!” Ardi lalu kembali memeluk istrinya, “sampai kapanpun aku nggak akan pernah membiarkan kamu pergi dariku. Bagiku kamu adalah istri yang sangat sempurna, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku, ingat itu!” pria itu semakin mempererat pelukannya.


Zahra menangis di pelukan suaminya, “maafin aku, Kak. aku nggak akan pernah meninggalkan kakak, karena kakak sangat berarti buat aku,” ucapnya di sela isak tangisnya.


***


 


Rasya sudah selesai menyuapi kakeknya, “Kek, apa Rasya boleh tidur sama kakek?” tanyanya setelah menaruh mangkuk itu di atas meja.


“Tentu saja boleh dong sayang, kakek senang jika kamu mau tidur sama kakek.”


Terdengar suara pintu terbuka, mama Zahra masuk ke dalam kamar, dia terkejut saat melihat Rasya ada di kamarnya, “sayang, sedang apa kamu di sini?” tanyanya sambil mengusap puncak kepala Rasya.


“Cucu kita ini mau tidur sama kita, Ma. Papa senang deh mempunyai cucu seperti Rasya,” ucap Papa Zahra dengan senyuman di wajahnya.


“Rasya, apa Rasya senang tinggal di rumah nenek?” tanya Mama Zahra.


Rasya menganggukkan kepalanya, “kakek dan nenek sangat baik sama Rasya,” ucapnya.


Mama Zahra lalu menyuruh Rasya untuk naik ke atas ranjang, Rasya tidur di tengah-tengah antara Papa dan Mamanya Zahra. Mama Zahra memeluk Rasya dan menyelimuti tubuh anak kecil itu.


‘Aku berharap Zahra akan segera hamil, aku juga ingin memiliki cucu dari Zahra dan Ardi. Meskipun begitu, aku juga sangat menyayangi Rasya, aku sudah menganggap Rasya seperti cucu ku sendiri,’ gumam Mama Zahra dalam hati.


Rasya tertidur lelap dalam pelukan Mama dan Papanya Zahra. Zahra dan Ardi yang semula ingin mengecek keadaan Papanya, mereka sangat terkejut saat membuka pintu kamar itu. Dia melihat kedua orangtuanya sedang tertidur lelap sambil memeluk Rasya.


“Sayang, sepertinya Rasya semakin sayang dengan Mama dan Papa. Dia bahkan mau tidur di kamar ini dengan mereka,” ucap Ardi sambil memeluk istrinya dari belakang.


“Kakak benar, kehadiran Rasya di sini membawa kebahagiaan tersendiri untuk Mama dan Papa.” Zahra lalu dengan perlahan menutup pintu itu kembali. Mereka lalu kembali melangkah menuju kamarnya.


~oOo~